Di Korea Utara, Pakai Lipstik Merah Dianggap sebagai Perlawanan pada Negara

iNews.id Dipublikasikan 11.05, 15/08 • Arif Budiwinarto
Di Korea Utara, perempuan mengenakan lipstik berwarna merah dianggap sebagai bentuk perlawanan pada negara. (foto: CNN)
Di Korea Utara, perempuan mengenakan lipstik berwarna merah dianggap sebagai bentuk perlawanan pada negara. (foto: CNN)

SEOUL, iNews.id - Seorang pembelot Korea Utara mengungkap bagaimana perempuan di negara tersebut sangat dibatasi dalam urusan bersolek serta berpakaian. Berani memakai make-up berbeda sangat berisiko bagi perempuan Korut.

Nara Kang, seorang perempuan pembelot Korut yang melarikan diri ke Korea Selatan pada 2015 di usia 22 tahun, menceritakan pengalamannya tumbuh besar di Korea Utara. Memasuki usia remaja, Kang kerap berusaha tampil beda mulai dari make-up serta gaya fesyen.

Lipstik berwarna merah merupakan riasan wajah 'terlarang' di Korut. Bahkan, di kota kelahirannya, Chongjin, perempuan yang mengenakan lipstik berwarna merah terang akan langsung dilabeli sebagai bentuk perlawanan pada negara.

Oleh sebab itu, banyak perempuan di kota kelahiran Kang hanya boleh mengenakan lipstik berwarna lebih menyala, serta rambut panjang yang dikuncir.

"Memakai lipstik merah di bibir adalah hal yang sulit dibayangkan di Korea Utara," kata Kang dikutip dari CNN, Sabtu (15/8/2020).

"Warna merah mewakili kapitalisme dan itulah kenapa komunitas Korea Utara tidak memperbolehkan Anda memakainya," ujarnya.

Kang menceritakan lebih lanjut, setiap hari di pusat-pusat keramaian masyarakat selalu terlihat Gyuchalde--polisi fesyen di Korut--yang berpatroli. Mereka bukan hanya mengecek gaya rambut, riasan tetapi juga gaya berpakaian perempuan-perempuan Korut.

Sebab, disinyalir banyak perempuan Korut yang secara diam-diam mengadopsi gaya berpakaian perempuan Korsel yang dianggap lebih moderat.

Tak hanya Gyuchalde, kata Kang, penduduk tradisional Korut juga tidak senang dengan masuknya budaya Korsel ke negara mereka. Bahkan, mereka tak segan memberikan sanksi sosial bagi perempuan atau orang yang ketahuan mengadopsi budaya negara tetangga.

"Kapanpun saya memakai make-up, orang-orang tua di desa akan mengatakan bahwa saya pemberontak kapitalis."

"Ada unit patroli setiap 10 meter untuk mengecek penampilan pejalan kaki. Kami tidak boleh memakai aksesoris seperti ini," lanjutnya.

Pasar Gelap Jangmadang

Pasar Jangmadang merupakan pasar tradisional terkenal di Korea Utara, di lokasi ini warga Korut memenuhi kebutuhannya pangan. Mereka melakukan jual-beli buah, pakaian serta peralatan rumah tangga.

Namun, di balik aktivitas normal itu Pasar Jangmadang juga menjual barang-barang selundupan dari Korea Selatan secara tersembunyi, alias pasar gelap (black market). Barang-barang yang dijual berupa CD film drama Korea, video musik, opera sabun, serta film yang sudah di-copy ke dalam USB drives.

Selain barang-barang itu, pasar gelap Jangmadang juga menawarkan aksesoris, make-up, sampai fasyen yang tengah hits di Korsel. Meskipun harganya lebih mahal, tak sedikit kaum muda Korut yang tertarik memilikinya.

Guna menghindari razia aparat Korut, para pedagang biasanya memiliki kode khusus yang sudah dipahami oleh calon pembeli. Transaksi biasanya terjadi di ruang tertutup rahasia.

"Bila anak muda Korea Utara menonton program tivi Korea Selatan, maka kemudian mereka ingin mengubah gaya rambut dan pakaian mereka seperti tampilan orang Korsel," kata Sokeel Park, Direktur Penelitian dan Strategi Korea Selatan untuk Kelompok Hak Asasi Manusia di Korea Utara.

"Jadi, ini memberikan efek dari tren fesyen, gaya rambut dan standar kecantikan di Korea Utara," lanjutnya.

Artikel Asli