[Di Balik Karpet Merah] Pilih Cuti, Pesinetron Ini Dimatikan Perannya

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 26/09 • Aldebaran Wirasaba
Photo: Unsplash @chuklanov
Photo: Unsplash @chuklanov

Apa kabar pembaca, senang bisa kembali menyapa Anda. Menulis kembali setelah beberapa minggu jeda membuat saya terkenang momen mewawancara dua pesohor. Yang pertama, penyanyi solis pria dengan pengikut jutaan orang di medsos. Sebut saja Viktor. Obrolan saya dengan Viktor berlangsung di restoran jelang pergantian tahun. Saat itu, saya tanya, tahun baru mau manggung di mana. Jawabannya mengejutkan. 

Tentang Viktor

“Gue enggak manggung ke mana-mana, Al. Mau tahun baruan sama keluarga saja,” beri tahu dia. “Bukan karena enggak ada tawaran manggung, kan? Secara solis kondang kayak lo beberapa bulan sebelum tahun baru pasti sudah dikontak banyak event organizer dari berbagai daerah,” celetuk saya, sore itu. 

Rupanya, “tradisi” menolak tawaran nyanyi di tahun baru sudah dilakukan Viktor beberapa tahun terakhir. Mulut saya yang hobi celamitan langsung mengoceh, “Wah, lo nolak rezeki namanya. Nolak rezeki itu dosa. Manggung tahun baru, kan tarif bisa tiga kali lipat.”

Viktor membenarkan. Nyanyi enggak sampai 10 lagu dibayar tiga kali lipat siapa tak tergoda. Namun keputusannya sudah bulat. “Lo tahu Al, kali terakhir gue manggung tahun baru, penonton ramai banget. Tapi di atas panggung gue kesepian. Turun panggung, gue berpikir, kenapa ya, kok gue kesepian?” curhat Viktor. Belum sempat saya jawab, dia bilang, “Yang bisa bikin hati gue bahagia itu ya bokap, nyokap, dan saudara gue.”

Jawaban itu didapat Viktor pada tahun baru berikutnya, saat ia tidak menerima tawaran nyanyi. Malam pergantian tahun dihabiskannya dengan kumpul bareng orangtua dan saudara di rumah, menghitung mundur detik demi detik dari angka 10 sampai jarum jam, menit, dan detik menumpuk di angka 12. “Momen kayak gitu tuh enggak bisa diduitin Al. Tahun ini kita bisa barengan. Tahun depan, siapa yang tahu, wong umur kan rahasianya Allah,” Viktor mengingatkan.

Tentang Romi

Beberapa bulan setelahnya, saya bertemu pasangan selebritas papan atas, sebut saja Romi dan Yuli. Romi adalah bintang sinetron kondang. Menjelang tahun baru, ia izin cuti. Sayang, cuti tidak disetujui produser. Yang terjadi kemudian, Romi mengundurkan diri dan karakter yang diperankannya dimatikan. 

Usut punya usut, Romi ingin menghabiskan minggu pergantian tahun dengan berlibur bareng istri dan anak semata wayang. Kepada saya, Romi bilang, “Mencari uang penting untuk memastikan keluarga kita bahagia. Kita harus tahu kapan mencari dan kapan berhenti mencari untuk menggunakannya.” 

Beberapa hari kemudian, saya melihat foto dan video keluarga ini berlibur di medsos. Tergambar jelas bagaimana bahagia itu terpancar. Ketika Romi berpulang, ia dikenang sebagai family man. Berjuang untuk keluarga. Usai berjuang, ia memastikan hasil perjuangan itu bikin istri dan anak bahagia. 

Rupanya, tradisi ini dilakukan Romi sejak kali pertama berumah tangga dan punya anak. Romi dan komitmennya pada keluarga sudah sangat terkenal di kalangan jurnalis showbiz. Maka ketika mendengar kabar Romi meninggal banyak yang syok. Termasuk saya pagi itu ikut menangis karena tahu aslinya Romi memang baik. Lalu tiba waktunya saya berkaca pada diri sendiri. Apakah saya sudah seperti Viktor dan Romi?

Tentang Waktu

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya tipe pekerja keras. Buruknya saya (ini berkaca pada belasan kali pulang kampung), saya terlalu perhitungan saat mau mudik. “Nanti kalau gue mudik lebih dari seminggu terus ada proyek dan gue enggak bisa ikut karena masih di kampung bagaimana?” itulah pertanyaan yang sering melintas di benak saat mengatur jadwal cuti buat menengok ibu dan bapak.

Saya pelit memberi jeda waktu untuk diri sendiri. Lalu wabah Covid-19 datang. Untuk kali pertama saya tidak bisa pulang kampung karena takut menjadi orang tanpa gejala yang menularkan virus jahanam ke bapak ibu. “Kamu enggak usah pulang dulu enggak apa-apa, Al. Bapak sama ibu ikhlas. Toh selama ini, setiap Lebaran kamu selalu pulang buat Bapak meski kamu tidak merayakannya. Yang penting kita sekeluarga sehat dulu,” kata Bapak lewat telepon, Mei 2020.

“Ya, Pak. Nanti diganti pas libur akhir tahun ya,” jawab saya. Usai menutup telepon, mata tiba-tiba terasa berat. Lalu saya menunduk. Punggung saya gemetaran menahan tangis. Beberapa hari kemudian, saya menghubungi seorang teman untuk menceritakan kekecewaan tak bisa mudik. Sahabat saya, sebut saja Neyna, memberi pesan menohok.

“Lo ingat enggak, tiga tahun pertama di Jakarta mengadu nasib. Jangankan mudik, liburan untuk diri sendiri saja lo enggak pernah. Seorang Aldebaran akhirnya liburan ke Bali 3 hari 2 malam untuk pertama kali itu pun karena menang lomba. Bukan karena niat libur untuk memberi jeda pada diri sendiri,” bilang Neyna. “Pulang kampung juga pelitnya minta ampun, maksimal 7 hari,” imbuhnya.

“Dengan adanya Covid-19 ini lo jadi sadar, enggak semua hal dalam hidup bisa diduitin. Duit lo cukup buat mudik sekalian liburan minimal dua minggu. Tapi kesempatannya enggak ada. Lo mau apa, sekarang?” ujar Neyna. 

Mei 2020, saya baru paham, mengapa Viktor sejak 2013 tidak manggung tahun baru. Kenapa Romi memperjuangkan waktu demi libur bareng keluarga. Uang dicari. Momen diciptakan. Untuk cari uang dan menciptakan momen, dibutuhkan waktu. Masalahnya, waktu tidak dijual di toko dan tidak bisa diulang. Maka ketika ada waktu, jangan pelit dan jangan disia-siakan.