[Di Balik Karpet Merah] Permintaan Ajaib Artis Papan Atas Sebelum Syuting

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 14/08 • Aldebaran Wrisaba
unsplash
unsplash

Kelakuan artis aneh-aneh. Salah satunya, mari kita sebut, Mbak Jingga. Pernah menang Piala Citra lewat film drama percintaan legendaris, ia lantas dikenal selektif memilih peran. Kadang, rela jadi pemeran pendukung asal tokoh yang dimainkannya menantang. Bisik-bisik di kalangan penulis skenario menyebut, pernah ia menolak peran utama karena dinilai kurang menantang.

Peran Utama

Jingga mengajukan dua opsi ke pihak rumah produksi. Pertama, karakter utama harus ditulis ulang atau dimodifikasi agar lebih berdimensi dan menguji kemampuan aktingnya. Kedua, ia jadi pemeran pendukung saja (yang notabene karakter ini sudah diberikan ke aktris lain, sebut saja Sintya). Tim naskah menuruti kemauan Jingga, yakni menulis ulang karakter utama karena tidak mungkin merenggut peran pendukung dari tangan Sintya. 

Apes. Hasil akhir skenario masih tak sesuai keinginan Jingga. Ia mundur dari proyek itu. Pihak rumah produksi pontang-panting mencari pengganti agar syuting berjalan mulus. Mendengar ini, saya pusing. Kok bisa, aktris mengatur penulis naskah dan kinerja pihak rumah produksi? Saat permintaan tidak dituruti, dia mundur dan bikin pihak rumah produksi kelabakan menjelang syuting?

Ada juga artis yang tampil di film laga lalu punya permintaan khusus, yakni porsi baku hantam tokoh yang dimainkannya diperbanyak. Ia hendak membuktikan bahwa gebuk-gebukan pun bisa. Artis serbabisa. 

Cerita lain datang dari aktor ganteng sebut saja Frans. Sejak debut di layar lebar, ia tidak pernah menjadi pemeran pendukung hingga sekarang. Frans didapuk menjadi pemeran utama film yang diangkat dari novel sastra legendaris. Ia mengisi pemeran utama menggantikan Dika yang memilih jadi pemeran pendukung. Mendengar ini, saya penasaran.

Peran Pendukung

“Kenapa jadi pemeran pendukung, sih? Nanti mukamu di poster lebih kecil dari Frans, lo,” tanya saya. Dika menjawab, “Pas baca naskahnya, gue merasa lebih tertantang jadi pemeran pendukung, Al.” Ia tak menuntut karakter ini mesti dimodifikasi agar terlihat lebih wow.

Hasilnya, sesuai perkiraan banyak kritikus. Dika lebih banyak menerima pujian ketimbang Frans. Keduanya nomine FFI di kategori berbeda. 

Ada satu cerita lagi, seorang aktris yang lebih dari tiga kali membintangi film box office dan pernah menang Piala Citra. Ia bikin keputusan mengejutkan dengan membintangi film komedi yang judul agak “menjurus.” Banyak yang mempertanyakan putusannya. Usai wawancara, dia bilang ke saya, “Al, tugas aktor itu menghidupkan peran yang di atas kertas biasa saja menjadi lebih bertenaga di layar putih. Tak masalah genrenya apa atau berapa porsinya.”

Lalu, saya teringat sejumlah nama besar di industri film Hollywood yang tampil sekejap tapi berdampak besar. Anthony Hopkins di The Silence of the Lambs (1991), misalnya. Sebagai pemeran utama, ia hanya kebagian tampil selama 16 menit di layar. Apa ia komplain ke penulis naskah, “Tolong dong, bikin gue muncul lebih sering di layar biar penonton makin terpukau?” Tidak. Dalam tempo 16 menit, ia meneror penonton dan menang Piala Oscar.

Judi Dench lebih parah lagi saat kebagian peran pendukung di Shakespeare in Love (1998). Di layar, ia hanya muncul 8 menit. Sekali lagi, 8 menit. Tapi toh, menang BAFTA dan Piala Oscar. Dari berbagai situs berita dan literasi yang saya baca, Anthony dan Judi tidak minta aneh-aneh ke penulis naskah. Tertarik karakter, lolos audisi, mendalami peran, dan hasilnya bisa kita lihat bersama. Sejarah mencatat nama mereka sebagai standar emas untuk para aktor generasi berikutnya.

Peran Kecil alias Kameo

Konon, kehidupan kita bagaikan film. Saya misalnya, menjadi pemeran utama bagi hidup saya sendiri dan karakter pendukung di hidup orang lain. Naskahnya digariskan Sang Khalik. Pertanyaannya adalah, apakah Aldebaran aktor yang banyak menuntut dan berusaha merebut panggung kehidupan orang lain? Apakah Aldebaran seperti Jingga yang komplain, merasa kisah hidupnya datar alias kurang berdimensi? 

Beberapa pekan lalu, saya mendapat tugas menulis artikel feature yang membutuhkan riset dan literasi mendalam. Saya menelepon sahabat lawas, minta dikirimi artikel sebuah majalah musik yang kini berhenti terbit. “Kalau senggang boleh difotoin ya, Wan. Besok saja enggak apa-apa,” pinta saya. Tak sampai 10 menit, dia mengirim apa yang saya butuhkan.

“Iwan, kok cepat banget ngirimnya?” tanya saya via aplikasi. Ia menjawab, “Kita memang jarang bertemu, Al. Tapi gue pengin menjadi sebaik-baiknya orang. Yakni yang bermanfaat buat orang lain. Setidaknya buat hidup lo.” Saya kicep. 

Sehari sebelum menulis artikel ini, saya pelesir ke kanal YouTube Mbak Melaney Ricardo. Ada video percakapannya dengan Prilly Latuconsina. Wabah Covid-19 membuat banyak usaha limbung. Seorang wirasusaha yang terdampak mengontaknya, minta bantuan endorse dan menanyakan tarif. Tergerak welas asih, Prilly menjawab, “Enggak usah bayar. Aku promosikan benaran saja, kebetulan aku perlu produk kamu.” Orang ini terharu dan bilang, “Pril, kamu tahu enggak, aku bersyukur banget kamu hidup di bumi ini.” 

Prilly bagi pengusaha ini bisa jadi hanya kameo. Sekalinya muncul dampaknya enggak kaleng-kaleng. Begitu pula Iwan di hidup saya. Kami hanya bertemu dua-tiga kali setahun, tapi tangannya selalu terulur. Di usia kepala tiga ini, saya mulai berpikir, apakah sebagai aktor utama, saya tipe yang tampil lama tapi biasa saja atau cemerlang? Dan apakah sebagai pemeran pendukung (di kehidupan orang lain), posisi saya penting? Jangan-jangan ada atau tidak ada saya, kehidupan orang lain baik-baik saja?