[Di Balik Karpet Merah] Kisah Artis yang Tinggalkan Suami saat Sulit Menerpa

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 08/08 • Aldebaran Wrisaba
Photo by Unsplash/ericjamesward
Photo by Unsplash/ericjamesward

Seorang produser, sebut saja Rudy, menikahi aktris kurang terkenal. Karena ia tipe turun langsung menangani proyek, Rudy kerap ke lokasi syuting. Di sana, Rudy bertemu aktris cantik sebut saja Sekar yang baru cerai dari suaminya. Rudy dan Sekar diam-diam menikah secara agama. 

Sehidup Tidak Semati

Dari produser ini, Sekar dapat rumah dan mobil. Tahun berlalu. Masa jaya Rudy meredup. Sinetron yang diproduksi Rudy tak ada yang berumur panjang hingga pihak stasiun televisi menghentikan kerja sama. Rumah produksinya lumpuh. 

Sejak itu, sikap Sekar jadi dingin. Suatu hari, Sekar mendatangi kantor rumah produksi Rudy. Mereka ribut di sebuah ruangan. Gegerlah kantor pada hari itu. Mendengar cerita ini dari seorang sumber, saya hanya bisa mengurut dada yang rata ini.

Waktu berlalu, muncul kabar Rudy-Sekar pisah. Mendengar kisah ini saya bingung. Mengapa Sekar begitu hangat saat Rudy kaya lalu anyep ketika suaminya yang notabene suami orang itu jatuh miskin? Ke mana perginya cinta? Bukankah cinta itu sehidup semati, ya? Apakah artinya saat pasangan bergelimang harta cinta hidup, lalu saat suami kere cintanya mati?

Setelahnya saya mewawancara aktor peraih Piala Citra yang tiga filmnya laris sepanjang masa. Kala itu ia menjajal peruntungan di belakang layar dengan memproduksi film. 

Selama setahun ia fokus ke produksi dan menolak banyak tawaran akting layar kaca maupun layar gelas. Film itu dirilis dan ternyata jeblok di pasar. Kerugian mencapai miliaran rupiah.

Dulu Menafkahi Sekarang Dinafkahi

Mengobrol di Jakarta Selatan, Mas Aktor malu pada diri sendiri dan keluarga. Pasalnya, sejak itu ia nyaris tak punya pekerjaan. Tak ada tawaran syuting sama sekali. Yang dilakukannya sehari-hari hanya menekuni hobi otomotif. Istrinya, sebut saja Adia, sibuk banting tulang di lokasi syuting. 

Lama-lama Mas Aktor tak enak hati karena posisi pencari nafkah dipegang istri. Ia menceritakan ini kepada saya di sela promosi film baru.

“Lo tahu enggak, Al, gue sempat hidup dari penghasilan istri,” kata Mas Aktor kepada saya. Beruntung, pada masa susah itu anaknya tak banyak permintaan. “Sehari dua hari rasanya biasa saja. Lama-lama enggak enak,” akunya. Kejernihan batin membimbing Mas Aktor untuk dengan jantan mengakui kegagalannya. Ia minta maaf kepada istri. 

“Gue bilang sama Adia: Maaf, ya gue belum bisa kasih apa-apa buat kamu dan anak-anak,” cerita dia, sore itu. “Terus Mbak Adia bilang apa, Mas?” tanya saya. “Gue bangga banget sama Adia. Dia enggak ninggalin gue. Dia bilang begini Al: Enggak apa-apa. Gantian. Kemarin-kemarin, kamu yang menghidupi keluarga kita, kan?” sambungnya.

Kebesaran hati Adia menyalakan semangat Mas Aktor untuk berburu peran dari rumah produksi satu ke rumah produksi lain. Tuhan tak menutup mata pada usahanya. 

Mas Aktor lalu terlibat di film komedi remake yang sukses besar. “Gue ingat-ingat terus momen itu. Adia itu semangat terbesar gue, Al,” beri tahunya.

Adia kebalikan Sekar. Saya tak tahu mengapa Sekar meninggalkan Rudy. Benarkah hanya karena faktor keuangan atau ada pemicu lain. Setahu saya, saat nikah kita tidak hanya bikin janji ke pasangan. 

Janji sehidup semati itu diucap di hadapan Tuhan. Sekar kini merapat ke pria lain. Adia masih setia di sisi Mas Aktor.

Dulu Bekerja Kini Menganggur

Kisah Adia dan Mas Aktor mengantar saya pulang ke rumah, melihat orangtua. Beberapa tahun lalu, hal yang paling dikhawatirkan ibu terjadi. 

Bapak saya kena PHK setelah bekerja selama 35 tahun. Mendengar kabar ini, saya menelepon ibu dan bertanya, “Bapak dapat pesangon berapa, Bu?” Dari ujung telepon ibu bilang, “Dapat 5 juta, Al?” 

Mata saya seketika mendelik. “Kerja 35 tahun dan pesangonnya 5 juta?” tanya saya dengan nada tinggi. “Sudah diberikan semuanya ke ibu. Sekarang bapak mau menyambung kerja jadi sopir taksi online,” beri tahu ibu kemudian. Beberapa bulan menjadi sopir taksi online, bapak berhenti. Penyebabnya, suatu pagi ia tak bisa bangun karena tubuhnya bagian kiri tidak bisa digerakkan. Strok mini. Ia dilarikan ke rumah sakit lalu menjalani sesi terapi tujuh kali.

Alhamdulillah, bapak bisa beraktivitas lagi namun dibatasi. Sejak itu, ia memutuskan tidak bekerja. Tanggung jawabnya diambil alih ibu hingga sekarang. Jauh sebelum wabah Covid-19 menggucang, saya pulang ke rumah lalu bicara hati ke hati dengan ibu. 

Saya bertanya, apa enggak capai menggantikan posisi bapak? Bukankah lebih baik saya dan adik bergantian mengisi posisi Bapak. Ibu berkukuh pada pendiriannya.

“Bapakmu selama ini sudah bekerja buat keluarga. Dulu rumah kita ini tempat pembuangan sampah. Lalu diurus sertifikasinya sama bapak ke Pemerintah dan akhirnya tanah di RT ini bisa dimiliki warga,” ibu mengenang. “Sekarang bapakmu butuh bantuan, Al. Masa ibu berpangku tangan?” ucap ibu sambil mengusap punggung saya.

Lalu saya menulis artikel ini untuk Anda. Lalu saya teringat status teks Agnez Mo di akun Instagramnya yang berconteng biru pada 16 Juli 2020. “Semua orang bisa mencintaimu saat semuanya mudah dan menyenangkan, tapi perhatikan baik-baik siapa yang tetap ada di sampingmu untuk memegang tanganmu pada saat semuanya terasa sulit,” tulisnya.

Mbak Agnez menyimpulkan, “Orang yang spesial akan bisa mencintaimu dalam senang dan susah. Jangan hanya mencari orang itu. Jadilah orang itu.” Saya melihatnya di diri Adia dan ibu. Kini, saya ajak Anda dan diri saya sendiri untuk menjadi orang spesial itu. Yuk!