[Di Balik Karpet Merah] Drama Perseteruan Artis dengan Orangtua

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 28/11/2020 • Aldebaran Wrisaba

Suatu sore, di kantor salah satu rumah produksi, saya mengobrol dengan aktris peraih Piala Citra sebut saja Rara. Topiknya dari peran utama di film sampai hubungan dengan orangtua. Dengan ibu, Rara kerap ribut sejak belia. Dari urusan makeup, ekstrakurikuler di sekolah, baju, sampai soal pulang malam. Dengan ayah, Rara lebih damai karena jarang ribut.

Senyum Tapi Mata Berkaca

“Bokap gue orangnya woles. Dia kasih kesempatan dan kepercayaan. Gue mau ikut ekstrakurikuler apa saja, dia oke. Termasuk pencak silat. Nyokap waswas karena itu kurang cewek, Bo. Kalau sama nyokap tuh istilahnya apa saja bisa diributin,” keluh Rara. 

Kalau sedang ribut dengan ibu, ayah tempat Rara berteduh. Hal yang dikhawatirkan Rara terjadi. Ayahnya ambruk, dilarikan ke rumah sakit. Setelah menjalani perawatan intensif beberapa hari, nyawanya tak tertolong. Saat itu, Rara seperti kehilangan pegangan. Ibu Rara sangat terpukul. Tak ada laki-laki di rumah, apa jadinya kehidupan keluarga ini.

“Gue ingat, Al. Waktu bokap mengembuskan napas terakhir, gue menemani dia. Bokap pakai alat bantu napas. Enggak kayak adegan di sinetron di mana yang mau meninggal napasnya megap-megap. Bokap gue mengembuskan napas terakhir dengan tenang. Gue melepas dia dengan ikhlas,” kata Rara sambil tersenyum namun matanya berkaca. 

Senyum Rara mencerminkan keikhlasan. Mata yang berkaca memperlihatkan rindu yang dalam. Awalnya, menjalani hari tanpa ayah terasa berat. Dengan ibu, Rara sering ribut. Soal telepon tidak diangkat saja bisa menjelma huru-hara.

“Jadi lo lebih sayang bokap atau nyokap?” tanya saya kepada Rara. Mendengar ini, ia mengernyitkan dahi. “Enggak bisa begitu, Al. Gue sayang bokap pakai banget. Sayang gue ke bokap sebesar cinta gue ke nyokap,” Rara menjelaskan. “Tapi lo sering huru-hara sama nyokap,” saya menyela. “Gue ribut sama nyokap bukan berarti gue benci dia,” imbuhnya. Rara mengumpamakan ribut dengan ibu sama seperti hubungan Tom dan Jerry. Kalau ketemu berantem. Tidak bertemu, kecarian. Inilah ribut yang dirindukan.

Sering Ribut Tapi Sayang

Rara mengingatkan konflik itu penting asal jangan terlalu sering. “Konflik dengan nyokap membuat gue terlatih mendengar opini berbeda dari orang lain. Latihan mendebat dengan elegan. Bukan menyerang secara personal,” urai Rara. Kini, ibunya menua. Energi debatnya tidak segahar dulu. “Gue kangen sih Al, ribut sama nyokap,” Rara mengaku.

Dalam kesempatan berbeda, saya bertemu aktor film box office. Sebut saja Nanda. Sejak kecil ia tak melihat ayah. Suatu ketika, ia berkesempatan ke luar negeri menemui ayah yang tak dikenalnya. Kali pertama bertemu, terasa canggung. Dalam hati Nanda berkata, “Ke mana saja lo?” Makin lama mengobrol, Nanda melihat ayah kandungnya lebih dekat. 

“Gue mencoba memahami mengapa ia melepaskan gue. Dalam hitungan menit gue berempati karena gue juga seorang ayah, Al. Yang penting, gue menjadi versi lebih baik. Gue memaafkannya. Setelah itu, beban gue terasa plong,” cerita Nanda, siang itu.

Dua kisah tentang ayah ini membuat saya berkaca pada diri sendiri. Dengan ayah, saya tidak akrab. Di mata saya, ia keras dan pelit pujian. Hingga detik ini, saya tak bisa lupa momen dapat ranking 2 ketika kelas 1 SD. Dengan bangga, saya memamerkan itu ke ayah. Dia melihat buku rapor lalu bilang, “Ranking kok dua. Ranking itu satu.” 

Buku rapor itu dikembalikan ke saya. Dia pergi. Saya menangis. Ibu menenangkan saya yang tersedu-sedu. Ibu adalah alasan saya tetap respek pada kepala keluarga. Sejak itu, saya hampir tidak pernah menemukan kebaikan ayah. 

Berkarier di Jakarta, suatu kali saya menang lomba karya tulis berhadiah sertifikat dan uang jutaan rupiah. Yang bikin bangga, salah satu jurinya Bre Redana. Prestasi ini saya pamerkan di akun medos, grup chat, dan teman-teman. Seorang sahabat mengingatkan, “Lo sudah menceritakan ini tiga kali, Al. Enggak bosan? Ini baru lomba skala nasional. Belum internasional keleus.” Mendengar ini, saya serasa ditampar.

Oposisi Tapi Penuh Cinta

Di kedai kopi itu dia bilang, “Al, dalam bahasa Inggris, ada kata good. Jangan puas di good. Di atasnya ada kata better dan best.” Suasana seketika hening. Entah kenapa malam itu saya ingat Bapak. Dialah orang pertama yang mengajari saya untuk tidak mudah besar kepala atas sebuah pencapaian. Kalimat “Ranking kok dua? Ranking itu satu” terdengar lagi. 

Malam itu saya sadar, bapak bukannya tidak sayang. Saking sayangnya, dia memilih jadi oposisi karena sadar anaknya punya bakat cepat puas dan sombong. Selama 25 tahun ia jadi oposisi. Ikhlas dibenci anak sendiri. Dia pula orang pertama yang tak kuat ditinggal anak. Saya berangkat ke Jakarta naik kereta api Argo Lawu. Di stasiun, ibu memeluk dan berkata, “Jangan minta doa ibu. Tanpa kamu minta ibu doakan.” Bapak berdiri di belakang ibu. Diam. 

Saat kereta perlahan bergerak, saya menengok dari balik jendela untuk melambaikan tangan. Saat itulah saya melihat bapak menangis. Ibu mengusap punggungnya. Sekarang saya tahu kenapa Rara tak bisa memilih lebih sayang ibu atau ayah. Ayah Rara menunjukkan cinta dengan memberi ketenangan. Sementara ibu Rara menyalakan cintanya lewat “huru-hara.” Ketenangan akan kehilangan makna saat tak ada keributan. Keduanya saling melengkapi. 

Dari pengalaman saya, ibu menempatkan diri sebagai sahabat. Itulah cinta ibu yang tanpa syarat. Ayah memilih menjadi “musuh” saya selama seperempat abad agar anaknya ini tidak mudah menepuk dada. Ibarat kue, bentuk dan rasanya beda. Tapi itu tetaplah cinta. 

Setiap orang punya cara unik dalam mengekspresikan bahasa cinta, termasuk ayah. Bulan ini kita memperingati Hari Ayah. Coba ingatlah kembali betapa uniknya cara ayah menyayangi kita. Lalu, mari membalas cintanya.