[Di Balik Karpet Merah] Di Bandara Seleb Ini Bentak Petugas: Lo Gak Tahu Siapa Gue?

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 27/06 • Aldebaran Wrisaba
Source: Unsplash

Sebelum wabah Covid-19 menyatroni Indonesia, saya terbang ke luar Jakarta lewat Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. Menggunakan pesawat berbiaya rendah (low cost), saya tiba di bandara berkode HLP jelang subuh. Kelopak mata rasanya masih lengket. Usai check in, saya melenggang ke ruang tunggu dan mencari tempat duduk di dekat petugas maskapai. Tujuannya, kalau saya terlelap, ada yang membangunkan yakni Mbak atau Mas Petugas. Beberapa menit kemudian mata saya melek gara-gara pengumuman sebuah pesawat telah siap diberangkatkan. Para penumpang diminta bersiap.

Judesnya Bu Noni

Mereka diminta berbaris di depan gate atau pintu keberangkatan, menyiapkan boarding pass, dan kartu identitas. Tak ada yang aneh dengan semua ini sampai terdengar keributan antara petugas dengan seorang penumpang yang ternyata artis layar lebar yang pernah jadi presenter gelar wicara salah satu stasiun televisi swasta. Keributan bermula saat petugas bandara meminta sang artis memperlihatkan kartu identitasnya. “Maaf Bu, boleh tunjukkan kartu identitasnya,” imbau Mbak Petugas santun.

Si artis, sebut saja, Noni kesal lalu berujar, “Ya ini boarding pass gue ribet banget sih, lo.”

“Maaf, tapi mohon ditunjukkan kartu identitasnya,” pinta Mbak petugas, lagi.

“Hih! Lo enggak tahu (siapa) gue?” tanyanya dengan nada meninggi. Mbak Petugas berkukuh karena mencocokkan boarding pass dan kartu identitas standar baku sebelum masuk pesawat. Dengan muka kesal, artis yang bukan papan atas ini merogoh tas jinjing lalu mengeluarkan kartu identitasnya. “Nih!” ketusnya. 

Usai mencocokkan kartu identitas Noni dengan boarding pass, Mbak Petugas mengembalikan dengan kepala setengah menunduk pertanda menghormati pengguna bandara. Noni menerima lalu bergegas. Matanya masih mendelik ke Mbak Petugas. Pagi itu saya teringat curhat sejumlah jurnalis infotainment soal kelakuan Noni. Dulu saat masih populer karena memandu acara gelar wicara pagi-pagi dan laris sebagai pemain sinetron, ia kerap memaki anak buah. “Sering tuh Al, dia nganj***-anj***in anak buah. Padahal kalau di depan anak-anak (wartawan), dikit-dikit menyebut nama Tuhan,” beri tahu seorang sahabat yang habis meliput di lokasi syuting.

Merasa Papan Atas

Melihat kelakuan Noni, saya miris campur jijik. Khususnya ketika kalimat, “Lo enggak tahu (siapa) gue” keluar dari mulutnya. Pengin, deh menyahut, “Ya, gue tahu lo bekas presenter gelar wicara yang sudah tamat 10 tahun lalu, so what?” Saya mencium bau penyalahgunaan privilese alias hak istimewa. Merasa terkenal kemudian merasa berhak melanggar prosedur. Bu Noni sadar enggak, ya kalau tingkahnya jadi gunjingan orang-orang di bandara pagi itu?

Jadi gunjingan hanyalah satu dari sekian banyak dampak. Dampak lain, membuat puluhan orang yang mengular di belakang Noni menunggu lebih lama. Yang paling fatal, menyakiti hati orang lain dalam hal ini petugas bandara. Mohon maaf, ya Bu Noni, Mbak Petugas hanya menjalankan prosedur. Ia minta dengan santun. Ingat, bandara salah satu pintu gerbang negara. Tempat dengan kamera pengawas atau CCTV terbanyak.

Pernah berpikir tidak, kalau sampai kamera pengawas merekam Mbak Petugas membiarkan Noni melenggang tanpa memperlihatkan kartu identitas, kemudian ia kena sanksi oleh atasan. Apakah Bu Noni yang terhormat mau bertanggung jawab? Lagipula, apa susahnya sih, Bu menyiapkan kartu identitas sejak awal? 

Berdasarkan pengalaman saya yang enggak sering-sering amat naik pesawat, saat masuk terminal, KTP, SIM, atau apapun itu saya taruh di kantong paling depan tas ransel. Tas saya gendong di depan biar lebih muda diraih. Setelah check in, boarding pass dan kartu identitas saya masukkan di kantong yang sama. Jadi, anytime dimintai petugas, gampang ambilnya dan tak banyak makan waktu.

Pelan-pelan Melengos

Privilese atau hak istimewa dimiliki oleh orang-orang tertentu. Punya privilese bukan berarti punya hak melanggar ketentuan atau kesepakatan umum. Noni merasa punya privilese saat di Bandara. Penyanyi papan atas kayak Rossa, Raisa, atau BCL saja naik pesawat masih memperlihatkan KTP, kok. Apalagi Noni yang mohon maaf bukan papan atas lagi.

Omong-omong soal penyalahgunaan privilese, saya punya pengalaman pahit. Beberapa tahun lalu saya dapat undangan upacara Hari Kemerdekaan di Istana. Saya datang dengan kemeja batik lengan panjang dan celana panjang. Apes, celana panjang saya berkain tebal dengan pola jahit menyerupai jin. Petugas tak mengizinkan saya masuk dengan dalih itu mirip celana jin. Setahu saya, mirip itu tidak 100 persen sama. Teman saya diizinkan masuk, saya tidak. Ya sudah, saya terima nasib menanti di pinggir jalan.

Beberapa menit kemudian, seorang pejabat datang dengan istrinya. Pak pejabat pakai celana bahan hitam dan kemeja batik lengan panjang. Sang istri pakai kebaya longgar menyerupai huruf A dan celana jin biru ketat. Petugas menegur, “Maaf ibu memakai celana jin.” Si suami menatap petugas dan berkata, “Dia istri saya.” Akhirnya keduanya boleh masuk. 

Sambil tersenyum sinis saya berujar, “Gimana Mas, ibu pejabat akhirnya diizinkan masuk?” Kedua petugas ini kicep lalu pelan-pelan melengos. Begitulah. Beberapa orang tampak baik-baik saja menyalahgunakan privilese mereka. Mentang-mentang istrinya anu, merasa berhak melanggar aturan. Merasa terkenal, Noni seenak jidat menjadikan muka yang mulai keriput sebagai pengganti KTP. Belakangan Bu Noni pansos via YouTube artis lain.

Seorang teman mengingatkan saya begini, “Al, sebelum menggunakan hak istimewa pikir ulang. Jangan sampai itu merugikan orang lain.” Semoga kita tidak begitu ya, pembaca. Kan ngeri kalau sampai ada orang yang tersakiti atau tidak ikhlas gara-gara kita menyalahgunakan privilege. Konon itu bisa memberatkan langkah kita dalam mencari rezeki.