[Di Balik Karpet Merah] Artis Ini Trauma Dibully Dua Tahun di Sekolah, Lalu Pilih Homeschooling

LINE TODAY Dipublikasikan 01.22, 01/08 • Aldebaran Wrisaba

Usai wawancara soal album dan proyek terbaru di luar musik, saya dan seorang mantan penyanyi cilik mengobrol topik di luar karier. Sebut saja namanya Satya. Saya menanyai Satya soal bully atau perundungan. Satya yang dulu dijuluki miliarder cilik mengaku pernah dirundung di sekolah. Tragedi berlangsung selama dua tahun. Satya bilang, beberapa kali izin tidak sekolah karena manggung atau syuting. 

Mau Melawan, Tidak Imbang

Pihak sekolah mengizinkan dengan beberapa catatan. Sejumlah siswa yang menuding Satya beroleh hak istimewa merundungnya. Perundungan semakin sering terjadi saat ia bisa mempertahankan nilai. Padahal, nilai Satya tetap tinggi karena ia belajar di lokasi syuting.

“Sebagai korban, jujur yang namanya dendam pasti ada. Gue pernah menyimpan dendam terhadap mereka, Al,” cerita Satya saat mengobrol dengan saya di Setiabudi, Jakarta. Awalnya, Satya cuek. Makin lama, perundungan makin liar. Mentalnya terimpit.

“Gue pernah bangun tidur, terus mendapati fakta bahwa gue harus ke sekolah, tuh rasanya berat. Malas banget. Ketemu dia, dia, dan dia lagi. Gue bakal di-bully lagi,” akunya. Pernah terlintas di benak Satya mau melawan. Tapi kondisi tidak imbang. “Orang ini punya geng. Gue pasti habislah,” ia menuturkan. Tak kuat dirundung, Satya minta ke orangtua untuk home-schooling atau sekolah di rumah. Keputusan yang berat. 

“Untungnya Mama paham kondisi gue,” Satya bercerita. Menurutnya, perundungan bisa menimpa siapa saja. Efek trauma yang ditimbulkannya bisa membekas selama bertahun-tahun. Saat populer lagi sebagai komedian dan bintang film, orang-orang yang dulu merundung Satya kini ramah. Mereka menyapa dan menanyakan kabar lewat medsos. “Padahal gue masih ingat, tuh dulu di sekolah mereka berbuat apa ke gue,” ungkap Sastya. Mendengar curhat Satya saya hanya bisa menarik napas panjang.

Tragedi Video Call

“Enggak banyak orang bermental baja, lo salah satu yang sedikit itu Satya,” ucap saya. “Gue memilih homeschooling bukan berarti gue kalah ya, Al. Sebaliknya, gue mau fokus belajar. Kalau di sekolah, konsentrasi gue sering buyar karena takut di-bully melulu,” bilang Satya. Beberapa bulan kemudian, saya berkelana ke jagat maya dan mendapati video seorang cewek menangis. Penyebabnya, ia mengenal cowok yang mengajaknya mengobrol lewat video call. Awalnya wanita ini, sebut saja Ana, menolak karena tidak percaya diri dengan wajahnya. Si cowok berkukuh. Ana meluluskan permintaan cowok tersebut. Komunikasi pun dimulai.

Kali pertama melihat wajah Ana, si cowok tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Jerawat lo, kok banyak banget, sih?” celetuk si cowok dengan nada tinggi. Ana syok berat. “Kan aku sudah bilang dari awal,” jawab Ana. Yang terjadi kemudian sangat menyakitkan. “Sudah dulu, ya,” kata si cowok lalu memutus video call. Sejak itu, Ana tak pernah disapa.

Ana menceritakan peristiwa ini dengan air mata berlinang dan napas megap-megap. Kentara sekali kekecewaan di raut wajahnya. Video ini mendapat beragam komentar. Mayoritas berempati kepada Ana yang berkali mengusap air mata di pipi dengan tisu. Usai melihat video ini, saya kepikiran dan susah tidur.

Jelita: Jerawat Lima Juta

Pikiran menerbangkan saya ke masa kelas 2 SMP. Memasuki masa peralihan dari anak ke remaja, muka saya penuh jerawat. Kondisi ekonomi saat itu tidak memungkinkan orangtua membelikan saya obat atau menjalani perawatan di klinik. Ini diperburuk dengan fakta, mata saya minus dua. Lengkap sudah level buruk muka saya. Saat berada di rumah ibadah, seseorang cewek mengatai saya, “Ini dia Aldebaran jelita, jerawat lima juta!” Mendengar jargon jerawat lima juta, sejumlah teman ngakak sambil menunjuk-nunjuk muka saya. 

Saya pura-pura tertawa lalu pergi ke kamar mandi dan berkaca. Lusinan jerawat dari jidat sampai dagu saya garuk-garuk hingga sebagian berdarah. Saya jijik melihat muka sendiri dan sejak itu tak pernah mau menyisir rambut lagi. Karena menyisir mengharuskan saya berkaca. Saya tidak siap melihat wajah bertabur jerawat yang tampak di cermin.

Saat kuliah, jerawat menghilang. Wajah saya kinclong lagi tapi keadaan tak lantas membaik. Problem datang dari postur tubuh saya yang dinilai kelewat kurus sehingga struktur wajah saya tampak persegi. Orang menjuluki saya cowok bermutu (BERMUka TUa). Saat saya dan (sebut saja) Panca menongkrong di kafe di pinggir jalan, seseorang teman yang rupawan bilang, “Gue mau ngobrol sama Panca saja.”

Photo by Jessica Lewis on Unsplash
Photo by Jessica Lewis on Unsplash

Di kafe itu saya bagaikan nyamuk. Mendekat dianggap mengganggu. Menjauh, tak ada yang peduli. Akhirnya saya pulang. Saat itu saya berpikir, andai boleh minta kepada Tuhan, saya ingin punya muka dan postur tubuh kayak Leonardo DiCaprio. Apa boleh buat, Allah memercayakan postur tubuh setinggi 170 cm dan kulit wajah berminyak ke saya. 

Perundungan itu berdampak psikologis. Satya dibayangi trauma masa SMP. Saya hingga kini tak punya sisir dan malas mengunggah foto diri di akun medsos. Ejekan jerawat lima juta dari perempuan beinisial RPS masih terngiang. Orang yang melontarkan hinaan mungkin sudah lupa. Namun korban butuh waktu menahun untuk berdamai dengan cacian.

“Ya elah Satya dan Aldebaran, jadi cowok kok baperan,” mungkin sebagian orang berkata demikian. Namun ingatlah ujaran berikut ini: senjata bisa membunuh seseorang, kata-kata tajam bisa mematikan semangat dan harapan. Nasihat lain yang pernah saya dengar, makin banyak kata-kata, makin banyak pula kesia-siaan. Karena jika tidak bisa berkata yang baik, lebih baik diam.

Ada jutaan kata menyejukkan, mengapa memilih kata yang menyakitkan? Saya belajar untuk tidak merundung. Itu dimulai tahun lalu. Saat berjumpa kawan lama biasanya, saya berujar, “Eh, lo kok gemukan?” Kini saya ganti dengan bilang, “Eh, lo apa kabar, sih? Sehat, kan?”