[Di Balik Karpet Merah] Aktor Pendatang Baru Dapat Pekerjaan Malah Marah Soal Durasi Syuting

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 03/07/2020 • Aldebaran Wrisaba
Source: Unsplash

Kelakuan artis sinetron harian ada-ada saja. Seorang aktor ganteng pernah terlibat sensasi dengan selebgram papan atas. Saya sebut selebgram papan atas karena jumlah pengikutnya lebih dari 2 juta dan kerap bikin huru-hara. Mas ganteng dikontrak rumah produksi Cetar untuk membintangi sinetron harian. Setelah tayang beberapa hari di salah satu stasiun televisi swasta, sambutan pemirsa sangat besar. 

Marah-marah Enggak Jelas

Pihak stasiun televisi menerapkan kebijakan baru, menambah durasi tayang buat menguatkan ikatan dengan pemirsa. Konsekuensi dari penambahan durasi tayang tentu saja jam kerja di lokasi syuting memanjang. Syuting sampai pagi. Berkali-kali pulang pagi bikin Mas Ganteng emosi. Ia membandingkan ritme kerja syuting rumah produksi Cetar dengan rumah produksi tetangga. Kesal, Mas Ganteng mengontak casting director lalu marah besar. 

Casting director ini bercerita, “Mas Ganteng marah-marah enggak jelas ke gue. Dia membandingkan rumah produksi tempat gue kerja dengan rumah produksi tetangga yang eksis sejak zaman baheula.” Lebih dari itu, Mas Ganteng minta disiapkan fasilitas suntik vitamin C untuk menopang stamina. 

Mendengar cerita ini, saya balik tanya, “Sebentar, Mas Ganteng ini sebelumnya membintangi sinetron apa? Berapa ratus episode? Pernah dapat nominasi apa?” Ternyata Mas Ganteng belum sepapan atas itu. Casting director sebenarnya tak masalah mendapat kritik atau saran. Toh, kesehatan pekerja di lokasi syuting layak dan wajib diprioritaskan. “Tapi cara dia marah-marah enggak jelas, itu lo,” ia menyayangkan.

Beberapa hari kemudian, tak ada lagi wajah Mas Ganteng di sinetron itu. Karakternya masih ada, tapi wajahnya berubah. Tak dijelaskan mengapa wajah tokoh ini berubah. Apakah akibat kecelakaan lalu operasi plastik. Pokoknya berubah. Pemirsa enggak komplain. Jadi ya, tak perlu dijelaskan kenapa wajah tokoh ini berubah dalam sekejap.

Mendadak Ganti Wajah

Ini yang bikin saya heran. Bukan soal pergantian tokoh melainkan keberanian Mas Ganteng bule jangkung kekar complain dengan teknik marah-marah tak jelas. Pertama, komplain boleh tapi ada etikanya. Bahwa ia sempat sakit, itu satu hal. Tapi apa harus marah-marah? Kecuali kalau sudah komplain baik-baik berkali-kali tapi tak digubris, bolehlah marah. 

Kedua, membandingkan rumah produksi Cetar dengan rumah produksi senior menurut saya kok kurang pas, ya? Tiap perusahaan punya kebijakan. Mas Ganteng, mungkin berpikir, “Kerja di rumah produksi tetangga enak, ya? Disediakan suntik vitamin C bla-bla-bla. Di sini boro-boro.” Seingat saya yang level kecerdasannya ala-ala ini, rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Kerja di tempat orang kayaknya lebih enak. Itu, kan kayaknya.

Ketiga, cobalah ngaca. Posisi Anda setinggi dan sepenting itukah, hingga merasa berhak komplain dengan gaya “marah-marah enggak jelas” kepada casting director alias pihak yang memberi pekerjaan? Kalau Mas Ganteng ini punya pengaruh besar, akting super-duper bagus, dan punya jutaan pengikut di medsos, saya maklum. Mas Ganteng portofolionya belum panjang. Mohon maaf jumlah pengikut di medsos belum ada setengah juta. Tak heran jika Mas Ganteng diganti begitu saja. Pemirsa pun merasa baik-baik saja dengan hilangnya Mas Ganteng dari layar kaca.

Fase Prihatin

Keempat, saya teringat nasihat ayah. “Yang namanya kerja ikut orang itu tidak ada yang 100 persen enak. Pasti ada pahit-pahitnya,” kata Bapak kepada saya yang baru setengah tahun berkarier. Dulu, saat memulai karier di Jakarta, saya diwajibkan menjalani masa bakti selama setahun. Setengah tahun pertama, atasan saya menilai kinerja saya bagus. Ia mengusulkan agar saya diangkat jadi karyawan tetap saja. 

Namun petinggi lain menolak dan berkata, “Tidak. Aldebaran tidak boleh diistimewakan. Dia harus tetap menjalani masa bakti setahun. Kalau mau kasih apresiasi ke Al, silakan tapi tidak dengan percepatan masa bakti.” Mendengar ini, saya sakit hati bukan kepalang. Suatu malam, saya mengeluhkan ini ke Bapak lewat telepon. Saya ingat betul, Bapak bilang, “Al, anakku. Yang namanya membangun karier itu pasti ada fase prihatinnya. Tidak bisa langsung enak atau ujug-ujug tinggi.” Saat itu saya terdiam. Air mata berhenti menetes.

Suara sanubari berkata, siapa tahu percepatan masa bakti yang kandas itu adalah fase prihatin atau ujian saya. Dicocokkan dengan kejadian yang menimpa Mas Ganteng, siapa tahu kerja sampai subuh itu bagian dari fase prihatin yang mesti dijalani. Setelah lolos ujian prihatin, barulah seseorang memanen hasilnya. 

Terakhir, Mas Ganteng tak pernah lagi muncul di televisi. Sekalinya muncul di serial hanya satu episode lalu raib. Konon, insiden “marah-marah enggak jelas” ini menyebar dari satu casting director ke casting director lain. Akibatnya, rumah produksi lain pikir-pikir mau pakai jasa Mas Ganteng. Ngeri bukan, efeknya?

Saya jadi teringat adegan film The Devil Wears Prada (2006). Lelah meladeni Miranda (Meryl Streep), bos yang julidnya level iblis, Andy (Anne Hathaway) mengundurkan diri setelah maksimal mengabdi. Ia melamar ke sebuah koran. Petinggi koran mengontak Miranda untuk menanyakan bagaimana kinerja Andy selama mengabdi kepadanya. Miranda yang pantang menyanjung bawahan bilang kira-kira begini, “Maaf, seumur-umur punya bawahan, Andy salah satu yang mengecewakan saya. Tapi kalau sampai Anda tidak menerima Andy, maka Anda membuat kesalahan besar.”