[Di Balik Karpet Merah] Aktor Ini Tak Percaya Firasat Sebelum Ayahnya Wafat, Lalu Menyesali Perbuatannya

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 07/08 • Aldebaran Wrisaba
Photo by Unsplash/noahsilliman
Photo by Unsplash/noahsilliman

“Ada firasat enggak sebelum beliau meninggal?” Pertanyaan ini terdengar klise lantaran sering ditanyakan jurnalis kepada narasumber yang tengah berkabung. 

Kadang kita berpikir, enggak ada pertanyaan lain apa selain firasat? Di sisi lain, saya berpikir bukankah bisa jadi kita mendengar suara hati, merasakan gelagat, atau firasat sebelum hal baik atau buruk itu terjadi? Belakangan untuk menghindari klise saat wawancara, saya mencari jalan tengah. 

Bisikan Hati Seorang Anak

Salah satunya dengan meminta kesediaan narasumber menceritakan kronologi bagaimana peristiwa itu terjadi. Tentu saja, saya meminta setelah narasumber siap. Dalam kondisi seperti ini empati jurnalis terhadap narasumber perlu diutamakan. 

Suatu siang, bintang sinetron ganteng, sebut saja Rocky, bikin janji temu dengan saya di Jakarta Selatan. Usai mengambil gambar untuk stok, ia menceritakan awal karier.

Usai interview, saya menyodorkan formulir digital berisi tabel data diri yang mesti diisi. Saat mengisi kolom nama orangtua, Rocky termangu. “Rocky, lo enggak apa-apa? Kalau misal keberatan mengisi nama orangtua, dilewati saja enggak apa-apa,” beri tahu saya, mencoba membaca situasi. “Enggak apa-apa Al, gue teringat almarhum Papa,” katanya.

Rocky bilang, genap sewindu ayahnya meninggal. Meski begitu, masih tergambar jelas hari ketika ayahnya pergi. Sejak pagi, ayah bersih-bersih rumah karena tiba-tiba ingin menggelar pengajian. Rocky curiga dan membatin, “Tumben Papa gue inisiatif bikin pengajian. Dalam rangka apa, nih?” Kecurigaan yang dikirim hati nurani ditepikannya. Saat ayahnya sibuk merapikan rumah, Rocky pamit mau nongkrong di mal papan atas di Jakarta.

“Gue minta uang saku buat nongkrong, langsung dikasih. Biasanya Papa, tuh bawel. Kalau dimintai uang pasti nanya dulu buat apa, mau ngapain, bla-bla-bla,” beber Rocky. Siang itu, uang langsung diberikan dan hati nurani Rocky mengirim sinyal curiga. Namun keinginan segera nongkrong mengalahkan segalanya. Saat nongkrong itulah musibah terjadi. Ayah Rocky terjatuh dan tak sadarkan diri. Ia dilarikan ke rumah sakit. Namun tak tertolong. Rocky ditelepon ibunya. Dari ujung telepon terdengar tangisan.

Bisikan Hati Seorang Kru

“Tapi saat itu gue berpikir nyokap gue drama, Al. Papa jatuh saja sampai nangis-nangis,” ia bercerita. Saat diberi tahu ayahnya meninggal, Rocky syok berat. “Kalau ingat peristiwa ini, gue menyalahkan diri sendiri. Ada banyak perubahan terjadi beberapa jam sebelum Papa pergi. Hati beberapa kali mengirim sinyal, kenapa gue enggak peka ya, Al,” ia menyesalkan. Saya bengong, bingung mau menjawab apa.

“Dada gue makin sesak, Al. Setelah mengantar Papa ke peristirahatan terakhir, gue membuka album foto dan baru sadar kalau gue enggak punya foto berdua sama Papa. Gue memang enggak dekat sama Papa,” imbuhnya. Rocky mengisi formulir digital dengan mata berkaca. Saya melihat beberapa kali tangannya gemetar. Duh, hati saya ikut kalang kabut. “Maaf, ya Rock, gue bikin lo sedih hari ini,” ucap saya lirih.

Firasat bukan hanya untuk hal buruk. Hal baik pun ada kalanya didahului firasat. Saya ingat peristiwa dua tahun lalu saat Gading Marten meraih Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2018 lewat film Love For Sale. 

Di lokasi syuting, sutradara Andibachtiar Yusuf, kaget dengan transformasi Gading Marten saat berada di depan kamera. Saat itu ia sadar, Gading Marten bakat besar yang jarang dilirik atau diberi peran menantang. 

Memasuki hari ketiga syuting, pencatat adegan yang terkesima dengan performa Gading Marten membisiki Andi, “Dia bisa menang FFI.” Mendengar ini, Andi terdiam sejenak. Siapa sangka, ujaran ini menjadi kenyataan. 

Bisikan Hati Seorang Istri

Hal serupa terjadi di lingkungan keluarga saya. Ibu saya punya sahabat, sebut saja Rani. Persahabatan ibu dan Rani terjalin bahkan sebelum saya lahir. 

Suami Rani ambruk akibat stroke. Berbulan-bulan Rani menggantikan posisi suami sebagai kepala keluarga. Suatu pagi, saat hendak berangkat kerja ke pabrik, tangan Rani dipegangi suaminya. Momen ini diceritakan Rani kepada ibu saya saat tiba di pabrik.

“Mbak, tadi pas aku mau berangkat ke pabrik, suamiku megangin tanganku. Katanya minta ditemani, enggak mau ditinggal,” kata Rani kepada ibu. “Suamiku bilang: Mau ke mana, kamu jangan pergi. Temani aku sekali ini saja,” imbuhnya. 

“Kok kamu tetap berangkat, Ran? Kan suamimu minta ditemani,” tanya ibu, hari itu. “Kalau aku enggak kerja nanti dapat uang dari mana, Mbak,” Rani menjawab. Ibu paham kondisi Rani lalu mengusap pundaknya. Pukul 5 sore, Rani dan ibu keluar pabrik. Keduanya berpisah di pintu gerbang. Tiba di rumah, sekitar satu jam kemudian, Rani menelepon ibu.

“Mbak…,” kata Rani dari ujung telepon. Setelah menyapa ibu, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Yang terdengar hanya tangis histeris Rani. Ibu menggeleng, matanya memerah. Ibu bergegas ke rumah Rani ditemani Bapak. Di depan rumah Rani, bendera kuning berkibar. Rani menyambut kedatangan ibu, memeluknya sambil tersedu-sedu. 

Pernahkah Anda mengalami peristiwa (dalam konteks bahagia maupun sedih) seperti ini? Sebagian dari kita mungkin tak percaya firasat. Menganggapnya kelenik, takhayul, atau kebetulan belaka. 

Ada pula yang percaya, kadang Tuhan mengirim pesan dalam beragam bentuk kepada kita. Pesan itu bisa berupa hati yang mendadak gelisah tanpa sebab, kata-kata yang berkelebat di pikiran, atau bahkan mimpi.

Percaya atau tidak terhadap firasat itu hak pribadi masing-masing. Kalau boleh berbagi opini, ada baiknya kita lebih mengasah kepekaan nurani. 

Kadang, ada perubahan tak biasa terjadi di sekitar kita. Termasuk perubahan dari orang-orang yang kita sayangi. Merespons perubahan dengan cermat amat penting agar tak berujung penyesalan. Mari lebih peka.