Di Balik Ahok dan Candra Hamzah, Ada Apa dengan BUMN Kita?

Kompas.com Dipublikasikan 01.45, 20/11/2019 • Johar Arief
PRIYOMBODO
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

LANGKAH Menteri BUMN Erick Thohir menjadi sorotan akhir-akhir ini. Erick mengundang mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa dipanggil Ahok, ke kantornya, Rabu (13/11/2011).

Usai pertemuan, Ahok mengatakan dirinya diajak bergabung di BUMN. Ia pun disebut-sebut bakal masuk ke BUMN yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak di sektor energi. Dua perusahaan pelat merah, yakni PT PLN dan Pertamina, digadang-gadang menjadi tujuan Ahok.

Belum jelas posisi yang akan diisi Ahok di BUMN, bisa sebagai direksi ataupun di dewan komisaris. Saat ini nama Ahok tengah menjalani proses seleksi yang melibatkan Tim Penilai Akhir (TPA) yang diketuai Presiden Joko Widodo. Kepastian posisi Ahok akan diumumkan Desember mendatang.

Rencana penunjukan Ahok sebagai petinggi BUMN strategis langsung mengundang kontroversi. Berbagai pihak mempermasalahkan rencana penunjukan Ahok.

Beragam alasan dikemukakan, mulai dari status Ahok yang mantan narapidana, keanggotaannya di partai politik, hingga tak memiliki latar belakang mengelola korporasi besar.

Penolakan terhadap Ahok, karena dinilai sebagai pembuat gaduh, bahkan muncul dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB).

Namun, tak sedikit pula yang mendukung penempatan Ahok di BUMN. Sosok Ahok yang tegas dan lurus tanpa kompromi dinilai tepat untuk membereskan BUMN.

Mengenai pemilihan nama Ahok, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan butuh “pendobrak” untuk bisa memajukan perusahaan pelat merah.

Kementerian BUMN sendiri mengisyaratkan nama Ahok muncul dari Istana. Presiden Jokowi pun angkat bicara. Ia mengatakan mantan wakilnya di Pemprov DKI tersebut telah membuktikan kinerjanya.

Chandra Hamzah

Setelah Ahok, giliran mantan komisioner KPK Chandra Hamzah dipanggil Erick Thohir ke kantor Kementerian BUMN, Senin (18/11/2019). Chandra juga akan direkrut untuk mengisi posisi di BUMN.

Pada hari yang sama, politisi Partai Golkar, Rizal Mallarangeng, juga menyambangi kantor Kementerian BUMN.

Namun, Rizal mengaku hanya bertukar pikiran dengan Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga. Ia menampik ada penawaran untuk mengisi posisi di BUMN dalam pertemuan tersebut.

Dua nama yang telah diminta untuk mengisi posisi di BUMN, Ahok dan Chandra Hamzah, sama-sama dikenal sebagai sosok “garis keras” dalam melawan korupsi.

Pada 2014, Chandra sempat diangkat menjadi komisaris utama PT PLN. Pengalamannya di KPK dinilai berguna dalam mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik di PLN.

Namun, posisi ini hanya diembannya selama setahun.

Ada apa dengan BUMN?

Direkrutnya kedua sosok tersebut memunculkan pertanyaan, ada apa dengan BUMN?

Figur “garis keras” melawan korupsi kini dijadikan panglima untuk membenahi BUMN, alih-alih sosok yang memiliki pengalaman segudang dalam mengelola korporasi besar dengan kapabilitas mumpuni di bidang industri dan bisnis sektoral.

Kengototan pemerintah ini tampak dari pembelaan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, terhadap penunjukan Ahok.

Setidaknya tiga kali Luhut tercatat membela Ahok, termasuk pasang badan saat Ahok diserang oleh FSPPB.

“(Ahok) itu orang baik, mau bikin lurus bersih ya, (masa) ndak mau dibersihin," ujar Luhut. “Emang dia siapa (FSPPB)?.”

Strategi bersih-bersih BUMN ini akan dibahas mendalam pada panggung Satu Meja The Forum, Rabu (20/11/2019), yang disiarkan secara langsung di Kompas TV mulai pukul 20.00 WIB.

Akankah gebrakan pemerintah tersebut mampu membereskan BUMN?

Langkah pemerintah merekrut Ahok dan Chandra Hamzah setidaknya mencerminkan permasalahan utama yang kini mendera BUMN, khususnya BUMN strategis.

Permasalahan tersebut adalah korupsi, mafia, dan BUMN yang menjadi ladang bancakan.

Korupsi di BUMN menjadi sorotan setelah direksi sejumlah BUMN dijerat KPK. Bukan tidak mungkin praktek korupsi di perusahaan-perusahaan plat merah ibarat fenomena gunung es yang hanya tampak permukaannya saja.

Keberadaan mafia yang melumpuhkan BUMN juga bukan isapan jempol. Gurihnya bisnis BUMN menjadi penyebabnya. Ini pula yang membuat BUMN dijadikan lahan bancakan oleh pihak-pihak tertentu.

Praktik-praktik ini lah yang selama ini membuat BUMN kita carut marut dan tidak sehat.

Sederet permasalah ini mungkin telah mencapai tingkatan parah yang butuh tindakan nekad dan berani untuk menyelesaikannya. Tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh sosok-sosok “gila” seperti Ahok.

Penulis: Johar Arief

Editor: Heru Margianto

Artikel Asli