Derita Kuswanto Pascaoperasi, Tulang Pinggul Hilang, Feses Bocor di Bekas Jahitan Perut

Kompas.com Dipublikasikan 23.00, 19/11/2019 • Kontributor Grobogan, Puthut Dwi Putranto Nugroho
KOMPAS.COM/PUTHUT DWI PUTRANTO NUGROHO
Kuswanto (37) terbaring lemas di atas ranjang rumahnya di Desa Genengadal, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (14/11/2019).

GROBOGAN, KOMPAS.com - Luka berlubang menganga sebesar bola pingpong masih bersarang di pantat kanan Kuswanto (37), warga Desa Genengadal, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. 

Cedera yang menyisakan rongga pascaoperasi medis setahun lalu itu terhitung mengerut ketimbang sebelumnya yang empat kali lipat lebih besar ukurannya. 

Luka tembus ke dalam itu terbalut perban yang setiap saat diganti oleh petugas puskesmas yang merawatnya. 

Tak hanya itu saja, di perut Kuswanto juga ada luka kering memanjang bekas jahitan pascaoperasi serta ada lubang kecil untuk anus buatan.

Inilah kisah dan derita Kuswanto, yang saat disambangi Kompas.com mengatakan jika bisa memutar waktu, ia memilih untuk tidak dioperasi…

Baca juga: Derita Habiba, Jalan Kaki 1 Kilometer untuk Dapatkan Air Bersih

 

Operasi paha atas

Paman Kuswanto, Siswandi (45) saat ditemui Kompas.com di kediaman orangtua Kuswanto, Kamis (14/11/2019) pagi menceritakan ihwal derita yang mendera keponakannya itu. Kuswanto juga merupakan tokoh warga setempat. 

 

Menurut Siswandi, pada pertengahan 2018, Kuswanto harus menjalani operasi penggantian tulang sendi pinggul kanan (tulang paha bagian atas) di sebuah rumah sakit di Jawa Tengah setelah diidentifikasi menderita tulang keropos 

Sebelum menjalani pembedahan, Kuswanto didampingi keluarganya berkonsultasi ke rumah sakit di wilayahnya, lalu ke rumah sakit di Jawa Tengah.

"Di rumah sakit di Jawa Tengah, Kuswanto menjalani operasi. Tulang sendi paha atas diangkat dan diganti dengan tulang buatan. Katanya sih tulang keropos," kata Siswandi. 

Pascaoperasi, Kuswanto menjalani 10 bulan kontrol. Namun setelah itu, tim medis rumah sakit menginformasikan untuk menjalani operasi kedua karena tulang buatan kurang pas dan akan diganti yang baru. 

Namun saat operasi, tim medis hanya mengambil tulang buatan itu tanpa sempat mengganti dengan tulang buatan yang baru. Alasannya kehabisan waktu dan jika diteruskan bisa fatal karena Kuswanto pendarahan hebat saat operasi.

"Jadi, bagian pantat kanan kosong karena diambil tulang buatannya," ungkap Siswandi yang terus mendampingi Kuswanto sejak awal operasi hingga rampung.

Beberapa hari pascaoperasi yang kedua, bukannya berangsur membaik, kondisi kesehatan Kuswanto justru kian terpuruk. Kuswanto bahkan tak lagi bisa buang gas, buang air kecil dan buang air besar.

 

Akibatnya, rumah sakit merujuk Kuswanto ke rumah sakit lain di Jawa Tengah. 

Baca juga: Derita Bayi Mizyan, Kulitnya seperti Plastik, Selalu Menangis Saat Mengelupas

Ganti operasi perut 

Di rumah sakit baru, Kuswanto menjalani perawatan selama satu bulan. Dia tercatat telah menjalani dua kali operasi perut setelah ditemukan adanya gangguan fungsi pada usus besar. 

Pada operasi pertama, usus dipotong 12 sentimeter untuk memperlancar saluran pencernaan. Namun, kotoran atau feses justru bocor hingga keluar melalui lubang bekas jahitan operasi.

Sampai akhirnya operasi yang kedua pun dilaksanakan dengan memotong usus sepanjang 13 sentimeter, hingga tim medis melakukan "kolostomi".

Sederhananya, kolostomi adalah operasi pembuatan lubang di perut untuk mengeluarkan kotoran atau feses.

Jenis operasi ini sering disebut sebagai terapi pengalihan usus, karena tujuan kolostomi adalah menggantikan fungsi usus besar untuk menampung dan mengeluarkan feses. 

Operasi ini dilakukan dengan cara membuka salah satu ujung usus besar, lalu dihubungkan pada bukaan atau lubang (stoma) pada dinding perut. Feses tidak akan lagi keluar melalui anus, tapi melalui lubang alias stoma pada dinding perut tadi.

Setelah itu, pada lubang perut akan ditempelkan sebuah kantong kolostomi untuk menampung feses yang keluar. Kantong ini perlu diganti secara rutin setelah kotorannya penuh supaya tidak menimbulkan infeksi.

Ada sedikit perbedaan bentuk feses yang keluar lewat anus dan lubang perut. Bedanya, feses yang keluar mungkin tidak sepadat saat keluar melalui anus, tapi cenderung lebih lunak atau cair. 

"Katanya karena usus lengket sehingga tak bisa kentut, kencing dan buang air besar. Operasi perut pertama, usus dipotong 12 sentimeter, namun justru feses bocor melalui luka bekas jahitan. Lalu digelar operasi kedua dengan memotong usus 13 sentimeter serta dibuatkan lubang di perut untuk mengeluarkan feses," terang Siswandi, pekerja swasta ini.

Baca juga: Derita Maria, Mengidap Penyakit Tumor Ganas, Ingin Sembuh Tidak Ada Uang untuk Berobat

Menyesal, ingin mengulang waktu

Meski semua biaya medis itu telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, namun jaminan itu tak bisa membayar rasa kekecewaan Kuswanto.

Penyesalan tak berujung yang dirasanya telah merenggut masa-masa terpenting dalam hidupnya.

Kini kondisi fisik dan kesehatan Kuswanto telah berubah drastis pascaserentetan operasi yang dijalaninya itu. Tak selazimnya pria seumuran Kuswanto yang leluasa berbuat apapun.

Sekujur tubuh Kuswanto kurus kerontang tinggal tulang berbalut kulit. Ukuran kedua tangan dan kaki pria lajang ini nyaris sama.

Kuswanto pun sudah tak berhasrat untuk makan dan minum seperti sedia kala. Saat ini jangankan membalikkan tubuhnya sendiri, menggerakan kedua tangan dan kakinya saja Kuswanto tak mampu. 

Walau tak berdaya dan hanya bisa terbaring lemas di atas ranjang di rumah, Kuswanto tetap bersyukur. Daya berfikir Kuswanto masih cukup cakap. Respons inderanya dalam melihat dan berbicara juga masih bagus.

"Jika saya bisa mengulang waktu, saya memilih menolak menjalani operasi. Bahasa kasarnya, kalau saya tidak dioperasi, saya tidak mungkin seperti ini," katanya.

"Dulu meski kaki saya sakit, saya masih bisa berjalan dengan tongkat dan jalani hidup dengan normal. Saya hanya meminta pertanggungjawaban dari tim medis yang telah membuat saya begini."

"Tolong kembalikan tulang dan keutuhan tubuhku. Saya ingin sehat kembali. Ya Alloh, sakit tubuh ini," lirih Kuswanto, lulusan Madrasah Tsanawiyah ini.

Dalam keseharian, Kuswanto hanya bisa menunggu suapan nasi dengan lauk seadanya dari ibundanya, Sukartini (50).

Terkadang, Kuswanto pun meminta ibundanya untuk menyalakan televisi sebagai sarana hiburan memecah kesepian di rumah kecil nan sederhana itu. 

Petugas Puskesmas setempat yang merasa iba pun rela memberikan perawatan gratis, seperti membersihkan luka dan mengganti perban serta kantong kolostomi saban hari.

"Pasca operasi, masih diharuskan kontrol sebulan sekali. Memang semua biaya tercover BPJS, namun biaya akomodasi kami sudah tak mampu. Apalagi, kami hanya buruh tani," sambung Sukartini.

Baca juga: Derita Rosma, Bocah Penderita Lumpuh yang Ditelantarkan Ibu Kandung

Terjatuh sebelum divonis tulang keropos

Ayah Kuswanto, Suparno (60), mengatakan, sebelum divonis mengidap tulang keropos pada bagian tulang paha kanan atas, Kuswanto terlebih dulu mengalami cedera saat bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta.

Saat itu ketika berjalan tanpa alas kaki, kaki kanan Kuswanto menginjak batu hingga akhirnya jatuh tersungkur.

Sejak saat itu kaki kanan Kuswanto mengalami pembengkakan hingga menuntunnya untuk balik ke kampung halaman.

"Sepulang nguli dari Jakarta, kaki kanannya bengkak. Perlahan kaki kanannya sakit hingga harus berjalan dengan tongkat. Waktu itu hanya periksa ke pengobatan tradisional karena kami pikir hanya luka biasa saja. Sampai akhirnya karena tak kunjung sembuh, kami ke rumah sakit," tutur Suparno.

Orangtua Kuswanto berharap supaya pemerintah sudi memerhatikan nasib bungsu dari tiga bersaudara itu.

Mereka pun mengaku sudah tak bisa berbuat apa apa lagi dengan kondisi yang dialami oleh Kuswanto. Bahkan, sambung Suparno, pihak medis yang telah menangani operasi pembedahan Kuswanto tak pernah sekalipun menghubungi keluarganya.

"Kami ini siapa, hanya orang kecil yang tak tahu apa-apa. Mau menuntut juga tak berani. Istilahnya tak ada tanggungjawab dari sana. Kami terus berdoa semoga ada keajaiban dari Allah. Kami pasrah. Jangankan kontrol atau periksa ke dokter, uang saja sudah tidak punya. Tolong bantu kami," pungkas Suparno.

Baca juga: Kisah Fendi, Derita Penyakit Misterius 4 Tahun Terbaring Kaku Seperti Kayu

Penulis: Kontributor Grobogan, Puthut Dwi Putranto NugrohoEditor: Aprillia Ika

Artikel Asli