Deretan Negara yang Resmi Masuk Jurang Resesi Akibat Pandemi Corona

Merdeka.com Dipublikasikan 01.00, 03/08/2020

                krisis ekonomi. shutterstock
Bank Dunia dalam laporan Prospek Ekonomi Global yang dirilis pada Senin (8/6), memperkirakan ekonomi global turun sebesar 5,2 persen tahun ini imbas pandemi covid-19. Resesi ini dinilai jadi resesi terdalam sejak Perang Dunia Kedua.

Resesi ekonomi tengah menjadi hal yang diwaspadai seluruh dunia. Mengingat, pandemi virus corona telah mempengaruhi berbagai segi kehidupan, mulai dari kesehatan, sosial, hingga ekonomi.

Bank Dunia dalam laporan Prospek Ekonomi Global yang dirilis pada Senin (8/6), memperkirakan ekonomi global turun sebesar 5,2 persen tahun ini imbas pandemi covid-19. Resesi ini dinilai jadi resesi terdalam sejak Perang Dunia Kedua.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebutkan kondisi perekonomian dunia sudah resesi dan mulai masuk pada potensi depresi karena pandemi Covid-19. Pandemi tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga sosial.

Menurutnya, pandemi Covid-19 telah menghilangkan progres dari upaya yang dilakukan oleh Pemerintah selama beberapa tahun terakhir, terutama mengenai kemiskinan dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, pandemi ini berdampak pada perekonomian negara secara signifikan yang berarti sumber pendanaan untuk mencapai tujuan akan tertahan.

Di Indonesia, capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II memang belum dipublikasikan. Namun banyak yang melihat bahwa Indonesia juga akan tergelincir dalam jurang resesi.

"Walaupun BPS belum merilis capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II, beberapa secara tidak resmi sudah memperkirakan akan negatif di angka 4 persen sampai dengan 5 persen. Artinya Indonesia mengalami resesi seperti juga dialami berbagai negara," kata Ekonom, Candra Fajri Ananda kepada Liputan6.com, Jumat (31/7).

Berikut deretan negara yang sudah masuk jurang resesi akibat pandemi virus corona.

Uni Eropa

Uni Eropa resmi masuk jurang resesi di tahun ini, setelah ekonomi tumbuh minus 11,9 persen pada kuartal II 2020. Sebelumnya pada kuartal awal tahun ini, ekonomi benua biru itu tercatat minus sebesar 3,2 persen.

Dilaporkan CNN, berdasarkan hasil survei terbaru oleh sejumlah lembaga riset disebutkan bahwa di sejumlah negara utama benua tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Akan tetapi, ledakan pasien positif Covid-19 menjadi hal buruk yang justru dapat memperburuk kondisi ekonomi Eropa.

Menyikapi hal itu, Robert Koch Institute, lembaga pusat kendali penyakit Jerman, mulai mengkhawatirkan perluasan wabah Covid-19 di sejumlah negara utama Eropa. Sebab wabah ini telah mengakibatkan terhentinya aktivitas ekonomi dalam durasi lama.

Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) resmi masuk jurang resesi. Ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami kontraksi atau tumbuh minus 32,9 persen secara tahunan pada kuartal II 2020. Ini merupakan penurunan terburuk sepanjang sejarah.

Dengan ekonomi yang minus ini, Amerika Serikat (AS) masuk jurang resesi. Pada kuartal I 2020 atau periode Januari hingga Maret, pertumbuhan ekonomi AS juga telah minus 5 persen.

Mengutip CNN Business, AS terjerumus dalam jurang resesi untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Bisnis yang berhenti akibat kebijakan lockdown untuk menghambat penyebaran virus Corona memusnahkan pertumbuhan ekonomi yang telah dicetak selama bertahun-tahun.

Resesi biasanya didefinisikan sebagai penurunan pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal secara berturut-turut hingga menyentuh angka minus. Di AS, ekonomi pada kuartal I minus 5 persen dan pada kuartal II minus 32,9 persen.

Korea Selatan

Korea Selatan memasuki resesi untuk pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir. Resesi disebabkan ekspor yang anjlok imbas pandemi covid-19.

Bank of Korea mengumumkan bahwa produk domestik bruto negara itu turun 3,3 persen pada periode April-Juni dibandingkan kuartal sebelumnya, sebesar 1,3 persen. Ini adalah pertama kalinya ekonomi menyusut selama dua kuartal berturut-turut sejak 2003, dan penurunan kuartalan adalah yang paling curam sejak 1998.

Ekspor turun hingga 16,6 persen, dan merupakan penurunan paling tajam sejak 1963. Serta impor yang juga turun 7,4 persen. Sementara konsumsi swasta meningkat 1,4 persen karena pengeluaran yang lebih tinggi untuk barang tahan lama, seperti mobil dan peralatan rumah tangga.

"Perekonomian Korea telah menurun sejak Oktober 2017, dan goncangan covid-19 mempercepat laju penurunan ekonomi," kata direktur BOK Park Yang-soo seperti dilansir dari Nikkei, Kamis (23/7).

Menteri Keuangan, Hong Nam-ki mengatakan, penutupan ekonomi global selama pandemi ini telah menghentikan jalur produksi luar negeri perusahaan-perusahaan Korea di Vietnam dan India. Sehingga semakin membebani ekspor.

Singapura

Ekonomi Singapura resmi memasuki resesi pada kuartal II-2020. Salah satu indikator yang ditunjukkan yaitu kontraksi/perlambatan sampai 41,2 persen dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

Angka tersebut merupakan nilai perlambatan paling rendah yang pernah dialami Singapura, salah satunya karena kebijakan karantina yang melumpuhkan sektor dagang di negara tersebut.

Beberapa ekonom memperkirakan ekonomi Singapura akan turun sampai 37,4 persen, dan sektor konstruksi akan mengalami perlambatan paling parah sampai 95,6 persen.

Informasi awal dari Kementerian Perdagangan dan Industri pada Selasa menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura year-on-year (yoy) turun sampai 12,6 persen. Pengamat sebelumnya memprediksi PDB anjlok sampai 10,5 persen.

Turunnya nilai PDB Singapura itu merupakan kontraksi kedua yang terjadi berturut-turut pada perekonomian Singapura. PDB sebelumnya turun 0,3 persen (yoy) pada kuartal I dan 3,3 persen jika dilihat dari kuartal-per-kuartal. Kondisi itu menunjukkan perekonomian Singapura menghadapi resesi.

Artikel Asli