Deretan Klub Tajir di Benua Asia

Bolalob Diupdate 03.46, 17/09/2019 • Dipublikasikan 06.00, 17/09/2019 • Robert

Klub-klub top Eropa masih menguasai daftar 100 besar klub terkaya di dunia tahun 2019 yang dikeluarkan oleh The Soccerex Football Finance.

The Soccerex Football Finance memiliki lima aspek dalam menilai kekayaan klub sepakbola tersebut, mulai dari nilai jual pemain, aset (seperti stadion, markas latihan atau properti lainnya), kas di bank, potensi investasi dari pemilik hingga total hutang.

Manchester City menduduki posisi teratas dengan nilai skor tertinggi, yakni 4.21. Nilai pasar skuat Citizen mencapai 1 miliar poundsterling atau setara dengan Rp 17 triliun!  PSG, Bayern Muenchen, Tottenham Hotspur, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Juventus dan Chelsea menyusul di urutan ke 2 hingga 10.

Bagaimana dengan klub Asia?

Tercatat hanya ada 8 klub Asia yang masuk ke dalam daftar 100 besar klub terkaya di dunia. Dan semuanya berasal dari Tiongkok.

Guangzhou Evergrande memiliki peringkat tertinggi dalam daftar klub terkaya di dunia yaitu ke-12. Kekayaan dan nilai investasi dari sang pemik yang mencapai 548 juta pounds (rp 9.4 triliun) membuat mereka bisa dibilang klub terkaya di benua Asia saat ini.

Guangzhou dimiliki oleh grup Evergrande yang bergerak di bisnis properti di Tiongkok. Sejak tahun 2016 Alibaba yang dimiliki Jack Ma juga menguasai hampir 38% saham klub.

Mengikuti Guanzhou juga ada tujuh klub asal Tiongkok lain yaitu Tianjin Quanjian (100), Shandong Luneng (94), Hebei China Fortune (89), Shanghai Shenhua (86), Jiangsu Suning (75), Beijing Guoan (69) dan Shanghai SIPG (63).

Rata-rata mereka dimiliki oleh konglomerat asal Tiongkok yang bergerak di bidang investasi, asuransi, keuangan hingga perbankan. Bukan hal sulit bagi klub Liga Super Tiongkok untuk mendatangkan pemain kelas dunia dengan bayaran tinggi tentunya. Seperti eksodus pemain bintang yang membanjiri negara itu sejak tahun 2012 lalu.Lantas Klub Asia mana yang memiliki nilai kekayaan mentereng?

Di Qatar ada Al-Duhail SC dan Al Sadd SC yang memiliki dompet tebal. Al-Duhail yang sebelumnya bernama Lekhwiya dimiliki oleh Sheikh Abdullah bin Nasser yang merupakan anggota kerajaan negara Qatar.

Sheikh Abdullah bin Nasser juga memiliki investasi di klub Eropa, seperti Malaga asal Spanyol.

Sementara Al Sadd dimiliki oleh Mohammed bin Hamad yang merupakan putra dari Hamad bin Khalifa Al Thani, dimana pernah mencoba membeli Manchester United pada tahun 2011 lalu namun ditolak oleh keluarga Glazers.

Lalu di Arab Saudi setidaknya ada tiga klub yang memiliki nilai transfer pemain melebihi 40 juta euro (Rp 617 miliar).

Al-Nassr, Al-Ahli Saudi FC dan Al-Hilal FC menjadi tiga klub terkaya di Arab Saudi saat ini, mereka dimiliki oleh anggota kerajaan.Asia Timur dan ASEAN

Sementara itu di Jepang dan Korea Selatan, rata-rata klub dimiliki oleh perusahaan negara itu. Sebut saja Jeonbuk Hyundai Motors, Suwon Samsung Bluewings FC hingga FC Seoul yang sempat dimiliki oleh perusahaan elektronik terkemuka negara itu LG.

Di Jepang ada Urawa Red Diamonds yang dimiliki oleh perusahaan otomotif Mitsubishi, Kashima Antlers berada dibawah naungan grup besar di bidang besi dan baja Nippon.

Buriram United juga menjadi salah satu klub top di benua Asia, mereka memiliki nerasa keuangan yang stabil dan juga prestasi mengkilap di Liga Thailand. Buriram dimiliki oleh mantan perdana menteri Thailand, Newin Chidchob.

Pebisnis lokal ini memiliki ambisi besar untuk mengangkat Buriram ke level tertinggi di Asia, di tahun 2011 ia membangun stadion baru untuk klubnya yang bernilai mencapai 17 juta us dollar!

Selain Buriram ada nama Muangthong United, salah satu klub yang memiliki sumber daya melimpah di Thailand. Klub ini menjadi salah satu unit bisnis Siam Cement Group, perusahaan semen terbesar dan tertua di Asia Tenggara.

Nama klub asal Asia Tenggara terakhir yang memiliki kekayaan melintir adalah Johor Darul Takzim asal Malaysia. JDT tak segan untuk mendatangkan banyak pelatih dan bintang top dunia untuk bermain di Liga Super Malaysia.

JDT dimiliki oleh Tunku Ismail Sultan Ibrahim pangeran kerajaan Johor. Mereka sedang membangun stadion baru bernilai Rp 690 miliar!Klub Indonesia Mulai Mengarah ke Asia Bahkan Eropa

Di Indonesia ada beberapa klub profesional yang memiliki jejak dan juga neraca keuangan cukup stabil, seperti Bali United yang sebelumnya adalah Persisam Putra Samarinda.

Sejak tahun 2015 Bali United bertransformasi menjadi salah satu klub menjanjikan, mereka tak takut untuk meniru gaya operasional klub-klub Eropa.

Tahun ini Bali United juga melantai di bursa saham, mereka dikomandoi oleh kakak-beradik Peter dan Yabes Tanuri. Keduanya adalah pemilik dari Multistrada Arah Sarana, perusahaan ban terkemuka di Indonesia.

Persib Bandung juga menjadi kekuatan sepakbola Indonesia beberapa dekade terakhir, namun baru di tahun 2009 mereka menjelma menjadi konsorsium baru dibawah arahan investor baru Glenn Sugita. Konsorsium yang dipimpin Glenn mengakuisisi 70 persen saham PT Persib, dengan menyuntikkan modal dasar Rp4 miliar.

PSM Makassar juga mulai berbenah sejak masuknya Munafri Arifuddin menjadi CEO klub pada tahun 2016. Munafri Arifuddin beserta jajaran pemilik saham PSM pun tak berselang lama mengganti nama perusahaan menjadi PT Persaudaraan Sepakbola Makassar.

Masuknya Appi sapaan akrab Munafri sebagai CEO PSM di tahun 2016 lalu tak terlepas dari perubahan struktur di Bosowa Coorporation sebagai perusahaan pemilik saham mayoritas PSM. Bosowa merupakan perusahaan semen nasional.