Depresi Sakit Maag Tak Sembuh, Emak-emak Warga Ubud Tewas Gantung Diri

Radar Bali Dipublikasikan 02.26, 14/12/2019 • Ali Mustofa
Depresi Sakit Maag Tak Sembuh, Emak-emak Warga Ubud Tewas Gantung Diri
“Menurut keretangan suami korban, sehari sebelum kejadian korban sempat menanyakan uang berobat guna penyakit maag yang dideritanya,” ujarnya.

UBUD – Stres lantaran sakit maag yang diidap tak kunjung sembuh, Luh Resiasni, 35, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tragis: gantung diri di kamar mandi di rumahnya di Banjar Kutuh, Desa Sayan, Kecamatan Ubud.

Korban ditemukan tak bernyawa usai menggantungkan tubuhnya di dalam kamar mandi Jumat (13/12) kemarin.

Kapolsek Ubud Kompol I Nyoman Nuryana menyatakan sekitar pukul 06.30, korban Luh Resiani sempat mengantar anaknya sekolah.

Selanjutnya korban masuk ke dalam kamarnya. Kemudian, mertuanya Ni Wayan Rentep, 70, membawakan bubur untuk korban.

“Saksi (mertua, red) memanggil-manggil korban namun tidak menyahut. Sehingga saksi merasakan curiga akan kondisi korban. Kemudian saksi membuka kamar mandi yang dalam keadaan tertutup,” ujarnya.

Mertuanya pun melihat korban Luh Resiani dalam keadaan gantung diri. “Korban ditemukan menggantungkan lehernya ke plafon kayu di kamar mandi menggunakan

kain selendang warga orange,” jelasnya. Selanjutnya mertuanya Ni Wayan Rentep memanggil suami korban Kadek Agus Ariana.

Suami korban juga menghubungi kepala dusun Kutuh, Desa Sayan, serta memanggil Bhabinkamtibmas Sayan.

Jasad korban juga telah diperiksa oleh pihak Puskesmas Ubud II. Tidak ditemukan tanda kekerasan. Diperkirakan korban meninggal dunia 2 jam sebelum ditemukan.

“Menurut keretangan suami korban, sehari sebelum kejadian korban sempat menanyakan uang berobat guna penyakit maag yang dideritanya,” ujarnya.

Polisi belum mengetahui motif kematian korban secara pasti. “Namun suami korban menjelaskan korban menderita sakit maag yang tidak kunjung sembuh. Sehingga depresi dan nekat bunuh diri,” jelas Kompol Nuryana.

Sementara itu, jasad korban akan dikuburkan di setra setempat pada malam hari. Itu sesuai tradisi di desa setempat. Apabila ada warga yang meninggal tidak wajar, dikuburkan malam hari.

Artikel Asli