Denda 534 Juta ala Disiplin Frank Lampard

Pandit Football Dipublikasikan 17.30, 16/11/2019 • Adrianus Eduard Johanes Saerong
Denda 534 Juta ala Disiplin Frank Lampard

Musim 2019/2020 seharusnya menjadi kampanye tanpa beban bagi Chelsea. Mereka tak diizinkan memboyong pemain baru. Kehilangan Maurizio Sarri yang memilih hengkang ke Juventus. Dilatih oleh Lampard yang baru memiliki pengalaman sebagai manajer Derby County di divisi dua sepakbola Inggris. Jika mereka tampil buruk, banyak alasan yang bisa digunakan.

Kenyataannya, the Blues duduk di peringkat ketiga klasemen sementara Liga Primer Inggris 2019/2020. Mengoleksi 26 poin hasil dari delapan kemenangan dan dua hasil imbang. Hingga pekan ke-12, Jorginho dan kawan-kawan baru menelan dua kekalahan.

Permainan yang diterapkan Lampard tentu membuahkan hasil di atas lapangan. Akan tetapi, dirinya tak hanya memikirkan aspek dalam pertandingan saja. Ia membentuk para pemain Chelsea jadi pribadi yang disiplin sebelum mereka menginjakkan kaki ke atas lapangan. Denda sebesar 30 ribu Paun alias 543,23 juta Rupiah diberikan kepada mereka yang terlambat datang ke latihan.

Menurut laporan the Athletic, Lampard akan memberi denda sebesar 20 ribu Paun (362,15 juta Rupiah) untuk setiap pemain yang terlambat datang saat laporan tim. Tiap 15 menit, denda itu akan bertambah 2.500 Paun (45,26 juta Rupiah).

Lampard mengadakan latihan sekitar jam 11 pagi waktu setempat. Biasanya, laporan tim dilakukan 30 menit atau satu jam sebelum latihan. Artinya, pemain-pemain Chelsea dapat kehilangan  25-30 ribu Paun jika datang tepat saat latihan. Itu sama saja, memotong 31,5 hingga 37,5 persen dari gaji sendiri.

Sejak awal, Lampard sudah menekankan kepada pemainnya untuk menghargai semua pegawai yang ada di Cobham –tempat latihan Chelsea-. Entah itu satpam, penjaga kantin, siapapun itu, mereka dihormati dan dihargai oleh para pemain the Blues. Pegawai-pegawai ini sudah datang mempersiapkan tempat latihan Tammy Abraham dan kawan-kawan sejak pagi. Jika ada pemain yang terlambat, berarti dirinya meremehkan pekerjaan pegawai-pegawai tersebut.

Bahkan jika mau, para pemain dipersilahkan untuk datang lebih awal dan sarapan di Cobham. Tapi, kantin akan tutup satu jam sebelum latihan dimulai. Lampard tidak ingin pemainnya berlatih dengan perut kekenyangan. Ketepatan waktu adalah segalanya bagi Lampard. Meski itu bukan satu-satunya hal yang bisa membuat pemain Chelsea bangkrut. Ada juga beberapa hal lain yang juga akan menghasilkan denda apabila dilanggar.

Kepada Athletic, Lampard mengaku bahwa dirinya sangat ketat dengan hal-hal rutin. Rutinitas bahkan sudah menjadi takhayul tersendiri baginya. “Bahkan untuk mengajak anjing saya jalan-jalan saja, sudah ada waktu tertentu. Saya akan membawanya pergi pagi-pagi, mengajaknya beli kopi, membersihkan kotorannya, membawanya pulang, dan langsung berangkat latihan,” aku Lampard.

“Saya juga memiliki durasi tertentu untuk olahraga. Entah itu lari atau sepada, semua tetap sama. Harus hanya dilakukan 50 menit. Jika bukan waktu yang saya hitung, setidaknya rute olahraga tersebut harus sama. Meskipun tidak bergantung pada hal ini. Semua itu adalah sesuatu yang benar-benar saya pegang,” jelasnya.

Memang beda apabila sosok yang sudah menghabiskan 13 tahun dalam sistem klub dan diasuh oleh sembilan manajer berbeda memegang kendali. Sikap disiplin Lampard ini sudah terlihat sejak ia masih aktif merumput. Bahkan sebelum dirinya membela Chelsea.

“Dia [Lampard] adalah anak yang selalu berlatih. Lari, menggiring, menembak bola, apapun itu dirinya selalu melakukannya tanpa pernah gagal. Saya tidak mau mengatakan ini di depan Anda, tapi ia akan jadi gelandang kelas dunia suatu hari nanti,” yang dituduh melakukan nepotisme setelah mengangkat keponakan-nya ke tim utama West Ham United.

Ketika Fabio Capello ditunjuk sebagai nakhoda Inggris, Lampard juga menjadi salah satu pemain yang sangat menyambut pelatih asal Italia itu. “Dirinya memiliki karakter yang kuat dan disiplin. Ia adalah sosok yang memang dibutuhkan Tim Nasional Inggris saat ini. Disiplin saat pemusatan latihan sangat penting dan Capello akan mengembalikan hal itu. Pasalnya, kami seakan sudah kehilangan kebanggaan membela Inggris,” .

Bagaimana pun hasil yang diterima the Three Lions saat diasuh Capello, seperti Lampard sudah sadar bahwa disiplin adalah kunci dari keberhasilan. Ditambah dengan ilmu-ilmu yang ia dapat dari berbagai pelatih ternama seperti , dia berhasil membuat the Blues lebih dari sekedar kompetitif di Liga Primer Inggris 2019/2020.

Artikel Asli