Demonstrasi Berlanjut di Ibukota Mali Tuntut Presiden Mundur

VOA Indonesia Dipublikasikan 20.32, 12/08/2020 • VOA

Polisi di ibu kota Mali, Bamako, Rabu (12/8) pagi, bentrok dengan pengunjuk rasa menyusul protes selama sehari yang menyerukan Presiden Ibrahim Boubacar Keita mundur, meskipun ada upaya mediasi internasional untuk menyelesaikan krisis politik itu.

Demonstrasi yang dipimpin oleh koalisi oposisi bernama M5-RFP telah meningkat sejak Juni, disebabkan keraguan mengenai hasil pemilihan lokal, tuduhan korupsi dan ketidakmampuan pemerintah.

Polisi tiba tak lama setelah fajar hari Rabu menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa yang bermalam di Lapangan Kemerdekaan di ibu kota.

Ribuan orang berdemonstrasi hari Selasa di gedung DPR ketika pembicaraan yang dimediasi oleh para pemimpin dari Komunitas Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS) untuk menyelesaikan krisis itu mengalami kebuntuan.

Ketegangan meningkat bulan Juli ketika polisi menembak dan menewaskan sedikitnya 11 demonstran.

Negara-negara regional khawatir kerusuhan yang berkepanjangan bisa menggagalkan perjuangan melawan ekstremis Islam di wilayah tersebut, banyak diantaranya berbasis di Mali. Kehadiran mereka telah membuat sebagian besar wilayah tengah dan utara Mali tidak bisa diatur.

Keita telah berusaha membuat konsesi untuk menenangkan pengunjuk rasa dan mengikuti saran ECOWAS serta menunjuk hakim baru untuk Mahkamah Konstitusi negara. Tetapi sebagian besar oposisi terus menuntutnya untuk mundur. [my/ii]

Artikel Asli