Demokrat: Jokowi Bisa Membangun Karena Diwarisi Anggaran oleh Pemerintahan SBY

Merdeka.com Dipublikasikan 14.21, 07/08/2020

                Jokowi. ©2019 Merdeka.com
Mau dituduh macam-macam pun, kata Jansen, faktanya di masa SBY rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen. Dan semua ikut menikmati capaian tersebut termasuk yang ikut mencibir saat ini.

Wasekjen Partai Demokrat, Jansen Sitindaon menegaskan, harusnya pernyataan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) soal ekonomi meroket di era SBY menjadi cerminan pemerintah sekarang. Dia menyesalkan parpol pendukung pemerintah yang malah 'kebakaran jenggot'.

"Harusnya ini jadi cermin bagi pemerintah. Bukan malah partai-partai pendukung pemerintah kebakaran jenggot dengar pernyataan mas Ibas," katanya lewat keterangannya, Jumat (7/8).

Jansen menuturkan, tiap pemerintahan punya tantangan masing-masing. Menurutnya, jauh sebelum badai Covid-19 menerpa, tren ekonomi di bawah pemerintahan ini memang terus turun.

"Itu fakta. Dan harap diingat, Pak Jokowi bisa membangun seperti sekarang ini ya karena diwarisi anggaran yang tinggi dari pemerintahan SBY. Coba kalau anggarannya sebesar yang ditinggalkan Ibu Mega, bisa bangun apa?" ujarnya.

Mau dituduh macam-macam pun, kata Jansen, faktanya di masa SBY rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen. Dan semua ikut menikmati capaian tersebut termasuk yang ikut mencibir saat ini.

"Sedangkan yang katanya hebat cuma mentok 5%. Tak pernah sekalipun 6 persen selama 6 tahun ini. Kalau gagal tak usahlah kita sibuk ngumpulin seribu alasan. Lebih baik introspeksi diri," terangnya.

Dia menambahkan, SBY membangun infrastruktur sekaligus membangun kehidupan lain. Bahkan, rakyat masih bisa menikmati subsidi di masa susah. Utang pun tidak sebengkak sekarang.

"Tak mungkin ada Presiden tidak membangun infrastruktur selama menjabat, ada-ada aja. Seperti Indonesia baru ada di masa pemerintahan ini saja," ujar dia.

Sebelumnya, Politikus PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno, menanggapi pernyataan Waketum Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) yang mengungkapkan keadaan ekonomi Indonesia meroket di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurutnya, SBY mewariskan infrastruktur yang mangkrak.

"SBY meninggalkan ekonomi yang stabil, datar, namun tidak cukup untuk digenjot, diakselerasi, karena kendala infrastruktur yang sangat tertinggal. Banyak proyek yang mangkrak. Bayangkan, arus mudik-balik Lebaran saja baru terurai di era Jokowi (Presiden Joko Widodo)," kata Hendrawan Jumat (7/8).

Menurut dia, seharusnya pemerintahan SBY membangun infrastruktur secara besar-besaran. Kemudian program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) SBY harusnya sudah berjalan sejak 2005-2010, sehingga tidak menjadi beban pemerintahan berikutnya.

"Ada yang menilai, dekade SBY adalah dekade yang datar. Bahkan, ada yang menyebut sebagai 'the lost decade', karena harusnya perbaikan infrastruktur dilakukan besar-besaran, sehingga kita lebih siap bersaing di tingkat global," ucapnya.

Menurut anggota DPR Komisi XI DPR RI itu, pada saat SBY memerintah, ekonomi dunia masih menikmati 'the great moderation' seperti dipopulerkan Alan Greenspan dan Ben Bernanke.

"Intinya tidak bisa dibanding-bandingkan karena banyak faktor eksternal yang berbeda jauh. SBY menikmati periode ekonomi dunia masa 'the great moderation dipopulerkan oleh Alan Greenspan dan Ben Bernanke, yaitu periode ekonomi dunia yang stabil, dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan inflasi rendah," tandasnya.

Diketahui, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengungkap, Indonesia saat ini menghadapi banyak tantangan. Mulai dari pandemi Covid-19, ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, penegakan hukum, demokrasi, dan hak-hak sipil.

Ditambah lagi, pembahasan regulasi yang belum rampung seperti RUU HIP atau yang sekarang diubah menjadi BPIP dan RUU Cipta Kerja. Selain itu, menurut Ibas, isu-isu RUU Pemilu serta RUU Pilkada pun akan menjadi menarik untuk dicermati ke depan.

"Karena itu, rakyat perlu kepastian, kepercayaan dan keyakinan. Rakyat perlu bukti, bukan janji," kata Ibas saat silaturahmi Ketua Umum PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan jajaran PD dengan anggota FPD DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (6/8).

Ibas menuturkan, Demokrat sudah pernah menjawab tantangan bangsa saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat Presiden Keenam. Ibas menuturkan, SBY berhasil membawa ekonomi Indonesia meroket.

"APBN meningkat, utang dan defisit kita terjaga, pendapatan rakyat naik dan lain-lain yang too few too mention, termasuk tentang prosentase kemiskinan dan pengangguran yang menurun. Saat ini, Demokrat hadir memberikan koreksi, kritik dan solusi supaya negara tidak jatuh ke jurang," ujar Ibas.

Artikel Asli