Defisit Anggaran Amerika Melesat Jadi $ 2,81 Triliun

VOA Indonesia Dipublikasikan 03.55, 13/08 • VOA

Departemen Keuangan, Rabu (12/8), mengatakan defisit anggaran Amerika melesat menjadi $2,81 triliun dalam sepuluh bulan pertama tahun anggaran ini. Ini adalah defisit anggaran terburuk dalam sejarah.

Defisit anggaran itu diperkirakan akan mencapai lebih dari dua kali lipat untuk tahun fiskal yang berakhir 30 September, dibanding defisit tahunan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. 

Pemerintah federal mengalami defisit sebesar $63 miliar pada Juli lalu. Jumlah itu relatif kecil dibanding defisit yang terjadi pada musim semi ketika pemerintah berupaya memulihkan ekonomi, tetapi gagal karena pandemi virus corona. 

Defisit anggaran bulan lalu lebih buruk dibanding Juni dan mencapai $864 miliar, sebagian karena pemerintah berhasil mengumpulkan pajak pendapatan sebesar $563 miliar pada Juli, setelah memperpanjang tenggat pelaporan pajak hingga 15 Juli. Perpanjangan tenggat ini membuat warga Amerika memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kesulitan ekonomi akibat pandemi ini.

Pejabat-pejabat Departemen Keuangan mengatakan sejauh ini pemerintah telah menerima $2,82 triliun, kurang dari 1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini disebabkan “penggantian pendapatan” dari berbagai paket bantuan pemerintah. Dengan kata lain, tunjangan pengangguran dan bantuan lainnya masih dikenai pajak.

Sejauh ini pengeluaran pada tahun anggaran ini mencapai $5,63 triliun, meningkat 50 persen dari $3,73 triliun pada 2019, di mana sebagian besar pengeluaran tambahan terkait dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperkuat perekonomian yang terdampak pandemi virus corona.

Kongres telah meloloskan paket penyelamatan bernilai hampir $3 triliun tahun ini. Namun faksi Republik dan Demokrat masih belum sepakat tentang paket bantuan lain, seperti tunjangan pengangguran sebesar $600  per minggu yang berakhir 31 Juli lalu.

Presiden Donald Trump telah mengeluarkan serangkaian instruksi presiden akhir pekan untuk memperpanjang tunjangan pengangguran menjadi $400 per minggu, di mana 25 persen akan disubsidi oleh pemerintah negara bagian. Namun belum jelas seberapa besar hal ini akan membantu mengingat ketidakpastian ekonomi dan anggaran yang mungkin habis dalam lima minggu. [em/ii]

Artikel Asli