Dear Heart Why Him - Part 2: Balas Dendam Berujung Petaka

Storial.co Dipublikasikan 03.14, 16/07 • Mizan Media Utama
Part 1  Balas Dendam Berujung Petaka

Tidak semua hal buruk adalah petaka. Bisa saja ia datang dengan kebaikan yang mengiringi di belakangnya.

Wajah Dalvin bermandikan keringat. Sepulang sekolah, ia dan tim berlatih futsal sampai sekarang. Tak ada rasa lelah yang Dalvin rasakan. Menurutnya, menggiring dan menendang bola adalah hal yang sangat menyenangkan. Dalvin dan tim berlatih hingga sore begini karena sebulan lagi mereka akan mengikuti perlombaan futsal antar-SMA tingkat kota.

Pelatih meniupkan peluit, menandakan permainan selesai. Seluruh pemain berlari menuju tas masing-masing dan mengambil minum. Satu botol air mineral sudah Dalvin habiskan, setelah itu ia berlari kecil menghampiri pelatih tim yang memanggilnya.

“Good job, Vin! Kamu dan teman-temanmu sudah menunjukkan banyak perubahan ke arah yang lebih baik.” Raka menepuk-nepuk pundak Dalvin. Ia merasa bangga memiliki Dalvin sebagai kapten di tim yang ia latih. Pelatih muda itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah pukul enam, saya harus pergi. Latihan kita tutup.” Dalvin mengangguk patuh. Tepukan tangan Raka mengumpulkan semua anggota.

“Tetap semangat semuanya, kita pasti berhasil” ucap Raka menyemangati. Sebelum bubar, mereka semua berdoa terlebih dahulu. Setelahnya, dengan dipimpin Dalvin mereka berteriak, “Pasti bisa!” bersama-sama.

Baju yang basah karena keringat, wajah kusam, dan rambut yang acak-acakan tidak menurunkan sedikit pun ketampanan seorang Dalvin. Tak heran banyak cewek yang diam-diam jatuh hati kepada Dalvin. Namun, sifat Dalvin yang cuek dan terkadang menyebalkan membuat semua cewek malas berdekatan dengannya.

Cowok itu berjalan sendirian menuju parkiran. Sejenak ia terdiam memandangi mobilnya. Otaknya mengulang kejadian tadi pagi, ketika ia bertemu dengan cewek cerewet sekaligus menyebalkan. Rasa kesal masih melingkupi hati Dalvin, dalam diam ia berdoa agar ia tidak pernah bertemu cewek itu lagi.

***

Malam ini Bela sibuk mencari nama Dalvin di semua media sosial miliknya, tapi ia tak juga menemukan akun milik cowok nyebelin itu. Bela berencana balas dendam. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengorek info tentang Dalvin. Empat kali ia bolak-balik mengganti kata kunci, membuka profil akun dengan username yang berhubungan dengan nama Dalvin, hasilnya masih sama. Bela tetap belum menemukan akun milik cowok itu.

Tiba-tiba saja layar di ponsel Bela berganti dengan tulisan “Nanda is calling”. Alis Bela bertemu, untuk apa sahabatnya itu menelepon malam-malam begini.

“Halo,” sebuah suara terdengar setelah ponsel Bela tersambung dengan ponsel Nanda di seberang sana. Bela menghidupkan mode speaker di ponselnya dan kembali mencari akun Dalvin.

“Iya, Nan. Tumben telepon gue malem-malem. Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa, sih, gue bosen aja. Jos lagi pergi sama nyokapnya. Gue nggak ada temen chat, makanya nelepon lo.”

Bela memutar bola mata. “Oh, jadi, gue cuma jadi cadangan kalo cowok lo lagi sibuk,” sindir Bela yang membuat Nanda terkekeh.

“Bisa dibilang gitu.”

“Ah, lo mah gitu. Gue matiin aja, deh, teleponnya. Lagian gue lagi banyak kerjaan.” Bela turun dari kasurnya dan keluar dari kamar untuk mengambil minum. Ia merasa haus setelah sekian lama mencari Dalvin di dunia maya.

“Jomlo sibuk ngapain, sih? Paling juga nge-stalk doang sibuknya,” kata Nanda yang dibenarkan Bela dalam hati.

“Jangan salah, Say! Jomlo gini, Bela banyak fannya.”

Apa yang Bela katakan memang benar, bukan hanya sekadar alibi untuk meninggikan derajatnya yang telah diturunkan Nanda karena ia tak punya pacar. Bela termasuk cewek most wanted di sekolah. Mungkin karena terlalu banyak cowok yang mendekati, makanya Bela malas berpacaran.

“Yah, air habis.” Bela menatap sedih galon kosong di hadapannya.

“Kenapa, Bel?” tanya Nanda heran dengan ucapan Bela yang tidak nyambung dengan topik percakapan mereka.

“Ini, gue mau minum, tapi air di rumah habis.”

“Yaelah gitu doang susah amat. Minimarket banyak, Coy, tinggal beli!”

“Iya, ini gue mau pergi beli. Udah dulu, ya, Nan, bye.” Bela memutuskan sambungan tanpa menunggu persetujuan Nanda. Ia segera kembali ke dalam kamar dan mengambil kunci mobil serta meraih jaket berwarna biru tua di dalam lemari.

Sebelum pergi membeli air, Bela terlebih dahulu pergi ke kamar Rani, mamanya, untuk meminta izin. “Mam, Bela keluar dulu, ya, mau beli air.”

Rani yang sedang membaca majalah mengangkat wajah, lalu memandang Bela heran. “Minum air di rumah aja, Sayang.”

“Habis, Mam.”

“Oh, ya udah, deh, hati-hati. Jangan ngebut, jangan lama-lama, cari jalannya yang ramai.” Bela hanya mengangguk. Tidak ada pilihan lain jika mamanya sudah mulai cerewet begini. “Sebelum ambil air, lihat tanggal kedaluwarsanya dulu. Jangan jajan sembarangan. Ja—”

“Iya, Mamaku sayaaang, Bela pergi dulu.” Bela langsung menyalami Mama dan segera pergi. Jika tidak begini, khotbah panjang Mama tidak akan selesai, bisa-bisa Bela keburu dehidrasi.

***

Bela menelusuri rak-rak tempat snack berjejer dengan rapi. Walaupun Rani sudah berpesan kepadanya agar tidak jajan sembarangan, Bela tidak akan tahan saat berbungkus-bungkus snack melambai dengan cantik sambil memanggilnya.

“Chitato, Lay’s, Happy Tos, Taro, Ring, KitKat.” Bela mengabsen merek-merek snack yang kini memenuhi keranjang belanjaannya. “Ah, rumput laut tercinta belum,” gumamnya. Kemudian, ia mengingat-ingat tempat biasanya snack itu diletakkan. “Ah, itu dia.” Bela tersenyum cerah saat matanya menangkap snack yang ia sukai. Hanya tersisa satu bungkus, bersyukur Bela cepat melihatnya tadi. Tangan cewek itu segera mengambil snack rumput laut itu. Namun, di saat yang bersamaan, tangan seseorang juga mengambil snack yang Bela ambil.

“Eh.” Bela menarik tangannya dan mengurungkan niat untuk membeli. Orang yang hendak mengambil snack yang sama dengan Bela juga tak jadi mengambil.

“Ambil aja, Mbak, saya nggak jadi.”

Baik banget ni orang, batin Bela. Dia segera meraih snack itu lagi dan hendak berterima kasih, tapi orang baik tadi sudah lebih dulu pergi. Bahkan, Bela juga belum sempat melihat wajahnya. Punggung orang itu masih dekat, Bela segera mengejar.

“Mas, makasih, ya,” kata Bela mencolek lengan orang baik tadi. Cowok baik yang mengenakan kaus hitam itu pun berbalik.

Bela terbelalak. Ia terkejut dengan mata yang membesar serta bibir terbuka. Sesaat setelah melihat wajah orang itu, otaknya terasa dipenuhi kobaran api. “Lo?!” pekik Bela sambil menunjuk wajah cowok baik di hadapannya yang ternyata adalah Dalvin.

“Nggak perlu bilang makasih.” Dalvin berucap datar, seperti tidak ada keterkejutan di wajahnya saat melihat Bela. Tak mau berlama-lama, cowok itu kembali berbalik dan melangkah pergi mendorong troli belanjaannya.

“Dih, songong banget!” Bela memandangi Dalvin yang terlihat buru-buru menuju meja kasir. “Awas aja lo!” Bela sangat ingin melempar kepala cowok itu dengan botol minuman yang ada di sampingnya.

“Nggak mau tahu, gue harus bikin dia kesel!” Bela berjalan pelan sembari berpikir keras mencari ide yang bagus untuk membalas Dalvin. Hanya sebentar, ide itu langsung muncul karena rasa ingin balas dendam yang begitu menggebu dalam dirinya. Bela tersenyum licik.

Cewek itu menarik napas dalam-dalam, kemudian berlari sambil mendorong troli belanjaannya sekuat tenaga. Persetan dengan orang-orang yang memandanginya dengan tatapan aneh. Hal yang terpenting sekarang adalah Bela ingin membalaskan dendamnya.

Dalvin tersentak saat Bela tiba-tiba menyalipnya dengan kecepatan penuh dari arah samping. Bukan apa-apa, hanya saja troli yang didorong Bela hampir mengenai Dalvin. Untung cowok itu dengan cepat menghindar.

***

Bela menyeringai, melirik Dalvin dengan sudut matanya, setelah berhasil berdiri tepat di depan meja kasir lebih dahulu daripada Dalvin. “Maaf, ya, Mas, saya duluan, soalnya harus cepet-cepet,” ucapnya sambil menatap Dalvin dengan senyum manis yang mengejek.

“Ya, nggak apa-apa.” Hanya itu sahutan dari Dalvin dan terdengar tak peduli. Bela mendengus, kemudian memindahkan belanjaannya dari troli ke atas meja kasir.

Sok baik. Dasar muka dua! Ini belum seberapa, cowok songong! Lo harus ngerasain rasanya pantat kepentok lantai!

“Totalnya delapan puluh lima ribu, Mbak.” Suara kasir tadi menyadarkan Bela yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. Bela mengangguk, kemudian merogoh saku jaketnya, mencari uang seratus ribu yang ia bawa. Cukup lama jarinya mencari. Perlahan, keningnya muncul lipatan halus. Seingatnya ia menaruh uang itu di dalam jaket sebelum berangkat, tapi tak ada apa pun yang ia temukan di dalam saku.

Tenang, Bela cantik, cari di celana, batinnya menenangkan diri sendiri. Bela kemudian memeriksa dua saku celananya. Tindakan yang sia-sia. Tidak ada apa-apa di dalam sana.

Bela tak dapat mengelak bahwa ia mulai panik. Gelagat gugupnya tak bisa ia sembunyikan, membuat sang kasir menatapnya curiga. Dengan cepat, Bela memeriksa kembali semua saku di pakaiannya, tetapi tetap sama, nihil.

Jantungnya berdegup tak karuan. Bela menggigit bibir bawah, wajahnya memucat. Mati gue!

“Hmmm … anu, Mbak.” Bela menelan ludah berusaha mati-matian agar suaranya tidak terdengar aneh. “U-uang saya ketinggalan.” Setelah mengumpulkan keberanian, Bela mengatakan yang sebenarnya meski terbata-bata.

Kasir di depannya tersenyum masam. Bela langsung berpikir, Mbak Kasir di depannya ini pasti baru mengalami hal buruk. Tidak biasanya pegawai minimarket ini berwajah masam seperti itu.

“Ya udah nggak apa-apa, Mbak. Tapi, barang belanjaannya kembalikan ke tempatnya, ya. Banyak antrean di belakang,” ujar kasir itu tanpa senyum. Bela mengangguk dan langsung mengulurkan tangan, hendak mengambil barang-barang yang tak jadi dibelinya. Namun, sebuah suara menghentikan gerakan tangannya.

“Mbak, biar saya aja yang bayarin belanjaan cewek ini. Sekalian digabung sama punya saya aja.”

Bela tersentak, kemudian mengangkat wajahnya.

***

Dengan tergesa, Bela mengikuti langkah lebar Dalvin hingga parkiran sambil membawa kantong plastik berisi penuh snack dan minuman. “Uang lo bakalan gue ganti. Gue nggak sudi berutang budi sama lo.”

Tanpa menghiraukan perkataan Bela, Dalvin terus berjalan, sedikit pun ia tak berbalik memandang Bela yang mengekor di belakangnya.

“Sombong banget, sih, lo!” teriak Bela geram karena Dalvin tak juga menghiraukannya. Bela mengentak-entakkan kaki ke tanah agar Dalvin mau berbalik. Akhirnya, Dalvin berhenti. Cowok itu menarik napas dalam, kemudian diembuskannya kasar seraya berbalik menatap Bela jengah.

“Bisa, nggak, sih, lo diem?” tanya Dalvin risi karena tingkah Bela. “Masalah uang, lo lupain aja. Gue bayarin lo karena orang tua gue ngajarin gue untuk berbagi sama orang yang nggak mampu.” Dalvin memberi jeda. “Urusan kita selesai, jangan ngikutin gue lagi,” tambahnya. Ia lalu berbalik dan kembali melangkah menuju mobilnya.

Rahang Bela terkatup rapat, giginya bergemeletuk. Dalvin merendahkan harga dirinya. Omongan cowok itu membuatnya kesal bukan kepalang.

“Gue nggak butuh bantuan lo, cowok songong!” Bela melemparkan kantong yang ia bawa ke arah Dalvin hingga mengenai kaki cowok itu. Segala jenis makanan yang berada di dalam kantong itu berhamburan keluar, berserakan di atas tanah. Dalvin segera berbalik, kemudian menunduk, menatap snack yang berserakan di tanah.

“Makan tuh!” sambung Bela masih dengan teriakan mautnya yang membuat dirinya kembali menjadi pusat perhatian semua orang, tapi kali ini ia tak peduli. Emosi Bela sudah di ubun-ubun. Cewek itu berjalan mendekat ke arah Dalvin dengan tatapan tajamnya sementara Dalvin berdiri menghadap Bela dengan wajah yang memerah. Emosi cowok itu juga sudah mulai terpancing.

“Entah berbagi seperti apa yang orang tua lo ajarin. Yang pasti, dari penilaian gue, orang tua lo gagal total ngedidik anaknya,” ucap Bela menusuk serta penuh kemarahan dengan penekanan di setiap kata.

Dalvin berdecak, sorot matanya tak kalah tajam menusuk bola mata Bela. “Seenggaknya orang tua gue nggak ngajarin anaknya belanja tanpa bayar.”

Plak!

Tamparan Bela dengan telak menyapa pipi Dalvin. “Itu cocok buat cowok yang mulutnya tajem kayak lo!” Bela bersungut. Kemudian, ia berbalik, meninggalkan Dalvin yang mengepalkan tangannya dengan kuat.

Artikel Asli