DNA Yahudi pada Orang Indonesia

Historia.id Diupdate 09.15, 18/10/2019 • Dipublikasikan 09.15, 18/10/2019 • historia.id
Umat Yahudi beribadah di Tembok Ratapan di Yerusalem, Israel. (Lev Tsimbler/123rf.com).

Farida Yuniar membaca empat lembar kertas hasil tes DNA. Salah satu kertas menggambarkan diagram lingkaran berisi komposisi DNA Farida. Masing-masing irisannya berbeda ukuran dan warna. Yang terbesar berwarna hijau, 67,12 persen. Irisan ini menunjukkan asal usul leluhurnya lebih dominan dari wilayah Asia Timur.

Farida berusia 21 tahun, kelahiran Surabaya. Ayahnya lahir di Jakarta dari orangtua berdarah Jawa Tengah dan Sumatra. Melalui jalur ibu, darah Flores mengalir dalam dirinya. Silsilahnya menunjukkan keberagaman leluhur. Hasil tes DNA memperkuatnya.

“Ibaratnya kalau benang, sudah kusut. Gak karu-karuan,” kata Farida. Komposisi DNA Farida secara berturut-turut adalah Diaspora Asia 30,41 persen, Asia Selatan (Bangladesh) 2,13 persen, dan Timur Tengah 0,34 persen.

“Ini yang dari Timur Tengah itu orang Samaritan. Seperti orang Arab, orang-orang Assyria,” kata Herawati Supolo Sudoyo, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang meneliti DNA sejumlah orang Indonesia. Dia memandu Farida memahami asal-usul gennya.

Orang Samaritan lahir dari percampuran orang Yahudi dan Assyria pada abad ke-7 SM. Kala itu, orang Assyria menduduki wilayah orang Yahudi di Kerajaan Israel Utara.

Sebagian besar orang Yahudi terusir, sisanya menetap dan kawin campur dengan orang Assyria. DNA Samaritan juga terdapat pada Budiman Sudjatmiko dan Hasto Kristiyanto, politisi PDI Perjuangan.

Akhmad Sahal, kandidat doktor University of Penninsylvania, menanyakan bagaimana orang Samaritan menyusup ke DNA orang Indonesia. Dia curiga jangan-jangan yang dimaksud Samaritan dalam hasil tes DNA adalah orang Yahudi. “Tapi kalau disebut Yahudi kan kontroversial,” kata Sahal.

Yahudi Nusantara

Kemungkinan DNA orang Yahudi masuk ke Indonesia sangat besar. Kehadiran orang Yahudi di kepulauan Nusantara bersanding dengan kemunculan jaringan perdagangan antara Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.

Abu Zayd Hasan al-Sirafi, seorang pelancong Muslim, menyebutkan peristiwa pembantaian oleh pemberontak Dinasti Tang, Huang Chao, pada abad ke-7 di Pelabuhan Guangzhou, Tiongkok. Sasarannya tak hanya pendukung Dinasti Tang, melainkan juga orang Muslim Arab, Persia, dan Yahudi.

Pelabuhan Guangzhou menghubungkan perdagangan Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Jika ada rombongan dagang dari sini ingin menuju Timur Tengah, India, dan wilayah Asia Tenggara, mereka harus melewati Semenanjung Malaya. Di sini rombongan dagang akan tinggal sementara waktu untuk menunggu angin muson ke arah barat. Lamanya sekira enam bulan.

Baca juga: Simbol Yahudi Tertua Ditemukan 

Peluang penciptaan komunitas-komunitas berbasis etnik di Semenanjung Malaya pun mengada. “Jadi, kehadiran Yahudi bisa jadi sudah cukup lama di perairan ini sekalipun belum ada bukti-bukti sejarah yang konklusif,” ungkap Leonard C. Epafras dalam “Yahudi Nusantara Realitas Sejarah dan Dinamika Identitas” termuat di Jurnal Religio Volume 03 Nomor 02 Tahun 2013.

Bukti kehadiran Yahudi di Kepulauan Nusantara secara terang termaktub dalam catatan Buzurg ibn Syahriyaar al-Ramhurmuzii, kapten kapal Persia pada abad ke-10.

“Dalam jurnalnya yang berjudul Kitaab ‘Ajaaib al-Hind (Buku Keajaiban Hindia), menceritakan tentang aktivitas seorang pedagang Yahudi dari Oman yang bernama Ishaq ibn al-Yahuudii, ‘Ishaq si Yahudi’,” tambah Epafras. Ishaq sempat singgah di Sribuza atau Sriwijaya, sekarang wilayah Sumatra Selatan.

Ishaq hendak menuju Tiongkok. Tapi dia bermasalah dengan penguasa tempatan. Buzurg tak menyebut secara jelas apa masalahnya. Dia hanya menceritakan bahwa Ishaq kena denda 20.000 dinar sebelum melanjutkan perjalanannya. Ishaq enggan membayar. Penguasa tempatan naik pitam dan membunuhnya.

Baca juga: Nestapa Yahudi Afrika demi Tanah yang Dijanjikan

Catatan Buzurg tadi belum menggambarkan tentang percampuran orang Yahudi dengan penduduk tempatan. Tapi catatannya telah menegaskan tentang adanya interaksi orang Yahudi dengan penduduk Nusantara. Dan Sumatra adalah pintu gerbangnya. Ini ditegaskan lagi oleh Rusmin Tumanggor dalam Gerbang Agama-Agama Nusantara: Hindu, Yahudi, Ru-Konghucu, Islam, Nasrani: Kajian Antropologi Agama dan Kesehatan di Barus.

“Dalam kurun waktu yang lama kota Barus telah banyak dikunjungi oleh berbagai suku bangsa dari berbagai negara. Mereka adalah pengembara dari Cina, Yahudi, India dan Arab,” catat Rusmin. Barus merupakan kota pelabuhan dagang di Sumatra Utara. Ekspornya bernama Kapur Barus yang berguna sebagai pengawet jenazah. Sohor hingga mancanegara sejak seribu tahun lalu.

Percampuran Yahudi dengan penduduk Nusantara mulai terlihat pada abad ke-15. Thigor Anugrah Harahap, alumnus Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, menyatakan orang-orang Yahudi telah menetap di wilayah Sulawesi.

“Di wilayah ini, dipercaya terdapat banyak menetap orang-orang Yahudi Marrano,” kata Thigor yang pernah meneliti Komunitas Yahudi di Indonesia. Hasilnya dia tuangkan dalam Menelusuri Komunitas Yahudi di Indonesia.

Thigor menambahkan, orang-orang Yahudi Marrano di Sulawesi bahkan masih ada keturunannya hingga sekarang.

Yahudi Marrano adalah orang Yahudi beragama Katolik dari Spanyol atau Portugis. Mereka meninggalkan agama Yudaisme tersebab paksaan dari pengadilan Gereja Katolik Roma. Masa pemaksaan ini dikenal dengan sebutan Masa Inkuisisi. Meski telah memeluk Katolik, diskriminasi dan tekanan tetap menyasar ke Yahudi Marrano.

Yahudi Marrano tidak betah tinggal di Spanyol atau Portugis. Mereka memilih ikut rombongan para penjelajah Samudra ke wilayah Asia Tenggara. Di sini mereka membangun kehidupan baru dan beranak-pinak. Sebagian kembali menganut Yudaisme, lainnya tetap memilih Katolik. Ada juga keturunan Yahudi pemeluk Islam.

Diaspora Yahudi

Keberagaman agama keturunan Yahudi menunjukkan bahwa identitas Yahudi bisa memadat, mencair, mengental, bercampur, menghilang, atau berganti identitas baru. “Identitas seseorang atau sekelompok orang juga tidak tunggal melainkan jamak dan berlapis. Pemaknaannya bergeser sesuai dengan konteks zaman, tempat, dan kondisi relasi antar-kelompok,” ungkap Epafras.

Pergerakan identitas orang Yahudi bertaut erat dengan sejarah diaspora dan migrasi mereka. Diaspora beririsan dengan migrasi, tetapi tidak sepenuhnya sama. “Tidak semua orang yang bermigrasi dapat dikatakan berdiaspora. Ada tiga kriteria khusus yang membedakan diaspora dengan migrasi manusia,” kata Thigor.

Kriteria pembeda diaspora dan migrasi adalah dispersion, homeland orientation, dan boundary maintenance. Dispersion berarti bertebaran di tempat berbeda. Homeland orientation bermakna adanya ingatan khusus tentang kampung halaman mereka sebagai sumber nilai, loyalitas, dan identitas. Boundary maintenance berhubungan dengan segala upaya merawat budaya atau tradisi kampung halaman di tempat baru.

Diaspora dan migrasi orang Yahudi bermula dari serangan pasukan Nebuchanedzzar dari Babilonia ke Kerajaan Yehuda pada 587 SM. Kerajaan Yehuda merupakan bagian dari Kerajaan Israel Selatan. Pendirinya suku Yehuda, keturunan Solomon dan David. Serangan itu memaksa sebagian suku Yehuda bermigrasi.

Ketika Cyrus Agung dari Persia menguasai Babilonia pada 539 SM, suku Yehuda beroleh izin pulang ke tanah kelahirannya. “Kerajaan anak-anak Israel lahir kembali dan mereka kali ini menyebut diri mereka sebagai orang-orang Yehuda atau Yahudi yang kita kenal saat ini,” terang Thigor.

Masa itu orang-orang Yahudi masih memiliki ciri fisik spesifik. Menurut Carl C. Seltzer dalam The Jew-His Racial Status, perawakan orang Yahudi berbadan cenderung pendek, pigmen kulit berwarna coklat, rambut hitam atau kecoklatan, mata coklat, kulit beragam dari putih hingga coklat muda, rambut bergelombang dan keriting, kepala panjang dan melancip, hidung mancung agak menungging (the jewish nose),dan wajah berbentuk oval.

Baca juga: Grace Natalie Ternyata Punya Gen Afghanistan

Komposisi biologis orang Yahudi berubah seiring kedatangan orang-orang Yunani pada 400—104 SM. Serentang itu terjadi banyak pernikahan silang. Sementara suku Yehuda di perantauan pun juga menikah silang. Keturunannya jelas memiliki ciri fisik berbeda dari leluhurnya. Juga tradisi dan agama yang tidak lagi sama dengan suku Yehuda di Israel.

Serangan terhadap kerajaan Israel berulang kembali pada 70 M. Kali ini orang-orang Romawi mengusir Yahudi dari kampung kelahirannya. Sejak itulah orang Yahudi bertebaran dari wilayah Asia Minor, utara Afrika, hingga Eropa.

Orang Yahudi mendekam lama di wilayah tersebut, di bawah kuasa pelbagai dinasti dan kekaisaran. Dari Islam, Katolik Roma, Arab, Mameluk, sampai Spanyol. Hingga muncul masa pemikiran modern tentang negara dan bangsa. Mereka pun mengkreasi ulang ke-Yahudi-annya.

Misalnya keturunan Yahudi di Utara Amerika mengakui dirinya sebagai warga negara Amerika Serikat setelah 13 negara bagian mendeklarasikan negara Amerika Serikat pada 1776. Begitu pula ketika meletus Revolusi Prancis pada 1789. Keturunan Yahudi memperoleh kewarganegaraan Prancis.

Di Hindia Belanda pada abad ke-19, keturunan Yahudi termasuk golongan Eropa. Kebangsaannya beragam. “Mereka itu terdiri dari Yahudi Belanda, Yahudi Jerman, Yahudi Belgia, Yahudi Turki, Yahudi Portugis, Yahudi Polandia, Yahudi Austria, Yahudi Rusia, Yahudi Rumania, Yahudi Hungaria, dan Yahudi Armenia,” catat Romi Zarman dalam Di Bawah Kuasa Antisemitisme Orang Yahudi di Hindia Belanda (1861—1942).  

Semua kenyataan di atas menunjukkan kompleksitas orang Yahudi dan keturunannya. Tak pernah ada identitas tunggal pada orang Yahudi.

Ketidaktahuan Sejarah Yahudi

Sikap anti-Semitisme atau kebencian mendalam terhadap orang Yahudi lahir dari ketidaktahuan tentang sejarah mereka.

Di Indonesia, anti-Semitisme juga mewabah. Bahkan orang Yahudi kerap salah diidentifikasi. Identitas mereka tumpang tindih dengan Zionisme, Yudaisme, Israel, dan tarekat Freemason. Padahal kelimanya berbeda.

“Lahirnya gerakan Zionisme tidak ada sangkut pautnya dengan agama Yahudi. Faktor pendorong utama adalah keberadaan Yahudi hanya sebagai golongan etnis berstatus pariah,” tulisMartin van Bruinessen dalam “Yahudi Sebagai Simbol dalam Wacana Islam Indonesia Masa Kini”. Seseorang bisa mendukung atau menolak Zionisme tanpa harus dia punya hubungan sebagai Yahudi atau tidak.

Yudaisme merupakan agama monoteis dan muncul pada masa Abraham, moyang orang Yahudi, 4000 tahun lalu. Yudaisme memang salah satu pembentuk ke-Yahudi-an. Seseorang yang tidak berdarah Yahudi bisa memeluk agama ini. Setelah melalui serangkaian upacara, mereka akan ditahbiskan sebagai orang Yahudi.

Israel adalah negara yang muncul di atas fondasi Zionisme, sedangkan Freemasonmerupakan organsasi rahasia dengan penekanan lebih pada nilai kemanusiaan universal ketimbang nilai religius tradisional.

Anggota Freemason terdiri atas aneka rupa bangsa dan pemeluk agama. Organisasi ini berulangkali dituding memiliki serangkaian rencana untuk menguasai dunia. Dan tokoh dibaliknya sering disebut sebagai orang Yahudi. Kemunculan Zionisme dan Freemasonmendorong sebilangan orang membuat Teori Konspirasi tentang kejelekan dan kejahatan orang Yahudi.

Ketidakmampuan mengidentifikasi Yahudi sekaligus mencampuradukannya dengan hal-hal di luar Yahudi membuat sesuatu yang bersangkutan dengan Yahudi menjadi kontroversial di Indonesia. Entah itu orang Yahudi, keturunan Yahudi, atau seseorang yang punya DNA Yahudi.

Sejarah menunjukkan bangsa ini telah berkarib lama dengan orang Yahudi. Orang Yahudi pun memiliki keberagaman identitas. Sama seperti penduduk Nusantara.

Artikel Asli