Cybertroops, Komunitas Anak Muda Penangkal Teror Medsos di Kebumen

Liputan6.com Diupdate 01.00, 16/11/2019 • Dipublikasikan 01.00, 16/11/2019 • Muhamad Ridlo
Polisi berjaga di Gerbang Markas Polres Kebumen. (Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)
Polisi berjaga di Gerbang Markas Polres Kebumen. (Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Sejumlah polisi tampak bersiaga di gerbang Markas Polres Kebumen, Jawa Tengah. Dengan sabar mereka memeriksa barang bawaan pengunjung Polres satu per satu.

Namun, bagi warga itu bukan hal baru. Jauh hari sebelum teror bom bunuh diri Poltabes Medan, standar pengamanan Polres Kebumen memang ketat. Ini adalah antisipasi menghindari insiden serupa yang mungkin saja terjadi.

Contoh terdekat dari Kebumen adalah serangan ke Markas Brimob, Watumas, Purwokerto, Mei 2019 lalu. Karenanya, pengamanan ketat adalah standar baku.

Kepala Polres Kebumen, AKBP Rudy Cahya Kurniawan bilang pengamanan itu adalah upaya menjamin keamanan warga yang datang ke Polres Kebumen. Tiap hari, markas polisi memang didatangi oleh ratusan orang untuk berbagai keperluan.

Teror bom bunuh diri Poltabes Medan jangan sampai membuat warga merasa tak aman tatkala datang ke Polres. Warga diminta tenang.

Komitmen untuk menjamin keamanan warga pun dibuktikan dengan pembangunan pos pengamanan permanen di depan pintu masuk. Personel bersenjata pun selalu sigap mengecek setiap warga yang lalu-lalang di Mapolres Kebumen.

"Bagi warga yang bekerja sama, kami sampaikan terimakasih. Ini demi kenyamanan dan keamanan bersama," ucap Kapolres, Rabu malam, 13 November 2019, menjelaskan upaya mengantisipasi teror di Markas Polres Kebumen.

Simak video pilihan berikut ini:

Pemeriksaan Bawang Bawaan Pengunjung Polres Kebumen

Polisi berjaga di Gerbang Markas Polres Kebumen. (Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

Warga yang membawa barang dicek satu per satu oleh personel Perintis Polres Kebumen. Pengunjung yang menggunakan sepeda motor pun diimbau untuk membuka kaca helmnya agar nampak wajahnya.

"Kepada warga yang mengendarai kendaraan mobil, diimbau untuk membuka kaca jendela dan akan dilakukan pemeriksaan oleh petugas jaga," ucapnya.

Teror bom bunuh diri di Poltabes Medan berlalu. Akan tetapi, dampaknya masih terasa. Foto dan video sesaat setelah peristiwa itu masih ramai di jagat maya.

Padahal, tak semua pengguna media sosial kuat mental. Biasa jadi, mereka adalah anak-anak yang sebenarnya belum pantas melihat konten sadistik itu. Dan itu, adalah bentuk teror lewat media sosial.

Karenanya, Rudy juga mengimbau agar warga jangan turut membagikan foto dan video terduga teroris yang tewas saat serangan bom bunuh diri Poltabes Medan. Sebab, teror adalah sebentuk rencana sistemik untuk membikin takut masyarakat.

"Tujuan teroris adalah membuat ketakutan warga masyarakat. Selanjutnya jika foto itu dibagikan, masyarakat akhirnya merasa takut, maka tujuan dari teroris itu telah tercapai," dia menerangkan.

Dia memastikan kepolisian akan mengusut tuntas serangan bom bunuh diri ini. Dengan demikian, masyarakat percaya dengan kemampuan Polri.

 

Membangun Jaringan Cybertroops Kebumen

Remaja dan muda usia adalah pengguna gajet dan medsos terbesar. Mereka berpotensi menjadi cybertroops. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kepala Subbagian Humas Polres Kebumen, Iptu Tugiman mengungkapkan, Polres Kebumen memang sejak lama menaruh perhatian ke potensi teror di medsos. Bahkan, di Kebumen ada komunitas atau kelompok yang disebut dengan Cybertroops alias pasukan dunia maya.

Ini adalah kumpulan warganet yang didominasi anak muda. Pelajar dan remaja adalah anggota terbesar kelompok ini.

Cybertroops adalah mitra kepolisian untuk memantau konten media sosial. Sasaran Cybertroops misalnya unggahan yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, ajakan kegiatan radikalisme, hingga konten yang berpotensi menebar teror.

"Kita berikan edukasi juga kepada pelajar, jangan mudah melakukan share sebuah konten, yang tidak jelas kebenarannya," ucap Iptu Tugiman.

Polres Kebumen juga memiliki program Police Goes to School. Dalam kesempatan itu Kapolres mengajak seluruh siswa untuk bijak bermedsos. Secara tidak langsung, pelajar direkrut untuk menjadi Cybertroops.

Lewat jalan itu, komunitas penangkal hoaks dan teror ini berkembang pesat. Jumlah anggota Cybertroops ribuan dan tersebar merata di seluruh Kebumen.

"Program itu dilakukan rutin setiap hari Senin," ujarnya.

Tugiman juga berpesan, terorisme bisa terdeteksi dan ditumpas jika semua pihak bekerja sama. Karenanya, ia meminta agar warga yang mengetahui informasi segera melapor ke polisi.

"Yang merasa curiga dengan gerak-gerik seseorang yang baru dikenal untuk dilaporkan ke kantor polisi terdekat ataupun ke Bhabinkamtibmas desa setempat," ucap Tugiman.

Artikel Asli