Curhat Pilu Remaja Kena TikTok Syndrome, Mengaku Tersiksa Tubuh & Tangan Gerak Sendiri Saat Tidur

Tribun Style Dipublikasikan 00.48, 25/06
Idap TikTok Syndrome, Tubuh Kaesar mendadak gerak sendiri saat tidur maupun beraktivitas

TRIBUNSTYLE.COM - Tak hanya menjadi hiburan, aplikasi tiktok kini justru menimbulkan sebuah penyakit.

Seorang remaja berusia 18 tahun mengaku telah mengalami tiktok Syndrome.

Awalnya hanya untuk senang-senang, kini kebiasannya bermain tiktok justru menimbulkan sebuah penyakit.

Saking parahnya, remaja yang diketahui bernama Kaesar ini harus mengkonsumsi obat secara teratur untuk sembuh dari tiktok Syndrome.

Lewat akun Instagramnya, Kaesar menceritakan penderitaannya selama mengidap tiktok Syndrome.

"Nama saya Kaesar 18 tahun dan saya memiliki Tik Tok Syndrome" ucap remaja tersebut.

Instagram Siap Saingi tiktok dengan Fitur Terbarunya Berjudul 'Reels', Simak Contoh Videonya (Instagram/TikTok)

Kaesar tidak bisa mengendalikan gerakan tangannya dengan baik dan benar.

Bahkan saat beraktivitas, tangan dan badannya terus bergerak.

"Pada awalnya saya bermain tiktok itu cuma buat seneng-seneng doang.

Tapi lama kelamaan saya merasa ada yang aneh.

Saya seperti tidak bisa mengontrol tubuh saya.

Dan ternyata setelah saya cek saya terkena tiktok Syndrome" paparnya.

Dalam video tersebut juga diperlihatkan jika tangan Kaesar terus bergerak saat tidur dan minum.

Ia pun mengatakan jika dirinya harus minum obat dua kali sehari untuk meditasi.

"Dan saya harus minum obat dua kali sehari untuk meditasi agar tubuh saya tidak bergerak-gerak.

Tapi saya sudah terbiasa minum obat dengan rutin dan dokter menyuruh saya untuk mengurasi bermain Tiktok," tandasnya.

Lantas benarkah ada penyakit bernama TikTok Syndrome?

Jika dilihat dari gerak-gerik pemuda tersebut, dalam dunia medis biasa disebut dengan sindrom tourette.

Berdasarkan National Institute of Neurological Disorders and Stroke, sindrom tourette merupakan sebuah gangguan yang melibatkan gerakan berulang atau suara yang tidak diinginkan (tics) yang tidak dapat dikontrol dengan mudah.

Misalnya, seseorang mungkin berulang kali mengedipkan mata, mengangkat bahu, atau mengeluarkan suara yang tidak biasa atau kata-kata yang menyinggung.

Tics biasanya muncul antara usia 2 dan 15, dengan rata-rata sekitar 6 tahun. 

Anak laki-laki dilaporkan lebih banyak menderita sindrom ini dibanding anak perempuan.

Pada tics sederhana, gejala motorik yang sering ditemukan adalah kedipan mata, sentakan kepala, mengangkat bahu, pandangan mata yang beralih, kedutan hidung, gerakan mulut yang aneh.

Sedangkan gejala vocal yang umum adalah mengerang, batuk, berdeham, dan menggonggong.

Pada tics kompleks, gejala motorik yang sering ditemukan adalah menyentuh dan mengendus barang, gerakan yang berulang, melangkah dengan pola tertentu, gerakan tidak senonoh, membungkuk atau memutar badan, dan melompat-lompat.

Sementara itu, mengulang kata-kata orang lain, menggunakan kata-kata kasar, dan mengumpat menjadi gejala vocal yang mudah untuk diperhatikan dari pengidap.

Diagnosis Sindrom Tourette

Diagnosis sindrom ini dilakukan melalui verifikasi pengidap telah memiliki motorik dan tics vocal setidaknya selama 1 tahun oleh dokter.

Adanya kondisi neurologis atau psikiatrik lainnya dapat membantu dokter sampai pada diagnosis.

Tidak ada tes darah, laboratorium, atau pencitraan yang diperlukan untuk diagnosis.

Dalam kasus yang jarang terjadi, studi neuroimaging seperti MRI atau CT scan, EEG, atau tes darah tertentu digunakan untuk mengesampingkan kondisi lain yang mungkin memiliki gejala yang mirip dengan TS.

Beberapa kriteria diagnosis TS adalah:

  • Tics motorik dan vocal.
  • Tics terjadi beberapa kali dalam sehari, selama lebih dari 1 tahun.
  • Tics terjadi sebelum usia 18.
  • Tidak disebabkan oleh medikasi atau substansi lain.

Sindrom Tourette tidak memiliki pengobatan khusus.

Meskipun penyebab sindrom tourette tidak diketahui, penelitian saat ini menunjukkan kelainan pada daerah otak tertentu (termasuk ganglia basal, lobus frontal, dan korteks), sirkuit yang menghubungkan wilayah ini, dan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dan norepinefrin) yang bertanggung jawab untuk komunikasi di antara sel-sel saraf.

Meski tidak ada penanganan definitif untuk TS, tetapi tata laksana ditujukan meringankan gejala.

Umumnya, obat-obatan psikotik akan diberikan kepada pengidap.

Hal ini bertujuan untuk menurunkan kadar dopamin dalam otak, sehingga pengidap bisa mengontrol tics. Botox dapat diberikan untuk meredakan gejala yang melibatkan otot.

Stimulan seperti methylphenidate berguna untuk mengatasi gejala ADHD pada pengidap TS.

Terkadang, dokter meresepkan obat-obatan penurun tekanan darah yang membantu mengatasi gejala seperti serangan impulsif.

Selain itu, antidepresan dapat diberikan untuk mengatasi kecemasan dan gangguan mood.

Studi terbaru menunjukkan keuntungan pemberian obat-obatan antikejang seperti topiramat pada pasien TS.

 Sedangkan untuk TS terkait dengan kondisi psikologis, penanganan terapi kognitif dan kebiasaan dapat dilakukan untuk meredakan gejala dan membantu pengidap menangani dampak psikologis.

Bahkan, adanya riwayat keluarga dengan sindrom tourette atau kelainan lainnya dapat meningkatkan risiko kemungkinan sindrom tourette.

Terlepas dari itu, unggahan pemuda asal Medan yang mengaku menderita TikTok syndrome itu rupanya hanyalah komedi sarkas belaka alias sindiran. (*)

Sebaian artikel ini sudah tayang di Gridhealth.id dengan judul Pemuda Akui Kena Tik Tok Syndrome sampai Minum Obat 2 Kali Sehari, Ini Nama Penyakit Sebenarnya dalam Dunia Medis

Artikel Asli