Crime Story: Kisah Sara Connor & Tewasnya Polisi di Kuta Bali

Trending Now! Dipublikasikan 11.00, 16/07
Photo by Rio Lecatompessy on Unsplash
Photo by Rio Lecatompessy on Unsplash

Sara Connor menunggu di Rumah Detensi Imigrasi Ngurah Rai Bali. Hari ini, 16 Juli 2020, ia cuma bisa menanti segera ada penerbangan yang membawanya pulang ke Australia. 

Ia tak pernah berencana berada tiga tahun di Bali tanpa pernah bisa pulang menemui kedua anaknya di New South Wales. Entah bagaimana nasib usaha makanan pasta miliknya di kota asalnya, Byron Bay. 

Semua bermula karena tasnya hilang di Pantai Kuta. Juga karena botol bir pecah di genggaman kekasihnya. 

Juga karena potongan kartu-kartu identitas yang diguntingi, dijejalkan ke kantong plastik, dan dibuang di tepi jalan. Juga karena baju berlumuran darah yang dibakarnya di semak-semak.

*****

Hari itu David Taylor bukan sebagai DJ Nutzo. Ia tak sedang memandu acara radio atau menghibur pelanggan di bar tempatnya bekerja. 

Malam itu, 16 Agustus 2016, ia hanyalah David, seorang pria di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, yang menanti kekasihnya datang.

Rencana kencan romantis malam itu sudah diaturnya: makan malam dan menikmati sepoi angin malam di pantai dengan sebotol bir di tangan. 

Tegukan demi tegukan membuat keduanya larut hingga lupa waktu. Selepas tengah malam di Pantai Kuta itu, Sara Connor menyadari tasnya hilang. David dan Sara berpencar mencarinya. 

David menjauh, sedangkan Sara melihat seorang pria dengan rompi polisi berdiri di pintu masuk pantai. Ia menanyakan soal tasnya, tapi pria berkumis tipis itu tak tahu. Sara terus mendesak, “Di mana tas saya?”

Saat keduanya terlbat adu mulut itu, David kembali setelah 10 menit pencariannya tak membuahkan hasil. Ia bergegas menghampiri Sara yang dilihat nampak berdebat dengan seorang lelaki. 

Langsung saja ia menghardik agar tas Sara dan isinya dikembalikan saat itu juga. Ia mengabaikan saja pria itu menyebut dirinya polisi. “Kamu polisi gadungan ya? Mana dompet saya? Polisi bangsat.” bentak David seraya mulai mengecek kantong lawan bicaranya.

Tak terima dituduh, polisi itu mendorong David hingga terjatuh. Perkelahian pun pecah. Keduanya berguling di pasir dan bergantian menindih. 

David mengambil benda di sekitarnya buat memukuli lelaki itu. Ponsel, teropong milik lelaki itu, apapun yang bisa diraihnya. Pria Bali itu membalas dengan menggigit tangan dan kaki pengeroyoknya, Sara menjerit. Ia bangun dan menjauh. 

Namun David tak berhenti. Ia mengepruk botol bir ke kepala pria itu hingga pecah. Tangannya terus mengayun. Hunjaman demi hunjaman didaratkan ke kepala dan punggung hingga pria itu tak melawan lagi. 

Mereka kembali ke jalan. “Sudahlah, tasnya sudah hilang, kita kembali saja ke hotel,” kata David kepada Sara.

Keduanya mencari ojek dan meminta diantar ke penginapan. Tapi tak ada yang mau saat melihat badan mereka penuh pasir, bau minuman keras menguar, dan ada bercak darah di bajunya. 

Malam yang seharusnya romantis itu berakhir dengan keduanya berjalan kaki ke tempat mereka menginap di Homestay Kubu Kauh.

*** 

Ni Ketut Arsini tak percaya melihat foto di telepon genggam teman kerja suaminya. Ia mengenali pria di foto itu, dia adalah suaminya, Wayan Sudarsa. “Saya melihat suami saya tergeletak bersimbah darah," kata Arsini.

Ajun Inspektur Dua Wayan Sudarsa dinyatakan meninggal pada 17 Agustus 2016 usai ditemukan di pantai. Bajunya terlucuti, serta dompet dan ponselnya raib.

Dua hari setelahnya Arsini baru melihat betapa parahnya luka-luka suaminya di di ruang Instalasi Forensik RSUP Sanglah. Arsini mendapati wajah suaminya memar, matanya membengak, dan telinganya mengeluarkan darah. Hasil visum menotalkan 42 luka di tubuhnya. "Setelah diotopsi keluarga membawa jenazah korban kerumah duka dan pada telinganya masih mengeluarkan darah," ujarnya.

Polisi yang menyelidiki kematian rekannya yang biasa disapa Pak Kumis itu menduga pelakunya adalah turis asing. Seorang petugas keamanan Hotel Pullman dekat tempat kejadian menceritakan sempat mendengar teriakan minta tolong. 

Sekuriti hotel itu bergegas ke pantai. Ia melihat ada seorang pria diduduki perempuan asing dan ada satu pria bule berbaring di sampingnya. Melihat ada tiga orang lain di dekat sana yang juga diam saja, ia merasa mereka cuma bercanda dan kembali ke tempat kerjanya. 

Yang makin membuat polisi yakin adalah penemuan surat izin mengemudi New South Wales atas nama Sara Connor dan juga kartu kreditnya tak jauh dari jasad Wayan Sudarsa. Berbekal foto di SIM itu, penyelidik mencari perempuan berusia 45 tahun itu di penginapan di sekitar Kuta. 

Perburuan sampai ke penginapan di Desa pecatu, Kuta Selatan. Tapi yang dicari sudah keluar dari penginapan.

Strategi pencarian diubah, pengumuman pencarian buronan disertai foto Sara dan David disebar. "Sementara itu, memang anggota siap di daerah Konjen Australia," kata Kapolda Bali saat itu, Inspektur Jenderal Sugeng Priyanto.

Cepat atau lambat, polisi meyakini keduanya akan ke kantor konsulat di Jalan Tantular, Renon, Denpasar, itu. Benar saja, tiga hari setelah kematian Wayan Sudarsa, keduanya muncul di sana. 

Sekitar pukul tiga sore Sara datang dan langsung masuk ke konsulat. Sedangkan David duduk menunggu di luar. 

Petugas langsung mencocok David dan membawanya ke Polresta Denpasar. Sekitar 15 menit setelah David sampai, sebuah minibus Honda CR-V abu-abu masuk ke markas polisi itu. Sara ada di dalamnya bersama petugas konsulat Australia. Pelarian mereka berakhir.

***

Rambut gimbal panjang yang menjadi ciri khas David Taylor berganti potongan pendek. Rapi jali, rambutnya klimis ditarik di semua sisinya menuju tengkuk. 

Penerjemah berbaju batik dan deretan mikrofon media internasional mengapitnya. Hari itu, 13 Maret 2017, ia menanti putusan hakim Pengadilan Negeri Denpasar setelah jaksa menuntutnya agar diterungku delapan tahun.

“Terdakwa bersalah melakukan pembunuhan. Terdakwa divonis hukuman enam tahun penjara dipotong masa tahanan," kata hakim. 

Sempat berdalih cuma ingin menolong Wayan yang pingsan saat ia ditangkap dulu, kini David langsung menerima keputusan hakim. Pengacaranya, Haposan Sihombing, menyatakan kliennya merasa vonis itu adil. "Awalnya dalam pemeriksaan dia bahkan tak mengakui karena merasa tidak yakin melakukan pembunuhan," kata Haposan.

Sementara Sara, pada hari yang sama, mendapat hukuman empat tahun penjara dari enam tahun yang dituntut jaksa. Ia dianggap bersalah ikut serta dalam pembunuhan. 

Meski David yang menghilangkan nyawa Wayan Sudarsa, Sara dianggap berperan aktif karena ikut merusak barang bukti berupa barang-barang milik korban serta baju mereka yang berlumuran darah. 

“Ide membakar ialah ide David dan Sara, yang membakar juga Sara. Sedangkan untuk ide menghilangkan barang bukti milik korban ialah Sara, dan Sara juga yang menggunting," kata Kapolresta Denpasar saat itu, Komisaris Besar Hadi Purnomo. 

Seharusnya Sara menjalani masa penjara hingga 20 Agustus 2021. Namun ia mendapat remisi sehingga resmi bebas pada Kamis, 16 Juli 2020 dan langsung dideportasi. 

#CrimeStory