Cinta Laura: 13 Tahun Aku Jadi Bahan Candaan Satu Negara

Kompas.com Dipublikasikan 09.52, 27/09 • Melvina Tionardus
KOMPAS.COM/RINTAN
Cinta Laura di malam press screening film Jeritan Malam (7/12/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Meraih gelar sarjana dari Columbia University di Amerika Serikat tahun 2014 seakan menjadi titik balik aktris Cinta Laura.

Dengan lulus dari universitas top dunia hanya dalam waktu tiga tahun itu, ia merasa bisa menjadi artis yang sukses pula dalam pendidikan.

Baca juga: Sebelum Raih Gelar di Columbia University, Cinta Laura Merasa Seperti Jadi Bahan Lelucon

"Sebelum itu aku merasa seperti jadi bahan lelucon dan mungkin orang-orang tidak sadar ya," kata Cinta Laura dikutip dari kanal YouTube Narasi TV, Minggu (27/9/2020).

Memulai karier di usia 12 tahun tidak mudah bagi artis keturunan Jerman ini, apalagi ia berbicara dengan aksen bahasa Inggris.

Baca juga: PSBB Kembali Diberlakukan di Jakarta, Cinta Laura Curhat Tak Bisa Pulang

"Kalau kita pikir-pikir aku yakin banyak orangtua yang pasti tidak mau kalau anak mereka umur 12 tahun, 13 tahun jadi bahan candaan satu negara," ucap Cinta Laura.

Cinta Laura mengerti mungkin maksud dari beberapa orang yang menjadikannya candaan karena mengagumi atau memang sebuah hiburan.

Baca juga: Cinta Laura Bicara soal Karier dan Asmara

Namun, ada alasan dengan cara berbicaranya yang berbeda itu.

"Padahal memang orang-orang tidak mau mengerti bahwa aku tumbuh besar di berbagai negara, dan memang tidak dari kecil di Indonesia. Karena tinggal di berbagai negara, ya bahasa Inggris bahasa sehari-hari," jelas Cinta Laura.

Baca juga: Cinta Laura: Cantik Itu Tak Terikat Tipe Tertentu

Artis kelahiran 17 Agustus 1993 ini merasa seluruh masa remajanya dipakai untuk berusaha membuktikan ke orang lain bahwa ia bukan seperti apa yang mereka bayangkan

Hal itu menyebalkan bagi Cinta Laura. Karena menurutnya seseorang tidak perlu membuktikan apapun ke siapapun, melainkan pembuktian sesuatu hanya perlu ditujukan ke diri sendiri.

Penulis: Melvina TionardusEditor: Tri Susanto Setiawan

Artikel Asli