Cetak Sejarah Lewat Nominasi Oscar 2020, Ini Review Film Parasite

Akemi Arata Dipublikasikan 03.00, 21/01

(Peringatan: Review ini memuat spoiler tentang film Parasite) 

Sebelum mulai, kalau boleh merangkum film Parasite dalam satu kata, ya: SAKIT!

Hidup itu memang tak terduga, demikian diucapkan oleh sutradara Parasite Bong Joon-Ho waktu menyabet piala Best Director di ajang Critics Choice Awards 2020 beberapa waktu lalu. Begitu pula alur cerita Parasite yang ngga pernah terduga. Ngga heran film ini berhasil mencetak sejarah baru dalam industri perfilman Korea Selatan dengan meraih enam nominasi Oscar 2020 dan kembali ditayangkan di bioskop berkat banyaknya permintaan warganet.

Jujur, gue memang paling jarang lihat sinopsis film sebelum menentukan untuk menonton sebuah film di bioskop maupun streaming berlangganan. Ceritanya biar surprise gitu. Gue pun melakukan hal yang sama saat memutuskan untuk menonton film Parasite, dan alhasil gue pun sukses dibuat terkejut. Walaupun sempat nonton trailer-nya, gue tetap ngga tahu itu film tentang apa. Ketertarikan gue buat nonton benar-benar cuma karena posternya yang menarique. Dan finally, reaksi gue pas selesai nonton cuma satu: puas banget!

(Lagi asik-asik rebahan, tiba-tiba kedapatan rejeki nomplok. Sumber: CJ Entertainment)

Ya bayangin aja, seorang pemuda pengangguran dari keluarga Kim—yang semuanya pengangguran juga—bernama Ki-Woo tiba-tiba ditawarin temannya untuk menggantikan posisinya sebagai guru les privat seorang anak cewek bernama Da-Hye dari keluarga super tajir, keluarga Park, karena doi harus pergi ke luar negeri. Siapa yang menyangka Ki-Woo bakal kedapatan ‘durian runtuh’ padahal cuma lagi ngaso-ngaso di rumah?

Penawaran itu pula yang membuat Ki-Woo memiliki ide ‘cemerlang’—yang ngga patut ditiru ya!—untuk membantu keluarganya keluar dari belenggu ke-misqueen-an. Sampai di sini, gue masih polos, suci, tak tahu-menahu apa yang akan terjadi. Kalau kata Awkarin, “Aku suci, kelean penuh dosa…”Eh, kebalik, ya?

("Kelean penuh dosa, cuma aku yang suci~". Sumber: Chirpstory)

Hidup memang penuh kejutan, dan hokinya lagi, si anak cewek bernama Da-Hye itu pun jatuh cinta sama si Ki-Woo. Ide ‘cemerlang’ Ki-Woo pun mulai meliar ketika bertemu dengan si Nyonya empunya rumah, Yeon-Kyo. Dari situlah Ki-Woo punya ide ‘licik’ untuk mengajak adik perempuannya, Ki-Jeong, buat jadi guru les privat dari adik laki-laki Da-Hye buat ngajarin seni menggambar. Nama Ki-Jeong pun diubah jadi Jessica. Bukan Jessica-Mirna ya, tapi “Jessica, only child, Illinois Chicago”.

(“Jessica, only child, Illinois Chicago”. Sumber: CJ Entertainment)

Ngga berhenti sampai di situ, seolah membajak karyawan start up satu ke perusahaan start up lainnya, Ki-Woo ngga lupa buat ngajak bapak (Mr. Kim) dan ibunya (Choong-Sook) buat kerja di kediaman keluarga Park. Singkat cerita, semua anggota keluarga Kim ‘sukses’ jadi pekerja di kehidupan keluarga Park. Tapi, sejago-jagonya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.

So, pesan yang gue dapat dari film ini adalah hidup memang penuh kejutan, dan Bong Joon-Ho sukses bikin gue terkejut lewat alur cerita film Parasite ini. Film ini benar-benar dikemas dengan indah. Visual, scoring, dan casting-nya dikemas pas, ngga kurang ngga berlebihan, dan alur ceritanya sukses mencampuradukkan rasa dan emosi. Minusnya cuma satu: ada satu adegan yang mengganjal dan bikin gue bertanya-tanya karena rasanya agak ngga make sense, tapi untungnya itu semua tertutup karena ke-jatuh-cinta-an gue sama keseluruhan film ini.

Makanya, sebelum film ini jadi pemenang Oscar nanti—I wish!—mending buruan nonton biar ngga ketinggalan zaman!