Cerpen: Surat Misterius

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 16/11/2019 • Aoi Kuma
Foto: Kate Macate via Unsplash

Bel istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat. Ada yang ke kantin untuk membeli makanan, ada yang ke lapangan untuk bermain sepak bola ataupun basket, dan ada juga yang ke taman untuk menikmati bekal ataupun sekedar berjalan-jalan.

 Aku merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas. “Na, mau ke kantin?” tawarku kepada Hana, teman sebangkuku.

 Hana yang baru saja selesai mencatat materi pelajaran di papan tulis menoleh. Ia mengangguk, lalu merapikan buku-bukunya. “Ayo, Kay!” katanya dengan wajah ceria. 

Sepanjang perjalanan ke kantin, kami asyik bercanda dan bercerita tentang apapun. Hana memang hanya teman sebangkuku, dan kami baru berkenalan di awal kelas 9. Tapi dalam satu semester kami sudah menjadi sahabat yang tak terpisahkan.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di kantin. Kantin pun terlihat ramai sekali oleh murid yang ingin membeli makanan. Semuanya berdesak-desakan, saling berebut makanan sebelum kehabisan. Mau tidak mau aku dan Hana juga harus ikut berdesakan dengan para murid yang kelaparan. Untunglah kami bisa keluar dari lautan manusia itu dengan selamat.

Setelah membeli makanan, kami memutuskan pergi dari kantin. Kami berjalan melewati lapangan, melihat anak-anak bermain basket, juga melewati taman untuk melihat pemandangan hamparan bunga. Baru kemudian, kami kembali ke kelas dan memakan makanan, sembari bercanda dan bercerita. Setelah makan, kami membereskan sampah dan membuangnya ke tempat sampah.

“Eh, aduh, Na. Aku kebelet. Aku ke toilet, ya,” pamitku segera berdiri dari tempat dudukku. 

"Bentar lagi Bu Ratna masuk, loh, Kay." Hana memberitahu. Bu Ratna adalah guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelasku dan Hana setelah waktu istirahat hari ini.

"Nanti aku bilang kalo habis dari kamar mandi," ucapku lalu langsung melesat ke kamar mandi.

Untung saja kamar mandi dalam kondisi sepi, jadi aku tidak perlu mengantre lama. Aku memasuki sebuah bilik kamar mandi yang paling kanan dan segera menyelesaikan urusanku.

Ketika hendak keluar, aku mendengar seseorang memasuki bilik di sebelah kananku. Kemudian, aku mendengar suara isakan pelan dari sana.

Aku terdiam. Siapa? Mengapa ia menangis? Ada apa dengannya?

Aku ingin keluar, tapi pengguna bilik sebelahku pasti mengetahui bahwa ada orang lain di dalam kamar mandi. Jika terus di dalam, aku bisa ketinggalan pelajaran Bu Ratna. Apa yang harus kulakukan?

Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari bilik kamar mandi. Setelah aku membuka pintunya, aku akan lari secepatnya.

"Aku… capek… hiks… aku capek kayak gini terus…" kata seseorang di sebelah bilik kamar mandiku di sela isak tangisnya.

Tunggu, suara ini kan… Aya! Iya, ini suaranya Aya!

Aku cepat-cepat membuka pintu dan lari sekencangnya sebelum ketahuan.

Jadi tadi itu Aya… Kenapa dia?

Persis seperti namanya, Cahaya Lintang—yang berarti Cahaya Bintang—ia seperti cahaya yang selalu bersinar dengan indah. Ia menerangi sekitarnya dengan sinarnya yang terang.

Aya adalah ketua OSIS di sekolah ini. Dia murid seangkatanku yang memasuki kelas unggulan. Wajahnya cantik, hatinya baik, tak heran jika ia selalu dikelilingi banyak teman. Prestasinya pun gemilang, selalu mendapat gelar juara umum, serta menyabet medali dan piala dalam banyak perlombaan dan olimpiade. Keluarganya pun kaya raya. Hidupnya sangat sempurna.

Langkahku terhenti. Aku baru mengingat sesuatu. Tunggu, jika ia hidup di lingkungan seperti itu, bukankah seharusnya ia merasa bahagia? Lalu, apa yang membuatnya menangis?

***

Selama pelajaran aku tidak fokus, aku selalu memikirkan Aya. Apa yang terjadi padanya? Di balik senyum cerahnya, ternyata ia menyimpan kesedihan dibaliknya. Aku ingin bertanya, tapi aku tidak berani menatap wajahnya.

Aku membolak-balik buku Bahasa Indonesia dengan gusar. Kemudian, tanganku berhenti pada bab 'Surat'. Bagaimana jika aku memberinya surat? Dengan begitu aku tidak perlu bertatap muka dengannya, dan ia juga tidak akan tahu kalau aku yang mengiriminya surat ini. Aku hanya perlu menyelipkan surat ini ke dalam lokernya. Kebetulan loker Aya berada tepat di sebelah lokerku. Ide bagus!

Aku segera menyobek selembar kertas dengan semangat dari buku tulisku dan menulis sesuatu.

To: Aya

Halo Aya, salken ya…

Mungkin kamu nggak tau aku siapa, tapi aku tahu kamu. Tenang, aku nggak bermaksud jahat, kok… Cuma aku pengin tau… Apa kamu sedih? Kenapa kamu nangis? Kamu bisa cerita ke aku, aku bakal jaga rahasiamu..

Note: kalo kamu bales surat ini, selipin aja di loker sebelah kananmu, aku bakal bales lagi suratmu..

Aku melipat kertas tadi menjadi lumayan kecil, sehingga bisa kuselipkan di lubang loker. Aku menatap surat yang kubuat itu dengan bangga. Dengan begini mungkin bisa meringankan beban Aya! pikirku.

Kemudian gerakan tanganku terhenti. Senyumku memudar. Bukankah dengan begini aku malah terlalu mencampuri urusannya?

Aku mengurungkan niatku untuk memberinya surat. Aku memasukkan lipatan kertas berisi surat itu ke dalam tas tangan yang biasa kubawa. Aku menghela napas pelan, lalu kembali fokus kepada pelajaran.

***

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dengan nyaring. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang. Aku segera merapikan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas.

"Ayo, Na," Aku mengajak Hana. Ia mengangguk sambil memasukkan barang-barangnya. Setelah beberapa lama, Hana sudah selesai merapikan barangnya, kami pun beranjak keluar kelas untuk pulang.

Aku berjalan ke depan gerbang, memutuskan untuk menunggu Papa yang menjemputku disana. Aku menelepon Papa sambil berjalan. Aku memegang hp di tangan kanan dan memeluk tas tanganku di tangan kiri.

"Pa? Papa di mana? Aku udah nunggu, lho!" kataku agak keras karena suasana di sekolah sangat ramai. Papa meminta menunggu beberapa menit lagi karena sedang terjebak macet. Lalu, suara Papa menjadi tidak jelas.

"Pa? Halo? Papa masih disana?" Aku memanggil Papa. Setelah itu, aku mendengar sambungan telepon diputus. Aku menghela nafas sambil menatap layar hp. Dan tiba-tiba…

Bruaakk!!

Aku tertabrak seseorang sampai terjatuh. Barang yang kumasukkan dalam tas tanganku berceceran di tanah.

"Maaf, aku nggak liat jalan…" Aku meringis menahan sakit. Siapa yang barusan kutabrak?

Seorang perempuan seumuranku! Aya! Aku kembali teringat kejadian di kamar mandi. Aku segera memasukkan barang-barangku dengan terburu-buru ke dalam tas tanganku, lalu langsung berlari meninggalkannya.

Maaf, ya, Ya… Maaaff…

***

"Maaf ya, aku nggak hati-hati… Loh, tadi siapa ya?" Aya baru menyadari bahwa seseorang yang ditabraknya sudah menghilang dari hadapannya. Ia segera berdiri lalu membersihkan seragam dan roknya yang terkena pasir akibat terjatuh barusan.

Saat ia melihat sekitarnya, ia melihat sebuah lipatan kertas kecil yang sedikit kotor karena terkena pasir. Ia membersihkannya terlebih dulu.

"Ini apa ya?"

***

"Huwaaaa!!" Aku berteriak histeris. "SURATNYA NGGAK ADA!!"

Aku sudah berkali-kali mengecek semua tasku, tapi tak kunjung kutemukan lipatan kertas itu.

Aku menggigit bibir bawahku. Bagaimana jika hilang? Bagaimana jika ada yang menemukannya? Bagaimana jika ada yang tahu kalau aku yang menulis surat itu?

Tiba-tiba aku teringat kejadian saat pulang sekolah tadi. Aku menabrak Aya dan barangku berjatuhan. Pasti di saat itu suratnya menghilang. Tapi bagaimana kalau surat itu dibaca Aya?

Aku melempar diriku ke kasur dan menutupi wajahku dengan bantal dan selimut. "Nggak tau, ah!" seruku kesal. Aku frustasi memikirkannya. Lebih baik kulupakan saja.

***

Selama seminggu, aku berusaha menghindari Aya, sampai membawa bekal dari rumah agar tidak bertemu dengannya di kantin. Tentu saja Hana mengkhawatirkanku, tapi aku mengatakan padanya bahwa aku tidak apa-apa. Maaf, ya, Hana…

Saat membuang sampah, aku sempat menoleh ke arah kanan di mana terdapat jejeran loker. Misalkan kalo Aya percaya, apa dia bakal ngasih balesan?

Yah, kita tidak akan tahu kalau belum mencoba. Aku berjalan ke arah jejeran loker dan berhenti pada jejeran ketiga di bagian pojok kanan dua dari bawah. Aku berjongkok, itu lokerku. Loker di sebelah kiriku adalah loker milik Aya.

Aku membuka lokerku, dan aku mendapati sesuatu di sana. Sebuah amplop putih. Aku mengambilnya, kemudian menutup lokerku dengan hati-hati. Di amplop itu tertulis: 'To: Pengirim Surat Misterius'. Sepertinya benar ini surat untukku.

Aku menyimpannya ke dalam saku seragamku dan segera kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi.

***

Aku sedang mempersiapkan barang yang harus kubawa besok. Aku teringat surat dari Aya. Aku segera mengambil surat itu dari dalam tas dan membukanya.

To: Pengirim Surat Misterius

Halo, salken juga… walaupun aku nggak tau namamu. Aku nemuin surat dari kamu yang jatuh pas aku nabrak kamu. Maaf, ya, aku nggak sengaja… Oh iya, kamu tau, ya? Kalo aku nangis kemarin? Sekarang aku nggak apa-apa, kok, gausah khawatir… Makasih ya, udah perhatian, hehe..

Oiya, namamu siapa?

Kutunggu balasanmu di lokerku! :D

Aku bersyukur karena Aya percaya padaku. Aku segera mengambil pensil dan kertas untuk menuliskan balasan untuknya.

To: Aya

Halo Aya, maaf mengganggu… Aku berterima kasih sama kamu soalnya udah percaya sama aku :D Yang waktu ketabrak waktu itu, aku nggak apa-apa kok, salahku juga gak perhatiin jalan.. Dan yang soal nangis itu, iya… aku tau… Kamu beneran nggak apa-apa, kan? Kalo ada masalah cerita aja, jangan dipendem ya, Aya…

Aku menghentikan aktivitas menulisku. Nama, ya? Aku tidak mungkin langsung memberitahu nama asliku, aku malu dan tidak berani. Aku memutar otak, lalu mendapat ide.

Namaku, Anika Levysa, panggil aja Levy :>

Aku memutuskan mengacak huruf di namaku. Kayla Sevina menjadi Anika Levysa. Setelah selesai menulis, aku memasukkan surat itu ke dalam amplop dan menutupnya rapat.

"Besok, tinggal naruh surat ini di lokernya Aya," gumamku lalu menarik selimut dan beranjak tidur.

***

Mulai hari itu, aku dan Aya saling mengirim surat. Kami bercanda dan bercerita banyak hal. Kami pun sudah menjadi sahabat. Tapi, bukan berarti aku melupakan Hana. Kami tetap bersahabat.

Hari ini pun sama, aku membawa pulang surat balasan dari Aya. Sesampainya di rumah, aku segera membuka surat darinya.

To: Levy

Ceritamu tentang keluargamu keren banget lho… Aku iri, kamu punya adik, dan keluarga yang selalu perhatiin kamu. Aku cuma anak tunggal, selalu sendiri di rumah, itu nggak enak… Pasti rumahmu rame terus, kan? Nggak kayak rumahku, sepi…

Aku segera menulis balasan.

To: Aya

Loh, Ya, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih… Maaf lho.. :(( Tapi emang rumahku rame terus sih, gara-gara aku tengkar terus sama adik… :vv Mama sama Papa sampe capek ngelerainya wkwkwk… Tapi kamu nggak sendiri kok, Ya, masih ada aku sama temen-temen kamu… Don't be sad! Ayo semangat!! :DD

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran di kursi belajarku. Entah kenapa aku merasa tidak enak pada Aya.

***

Dua hari kemudian, surat balasan dari Aya datang. Karena terlalu senang, aku langsung membuka surat dari Aya tepat setelah aku mengambil surat itu dari lokerku. Untung saja di tempat loker tersebut sedang sepi, jadi tidak ada yang melihatku.

Keningku berkerut membaca surat dari Aya.

To: Levy

Levy, cuma kamu yang bisa aku percaya sekarang. Aku mau ngasih tau kamu sesuatu. Kamu bakal jaga rahasiaku, kan?

Ya, hanya itu yang ia tulis. Firasatku tidak enak. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Aya.

“Kayla!” panggil seseorang sambil menepuk pundakku.

Aku berjengit karena terkejut. Aku langsung menoleh ke belakang, ternyata Diana dan Farah, sahabat Aya. Tapi akhir-akhir ini aku hanya melihat mereka berdua. Aku pernah sekelas dengan mereka, jadi tidak heran mereka mengenaliku.

“Ya ampun, kalian berdua… kaget tau…” kataku sambil mengelus dada, masih terkejut.

“Hehehe, maaf, lho, Kay…” kata Farah, merasa bersalah. Aku hanya mengangguk. “Gak, gak apa, kok… yaudah, aku duluan, ya…” pamitku kepada mereka berdua. Mereka berdua mengangguk.

Aku segera menyimpan surat dari Aya ke dalam saku seragamku dan kembali ke kelas. Aku teringat akan isi surat Aya. Aku khawatir padanya. Aku berniat membalas suratnya hari ini juga.

Aku segera mengambil kertas, dan menulis balasan.

To: Aya

Iya, aku bakal jaga rahasiamu, kok… emang mau cerita apa?

Setelah selesai menulis, tanpa ba-bi-bu, aku segera berlari keluar kelas sembari melipat kertas tersebut, kemudian langsung kuselipkan ke dalam loker Aya.

***

Esoknya, aku mendapat balasan dari Aya. Anehnya, amplop yang kudapat lebih tebal dari biasanya. Aku berniat membacanya setelah pulang sekolah.

***

To: Levy

Levy… aku memang selalu tersenyum di depan semua orang, selalu bersikap baik dan sopan… tapi itu hanya di depan saja…

Aku sudah lelah… aku lelah akan apa yang terjadi pada keluargaku, pada sahabatku…

Kamu lihat berita yang sedang trending di tv maupun di sosial media? Seorang koruptor? Yang diberitakan adalah ayahku… ia memiliki jabatan tinggi di pemerintah, dan ia dituduh berkorupsi, itu tidak benar… aku tidak tau siapa yang menyebarkan berita itu, tapi sungguh, berita itu tidak benar… ayahku tidak mungkin melakukan hal itu… sampai sekarang berita itu masih diperiksa kebenarannya… belum berarti ayahku tersangkanya…

Ibuku hampir mempercayai berita itu, dan ia pergi dari rumah sejak dua hari yang lalu… dan ia tidak pulang lagi sampai hari ini…

Teman-temanku menjauhiku, karena tahu berita itu, para guru pun bersikap aneh kepadaku, mereka selalu menghukum dan memarahiku tanpa alasan yang jelas…

Sebenarnya, tidak ada yang tahu bahwa pria yang dituduh koruptor adalah ayahku, kecuali kedua sahabatku dan kamu, Levy… aku tidak tahu dari mana mereka mengetahui hal itu, dan mereka menempelkannya pada mading sekolah…

Maaf, Levy, jika aku merepotkanmu… tapi hanya kamu satu-satunya orang yang bisa kupercayai…

Terima kasih, setelah menulis ini hatiku lebih lega…

Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku… 

Aku menunggu balasan darimu…

Apa yang kukhawatirkan benar terjadi. Ternyata karena ini Aya menangis hari itu. Dan, tunggu… mading sekolah? Aku tidak pernah melihat mading sekolah. Benarkah apa yang dikatakan Aya? Berita tentang ayahnya ditempel disana? Aku berencana mengeceknya besok.

***

Aku hanya terpaku melihat pemandangan yang ada di depanku. Benar apa yang dikatakan Aya. Berita tentang ayahnya tertempel di tengah-tengah mading, bahkan artikelnya paling besar.

“Pfft … kasian banget, ya, Aya … dia pasti nggak nyangka, deh…” kata seorang murid yang melewatiku.

“Nggak nyangka apa?” Temannya menyahut.

“Kalo kita yang bocorin tentang ayahnya! Hahaha!!” tawanya terdengar nyaring. Temannya tadi juga ikut tertawa.

Aku menoleh ke belakang. Dan aku tidak menyangka apa yang kulihat. Yang baru saja membicarakan Aya tadi tak lain tak bukan adalah Diana dan Farah, sahabat Aya!

Aku mengepalkan tanganku kuat, guna untuk meredam amarah. Mereka … bisa-bisanya tertawa ketika sahabat mereka sedang menangis. Dan lebih lagi, yang menyebabkan Aya menjadi seperti itu adalah mereka berdua!

PLAAKK!!

Aku memukul kepala salah satu dari mereka berdua dengan tas tangan yang biasa kubawa. Emosiku sudah tak bisa lagi kutahan. 

Mereka menoleh ke belakang, mencari pelaku yang memukul mereka. Dan mereka sangat terkejut mengetahui bahwa akulah yang memukul kepala Diana. 

“Kay?!” seru Farah tidak percaya.

“Iya! Emang kenapa?! Kalian tega banget nyebarin berita hoax ke Aya! Emang apa salah Aya ke kalian? Tau, nggak, Aya nangis sesenggukan di kamar mandi, itu semua gara-gara KALIAN!!” teriakku marah. Diana dan Farah hanya terdiam mendengarkanku.

“K-Kayla?” panggil seseorang dari belakangku. Aku segera menoleh ke belakang, dan aku terkejut siapa yang memanggil namaku barusan. Aya!

“Kayla… tau dari mana? Aku kan … nggak pernah cerita ke kamu…” katanya pelan. Aku hanya menunduk. Aku tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Sementara Diana dan Farah sudah kabur duluan.

Aku menghirup napas, mengumpulkan keberanian, kemudian menghembuskannya lagi. “Aku … yang selama ini ngirim surat ke kamu, Ya.”

“H-hah?”

“Iya… aku… Levy, Anika Levysa.”

Hening. Tak ada suara apapun dariku maupun Aya.

“Maa—“

Grep!

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Aya sudah duluan memelukku.

“E-eh? Aya?”

“Makasih, buat semuanya… Levy…”

Aku hanya tersenyum lalu membalas pelukannya.

***

Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu. Semuanya sudah kembali normal. Ayah Aya dinyatakan tidak bersalah. Ibu Aya kembali pulang ke rumah. Diana dan Farah meminta maaf pada Aya. Begitu pun artikel tentang ayah Aya yang terpajang di mading sudah dibuang. Aku pun mengenalkan Aya pada Hana, dan mereka cepat akrab. Sekarang, kami bersahabat bertiga; Aya, Hana, dan aku!