Cerpen: Suara Sang Gadis Desa

Tribunnews.com Dipublikasikan 23.00, 18/10/2019 • Sr. Herlina Hadia Meka, S.Sp.S

POS-KUPANG.COM|KUPANG - MATAHARI hampir meninggalkan ramainya sore di kampungku. Aku berada di tenda bambu di depan rumahku, menyaksikan anak-anak kecil menikmati indahnya udara sore.

Mereka seolah tak peduli bahwa hari hampir malam. Deretan pegunungan dan bukit yang mengelilingi kampungku seolah ikut berbahagia bersama mereka. Kenikmatan permainan sederhana mereka menjadi satu-satunya dunia yang mereka miliki saat ini.

Di tempat inilah aku dilahirkan, di tempat inilah aku dibesarkan, di tempat inilah pula aku menyebutkan kata pertama dari mulutku.

Di tempat ini aku diajarkan untuk berjalan, di tempat ini aku diajarkan untuk berlari. Di tempat ini aku belajar betapa hidup kusangat bergantung pada Sang Pencipta, pada orang-orang di sekitarku, dan pada alam.

Usiaku sudah tak lagi muda. Aku gadis desa yang hanya mengenal jika itu pagi, ketika mendengar ayam berkokok. Gadis desa yang hanya mengenal jika itu malam,dengan melihat lampu dari bahan bakar minyak tanah, bernyala.

Orang-orang di kampungku menamainya lampu pelita. Aku gadis kampung yang hanya mendengar jika ada berita penting melalui seseorang yang langsung datang ke rumah kami dan bukan melalui telepon genggam. Aku hanyalah seorang gadis kampung yang dengar berani mengatakan kepada dunia bahwa betapa indahnya kampungku dan betapa bersahabatnya orang-orang yang mendiaminya.

Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa hidup itu sederhana jika kita tidak membuatnya berbelit-belit. Tidak memiliki telepon genggam bukan berarti kami miskin, sebab kami kaya akan sebuah relasi yang nyata bukan maya. Tidak memiliki penerangan yang bersumber pada tenaga listrik, bukan berarti kami miskin, sebab kami tahu menghargai dan memaknai apa artinya kekayaan dalam keheningan dan gelapnya malam.

Tidak memiliki sarana transportasi, bukan berarti kami miskin, sebab kami kaya dalam menyapa sesama sepanjang perjalanan kami.

Sampai satu waktu, seorang perempuan kota datang dan bercerita tentang apa artinya menjadi perempuan dalam budayaku.

Menurutnya, selama ini menjadi perempuan dalam budayaku adalah menjadi budak laki-laki, menjadi perempuan berarti menduduki posisi kedua yang suaranya kadang tidak diindahkan.

Menjadi perempuan berarti hanya menjalankan tugas di dapur dan di rumah. Menjadi perempuan berarti memiliki destinasi hidup hanya satu yakni menikah.

Hal ini yang harus kita ubah, lanjutnya, dan kita perempuanlah yang harus memeranginya.

Berjuanglah, menurutnya, agar perempuan sendiri bisa mendapatkan kesetaraaan dalam segala hal.

Setelah dia pergi, saya kembali duduk di beranda rumahku, merenungi kata-katanya. Aku pun bertanya siapakah aku dalam budayaku?

Sekilas kisah masa kecilku kembali hidup dalam benakku. Aku ingat saat aku tumbuh dan bermain, menikmati alam yang belum terambah oleh tangan-tangan orang yang menganggap bahwa alam itu mati. Aku ingat ketika aku berlari kesana kemari bersama kakak-kakak dan adikku, bersama teman-teman bermain di masa itu, kami bermain tanpa menempatkanku pada posisi kedua.

Aku ingat baik ketika kami menyantap makanan, porsiku dan porsi mereka sama. Aku ingat baik ketika dibelikan baju, kami sama-sama mendapatkan baju baru.

Cerpen Sr. Herlina Hadia Meka, S.Sp.S: Suara Sang Gadis Desa

Hipwe

Suara Gadis Desa 

Menjadi perempuan berarti hanya menjalankan tugas di dapur dan di rumah. Menjadi perempuan berarti memiliki destinasi hidup hanya satu yakni menikah.

Hal ini yang harus kita ubah, lanjutnya, dan kita perempuanlah yang harus memeranginya.

Berjuanglah, menurutnya, agar perempuan sendiri bisa mendapatkan kesetaraaan dalam segala hal.

• BREAKING NEWS : Dua Tersangka Kasus Korupsi Pembangunan Embung Nimasi TTU Diserahkan ke Kejaksaan

Setelah dia pergi, saya kembali duduk di beranda rumahku, merenungi kata-katanya. Aku pun bertanya siapakah aku dalam budayaku?

Sekilas kisah masa kecilku kembali hidup dalam benakku. Aku ingat saat aku tumbuh dan bermain, menikmati alam yang belum terambah oleh tangan-tangan orang yang menganggap bahwa alam itu mati. Aku ingat ketika aku berlari kesana kemari bersama kakak-kakak dan adikku, bersama teman-teman bermain di masa itu, kami bermain tanpa menempatkanku pada posisi kedua.

Aku ingat baik ketika kami menyantap makanan, porsiku dan porsi mereka sama. Aku ingat baik ketika dibelikan baju, kami sama-sama mendapatkan baju baru.

• Akhirnya Terungkap Alasan Pelatih Persib Bandung Enggan Komentari Wasit, Ternyata Ini yang Ditakuti

Aku ingat baik ketika kayu bakar habis di dapur, kami semua sama-sama pergi mencari kayu. Aku ingat baik ketika air di dapur habis, kami sama-sama pergi menimbah air. Lalu apa dan siapa yang membuat ketidaksetaraan itu ada? Tanyaku.

Kami lahir dari rahim yang sama, menghirup udara yang sama, berlari di bawah kolong langit yang sama, mendapat perlakuan yang sama. Lalu dimanakah letak ketidaksetaraan itu? Atau apakah ide kesetaraan dan ketidaksetaraan itu diekspor dari luar daerahku?

Ataukah juga mungk ini tubuah dari sebuah pembelajaran di sekolah? Atau apakah aku yang tidak memahami arti dan tidak menyadari ketidaksetaraan itu ada dalam budayaku?

Sambil menatap kebun jagung yang sebentar lagi siap dipanen, aku mulai mencoba mencari dimanakah letak ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam budayaku. Setidaknya arti budaya bagiku adalah segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kami, cara kami berpikir, cara kami berelasi, cara kami berdoa kepada yang Maha Kuasa, dan cara kami bertahan hidup.

Seperti jagung, aku dan mereka (baca laki-laki) ditempatkan di bumi yang sama. Namun kami tumbuh dan berkembang dengan cara yang berbeda. Aku dan mereka tidak sama. Aku bukan mereka dan mereka bukan aku.

Aku tidak sekuat mereka tapi mereka tidak se-sensitive diriku. Bukankah aku dan mereka diciptakan dengan keunikan masing-masing? Budaya tidaklah menjadi penyebab ketidaksetaraan itu. Tapi bagaimana kita (perempuan) bisa mengartikan apa itu budaya.

Aku tak mau berjuang untuk sebuah kesetaraan, sebab aku merasa aku dan semua perempuan di daerahku bukanlah korban dari ketidaksetaraan itu.

Seperti jagung, aku dan mereka (baca laki-laki) ditempatkan di bumi yang sama. Namun kami tumbuh dan berkembang dengan cara yang berbeda. Aku dan mereka tidak sama. Aku bukan mereka dan mereka bukan aku.

Aku tidak sekuat mereka tapi mereka tidak se-sensitive diriku. Bukankah aku dan mereka diciptakan dengan keunikan masing-masing? Budaya tidaklah menjadi penyebab ketidaksetaraan itu. Tapi bagaimana kita (perempuan) bisa mengartikan apa itu budaya.

Aku tak mau berjuang untuk sebuah kesetaraan, sebab aku merasa aku dan semua perempuan di daerahku bukanlah korban dari ketidaksetaraan itu.

Kita berbakat, kita memiliki kapasitas, kita memiliki ruang untuk menjadi seorang perempuan, tanpa harus menjadi setara dengan laki-laki. Kita tidak bisa menjadi laki-laki, sebab kita perempuan.

Bersyukurlah bahwa kita diciptakan sebagai perempuan, sebab kita memiliki tempat di dunia ini.

Janganlah berjuang untuk menjadi setara dengan laki-laki, tapi berjuanglah untuk menjadi sungguh-sungguh perempuan, berjuanglah agar segala kemampuan kita, bisa digunakan dengan baik.

Ada banyak hal yang baik dalam diri kita yang bisa kita bagikan agar dunia menjadi tempat yang layak. Berhentilah mempersalahkan budaya, dan berjuanglah agar kita bisa mengoptimalisasikan kapasitas kita.

Berilah warna dan rasa keperempuanan kita, di lingkungan, di tempat kerja, dan di mana saja kita berada. Kini saatnya bagi kita. Teruslah menjadi perempuan, tanpa harus menjadi seperti laki-laki.

(Manila, awal Oktober 2019)

Artikel Asli