Cerpen: Pertemuan Tanpa Nama

kumparan Dipublikasikan 02.12, 14/07 • Taufan S. Chandranegara
Cerpen. Image by Tasch 2020 kumparan

Mereka tidak melakukan apapun seperti tampaknya. Masing-masing, menuju ke hutan lindung seperti biasanya. Menuju bukit huma-huma bunga perdu di sana di tempat itu membuat mereka lebih tafakur pada alam. Mereka tidak pernah menjanjikan apapun tentang hutan bagi lingkungan serta semua habitat di dalamnya. Mereka hanya ingin berbagi pada alam pemberi hidup bagi semua umat di planet-planet.

Demikian kurang kebih hal, kesimpulan sementara menyaksikan kejadian ajaib di depan mata keduanya, berniat menyimpan rahasia itu di dalam benak mereka sepanjang hayat, untuk menjadi kekuatan cita-cita edukasi sains, di hati keduanya, kelak pula akan mereka kisahkan pada anak cucu keduanya.

***

Adik, menaruh sepeda di ujung rumah di bawah pohon sawo, tempat biasa dia memulai perjalanan sepulang sekolah. Ada banyak hal tak diketahui oleh siapapun. Mengapa mereka berdua selalu ke hutan dengan arah berbeda, tidak pada waktu sama persis. Kakak asyik membantu ibu di rumah menyelesaikan berbagai keperluan setelah pulang sekolah. Sebelum melakukan perjalanan ke hutan lindung itu.

Apakah keduanya saling mengetahui kegiatan masing-masing setiap kali ke lingkungan hutan lindung tak jauh dari rumah tinggal mereka, kakak atau adik. Ayah, keduanya telah wafat beberapa waktu lalu disambar petir ketika panen di ladang jagung sebagai warga transmigran pertama di wilayah area tak berapa jauh dari hutan lindung itu.

Lembayung menjelang sore biasanya kakak atau adik tiba di rumah selisih waktu tak selang beberapa lama. Keduanya pun nyaris sama, membersihkan badan, mencuci sepatu, meletakkan tas ransel, berbagai peralatan masing-masing keperluan adik atau si kakak sepulang dari hutan lindung itu, tas ransel berfungsi tas sekolah masing-masing pula.

***

Telah beberapa waktu kedua insan kakak beradik itu mengamati suatu kegiatan sosok-sosok aneh dari tempat berbeda. Secara bersamaan keduanya semakin dekat dengan lokasi itu.

“Siapa mereka dengan baju serupa zirah aneh itu”, adik mengamati secermat mungkin.

“Siapa mereka?” Kakak pun menduga-duga pula. Kegiatan sosok-sosok itu bergerak simultan, persis huruf alfabet berurutan tak ada berjeda.

Tak ada pola laku menyimpang dari lingkaran barisan urutan perbuatan mereka, amat teratur tanpa suara pula, tampak semacam aura cahaya natural di setiap sosok-sosok itu. Kakak merayap lebih dekat ke lokasi itu, demikian pula dengan adik.

“Wow! Menakjubkan!” Suara adik dalam benak. Kakak pun demikian.

Melihat semacam cahaya amat tipis bergerak bagai penanda gelombang suara tak jauh dari posisi masing-masing adik atau kakak. Sosok itu memetik tetumbuhan perdu, dedaunan serta hal-hal bersifat sains. Di kejauhan terdengar suara kentongan di pukul bertalu-talu dari desa transmigran tempat kakak serta adik. Sosok itu pun tampaknya mendengar suara kentongan di kejauhan itu. Mendadak area di lokasi itu seperti listrik padam, gelap gulita.

Tak lama, lingkaran sempurna membentuk aura bola cahaya natural, melenting cepat ke angkasa-melesat secepat suara, sirna. Adik atau kakak tak sempat menyaksikan keajaiban itu. Keduanya telah menuruni bukit hutan lindung menuju suara kentongan. Kakak berlari-lari dari arah berlawanan dengan adik di antara huma ilalang menuju suara kentongan.

“Pasti babi hutan merusak ladang jagung”, di benak keduanya, di tempat berbeda. Keduanya semakin dekat ke lokasi.

“Tang! Teng! Tung! Creng! Dok! Tok! Jreng!” Suara kentongan campur aduk berbagai peralatan kayu, logam berbaur berbagai suara penduduk desa memukul penggorengan bertaluan dengan suara-suara logam lain dari alat-alat masak di dapur, suara-suara gaduh itu sanggup mengusir sekelompok kawanan babi hutan dari lokasi lahan janggung.

“Hura! Haa! Hura!” Suara adik atau kakak, bergabung dengan penduduk desa. Adik atau kakak dari arah berlawanan melihat Bunda mereka di antara orang-orang tengah sibuk mengusir babi hutan.

“Bunda!” Suara adik serta kakak serentak, mendekat pada bunda dari arah berlawanan. Keduanya memeluk bunda.

“Dari mana kalian. Kawanan babi hutan itu selalu saja datang lagi, membuat rusuh rasa tenteram, merusak, mencuri jagung diam-diam”, suara bunda.

“Main-main ke hutan lindung bunda”, jawab keduanya senada, serentak. Kakak terkejut mendengar jawaban adik demikian pula dengan adik, keduanya saling menengok sesaat dari sisi kiri-kanan bunda berjalan seiring di antara keduanya.

“Huss! Huss!” Suara bunda sambari terus memukul penggorengan.

“Hura! Huss! Huss!” Suara adik atau kakak bergantian, di antara suara bunda, di antara suara berisik berbagai perangkat masak di ketok-ketok, di antara suara-suara penduduk desa transmigran melakukan hal sama dengan ragam perbedaan, satu kesatuan cita rasa cita-cita demi ketenteraman, mengusir makhluk pengacau babi hutan, pencuri segala ada bak manipulator kelas kakap dari negeri dongeng, mencuri hak-hak hidup sesama.

Manipulator kakap, senantiasa juara, gemar mencuci uang hasil mencuri dari sebuah negeri dongeng, serupa belut molos dari lubang persembunyian tanpa suara tanpa di ketahui oleh siapapun, kecuali, hanya ‘Sang Pencipta Maha Mengetahui’, setiap perilaku makhluk-Nya, bagaimana mereka bisa lolos, aneh tapi nyata, hanya terjadi di dunia dongeng para maling kelas kakap bak kisah imajiner kartun dari benua biru, alamak pedih nian hati ini, ada kisah dari negeri dongeng nun jauh di sana, semoga tak terjadi di negeri agraris.

***

Para penduduk memiliki kesadaran bersama. Transmigrasi, merupakan salah satu pola edukatif, bertujuan mengembangkan lahan non produktif menjadi tanah produktif, tersirat di dalamnya sinergi budaya antara kultur, suku, agama dan ras, jauh dari agitasi ego mania. Transmigrasi, merupakan salah satu unsur penting pengembangan desa menjadi tata kelola lahan modern, meski tak harus menjadi kota.

Suara alam raya memberi makna sore. Lembayung di awan-awan bergelayutan warna-warna jingga bak puisi ilahiah untuk semua umat-berbangsa. Alam tidak memilah-milah hidup makhluknya. Tugas makhluk hidup memilih tujuan baik hanya benar, memelihara kesadaran hidup bersama, mensyukuri berkat bermanfaat, edukatif dalam cinta-kasih sayang sesama insan.

Ibunda, apapun beliau pasti memiliki firasat. Bunda, seperti menerbitkan firasat, kakak atau adik menyembunyikan sesuatu, namun bunda, memiliki kebijaksanaan untuk menunggu cerita tulus dari kakak atau adik. Apa sebetulnya telah terjadi, mereka lakukan di hutan lindung itu. Bunda duduk di antara kakak-adik, mengamati, menunggu dengan kesabaran tulus, keduanya, menyelesaikan tugas-tugas sekolah di meja makan.

“Kalian sudah makan?” Pertanyaan bunda, mengalir begitu saja bagai mata air ke sungai-sungai.

“Sudah Bunda”, jawab adik serentak kakak, tak sengaja menjawab, dengan perasaan sama, dag dig dug, keduanya belum menceritakan satu hal rahasia mereka berdua.

“Tak biasanya jagung rebus belum di makan”, suara bunda, memperhatikan lebih seksama, duduk di kursi samping kanan adik-samping kiri kakak. Hening sesaat, di benak keduanya seperti mendadak planet bumi jungkir balik, nah loh.

Jawab keduanya dengan jantung dag dig dug, serentak menganggukkan kepala, dengan suara agak terbata-bata, aneh. ”Ya bunda…”

“Baiklah…” Bunda segera akan beringsut.

“Bunda?” Suara kakak beradik itu.

“Ya…” Bunda kembali duduk. Lantas saja suara adik mendahului kakak, demikian juga dengan kakak. Lantas suara bunda sambil memperhatikan keduanya.

”Satu persatu bicara. Ingat pesan ayah. Berbicaralah dengan lantang, lugas terbuka jujur selalu jelas, tidak basa-basi, membuka hati pada kami apapun masalah kalian.”

“Jujur seperti alam memberi gelap dan terang”, suara kakak melanjutkan kalimat pesan ayah dari bunda..

“Seperti pelita hati, berani berkata benar dan baik untuk sesama”, suara adik. Keduanya mendekat pada bunda, keduanya memeluk bunda. Lantas saja keduanya menceritakan kejadian aneh di hutan lindung itu.

Jakarta Indonesia, July 14, 2020.

Artikel Asli