Cerpen: Pergi Membeli Soto

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 16/11/2019 • Ahsani Taqwim
Foto: Caroline Hernandez via Unsplash

 Subuh.

“Tari, ayo nak, cepat. Sudah hampir jam 05.00, segera ke pasar membeli soto untuk sarapan.” 

Aku sigap berlari mengambil uang di tangan ayah beserta rantang untuk wadah kuah soto. Tanpa menyisir rambut atau mengganti piama berlengan panjangku ini dengan pakaian yang lebih pas untuk pergi ke pasar aku segera saja menjalankan tugas rutinku setiap dua belas hari sekali selama tiga hari berturut-turut. Terkadang aku pergi ke warung soto Cak Dudi yang ada di pasar di desa kecilku dengan mata yang masih mengantuk dan tubuh setengah malas. 

Aku pergi sendirian dengan berjalanan kaki setidaknya 500 meter untuk perjalanan pulang dan pergi. Dalam perjalan tersebut, aku harus melewati kuburan desa serta menyebrang jembatan di sungai besar sebelum akhirnya sampai di pasar. Setibanya di dekat kuburan, aku pasti akan langsung berlari sekencang yang aku mampu karena sesungguhnya aku takut setengah mati melihat tempat yang penuh bunga kamboja itu. Kekhawatiranku akan bertemu dengan para kuntilanak atau pocong selalu bergemuruh dalam jiwa ini. 

Pernah pada suatu saat, aku tidak sengaja melihat salah satu tetangga yang rambutnya panjang sekali berjalan di depanku pas ketika di samping kuburan. Aku sudah berpikir bahwa yang ada di hadapanku ini pasti sejenis hantu atau apalah itu yang jelas bukan manusia. Aroma wangi kamboja berwarna putih gading semakin membuat suasana menjadi horor.

“AAAAAaaaaaaaaaaa.” Spontan aku menjerit panik.

“HAaaaaaaaaaaaa” Yang ada di hadapanku tiba-tiba berbalik badan sekaligus mengikuti perbuatanku. Maka kami berteriak bersama-sama. 

Aku sudah hampir menangis dan kuah soto di tanganku ini telah siap terlempar ke arah kuburan. 

“Tari, ini Bude Nur. Kenapa kamu berteriak sih, bikin Bude kaget saja.” Katanya sembari tersenyum manis dan melangkah mendekatiku.

“Oh.“ Kataku sambil meringis dan menahan malu.

Selanjutnya, aku dan Bude Nur berjalan bersama-sama sampai kami menyebrangi jembatan kali besar dan berpisah di depan rumahnya. 

Begitulah nasibku yang harus pergi pagi-pagi buta demi mendapatkan serantang soto untuk lauk sarapan ayah, aku dan dua adik laki-lakiku yang masih kecil-kecil. Mamaku adalah seorang perawat yang setiap dua belas hari sekali selama tiga hari berturut-turut diharuskan untuk berdinas malam. Mama berangkat pukul delapan malam dan baru pulang jam delapan pagi di esok hari. Dikarenakan ayahku tidak pandai memasak, ditambah lagi dia harus memandikan adikku dan menyiapkan segala keperluan sekolah kami, maka untuk urusan sarapan beliau terpaksa memintaku untuk pergi membeli soto saja. Selalu seperti itu. Ayah tidak akan mampu mengurusi kami sendirian di jam sibuk seperti itu sehingga aku harus membantunya. Aku juga belum mahir memasak sehingga memang satu-satunya cara agar kami tetap bisa sarapan saat mama sedang berdinas malam adalah dengan membeli soto Cak Dudi. 

Umurku baru sepuluh tahun. Melihat para teman sebayaku yang tidak harus pergi ke pasar untuk membeli soto selama tiga hari berturut-turut terkadang membuatku merasa iri. Beruntunglah mereka yang menu makan paginya sudah disiapkan oleh orang tuanya sehigga mereka tidak perlu semenderita diriku. 

“Kenapa sih Mama harus bekerja. Sudahlah mama pensiun saja. Aku tidak suka tiap mama pergi dinas malam,” kataku pada mama pada suatu malam saat beliau hendak bekerja. 

“Nak, kalau tidak bekerja, kita sekeluarga tidak akan bisa liburan ke Bali atau ke Dufan tiap akhir tahun. Mama juga tidak akan mampu membelikan kamu sepeda baru.” Begitulah kata mama memberi pengertian. 

“Tapi aku benci pergi membeli soto setiap sehabis shalat Subuh.”

“Loh, Tari kan harus membantu Ayah. Apa Tari tega melihat Ayah kerepotan setiap pagi menyiapkan keperluan sekolah adik-adik. Kan kasihan Ayah kalau masih harus ribet membuat sarapan. Tari sudah besar, harus bersedia menolong meringankan beban Ayah.” Mama menjelaskan padaku dengan lembut. 

Aku begitu patuh pada orangtuaku sehingga aku tidak akan bisa menolak perintah mereka apapun alasannya dan bagaimanapun caranya. Akan tetapi, akhir-akhir ini aku mulai muak dengan perjalananku menuju warung soto Cak Dudi. Rasanya, setiap akan pergi ke sana aku merasa jantungku berdebar dan tubuhku lemas. Sebetulnya, setelah kupikir-pikir, para kuntilanak atau pocong yang ada di kuburan itu mungkin tidak akan menemuiku. Mereka terlalu iba untuk mendatangi serta menakut-nakuti gadis sekecil diriku. 

Lalu mengapa aku begitu ketakutan? Apa yang membuatku begitu cemas. Ya Allah tolong lindungi gadis yang sedang muram hatinya ini. 

***

Beberapa hari yang lalu saat aku pulang bersama serantang soto untuk ayah dan adik-adikku, ada seorang pria berambut ikal membuntutiku dari belakang. Aku ingat betul itu adalah pria yang pernah menggandeng tanganku saat aku hendak menyebrang jalan menuju pasar di masa silam, entah kapan tepatnya aku lupa. Tidak hanya membuntutiku, pria itu tiba-tiba saja memegang pundakku, lalu ia meraba sesuatu yang ada di dadaku. Aku bingung harus berbuat apa pada detik itu. Tepat ketika kami berada di pintu gerbang kuburan, ia mulai menyentuh pahaku. Aku tetap berjalan. Sambil gemetar menahan tangis, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya bisa merasakan ketakutan. Aku tidak bisa mempercepat langkah, berlari, apalagi berteriak. Hingga sampai di jembatan sungai besar tempat di mana aku berjalan dengan Bude Nur, pria itu akhirnya berjalan menjauhiku. 

Berikutnya, sejak kejadian itu, aku benar-benar khawatir akan keselamatanku saat aku pergi membeli soto sendirian. Aku paham jika aku sedang di posisi yang sangat tidak aman. Akan tetapi bagaimana caraku mengatakannya pada ayah dan mama. Apakah mereka akan dapat mengerti maksudku. Ah, entahlah, aku bingung bukan main. Aku hanya ingin menangis. 

“Tari, ayo Nak, lekas pergi ke Pasar,” perintah ayah.

Sungguh aku benci harus pergi membeli soto. Aku sengaja memperlampat shalat subuhku dan memperlama doaku demi mengulur waktu hingga akhirnya kudengar ayah berteriak mengingatkan. 

“Yah, Tari tidak ingin pergi ke pasar hari ini.”

“Lah, kenapa Nak, kamu sakit?”

”Tari sehat kok Yah.”

”Lalu, kenapa tidak mau pergi. Oh ayolah Tari, jangan mengulur waktu. Semakin lama kamu berangkat membeli soto, semakin siang pula nanti akan tiba di sekolah. Ayo cepat pergi Tari. ” Ayah begitu memaksaku. Ya Tuhan, kenapa ayah tidak pergi sendiri saja. Kenapa harus aku. Kenapa ini semua harus aku yang menanggung?? Membayangkan ayah dan kedua adikku yang pasti sangat lahap memakan soto Cak Dudi, tegakah aku untuk tidak pergi membelinya??

”Ayah….” Mataku berkaca-kaca. Sepertinya aku sudah tidak kuasa menahan tangis. 

         SDA, 271019

Tentang Penulis

Nama saya Ahsani Taqwim. Saya dapat dihubungi melalui Instagram di @fiahsani. Saat ini saya sedang sibuk mengejar mimpi saya untuk dapat bekerja di bidang sosial dan kemanusiaan.