Cerpen: Penyesalan Terakhir

Tribunnews.com Dipublikasikan 23.00, 20/09/2019 • Riko Raden
Penyesalan Terakhir
Penyesalan Terakhir

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Hujan tiba-tiba saja turun ke bumi setelah siang yang terik. Tanpa aba-aba mendung, nyaris tanpa suara gelegar petir.

Syahdu, seolah sang hujan ingin menyapa semesta sebagai dirinya sendiri, bahwa dia adalah bulir rintik air penyejuk jiwa. Makin lama makin deras, namun dingin semakin menjadi.

Tak kuketahui dari mana tiba-tiba ada yang menyapaku di depan teras rumah kami. Ternyata ayahku. Dia langsung duduk di sampingku. Ayah selalu hadir di saat aku seorang diri.

Dia datang untuk membagikan pengalaman masa mudanya. Walaupun dia hanya seorang pekerja kuil bangunan namun aku sangat bangga padanya, karena dia bekerja setiap hari tanpa kenal lelah demi makan dan membiayai sekolah dan makan buat aku dan ibu.

Dia rela bekerja apapun untuk tujuan memberikan kehidupan keluarganya dimana keadaan ekonomi kami sangat lemah bisa dibilang keluarga kami dari kalangan keluarga yang miskin, gaji ayahku hanya dibayar perminggu 150.000 saja, tapi aku dan ibu sangat bangga terhadap kerja keras ayahku.

Di depan teras rumah ini, ayah terus menceritakan masa mudanya bersama ibu. Waktu pertam kali dia jatuh hati dengan ibu. Aku pun merasa senang karena ayah tidak pernah mencintai perempuan lain selain ibu. Aku bangga padanya. Aku terus menatap hujan di balik teras rumah kami. Aku melihat ayah mulai diam. Barangkali dia sudah mengantuk.

"Ayah, kalau sudah mengantuk biar tidur duluan. Aku masih tetap di sini." Kataku padanya.

"Aku belum mengantuk, Nana. Aku ingin bersamamu di sini." Katanya dengan nada pelan.

Malam semakin dingin dan sunyi, suara khas anjing malam tak terdengar lagi. Angin telah membawanya dalam pelukan semesta. Aku dan ayah pun tenggelam dalam kesunyian.

Tiba-tiba ayah melontarkan kata hatinya yang selama ini ia pendamkan.

"Nana! Besok ayah akan pergi ke Malaysia. Ada teman ayah di kampung sebelah yang pulang dari sana membawa uang banyak.

Ayah ingin sekali seperti itu." Kata ayah dengan nadanya semakin tenggelam dam kesunyian.

"Jangan ayah! Aku tidak mau ayah pergi meninggalkan kami di kampung ini." Jawabku singkat sambil memeluk ayah agar ia tidak pergi meninggalkan kami.

"Nana, ayah tidak sanggup lagi membiayai engkau dan ibumu. Untuk sekarang belum apa-apa karena engkau belum masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Ayah takut cita-citamu nanti tidak tercapai karena keadaan ekonomi kita. Ayah mau engkau harus menjadi orang baik. Apalagi tempat kerja di kampung kita tidak cocok untuk ayah. Ayah hanya modal ijazah Sekolah Dasar. Mana mungkin ijazah seperti ini dapat menerimaku untuk bekerja di kantor desa.

Untuk menjadi anggota aparat desa saja harus membutuhkan ijazah SMA. Ayah langsung diam. Keadaan ekonomi kita juga tidak mencukupi." Katanya lagi sambil mengelus rambut kepalaku.

"Baiklah ayah." Aku hanya mengangguk kepala walau hati terus menolak keputasannya.

Demi menyambung hidup keluarga kecilnya, ayah rela meninggalkan aku dan ibu di kampung ini. Mungkin ayah tidak sanggup membiayai keluarga kecilnya sehingga ia pergi merantau ke Malaysia.

***

Saat ini ayah sudah sepuluh tahun berada di Malaysia. Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini dia tidak pernah pulang kampung. Dia hanya mengontak kami melalui telpon saja hanya untuk menanyakan keadaan kami.

Ayah selalu mengirim kami uang apabila kami meminta untuk membeli kebutuhan dalam keluarga. Aku sangat heran dengan tingkah laku ibuku.

Setiap kali ayah mengirim uang, ibu tidak pernah memberitahukan kepadaku tentang uang itu. Ibu selalu bersikap diam apabila uang itu telah ada di tangannya. Ibu tidak pernah membagikan atau membeli pakaian untukku.

Tetapi ibu terus memberitahukan kepada ayah kalau uang yang ayah kirim itu juga membeli kebutuhanku seperti pakaian.

Betapa liciknya ibu. Dia tega membohongi ayah. Betapa sedihnya hatiku ketika mengingat ayah bekerja keras di sana hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga kecilnya.

Ayah mungkin tidak pernah berpikir bahwa kalau setiap kali uang yang ia kirim untuk kami hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga ibu untuk merawat kedua orangtuanya yang sedang sakit.

Mungkin itulah tugas seorang ayah, segala permintaan dari istri untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga selalu terpenuhi. Betapa baiknya ayahku. Kataku dalam hati sembari melihat ibu yang selalu bersolek di depan cermin.

Aku masih ingat kata ayah. Dia pernah memberitahu kepada ibu agar segera meperbaiki atap rumah kami. Alang-alang harus di ganti seng. Ibu hanya mengiyakan saja, tetapi ibu belum menggantikannya. Kalau seandainya aku menceritakan semua keadaan rumah kepada ayah pasti dia tidak mengirim lagi uang untuk kami.

Ayah pasti sangat marah dengan ibu. Tetapi aku tidak ingin hanya karena persoalan demikian sehingga ayah tidak mengirim lagi uang untuk kami. Aku harus menjaga rahasia ini. Hanya aku dan ibu saja yang tahu.

"Selamat pagi nana. Apa kabarmu hari ini." Kata ayah dalam telpon.

"Selamat pagi juga ayah. Kami baik-baik saja di sini." Jawabku.

"Ayah bagaimana kabar juga." Tanyaku balik.

"Iya…. ayah baik-baik saja nana. Mana ibumu aku ingin bicara dengannya."

"Ibu masih cuci pakaian ayah. Nanti aku akan menelpon lagi kalau ibu telah menyelasaikan cucinya. Ada perlu apa sebanarnya ayah?"

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Ada perlu penting nana. Baiklah kalau ibu masih mencuci pakaian, nanti aku telpon lagi saja."

"Baiklah ayah. Nanti saya akan beritahukan kepada ibu kalau ayah ada perlu penting."

"Baik nana. Terima kasih banyak."

Setelah menelpon dengan ayah, hatiku tidak tenang. Jangan-jangan ayah sudah tahu kalau kondisi rumah kami belum diperbaiki. Tetapi siapa yang beritahu kepada ayah.

Jangan-jangan keluarga ayah yang memberitahukannya. Karena mereka sangat tahu keadaan aku dan ibu selama ayah di Malaysia. Tidak mungkin. Ini hanya perkiraan saja.

Mudah-mudahan tidak seperti itu. Aku takut seandainya benar pasti ibu marah kepadaku karena dia kira aku yang memberitahukan kepada ayah. Kataku dalam hati. Aku melihat ibu telah menyelesaikan cuci pakaiannya. Aku pun mendekatinya untuk memberitahukan kalau ayah ingin menelpon karena ada hal penting.

Tidak lama kemudian ayah menelpon. Ternyata dugaanku sangat benar. Ayah menanyakan soal keberadaan rumah kami.

Baru kali ini aku mendengar ayah marah. Ia sangat marah kepada ibu karena ibu tidak bertanggung jawab uang yang ia telah kirim selama ini.

Ibu diam saja. Mungkin ia sadar dengan perbuatannya selama ini. Uang yang ayah kirim telah dipakai untuk merawat kedua orangtuanya sedangkan kebutuhan dalam kelurganya sendiri selalu diabaikan.

Ketika ibu mengungkapakan kata maaf kepada ayah, tiba-tiba ayah menutup telponnya. Barangkali ayah sangat marah pada ibu. Aku melihat raut wajah ibu ada rasa penyesalan dengan perbuatannya.

Semenjak kejadian itu, ayah tidak pernah mengirim lagi uang untuk kami. Dia tidak menelpon lagi dengan kami. Mungkin rasa marah terhadap ibu masih ia terus bawa dalam hidupnya. Ayah mungkin sangat marah dengan kelakukan ibu yang tidak pernah menjaga kepercayaan darinya untuk mengurusi keluarganya.

Sudah berapa kali aku menelpon nomor handphonenya selalu tidak aktif. Aku mengirim pesan tetapi selalu tidak balas.

Mungkin ayah sangat marah dengan ibu. Barangkali ia kecewa dengan ibu. Aku sangat khawatir jangan-jangan ayah benar kalau ia tidak mau pulang lagi. Mudah-mudahan tidak. Kataku dalam hati.

Aku melihat ibu terus merenung mungkin dia merasa bersalah dengan perbuatannya selama ini. Dia telah membuat ayah kecewa.

(Ledalero, 6 Agustus 2019).

Artikel Asli