Cerpen: Neo Konspirasi

kumparan Dipublikasikan 23.00, 15/11/2019 • Taufan S. Chandranegara
Cerpen. Foto Dok: Tasch 2019 Kumparan

Langit bertabur bintang-bintang. Nebula di beberapa ruang-ruang semesta terlihat gemerlap.

"Blink! Blink!" Meteora, duduk di atas batu besar di bukit tinggi planet biru. Dari ketinggian, dia, menyaksikan betapa indah nian planet ini.

Namun, sayang di sayang, masih banyak durjana pencuri hak-hak semesta berkeliaran, menyamar jadi, Ular, Kalajengking Raksasa, Kadal, atau jenis-jenis binatang melata paling jelek sekali pun.

"Mereka cari selamat, dengan cara itu. Mencoba terus berbagai upaya penyamaran. Bahkan tak punya malu. Ada saja cara-cara mereka, menjadi apapun, mencoba menyamar jadi burung Merpati baik hati, manggut-manggut, tebar pesona, berani hadir di acara ulang tahun, Ayahanda, di Istana Awan, tempo hari“, di benak Meteora.

“Biadab! Lantas, terjadi kegaduhan. Tim intelijen semesta segera membrangus oknum Kadal penyamar itu. Gila ya mereka. Makhluk iblis macam apa pula Kadal itu”, lagi, di benak Meteora. Masih terngiang pesan mendiang Ibunda, selalu, di kedua telinga Meteora.

"Pelajari perilaku tertib bernegara, berbangsa. Basmi para pengkhianat negara penjual isu-isu gombalan pandir obral besar. Pemecah belah, itu perilaku oknum individualistis anak Negeri Kahyangan, tak punya malu, diberi hidup, dibesarkan oleh Kahyangan, diberi planet indah nian tak terperi, masih pula tak paham rasa syukur. Basmi mereka!" Meteora menghela nafas dalam-dalam.

"Ya Ibunda, hormat hamba pada kemuliaan negara", jawab nurani, Meteora.

Meteora, menangkap sinyal negatif dari sisi perbatasan Laut Utara, planet biru. Firasat batin Meteora, mendorong dia menerbangkan diri secepat cahaya. Dia menangkap sinyal suara-suara kegaduhan pikiran, disisi ruang dunia paralel lain. Segera, tubuh Meteora, menembus wilayah itu.

***

Kantor Detektif Romantika. Sore.

Patroli kawasan Laut Utara Negara, mendeteksi penyusupan kapal selam integritas magnetik asing, di antara pusat pengendalian unit pertahanan lokal. Penyusup itu terdeteksi radar bawah laut, kantor, Detektif Romantika, di Pall-Red Area Pusat, resmi menerima code red, tanda bahaya penyusupan dari pihak asing.

"Ini bukan bahaya laten sifatnya. Telah mengarah pada pertempuran terbuka. Siapa mereka. Manusia Kadal kah? Wajib fokus, waspada, tenang, terkendali", di benak Sang Guru.

"Bagaimana mungkin mereka bisa menyusup, masuk wilayah lawan dengan cara-cara seperti itu. Armada Laut Utara Negara, salah satu komando taktis serbu sergap, disiplin pada akurasi waktu edar kapal selam pasukan mereka."

"Dasar penyusup! Kutu air! Kecoa laut. Siapa mereka! Penyusup ini. Mana mungkin manusia Kadal mampu menembus sistem pertahanan kami. Oala-kadalah! Kamu ketahuan. Pandir tapi bergaya pintar", Sang Guru, mewaspadai seluruh layar monitor pemantau penyusupan.

Tanpa suara, langkah-langkah mendekati ruang bermukim Sang Guru. Ketukan di pintu.

"Tok! Tok!" Lalu suara desis, saling mendesis bercampur bau anyir amis.

Sang Guru merasakan insting tak beres. Ruangan itu dapat ditembus dengan mudah. Sosok-sosok muncul seperti hologram. Semakin membentuk samar-samar sosok-sosok mereka, puluhan sosok itu, meringkus Sang Guru, secepat kilat. Segera, menuju pesawat angkut mereka. Semua peralatan deteksi penyusupan di kantor, Detektif Romantika, mati, seluruh sistem tidak bekerja, bagai dibungkam, tak ada tanda-tanda aktifitas vital.

Sang Guru, tak memberi perlawanan, ini kesempatan mengetahui siapa dalang penciptaan manusia Kadal, kalau benar ini kelompok mereka, berani sekali menyusup dengan mudah.

Sang Guru di masukkan ruang berbentuk silinder di kendaraan makhluk itu. Bagi Sang Guru seperti dalam situasi mimpi. Masuk tabung isolasi.

"Manusia pembawa virus. Kami karantina kamu! Hingga tubuh kamu bersih dari virus kotor di sekujur tubuh hidupmu!"

"Woi! Terbalik tahu! Kalian! Virus itu!" Dalam benak Sang Guru.

Suara semirip robot serak itu lalu sirna. Tampak di hadapan Sang Guru, semacam layar tembus pandang. Menunjukkan bahwa Sang Guru, sedang diawasi ketat dengan seksama. Entah oleh kelompok apa pula ini.

Mungkin kelompok ini bukan Kadal sembarang Kadal. Mungkin saja mereka bentuk dari makhluk lain lagi. Namun Sang Guru tak peduli. Segala daya maupun kemampuan, Sang Guru, mencoba mencari cara lolos dari tabung isolasi bagai kaca bening itu.

***

Wilayah Pertahanan Tempur Laut-Udara. Malam.

Tampak Joe Rantau, memacu motor dengan kecepatan tinggi menuju wilayah, Teluk Laut Selatan, ke-Dermaga 901-XZ. Di sana telah menunggu Flony, bersama Banyu Segara, juga Astaman. Setelah saling memberi informasi, berbagai dugaan, kemungkinan, praduga peristiwa. Ke-empat detektif, menyatu, dalam kekuatan gaib semesta, dalam kekuatan tenaga pranala batin, sesuai keahlian masing-masing, mendeteksi keberadaan Sang Guru, mereka.

Air laut di hadapan mereka berubah menjadi seperti layar Digital Image. Mereka melihat peristiwa, diduga Sang Guru, diculik kawanan manusia Kadal, ternyata salah. Justru di layar itu mereka melihat kawanan manusia Mastodon, pelaku penculikan, Sang Guru. Namun mereka merubah diri, menyamarkan bau tubuh mereka seperti gerakan terorisme kaum manusia Kadal.

"Ini kelompok baru lagi", suara Astaman.

"Ya. Kemungkinan ini sayap baru dari para Kadal", suara Joe Rantau.

"Belum tentu. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Tetap dalam rantai komando", suara Flony, menahan geram.

"Neo-konspirasi! Pasti ini mereka", suara Banyu Segara, agak keras, dongkol.

"Maksud kau?" Joe Rantau, bertanya pada Banyu Segara.

"Sayap itu maksud gue anak cabang, nggak ngerti juga? Berdiri Joe. Jangan jongkok terus lah hai!" Kelakar Banyu Segara.

"Hahaha kalau seperti itu kau pasti manusia Kadal itu pula hahaha." Joe ngakak. Flony, menyela cepat.

"Stop! Kalian berdua ngoceh melulu! Ini situasi rawan, canda terus!" Keduanya langsung bungkam.

"Nyimak! Mau, disikut nona komandan hihihi", lanjut Astaman. Flony, meninju pundak Astaman.

"Wow!" Serentak suara Banyu juga Joe.

"Beda nih! Ninju dengan hidung sekalian dong. Biar miring hahaha." Suara duet Banyu serentak dengan Joe. Keduanya sembari bergaya mondar-mandir bak man of fashion.

Flony, menyumbat mereka dengan kekuatan pranala tenaga dalam. Keduanya seperti diplester lakban, tak bisa bergerak tidak bisa bersuara. Hingga Astaman, selesai menjelaskan.

Astaman, bersama Flony, melesat cepat dengan motor mereka menuju landasan pacu segera melompat masuk pesawat tempur. Meninggalkan Joe, terkesiap serentak dengan Banyu, keduanya segera melesat membuntuti Astaman. Pesawat Flony, memimpin di depan. Sang Guru, wajib segera di selamatkan. Hanya itu tekad mereka.

***

Wilayah Asing Dalam Kabut Sutra Ungu. Malam.

Meteora, segera membaca situasi. Setelah menembus wilayah sisi lain dunia paralel. Dia melihat dengan jelas suatu pola negatif tengah menyembunyikan sesuatu.

"Biadab! Di sini rupanya kalian sembunyikan harta karun curian milik negara semesta. Baiklah! Akan aku bakar harta haram kalian, para durjana pencuri hak negara semesta." Menggelegak bara semangat, campur aduk, kesal amarah.

Meteora, segera melakukan serangan cepat, meledakkan gudang harta para durjana manipulator itu.

"Hancur lebur! Musnah kalian!" Meteora, dengan geram.

Namun Meteora, segera mengurangi kekuatannya. Ada, sosok terperangkap dalam labirin merah ungu. Sosok amat dikenal pengabdiannya, untuk negara tercinta, sosok itu salah satu utusan Ayahanda Meteora, untuk memimpin sebuah lembaga keamanan negara.

Meteora, segera menyelamatkan sosok itu dari siksaan biang keladi durjana manipulator berkedok multi-warna simbolik. Dengan kecepatan penuh, Meteora, membawa terbang sosok itu, menuju distrik komando keselamatan.

***

Wilayah Asing Dalam Kabut Merah Menyala. Malam.

Diam-diam Astaman, memecah dirinya menjadi dua. Salah satu dirinya melesat mendahului jet tempur tengah dikendarai rekan-rekannya. Jet tempur siluman berbentuk segitiga sama sisi dengan nama Semesta Putih, mampu menembus pertahanan canggih apapun milik lawan. Astaman mendahului masuk labirin kabut, lantas segera masuk menggaibkan diri, dalam cuaca ketika itu, melebur diri, sirna.

"Glar!" Terdengar ledakan dahsyat.

"Guru! Pasang perisai diri, aku, akan memecah tabung isolasi ini!" Suara batin itu di tangkap oleh indra nurani Sang Guru, segera mengeluarkan kesaktian perisai diri.

"Jeger! Duar! Glar!" Astaman , berhasil meledakkan pertahanan lawan.

Sang Guru segera diraih Astaman, secepat kilat tanpa terlihat oleh Sang Guru. Meski pun sesungguhnya, Astaman, selalu bertanya-tanya tentang dirinya, jika dalam situasi sesakti itu. Siapa dirinya sebenarnya, mampu melakukan hal tak mungkin dilakukan oleh manusia normal.

Dengan serta merta pula, Sang Guru, terlindung oleh energi elastisitas pranala tenaga dalam dari, Astaman. Lantas Astaman, segera, kembali menyatu dengan dirinya. Tanpa diketahui oleh rekan-rekannya.

"Kontrol kendali ada sinyal dari Sang Guru", suara Flony. Bersamaan, di angkasa malam tampak sinar merah berbaur putih menyilau membias di angkasa.

"Buka sistem kerja partikel sel-sel molekul!" Perintah Flony kepada Joe Rantau.

"Siap!"

"Banyu! Cepat jemput! Segera bawa Sang Guru ke pesawat", perintah Astaman.

"Laksanakan!" Banyu Segara, tubuhnya segera menjadi molekul menuju Sang Guru. Dalam sekejap. Guru telah berada di dalam pesawat. Situasi kembali riuh oleh canda tawa kesatuan, kebersamaan.

***

Markas Detektif Romantika. Pagi.

Setelah menyimak penjelasan Sang Guru, panjang lebar, mengenai dugaan adanya Neo-konspirasi, pihak manusia Kadal, durjana manipulator, terus menerus mencoba merongrong stabilitas negara dengan cara-cara terorisme ekonomi strategis, dalam bentuk apapun. Tak ada kata lain bagi tim, Detektif Romantika, kecuali melakukan penyerbuan besar-besaran ke-sarang lawan.

Dengan kekuatan pasukan lengkap, tim, Detektif Romantika, segera menuju wilayah laut, mendarat para pasukan serbu sergap, untuk segera membentuk pertahanan, sekaligus gerakan kilat, taktis, singkat, dengan kalkulasi akurasi prima-serbu sergap, untuk membrangus pihak manusia Kadal.

Pertempuran seru! Pecah tak terelakkan. Sarang manusia Kadal hancur lebur. Namun biang kerok dari pencipta manusia Kadal, masih belum ditemukan. Kesulitan utama, karena tampang para, Kadal, sama persis antara mereka, DNA, mereka pun sama persis.

"Mereka, makhluk hasil klon manusia Kadal, mereka memiliki pusat kendali juga kekuatan rahasia. Persoalannya, siapa pencipta manusia Kadal itu. Lagi-lagi kita dihadapkan pada situasi tanda tanya. Makhluk biadab! Licin sekali mereka." Suara Sang Guru, dalam kesimpulan lirih. Prihatin.

Keempat murid menyimak dengan seksama. Memutar otak mereka dalam satu kata tanda tanya.

"Siapa mereka. Durjana pencipta manusia Kadal, serta para Mastodon, biang kerok di balik sistem regulasi manipulator itu?"

“Glar!” Kembali terdengar ledakan dahsyat, seperti dekat di gendang telinga mereka.

Jakarta, Indonesia, November 11, 2019.

Artikel Asli