Cerpen | Menikmati "Gronjalan" Hidup

Kompasiana Dipublikasikan 01.51, 23/05 • Imanuel Tri
dok. Pribadi
dok. Pribadi

Setiap kali pergi ke kota, aku harus melewati Griyatop - sebuah perumahan elite - penghubung tempat tinggalku dengan jalan raya. Sekalipun perumahan elite, di sana ada sepotong jalan yang rusak. Aspalnya pada mengelupas, tanahnya menganga berlobangjugang, masih ditambah  berpolisitidur, dan berpostur menanjak.

Ah, tapi bukan itu yang ingin ku grenengkan!

Setiap kali bersepeda motor melewai jalan itu, Pailul, teman harianku justru memacu motornya lebih cepat dari yang semestinya terbayang di benakku. 

Benar-benar beda denganku! Kalau aku, begitu melewati jalan berlobang yang mengakibatkan motor bergoyang pemicu hati bimbang itu, motor kupelankan nyaris tak berlari. Sedikit mendayu menyesuaikan lekuktekuk tanjakan jalanan. He..he..he kalau sampeyan-ampeyan bagaimana, hayo?

Demi menghiasi senja yang menabur warna jingga, kemarin, aku pun melemparkan pertanyaan kepadanya. Ya, kepada Pailul, teman harianku itu!

Mengapa saat melewati jalanan rusak tanah melesak justru motor dipacu semakin kuat? Sudah barang tentu, aku tahu ukuran kecepatan bagiku dan bagi Pailul, teman harianku itu berbeda dengan pemator kebanykan sekarang. 

"O, alaaa gitu saja ya ingin tahu ta Kang, sampeyan?" tanya Pailul sajak sesuatu banget.

Dalam hati aku merasa dilecehkan! 

Namun hanya sejenak. Aku segera insaf. Bukankah puasa kemarin aku sudah lulus tentang ketulusan menerima siapa saja apa adanya, he..he..he..he! Tentu kelulusan itu ingin kupertahankan tetap hidup dan bahkan kutumbuhkembangkan jadi gaya budaya keseharianku! Karakter? Ah, kedhuwuren -- dikira tiru-tiru Bapak Menteri! Hust!

"Begini, lo Kang!" si tubuh kerempeng, pipi methul, yakni Pilul, teman harianku memulai memberikan penjelasan.

"Gaya berjalan di perjalanan itu pilihan, Kang!"

"Maksudmu?" tanyaku berlagak peduli.

"Saat jalanan rusak dan tidak enak dilalui, kita boleh berusaha sekuat tenaga untuk segera melewatinya. Tentu saja dengan perhitungan sempurna menurut ukuran keterampilan kita. Dengan pilihan begitu, kita bisa merasakan geronjalan jalan segera berlalu dari deret perjalanan kita.

Artinya Kang, dalam perjalanan di dunia ini jika ada permasalahan hidup ya dijalani saja. Sampeyan boleh memilih menjalaninya dengan perlahan sambil menikmati penderitan bin siksaan! Boleh juga sampeyan memilih seperti saya, menghadapi masalah geronjalan hidup dengan semakin tegar sehingga segera bisa meninggalkannya di belakang! Keputusan terserah sampeyan. Itu pilihan!"

Jleb, kelenger aku. Teh di hadapanku tak lagi kusruput sebab kurasa kusudah semaput!

Penulis: Imanuel Tri

Artikel Asli