Cerpen: Kasmaran

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 15/11/2019 • Aditia Yudis
Foto: Willi O via Unsplash

Bu, anak gadismu ini sedang kasmaran. Tiap pagi berseri-seri. Setiap hari jadi lebih wangi. Tidak jarang ketahuan senyum-senyum sendiri.

Jarang-jarang aku jatuh hati, Bu. Terlebih kalau perasaan itu mencantol kepada seseorang yang sering hilir mudik di sekitar. Biasanya ada-ada saja dramanya, dari yang jauh entah di mana, yang sudah dicap milik orang lain, sampai figur yang cuma bisa nyala dan nyata dalam angan-angan. Yang kali ini, bisa kutengok sosoknya hampir setiap hari. Dia ke sana kemari, kadang-kadang sambil bernyanyi atau bercanda asik sekali. Sampai-sampai aku hafal caranya tertawa, lenggang jalannya, juga decit sendal jepitnya. Tentu saja itu bikin aku senang. Sayangnya, itu juga jadi masalah, Bu, karena dia ada di dekat aku, sering sejangkauan tangan aku, sering lutut-lutut kami ketemu, atau sekadar jari-jemari saling sentuh sesaat, akibatnya perasaan ini jadi berat, bikin penat.

Rindu memang menyiksa. Menginginkan orang di depan mata, tapi tak mampu diri ini menggapainya, seolah berdiri di tepi tebing paling tinggi, Bu. Rasa-rasanya bisalah aku terhempas lebih dalam daripada cara Ueli Steck yang mati jatuh delapan ratus meter ketika mendaki Everest.

Aku tidak pernah kenal Ueli Steck ketika beliau hidup, Bu. Tidak juga pemuda yang urat-urat tangannya liat itu yang beritahu aku mengenai pendaki tersohor tersebut. Akan tetapi, dia yang bukakan jalan ke sana, sampai aku terdampar membaca eulogi tentang orang-orang yang mati di gunung tertinggi di dunia. Dia sendiri tidak pernah mimpi ke sana, Bu.

“Ke mana lagi setelah ini? Gunung mana? Tebing yang mana?” tanyaku setelah dia menunjukkan potretnya di Indrapura. Dalam rekam gambar digital itu, dia duduk memandang entah pada apa, melampaui kawah Kerinci yang menganga, lebih jauh dari Danau Gunung Tujuh yang kelam gemerlapan. Langit di atas rambutnya yang berantakan biru jernih diaraki awan-awan putih, di kakinya ada tanah-tanah berbatu yang coklat abu-abu.

“Saya hanya mau ke Semeru. Cuma itu yang saya pengin. Yang belum.”

Habis itu dia diam, Bu. Aku juga ikut-ikutan membisu. Kami duduk bersebelahan di ruang yang terlalu lengang diisi berdua saja. Waktu itu hanya deru pendingin ruangan yang menyela rapatnya bibir kami.

Aku ingin mengajukan mengapa, tapi pada akhirnya hanya bisa mereka-reka di dalam kepala. Diamnya itu terasa magis, momentum yang hadir bukan untuk diusik. Semeru memang yang tertinggi di Pulau Jawa, gunungnya para dewa, tapi masih ada banyak pojok di dunia ini yang belum dia pijaki, mengapa berhenti? Atau, mungkin memang benar ya, Bu, sejauh-jauhnya seseorang mengelana, dia butuh tempat pulang. Setelah hidup dipenuhi petualangan, dia butuh persinggahan. Mungkinkah itu yang dia cari? Aku masih tak kuasa bertanya. Cuma bisa amati matanya yang gelap berkemilau, yang juga tak mau bilang apa pun kepadaku.

Sebagai pembaca buku kawakan, aku merasa gagal. Kali ini aku tak bisa menebak isi dari sampul saja. Dia adalah seseorang yang tak bisa kubaca, Bu.

Hanya pada saat-saat tertentu dia membuka lembar-lembar dirinya. Tanah, air, udara. Matanya berkilap-kilap saat bertutur. Gunung, sungai, laut. Wajahnya bersemi saat berbagi. Tebing, padang, pantai. Kusimak dengan tekun dan cermat semua itu, Bu. Pelan-pelan jatuh kagum. Dunianya adalah yang selama ini ingin kumasuki, yang hanya bisa kuamati diam-diam.

Saat itu, aku yakini dia bukan buku yang habis dibaca sekali duduk. Dia adalah kitab berjilid-jilid. Aku mau membacanya lebih banyak lagi, Bu.

Lantas kuberanikan diri meminta, “Biar aku tuliskan untukmu. Biar tidak hilang. Biar kenangan-kenangan itu bisa terus hidup dan kamu banggakan. Biar anak cucumu nanti bisa baca.”

Dia bersedia. Dia mau menyibak lebih jauh halaman demi halaman hidupnya. Jatuh cintanya. Patah hatinya. Kehilangannya. Sesekali kucuri pandang pada parasnya, ujung hidungnya, dagu lancipnya, kumis tipisnya. Aku melihat, mengingat, mencatat. Kesempatan yang gunakan dengan seteguh hati, sepenuh nyali. Lain kali, kuamati jari-jarinya yang panjang dan lentur, lengannya yang tegap, punggung pinggangnya yang ramping kukuh–semua yang terbentuk setelah bertahun-tahun dia mencumbui batu, ceruk, cadas.

Sampai hari ini, dia belum selesai bercerita, dia belum selesai kubaca, Bu.

“Yang terakhir,” dia setengah bergumam. Pandangannya melampaui jendela besar berjajar tiga yang ada di depan kami. “Yang Semeru mau dimasukin juga, kan?”

“Iya dong.”

Dia tersenyum. Aku membalas.

Aku tidak ingin cerita-ceritanya selesai, Bu. Aku ingin jadi bagian dari kisahnya. Aku tatap matanya yang jernih itu, mungkin begitulah cantiknya Segara Anak yang pernah dia ceritakan. Akan tetapi sorot matanya terlalu anteng tak berayun-ayun seperti rumput ilalang di savana Sembalun, dan lagi-lagi tak bisa kutemukan jawaban apa-apa.

Andai saja dia tahu. Andai saja dia mengerti.

Seperti aku mengerti kalau cinta seringkali tidak bisa memiliki. Jadi, sekarang semua ini hanya bisa kusimpan ini dalam hati. Kusisipkan sedikit demi sedikit dalam tulisan untuknya. Kode dan sandi. Rahasia dan misteri. Semoga dia bisa menangkap itu.

Atau, mungkin saja, nanti suatu hari aku akan bisa berani menghadapinya untuk mengungkapkan segalanya. Mengatakan ini semua di hadapannya. Bantu aku untuk jadi lebih bernyali, Bu. Tepuk punggungku untuk terus maju. Mungkin dia jawaban doa-doa kita. Iya, kan Bu?

Bu, selamat merayakan hari yang disuguhkan untuk mengistimewakanmu. Kau selalu istimewa, yang paling istimewa. Desember, Desember. Selamat ulang tahun kalian berdua. Ibu tahu aku tidak pandai bercerita lewat tatap muka, untukmu juga kutuliskan ini sebagai hadiah. Dan Bu, tolong aku sekali lagi, jika nanti malam, atau besok, atau hari-hari lain Ibu berdoa untukku, titip sebaris untuknya supaya kelak saat dia menginjakkan kaki di Mahameru menghadap Jonggring Saloko dengan sehat dan semringah, dia mengenang aku, dia mengingat ada seseorang yang selalu menunggunya pulang membawa segenap kisah.

Tentang Penulis:

Aditia Yudis sudah menulis lebih dari sembilan novel yang diterbitkan di Gagasmedia, Mediakita, Bukune, Falcon Publishing, dll. Cerita-cerita pendeknya pernah ikut dalam berbagai antologi. Sekarang masih aktif menulis dan tinggal di Lampung. IG/Twitter: @adit_adit