Cerpen: Interlud Gemintang

kumparan Dipublikasikan 23.00, 07/12/2019 • Taufan S. Chandranegara
Cerpen. Foto Dok: Tasch 2019 Kumparan

Pendakian terakhir Mandalawangi, beberapa hari aku cukupkan. Di sini hening. Mengalir esai tentang langit ‘Sunda Buhun’ tertulis di setiap gemintang malam. Syair para pujangga negeri purba leluhurku, tanah Pasundan tempat lahirku, bermukim sejarah para senapati, mengusir para penjajah.

Juwita, hidup ini proses menuju keindahan kematian. Benar, ada, katamu. Satu kesalahan kecil fatal pada sikap, kecepatan pada ketepatan. Ketika situasi rawan seperti peristiwa insiden itu. Tak berguna betul, aku. Geram ini, tidak mengobati luka-luka akibat kebodohanku.

Suara malam tetap hening di antara teriakan menggema ke perbukitan hingga ke lembah-lembah. Maafkan aku Marduski. Seharusnya aku melindungimu. Tugas berat itu terlalu cepat untukmu. Sistem. Kenapa harus ada sistem.

Uji coba ketahanan dalam ketepatan tempur singkat. Tak seharusnya untuk Marduski. Gila! Dia terlalu muda untuk tewas. Hah! Aku kalah.

Pada detik rawan itu, tak seharusnya aku menembak, tepat, di kepala si Teror, betul dia harus mati di titik sasaran ketepatan tembak. Di tengah bom asap, aku, bergerak terlalu cepat. Dor! Dor! Peluru dalam peredam menembus si Teror.

Kenapa Juwita muncul tepat di belakang si Teror itu, tak terlihat dalam bola asap tebal. Juwita gugur seketika terkena rentetan puluru menembus kepala Si Teror, salah satu peluru lepas dari garis bidik, menghujam leher Juwita.

Senjata dengan peluru tercanggih berukuran milimeter khusus itu, mampu menembus lapisan baja sampai dengan ketebalan milimeter tertentu.

Lantas, pada hitungan detik presisi persis. Senjata di genggaman Juwita, saat itu, dalam detik bersamaan, di refleknya menyalak, peluru menembus dada Marduski, ketika berlari cepat lompatan salto, akan menyelamatkan Juwita, dari arah tembakku.

***

Haah! Lelaki itu menggeram. Berteriak kuat di hatinya. Tuhan ampuni aku…

Meski palu pengadilan militer menyatakan dia tidak bersalah dalam insiden itu. Dia tetap dicutikan sementara dari ketegangan mental, tidak dilibatkan dalam perburuan si Teror berikutnya.

Kutu jelek! Si Teror itu ternyata belum mati. Si tertembak terduga si Teror, ternyata anak kandungnya, andalan si Teror, menurut forensik.

Saat penyergapan itu aku yakin, tak ada telaah salah atau meleset dalam teropong bidik-intai sasaran sergap.

***

Sudah waktunya aku memburu si Teror.

Lelaki perwira muda itu bergerak cepat meninggalkan lembah Mandalawangi. Mengejar tujuannya. Kembali ke rantai komando, dengan ijin khusus, setelah dinyatakan sehat iman - jasmani rohani, siap tempur.

***

“Ting! Tong!” Bel rumah berbunyi.

Rumah instansi itu besar berhalaman cukup, model kolonial, berkoridor di halaman belakang menuju ruang-ruang, dapur, kamar mandi, kamar asisten rumah tangga, kamar-kamar tetamu, ada teras kecil menghadap halaman belakang tempat keluarga minum teh sore.

Nona, terus menyulam. Monko, asisten rumah tangga merangkap asisten menata kebun, mendekati.

“Ibu Nona, di depan ada tamu dua perwira muda.”

Perempuan, delapan puluh empat tahun itu, Nona, panggilan kecilnya, mengangguk. Nama asli Nona, Fatma Mawarni, peranakan Belanda-Tionghoa. Nenek Juwita berkebangsaan Belanda, Kakek Juwita, Tionghoa, keturunan.

Monko segera menuju ruang tamu membuka pintu, kembali menghampiri Nona.

“Ibu Nona, mereka menunggu di depan pintu.”

Perempuan itu mengangguk, Monko kembali menuju tugasnya. Segera menyiapkan air panas untuk wedang suguhan dua tetamu perwira muda.

Nona, menghela nafas pendek, sejenak, berdiri pelahan di usianya. Dia paham betul, ini kejadian biasa baginya. Akan sama persis dengan peristiwa-peristiwa lampau.

Nona, menyusuri koridor belakang rumah menuju ruang tamu. Dua perwira muda berdiri tegap. Masih di depan pintu. Melihat Nona mendekat, mereka memberi hormat militer.

Nona, mengenali dua perwira itu, sahabat Juwita di kemiliteran, satu Corps Komando Spesifik Taktis Buru Sergap alias Pasukan Sunyi - tidak seperti pada umumnya, tidak ada liputan pers, umum, dalam bentuk apapun, pada tugas-tugas rahasia pasukan khusus itu.

Perwira sebelah kiri menyerahkan berkas-berkas kepada Nona, tetap dalam sikap hormat militer. Perwira sebelah kanan, bergetar dadanya, tetap fokus, menahan gejolak perasaannya. Memberi hormat, menyerahkan dokumen tertutup berikut kotak warna hitam polos, mungkin berisi emblem-emblem kepangkatan terakhir almarhumah Juwita.

Nona, menerima dokumen tertutup, dengan amat tenang, satu persatu. Hanya mengangguk. Dua perwira memberi hormat, segera membalikan badan, berjalan tegap menuju mobil dinas militer formal.

***

Tembakan salvo mengiringi pemakaman dua jenazah dalam upacara militer lengkap, dengan undangan khusus, terbatas, di Taman Makam Pahlawan, militer, khusus.

Dua orang Ibu, menerima Bendera Kebangsaan, serta Bendera Corps Komando, Ibu dari Marduski dan Juwita. Keduanya janda dari Kusuma Bangsa, suami mereka.

Jakarta, Indonesia, October 16, 2019.

Artikel Asli