Cerpen Anak: Tiga Kebohongan

Bobo.id Dipublikasikan 23.00, 12/10/2019 • Sarah Nafisah
Cerpen Anak: Tiga Kebohongan

Bobo.id - Duo Bengis adalah julukan buat dua penjahat bengis. Bertahun-tahun mereka diburu. Banyak orang yang membicarakan mereka. 

Namun, kini nama mereka mulai dilupakan. Ada seorang pemuda yang lebih terkenal. Enzo! Mereka menjadi iri.
Diam-diam, mereka menyelidiki Enzo. Ternyata, Enzo hanyalah pemuda sederhana yang hidup di gubuk tua.

Duo Bengis menjadi penasaran, mengapa Enzo bisa terkenal. Mereka memutuskan bertanya kepada warga desa.

Pagi-pagi, mereka menyamar memasuki desa. Penjahat satu berkata pada seorang petani, “Tahukah Bapak, mengapa Enzo terkenal?”

“Oh, ia rajin membantu penduduk tanpa mengharapkan imbalan," jawab Pak Tani.

Kedua penjahat berpandan-pandangan. Kalau bisa merampok, mengapa harus kerja keras! pikir mereka dalam hati.
Penjahat dua lalu bertanya pada seorang ibu di jalan, “Maaf, apakah Ibu mengenal Enzo?”

“Tentu,” sahut ibu itu. “Saat panen sawahku gagal, Enzo membagi hasil panennya yang sedikit.”
Duo Bengis menggeleng. Harta mereka didapat dengan taruhan nyawa. Tak mungkin mereka membaginya.
Berikutnya, mereka bertemu seorang gadis yang sedang mencari air. Penjahat satu bertanya, “Tahukah kau siapa Enzo?”
“Pemuda yang sangat jujur. Ia tak pernah berbohong,” jawab gadis itu.

Duo Bengis kembali menggelengkan. Kalau mereka berkata jujur, polisi bisa menangkap mereka.

Duo Bengis mencari akal untuk mengalahkan Enzo. Akhirnya, mereka mendapat ide.
Ketika malam tiba, kedua penjahat mendobrak pintu gubuk Enzo. Dengan pedang dan golok terhunus, mereka mengancam Enzo.

“Dulu nama kami sangat terkenal. Gara-gara namamu muncul, kami tidak terkenal lagi. Agar namamu menjadi cela, kamu mesti berbuat culas,” kata penjahat satu.
Mata Enzo membelalak.
Penjahat dua berkata licik, “Kami mengajakmu bertaruh. Buatlah tiga kebohongan. Bila kau berhasil, kami akan pergi dan tak menganggu desa ini lagi. Bila kau gagal, kaulah yang harus pergi sehingga nama kami saja yang diingat di desa ini.”
Enzo terpaksa setuju.

Keesokan harinya, kedua penjahat mengirim Enzo ke ladang. Petani menyambut, “Selamat pagi, Enzo. Siapa kedua orang yang menemanimu?”

“Mereka ini pemalas! Hanya meminta-minta saja!” kata Enzo.
“Tidak benar!” teriak Duo Bengis.
“Buktikan omongan kalian!” petani menyeret kedua penjahat ke tengah ladang. Sampai siang, mereka terpaksa menyiangi ladang. Pakaian mereka jadi kotor.

Kemudian, mereka bertemu dengan ibu yang pernah mereka temui. Ibu itu menyapa, “Enzo, siapakah teman-temanmu ini?”
“Mereka orang-orang yang miskin yang dikutuk karena kikir,” jawab Enzo sembari menunjukan pakaian Duo Bengis yang kotor.
“Bohong!” teriak penjahat Dua. “Kami memiliki harta melimpah di rumah. Kami rajin berderma.”
“Buktikan ucapan kalian!” kata Ibu itu.

Dengan berat hati, para penjahat mengajak ibu itu ke rumah mereka di atas bukit. Orang-orang desa pun mengikuti.

Sesampai di rumah itu, Duo Bengis membagi-bagikan harta mereka. Duo Bengis menatap Enzo dengan marah.
“Tinggal satu kebohongan lagi!” kata Penjahat kedua.

Di tepi sungai, mereka bertemu gadis yang mencari air.
“Enzo!” panggil gadis itu. “Siapa teman-teman barumu itu?”
“Mereka orang-orang baik. Mereka jujur dan selalu siap membantu. Bila kau…”
“Jangan percaya! Hari ini, dia tiga kali berkata bohong!” tukas Penjahat Satu. Ia khawatir si gadis mengharapkan bantuan dari mereka.

Penjahat Dua membuka samarannya, “Kamilah Duo Bengis, penjahat yang paling dicari!”

“Ada perampoook! Tangkaaap!” si gadis berteriak nyaring.

Para pemancing di sekitar sungai, lari mengejar Duo Bengis. Kedua penjahat lari tunggang-langgang.
Sejak itu, Duo Bengis tak berani muncul di desa itu lagi. Enzo serta warga lainnya pun hidup tenang di desa mereka.

Cerita oleh: Lina D. Ilustrasi: Dok. Majalah Bobo

Artikel Asli