Cerpen Anak: Si Pelempar Misterius

Bobo.id Dipublikasikan 23.00, 21/09/2019 • Sarah Nafisah
Cerpen Anak: Si Pelempar Misterius

 

Bobo.id - Hai teman-teman, pasti sudah tidak sabar menunggu cerpen anak hari ini, ya?

Cerpen anak hari ini berjudul Si Pelempar Misterius.

Yuk, langsung saja kita baca cerpen anak hari ini!

--------------------------------------------------------------------

Hari sudah sore ketika Ari keluar dari rumah Iwan, temannya. Bertiga dengan Niko, mereka tadi membuat kliping tentang lingkungan hidup.

Ketika memasuki kompleks tempat tinggalnya, Ari melihat Oma dan Opa Martin sedang jalan-jalan. Oma punya banyak tanaman hias dan tanaman obat du halaman rumahnya. Mereka berdua melambaikan tangan.
Lalu, ada Bu Sarmi yang berjalan sambil menggendong keranjang. Tersembul karton-karton, botol-botol, gelas bekas air mineral, dan ranting melati dengan daunnya. Sebulan sekali, Bu Sarmi datang ke rumah Ari. Mama meberinya koran bekas dan 30 butir obat diabetes karena ia sakit diabetes.

“Hai, Ari dari mana?” tegur Tante Tika, tetangga seberang rumah Ari yang menggemari anggrek. Ia membonceng Tari, putrinya yang baru kelas 2 SD.

“Dari rumah teman, Tante. Ada tugas sekolah membuat kliping!” jawab Ari.
“Oke, Tante duluan, ya! Tari baru selesai les bahasa inggris!” kata Tante Tika.
Setibanya di rumah, Ari melihat Mama di halaman. Mama menggali tanah dengan sekop kecilnya. Di dekatnya, ada pohon pandan lengkap dengan akarnya.

“Pohon pandan dari siapa Ma?” Tanya Ari.
“Ini pohon misterius. Tahu-tahu tergeletak di halaman. Dua minggu lalu, ada pohon suji lengkap dengan akarnya. Pasti ada yang melempar dari luar! Ya Sudah, Mama tanam saja!” jawab Mama, lalu memasukan akar pandan ke dalam lubang.
Ari bergumam, “Aku penasaran dengan pohon misterius itu!”
“Mama juga penasaran, tetapi tidak bisa menemukan siapa pelemparnya. Kasih hadiah, kok, tidak mau menujukan dirinya!” kata Mama.

Di meja makan, Ari menikmati cincau dan kelapa muda sambil berpikir. Orang yang melempar pohon itu pasti kenal mama, pikir Ari. Kalau mau memberi hadiah pohon memang mesti dilempar? Mau bikin kejutan? Aaah, Ari benar-benar tidak mampu menerka alasan si pelempar misterius!

Mama masuk ke dapur, kemudian duduk di meja makan di seberang Ari.
“Orang yang melempar pohon itu pasti orang yang mengenal Mama!” Ari mulai menganalisa.
“Belum tentu!” tukas Mama. “kadang-kadang, ada orang tak dikenal minta daun handilem untuk mengobati sakit wasir atau minta daun sirih untuk obat.”

Ari mengangguk-angguk. Mama benar juga. Tidak mustahil salah seorang dari mereka melemparkannya.
“Mungkin orang yang suka tanaman. Misalnya, Oma Martin!” lanjut Ari.
“mama sudah cerita. Oma Martin tertawa dan mengatakan tidak baik memberi hadiah dengan cara melempar!” jawab Mama.
“Kalau Tante Tika?” Tanya Ari.
“Tante Tika bahkan tidak tahu seperti apa pohon suji. Dia hanya suka tanaman anggrek,” jelas Mama.

“Jadi, siapa pelempar hadiah misterius itu?” Ari bertanya kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba Ari menepuk dahinya.

“sepertinya aku tahu, Ma! Aku pergi dulu ya!” kata ari dengan semangat. Ia mengeluarkan sepeda mininya.
“Sudahlah, Ari. Sudah sore. Kamu sudah lelah dan harus mandi!”
Akan tetapi, Ari sudah melaju dengan sepedanya. Terbayang olehnya keranjang yang berisi karton-karton, gelas bekas air mineral dan ranting melati dengan daunnya. Ia mencari Bu Sarmi di jalan-jalan kompleks, namun tidak menemukannya.

“Mungkin Bu Sarmi sudah pulang. Aku tak mau ke daerah rawan itu!” kat Ari dam hati. “Ah, lagipula, belum tentu Bu Sarmi yang melemparnya!” Akhirnya Ari pulang ke rumah. Usahanya sia-sia.
Mama sedang membuat lubang lagi di tanah dengan sekop kecilnya. Kali ini, Mama mau menanam pohon melati.
“Tadi kamu cari siapa?” Tanya Mama.
“Bu Sarmi. Aku hampir yakin, dialah yang melempar pohon suji dan pandan! Tadi, waktu pulang dari rumah Iwan, aku melihatnya membawa ranting melati dan daunnya!” jawab Ari.

“Benar, kamu pandai. Ini ranting melatinya. Tadi, dia yang melemparkan pohon suji dan pohon pandan. Barusan Bu Sarmi lewat lagi. Katanya, dia piker tadi Mama pergi atau sedang sibuk. Jadi, dia tidak mau menganggu. Dia minta maaf. Pohon-pohon itu dia dapat di tempat sampah, dibuang orang. Kata Bu Sarmi, kalau Mama yan tanam, malah bagus. Orang-orang yang butuh bisa minta sama Mama!” mama menjelaskan.

“Ada-ada saja. Bu Sarmi bikin kita bingung!” kata Ari.

“Maksudnya baik, tetapi caranya kurang baik!” kata Mama. “Kamu bercita-cita jadi detektif?”
Ari menggeleng. “Tidak. Aku mau jadi guru. Mau mengajarkan anak sopan santun. Biar generasi berikutnya tidak seperti Bu Sarmi. Kasih hadiah kok, di lempar!”
Mama tersenyum. “Ya, deh, Pak Guru. Si pelempar misterius sudah kita ketahui. Sekarang, kamu mandi, sudah sore!” kata Mama. Ari mengangguk. Puas rasanya ketika misteri sudah terpecahkan.

Cerita oleh: Widya Suwarna. Ilustrasi: Dok. Majalah Bobo

Artikel Asli