Cerpen Anak: Lili Putih untuk Ibu

Bobo.id Dipublikasikan 23.00, 13/12/2019 • Sarah Nafisah

Bobo.id - Hai teman-teman, pasti sudah tidak sabar menunggu cerpen anak hari ini, ya?

Cerpen anak hari ini berjudul Lili Putih untuk Ibu.

Yuk, langsung saja kita baca cerpen anak hari ini!

--------------------------------------------------------------------

Dari semua bunga yang ada, Ibu sangat menyukai bunga lili putih. Ayah mengatakan bunga lili putih itu merupakan simbol Ibu yang sederhana dan cantik.

Fajar dan Putri pernah menyaksikan wajah Ibu berseri-seri ketika Ayah memberi serumpun lili putih di suatu malam.
"Besok Ibu berulang tahun. Kamu sudah punya hadiah untuk Ibu?" tanya Fajar kepada Putri.

"Aku ingin sekali memberi hadiah Ibu satu vas bunga lili putih," jawab Putri. "Tapi kemarin aku lihat ke toko bunga harganya mahal sekali."

"Masalah kita sama," sahut Fajar bingung.
"Bagaimana kalau kita gabungkan uang tabungan kita?" usul Fajar.
"Kurasa tetap kurang. Uang tabunganku tidak banyak," kata Putri.
Tiba-tiba Putri teringat pada sebuah taman yang ditumbuhi bunga lili putih. "Kak, pernah memperhatikan rumah di depan halte bis tidak?" tanya Putri.

Fajar mengingat sebentar. Setiap berangkat ke sekolah ia memang memperhatikan taman di rumah besar itu.

"Ya, aku ingat. Di sana ada bunga lili putih yang tumbuh di dekat pagar. Hmm, kalau kupetik beberapa tangkai dari luar pagar, pemiliknya pasti tidak marah," kata Fajar.
Putri tersenyum mendukung usul kakaknya.
Pagi harinya mereka berangkat sekolah seperti biasa. Mereka sengaja pura-pura melupakan hari ulang tahun Ibu.

Saat menunggu bis, mata mereka berbinar memperhatikan bunga lili putih di seberang jalan. Begitu pulang sekolah mereka turun dari bis di depan rumah itu.

"Kita langsung menyeberang begitu aku berhasil memetik bunga-bunga itu," bisik Fajar menyusun rencana.

Putri berdiri di sisi trotoar. Sementara Fajar mulai mendekati pagar. Tangannya dengan cepat memetik bunga-bunga itu.
"Heh, Nak! Apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba terdengar suara teriakan dari jendela kamar loteng.

Fajar tekejut. Ia buru-buru menarik tangan adiknya. "Ayo kita menyeberang! Cepat!" seru Fajar sambil tetap memegang erat-erat bunga yang berhasil dipetiknya.
Mereka kini baru sadar bahwa menyeberang jalan raya bukan pada tempatnya ternyata sulit. Kendaraan berlalu lalang dengan cepat.

Ciiittttt! Sebuah sedan hampir menabrak mereka. Sang supir berteriak marah ke arah meraka. Fajar dan Putri pura-pura tidak mendengar. Akhirnya mereka tiba di seberang jalan.

Kemudian mereka terus berjalan dengan cepat sampai di depan rumah. Sesaat sebelum masuk, mereka mengatur nafas lebih dulu agar Ibu tak curiga.

Mereka mengucapkan salam dari luar. Ibu langsung menyambut mereka.
"Selamat ulang tahun!" seru keduanya bersamaan.
"Oh, lili putih! Terima kasih…" Ibu langsung menciumi bunga lili putih yang diberikan Fajar. Kemudian Ibu mengecup kening Fajar dan Putri bergantian.

Hanya selang lima menit kemudian, pintu diketuk dari luar. Ibu kaget ketika melihat Pak Broto berdiri dengan muka gusar.

"Bu Surya, saya baru saja melihat putra-putri Ibu berperilaku sangat nakal," kata Pak Broto. Ia menceritakan apa yang dilihatnya saat mengemudi di jalan tadi. Fajar dan Putri pucat pasi ketakutan.
Ibu mendengar semuanya dengan seksama dan berterima kasih kepada Pak Broto. Setelah Pak Broto pulang,
"Anak-anak Ibu yang pintar, mendekatlah," pinta Ibu kemudian. "Sekarang Ibu tahu bagaimana bunga lili putih ini bisa sampai ke tangan Ibu. Ada pelajaran yang harus kalian ingat hari ini," Ibu memandangi keduanya lekat-lekat.
"Jangan sekali-kali lagi membahayakan nyawa kalian hanya untuk serumpun bunga lili putih," kata Ibu sambil memeluk Fajar dan Putri. "Nyawa kalian lebih berharga daripada bunga lili putih di mana pun."

Ibu lalu menjelaskan juga pentingnya menyeberang lewat zebra cross atau jembatan penyeberangan.
"Dan satu lagi… Memetik bunga milik orang lain adalah suatu kesalahan. Bahkan di taman umum sekalipun. Karena bukan kalian yang menanamnya. Nah, coba bayangkan jika kalian yang menanam bunga itu, menyiramnya, dan merawatnya setiap hari, tapi tiba-tiba dipetik orang lain. Pasti kecewa, bukan?" Fajar dan Putri mengangguk.
"Kami berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi," sahut mereka bersamaan.
"Besok kalian harus meminta maaf kepada pemilik bunga itu. Ibu yakin kalian anak-anak yang berani mengakui kesalahan kepada orang lain."

"Tentu, Bu." Ibu tersenyum senang.
"Sekarang ganti baju kalian. Hari ini Ayah akan pulang cepat dari kantor. Ayah akan mengajak kita semua makan-makan di pantai," ujar Ibu sambil menepuk pundak mereka.
“Tapi Ibu janji ya, jangan bercerita kepada Ayah mengenai masalah kami ini. Kami takut Ayah akan menghukum kami," pinta Putri merayu Ibu.
"Karena hari ini ulang tahun Ibu, tentu Ibu akan memenuhi semua permintaaan kalian."
"Horeeeee! Ibu memang baik deh!!!!" seru Fajar dan Putri girang.
Cerita oleh: Benny Rhamdani. Ilustrasi: Dok. Majalah Bobo

#GridNetworkJuara

Artikel Asli