Cerpen Anak: Lelaki Tua di Gerbang Sekolah

Bobo.id Dipublikasikan 23.00, 20/09/2019 • Sarah Nafisah
Cerpen Anak: Lelaki Tua di Gerbang Sekolah

Bobo.id - Hai teman-teman, pasti sudah tidak sabar menunggu cerpen anak hari ini, ya?

Cerpen anak hari ini berjudul Lelaki Tua di Gerbang Sekolah.

Yuk, langsung saja kita baca cerpen anak hari ini!

--------------------------------------------------------------------

Baca Juga: Cerpen Anak: Gelas Pecah

“Aneh," gumam Ipal. Lagi-lagi ia melihat lelaki tua itu berdiri di gerbang sekolah. Memandangi anak-anak yang bermain di halaman sekolah dengan wajah berseri-seri.

Biasanya lelaki tua itu berdiri di gerbang sekolah sebelum anak-anak masuk kelas. Begitu halaman sekolah sepi tanpa seorang anak pun, lelaki tua itu pergi.

Lalu saat jam istirahat lelaki tua itu kembali berdiri di gerbang sekolah. la memandangi anak-anak yang bermain di halaman sekolah sampai jam pelajaran terakhir usai.

Kemarin, ketika pulang sekolah, Ipal melihat lelaki tua itu berdiri di gerbang sekolah.

la menghampiri seorang anak perempuan yang pulang beramai-ramai dengan teman-temannya.

Lelaki tua itu memberikan sesuatu pada anak perempuan itu dan anak perempuan itu tampak senang, lalu ia melambaikan tangan pada lelaki tua itu.
Ah! Ipal menyesal tidak dapat melihat dengan jelas apa yang diberikan lelaki tua itu.

Ipal lebih menyesal tidak dapat mengenali anak perempuan yang dihampiri lelaki tua itu. Waktu itu ia hanya melihat kejadian itu dari kejauhan.

"Ada apa, Pal?" Ari heran melihat teman sebangkunya itu memandang ke gerbang sekolah terus.
"Kamu lihat lelaki tua di gerbang sekolah itu?" tanya Ipal.
"Ya." Ari mengikuti pandangan Ipal ke gerbang sekolah.
"Aku sering melihatnya di sana akhir-akhir ini."
"Kulihat juga begitu," ujar Ari.
"Aku curiga pada lelaki tua itu," Ipal berterus terang.

"Tapi kita tidak punya alasan untuk mencurigainya," kata Ari. "Lihat saja pakaiannya, bersih dan rapi. Wajahnya pun tak seram."

"Penampilan bisa saja menipu. Tidak sedikit penjahat yang tampangnya kelihatan baik-baik."
"Tapi lelaki tua itu hanya berdiri di gerbang sekolah. Ia tidak membuat keonaran. Lagi pula tidak ada larangan berdiri di sana selama tidak mengganggu," jelas Ari.
Ipal sependapat dengan Ari. Hanya saja ia harus tetap waspada terhadap gerak-gerik lelaki tua itu.

Senin pagi ini Ipal deg-degan. Hari ini ia mendapat tugas menjadi pemimpin upacara menggantikan Simon yang berhalangan masuk sekolah.
"Ipal…." Ibu mengejar Ipal yang sudah sampai halaman rumah. "Topimu tertinggal."
Ipal terburu-buru mengantungi topinya. Bergegas ia menuju halte bus karena ia harus dating lebih awal dari biasanya. Hup! Tiba di halte bus sekolah, Ipal terburu-buru melompat turun dari bus.
Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. "Nak, tunggu…., Nak."

Ipal melihat Lelaki tua yang sering dilihatnya di gerbang sekolah, turun dari bus yang sama. Lelaki tua itu memegang sesuatu di tangannya. Ipal kaget.

Tanpa berpikir lagi ia ambil langkah seribu, berlari menuju sekolahnya. Lelaki tua itu mengikutinya dari belakang dengan berjalan tertatih-tatih. Kelas masih sepi.

Dengan napas terengah-engah, Ipal mengintip lelaki tua itu dari balik jendela kelas.

Ia melihat lelaki tua itu berbicara pada penjaga di gerbang sekolah. Lelaki tua itu menyerahkan sesuatu pada penjaga sekolah lalu pergi.
Ipal baru teringat pada topinya ketika dilihatnya semua murid mengenakan topi dan dasi sekolah.

Ia mencari-cari topinya. Tapi ia tidak menemukan topinya di dalam tas maupun di saku celana seragamnya.

"Gawat!" seru Ipal.
"Ipal, dipanggil Pak Nas." Ari melongokkan kepalanya di pintu kelas.
Ipal menggaruk-garuk kepalanya. Pasti ia kena marah karena topinya hilang sedangkan ia harus bertugas menjadi pemimpin upacara.
Di meja Pak Nas, Ipal melihat sebuah topi. "Kamu kehilangan topi?" tanya Pak Nas.

Ipal menganguk.

"Tadi Pak Soleh mengantarkan topi ini pada penjaga sekolah. Beliau menemukan topi ini di dalam bus. Mungkin ini topimu karena ada tulisan namamu di dalamnya." Ipal tersenyum lega topinya ditemukan.
Tapi…. Topinya ditemukan di dalam bus? Jadi…. Lelaki tua itu mengejarnya untuk mengembalikan topinya?

"Pak Soleh itu kakek dari salah seorang murid di sekolah ini. Beberapa tahun lalu cucunya bersekolah di sini. Pulang pergi sekolah Pak Soleh yang mengantar," cerita Pak Nas.

"Suatu hari, Pak Soleh tak bisa mengantar cucunya karena sakit. Hari itu cucunya pergi sekolah sendiri. Tapi malang, cucunya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia," lanjutnya.

"Sejak itu, Pak Soleh sering terlihat berdiri di gerbang sekolah, melihat anak-anak bersekolah. Beliau teringat cucunya," Pak Nas masih terus bercerita tentang Pak Soleh, lelaki tua di gerbang sekolah.

Ipal jadi merasa bersalah karena telah mencurigai lelaki tua itu.
Cerita oleh: Pupuy Huriah. Ilustrasi: Dok. Majalah Bobo

Artikel Asli