Cerita di Balik Alasan Lulusan Sarjana yang Rela Banting Setir Jadi Tukang Parkir

Boombastis.com Dipublikasikan 04.26, 16/09/2019 • Dany

Titel sebagai seorang sarjana, merupakan impian bagi banyak orang yang belum tentu bisa diraih dengan mudah. Harapannya, tentu mereka yang berhasil menyandang gelar tersebut bisa bekerja di tempat yang mapan dan bergaji besar. Namun, apa yang dilakukan oleh seorang pemuda bernama Agung S ini sungguh di luar dugaan. Sudah enak-enak menjadi pegawai kantoran, dirinya malah banting setir alis beralih profesi sebagai tukang parkir.

Dilansir dari JPNN, tukang parkir di wilayah perempatan Giant Yasmin Bogor itu bahkan mampu meraup penghasilan berkisar seratus sampai dua ratus ribu rupiah, hanya dalam dua jam! Jelas, pendapatan sebesar itu menggiurkan siapa saja. Tak heran jika Agung pun rela melepas pekerjaannya sebagai pegawai kantoran dan memilih untuk menjadi seorang tukang parkir.

Agung yang memilih menjadi seorang tukang parkir [sumber gambar]

Bisa dibilang , sosok Agung terbilang sangat jarang karena memiliki latar belakang sebagai seorang sarjana. Berbeda dengan tukang parkir kebanyakan yang biasanya memiliki pendidikan rendah, atau bahkan tidak pernah bersekolah. Jika dilihat, Agung sebenarnya berasal dari latar belakang keluarga yang mampu dari segi ekonomi. Hal ini dibuktikan dari orang tuanya yang mampu membiayai dirinya sampai tamat kuliah di salah satu kampus negeri di Jakarta.

Pria yang akrab disapa Brewok itu, ternyata memiliki penyebab mengapa dirinya tertarik untuk menekuni profesi sebagai tukang parkir. Sebagai pekerja kantoran, Agung harus menghabiskan jam kerjanya mulai pagi hingga sore. Durasi waktu tersebut, membuat dirinya merasa bosan. Terlebih, nominal gaji yang ia dapat juga tak sebesar saat dirinya menjadi tukang parkir.

Kawasan Yasmin yang dilanda kemacetan [sumber gambar]

Uniknya, profesi barunya itu didapat dengan cara yang tidak sengaja. Berawal dari nongkrong bareng dengan teman-temannya di perempatan Giant Yasmin, Agung mendapatkan uang untuk rokok dengan cara mengatur lalu lintas di daerah tersebut. Lama kelamaan, ia malah tertarik menjadi seorang tukang parkir di wilayah tersebut. Meski demikian Agung bukanlah sosok sembarangan di sana.

Dirinya dihormati lantaran menjadi pelopor awal mulanya pembagian shift parkir di perempatan Giant Yasmin. Menurut dirinya, perlu diadakan jadwal shift agar tukang parkir di wilayah tersebut tidak saling berebut. Terlebih, wilayah tersebut cukup terkenal dengan kemacetannya. Terutama saat akhir pekan tiba karena membludaknya jumlah kendaraan yang lewat.

Ilustasi tukang parkir [sumber gambar]

Meski demikian, kondisi tersebut justru mendatangkan berkah kepada dirinya dan juga rekan-rekan seprofesi. Agung mengaku, ia mendapatkan pemasukan lebih dibandingkan hari-hari biasa. Ya, macet ternyata membuatnya berlimpah rupiah. “Saya kerja dua jam saja. Pendapatannya Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Kalau weekend bisa sampai Rp 400 ribu,” kata Agung yang dikutip dari JPNN.

Bukan masalah sarjana atau tidak, tapi seberapa besar keinginan untuk meraih pendapatan yang besar. Mungkin, hal inilah yang diterapkan oleh Agung di atas. Merasa bosan dengan ritme kerja kantoran, siapa sangka dirinya malah bergelimang rupiah dalam waktu singkat hanya dengan menjadi tukang parkir. Btw, itu artinya dia tiap bulan bisa dapat hingga Rp 6 jutaan hanya dengan bekerja 2 jam per hari. Gokil nih .

Artikel Asli