Cerita Pesugihan Ular Berkepala Mahkota

kumparan Dipublikasikan 11.59, 11/07 • Pesugihan
Ilustrasi masakan jawa. Foto : shutter stock

Memasuki pintu restoran, bau wangi dupa menyeruak menusuk hidung. Seorang perempuan tua berkain kebaya dan bersanggul jawa menyapa, mengulurkan tangan menyambut dengan ramah. Ia mempersilakan masuk tamu-tamu yang datang ke restoran dengan bahasa Jawa halus.

“Monggo …. ,” sapa perempuan itu mempersilakan.

Di dalam restoran hanya lampu remang-remang dan beberapa lilin di sudut ruangan menjadi sumber cahayanya. Kembang setaman di cawan terlihat di banyak sudut. Bangku-bangku dan gazebo serta mebel klasik Jawa disediakan bagi tamu yang menikmati jamuan.

Seorang pelayan segera mendatangi tempat duduk mereka. Ia menyodorkan buku menu dan membawa secarik kertas untuk mencatat makanan apa saja yang ingin dipesan.

“Silakan memilih menu yang kami sediakan. Kami akan menyiapkan dalam waktu maksimal 15 menit,” sapa pelayan yang berseragam kain lurik itu.

Restoran itu menyediakan makanan dan minuman khas tradisional Jawa. Berbagai menu langka yang konon hanya disajikan di lingkungan Keraton tersedia disini.

Mereka berempat memesan wedang bajigur, seekor ingkung ayam kampung beserta beberapa makanan kecil lainnya. Tak berapa lama makanan yang merek pesan datang. Segera merek menyantapnya lahap.

Ilustrasi ular

“Biasa saja tuuh… manis gula merah dan gurih santan. Enak banget,” kata Fifi.

Sementara yang lain mengiyakan saja perkataan Fifi.

Mereka berempat larut dalam suasana gembira. Sore itu usai pulang kerja merayakan kenaikan pangkat Sundari. Ia mendapatkan promosi atas kinerjanya yang selalu melampaui target.

**

Malam harinya Oki gelisah. Ia tak dapat tidur nyenyak. Di mulutnya masih saja terasa masakan ingkung ayam yang aneh. Ia masih saja heran kenapa tidak ada yang merasakan hal yang sama terhadap hidangan itu. Sebagai seorang indigo, Oki sangat sensitif dengan hal-hal yang berbau mistik.

Oki menceritakan kejadian itu kepada Tama suaminya. Tama yang memang mendalami ilmu kejawen mendapati hal yang ganjil dengan kejadian itu. Ia menduga ada sesuatu yang dilakukan oleh pihak pengelola restoran untuk melakukan pesugihan berupa penglaris. Tama pun penasaran dan ingin membuktikan dugaannya.

Keesokan harinya Tama sengaja mendatangi restoran itu. Suasana mistis ditunjukan terang-terangan oleh pihak pengelola. Bahkan suasana mistis ini menjadi daya pikat, bagi pengunjung restoran untuk datang.

Menginjakkan kaki di area parkir ia sudah merasakan sesuatu yang ganjil. Ia mengamati sekeliling. Di samping area parkir restoran itu ia melihat sebuah bangunan kecil yang terkunci rapat. Tama berupaya mendekat untuk melihat lebih dekat. Indera keenam Tama yang sudah terasah mampu melihat dengan jelas seekor ular berkepala mahkota sedang menjulurkan lidahnya. Tama terkejut, ia terkesima melihat sesuatu yang sungguh tidak wajar.

Mendadak punggungnya ditepuk oleh seseorang.

“Jangan mendekat. Lupakan apa yang sudah kamu lihat. Dan jangan macam-macam kalau kamu ingin selamat,” ancam orang itu kepada Tama.

Tama kaget bukan main. Ia melongok pada sosok laki-laki setengah baya bertubuh pendek gempal dan berkepala gundul itu.

**

Sebulan kemudian tersiar berita di surat kabar. Seorang karyawan restoran itu tewas karena gigitan ular berbisa ketika sedang mencuci piring.

Bahkan kejadian tewasnya seseorang akibat gigitan ular sudah terjadi 2 kali dalam setahun terakhir. Sebelumnya seorang pengunjung restoran juga tewas di toilet dengan luka bekas gigitan di lehernya. Mereka menjadi tumbal atas pesugihan yang dilakukan untuk penglaris di restoran itu.

Pada berita di televisi lokal itu Tama melihat laki-laki yang mengancamnya sedang diwawancara wartawan sebagai pemilik restoran.

Tulisan ini merupakan rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.

Artikel Asli