Cerita Pengemudi Ojol, Sekeluarga Jadi Relawan Uji Vaksin Covid-19

Kompas.com Dipublikasikan 05.49, 14/08 • Kontributor Bandung, Dendi Ramdhani
ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA
Sejumlah petugas kesehatan menunggu relawan saat simulasi uji klinis calon vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). Simulasi tersebut dilakukan untuk melihat kesiapan tenaga medis dalam penanganan dan pengujian klinis tahap III calon vaksin Covid-19 produksi Sinovac kepada 1.620 relawan.

BANDUNG, KOMPAS.com - Uji klinis calon vaksin Covid-19 buatan Sinovac telah mulai diuji coba kepada relawan sejak Selasa (11/8/2020).

Fadly (32) yang bekerja sebagai pengemudi ojek online menjadi salah satu relawan yang terlibat.

Tak hanya dirinya, ia bersama enam anggota keluarganya turut serta menjadi relawan.

Fadly bersama tiga anggota keluarganya telah disuntik calon vaksin pada Selasa lalu.

Sementara tiga orang lainnya masih menunggu giliran.

"Istri, kakak, Mama, adik ipar dan dua saudara lainnya ikut jadi relawan," kata Fadly saat dihubungi Kompas.com, Jumat (14/8/2020).

Baca juga: Pengemudi Ojol Cerita soal Efek Setelah Disuntik Vaksin Covid-19

Saat disuntik vaksin pada Selasa lalu, ia datang bersama sekitar 20 orang relawan lainnya.

Sebelumnya, ia telah mempersiapkan diri dan menjalani proses pengecekan kondisi fisik.

 

Alasan di balik keikutsertaan uji klinis

Keselamatan keluarga menjadi alasan utamanya ikut menjadi relawan.

Apalagi, aktivitasnya sebagai ojek online dinilai cukup rentan terpapar virus corona tersebut.

"Alasan paling besar buat saya sama keluarga. Saya kerja driveronline, risiko terpapar lumayan besar. Kalau ada vaksin pasti ikut, karena saya enggak mau bawa virus ke rumah, apalagi ada tiga anak masih kecil-kecil," kata pria yang berdomisili di daerah Kopo, Kabupaten Bandung itu.

Baca juga: Reaksi yang Dialami Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 dan Cara Mengatasinya

Rencananya, ia akan menjalani penyuntikan vaksin kedua pada 24 Agustus 2020 mendatang.

Selama menjadi relawan, kondisinya akan terus dipantau hingga enam bulan setelah penyuntikan.

"Total penyuntikannya ada dua kali. Nanti ada lima tahapan pemantauan, tahapan terakhir pemeriksaan enam bulan mendatang," kata dia.

Pengalaman pertama

Fadly mengaku tidak merasakan efek samping yang terlalu signifikan setelah vaksin disuntikan.

Namun, dia hanya merasakan kantuk berat dan lapar.

"Pas pertama (disuntikan) ngantuk banget, saya kira saya jarang tidur, tapi ngantuknya enggak bisa ditahan. Pas bangun, enak ke badan dan nafsu makan tinggi," ujar Fadly.

Baca juga: 21 Relawan yang Disuntik Vaksin Covid-19 Mengalami Reaksi Ringan

Selain itu, ia juga sempat merasakan suhu badannya naik.

Namun, dia menyadari bahwa kondisinya masih dalam tahap wajar.

"Bukan demam sih, tapi agak panas badan. Tapi wajar, saya juga lihat kartu catatan harian kan ada tingkatannya. Kalau bahaya itu suhu badan di atas 39 derajat," kata dia.

Setelah disuntik, ada beberapa pantangan yang tidak boleh ia lakukan.

Salah satunya mengonsumsi beberapa jenis obat.

"Pantangannya ada, yang saya ingat salah satu jenis obat enggak boleh dimakan, karena bisa menurunkan imun. Tapi aktivitas lain boleh, bahkan setelah divaksin saya ngojeg lagi," kata Fadly.

Penulis: Kontributor Bandung, Dendi RamdhaniEditor: Abba Gabrillin

Artikel Asli