Cerita Pendek: Viral

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 01.59, 09/07 • Umi Kulsum
Foto: AP/Vincent Thian

Gara-gara masker Mbah Ti dan cucunya menjadi viral.

Nana menyibak rambut bonekanya. Disisir pelan-pelan dengan sisir plastik mungil. Di teras rumah Mbah Ti berserakan rupa-rupa mainan anak-anak.

Nana menunggu Rini, sepupu yang tinggal di sebelah rumah Mbah Ti. Ia berjanji bermain bersama pagi ini. Sekarang pukul tujuh, Rini belum muncul juga.

Mbah Ti duduk di ruang tamu bersama Dewi.

“Beli ayam, Nana suka sayap. Sayur asem, tewel buat lodeh, daging. Oh, jangan dagingnya, tetelan saja. Kita buat kaldu kacang hijau. Beli sawi, cabe hijau, cabe merah, buat oseng-oseng. Apa lagi? Sop-sopan, tambahi iga sapi,” Mbah Ti mendiktekan, Dewi menuliskan di selembar kertas bekas bungkus obat nyamuk.

“Cumi-cumi, Bu?” Itu suara Dewi.

“Mahal,” kata Mbah Ti.

Dewi adik bungsu Bapak, masih sekolah SMK. Nana menanggilnya Tante Dewi. Di rumah ini hanya berdua Mbah Ti dan Dewi. Nana sudah menginap di sini selama dua hari. Bapak sibuk di rumah sakit, Ibu repot di Puskesmas. Nana diungsikan sementara waktu.

“Paling lama seminggu,” kata Ibu saat mengantar Nana ke rumah Mbah Ti. Ya, ya, dua minggu pun tak apa. Nana suka di rumah Mbah Ti. Dia bisa minta apa saja, tidak ada larangan ketat seperti Bapak dan Ibu.

“Jangan beli minuman sachet.” Larangan pertama Bapak. Ini mudah.

“Tidur pukul sembilan malam.” Kedua, ini tak apa. Di rumah Mbah Ti, jam delapan malam biasanya Nana sudah mengantuk. Sebab seharian bermain terus tanpa tidur siang.

“Main hape hanya satu jam sehari.” Ketiga, sungguh berat.

“Jangan lupa tidur siang.” Ini Ibu yang bicara, dan Nana yakin tidak akan bisa melaksanakan. Jadi bagian ini, Nana tidak mengiyakan.

Setiap pagi, sore dan malam, Ibu dan Ayah bergantian melakukan panggilan video. Nana punya kesempatan bercerita panjang lebar: apa saja yang dilakukan, dengan siapa, makan dengan lauk dan sayur apa.

Nana bercerita, Ayah dan Ibu menyimak. Sesekali Ayah sambil tiduran, Ibu mondar-mandir ke sana ke mari. Nana juga demikian; bercerita sambil tengkurap, terlentang, bersimpuh di lantai. Suka-duka dia saja. Nana tidak menuntut ditengok Ayah dan Ibu. Ia sudah cukup paham keadaan sulit yang ada. Mbah Ti keluar ke teras dan mengambil sandal di rak dekat pintu.

“Wii, ambilkan keranjang,” Mbah Ti berteriak ke dalam. Dewi keluar dengan keranjang anyaman bambu di tangannya.

“Jangan lupa cumi-cumi,” kata Dewi sambil menyerahkan keranjang, sambil mengedipkan mata.

“Mahal!” Mbah Ti melengos.

“Nana juga mau cumi-cumi,” Nana memandang Mbah Ti takut-takut. Dewi diam-diam mengacungkan jempol, lalu cepat-cepat menurunkan sebelum Mbah Ti melihat. Mbah Ti diam menatap Nana, antara jengkel dan ingin tertawa. Mulutnya terkatup rapat, namun ada tarikan senyum samar yang nampak.

“Ambil wadah, Wi. Bekas tahu susu itu,” kata Mbah Ti.

“Buat apa?” Dewi heran.

“Buat wadah cumi-cumi! Eh, pakai yang tutupnya rapat saja. Kalau sampai tintanya tumpah, amisnya ke mana-mana,” Mbah Ti merepet. Dewi melesat dan kembali dengan wadah berwarna oranye.

Nana menoleh ke rumah Rini. Sepi, pintunya terbuka tapi tak ada siapa pun yang tampak. Kalau Mbah Ti ke pasar, sementara Rini belum datang, Nana akan sendirian di teras.

Dewi sibuk dengan tugas sekolah di ruang tengah. Nana tidak berani bermain dekat-dekat Dewi. Ribut sedikit, Dewi akan men-ssst tanpa ampun. Galak.

“Mbah, Nana ikut!” Nana berdiri. Melihat respon Mbah Ti, yang terkejut dan memandang Nana tak percaya, Nana menyesal keceplosan begitu. Tapi sudah terlanjur. Nana ingin ikut karena takut sendirian. Nana juga ingin tahu pasar. Selain itu, seingat Nana tak ada larangan tentang ikut Mbah Ti ke pasar.

“Di rumah saja dengan Dewi,” Mbah Ti mengibaskan tangannya.

“Aku mau kerjakan tugas di kamar,” Dewi bersuara. Mbah Ti memandang Nana dan Dewi bergantian. Raut jengkel mulai muncul lagi. Sepertinya wajah Mbah Ti sering disetel jengkel. Gurat-guratnya tercetak di dekat bibir dan dahi.

“Cepat, pakai jilbab,” Mbah Ti balik kanan. Dewi lagi-lagi mengacungkan jempolnya sambil tertawa kecil. Mbah Ti balik kanan lagi, dan terkejut mendapati Nana masih berdiri sambil senyum-senyum.

“Lee, cepetan! Keburu kehabisan cumi-cumi!” Mbah Ti hampir berteriak. Nana berlari gugup menuju kamar, menarik jilbab yang disampirkan di kursi dekat pintu. Dewi membetulkan letak jilbabnya yang miring.

“Minta kue jongkong dan mendut,” Dewi berbisik. Nana mengangguk.

“Roti kukus juga,” Dewi menambahi. Nana mengangguk lagi. Mereka berdua berjalan ke ujung gang. Ada beberapa becak parkir di sana.

“Pasar!” kata Mbah Ti. Salah satu mendorong becaknya maju mendekat. Nana naik lebih dahulu. Mbah Ti menyodorkan keranjang pada Nana lalu naik. Keranjang di pangkuan Nana menutupi sebagian wajahnya. Becak melaju semakin dekat pasar.

 

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Angin Berkabar Hujan

Cerita Pendek: Senyummu Seperti Sebongkah Gula Batu

Cerita Pendek: Setelah Dibawa ke Ruangan Besar

Cerita Pendek: Tentang Amira

 

Masker

Beberapa laki-laki berseragam berdiri di sekitar gerbang. Seorang di antaranya memegang TOA. Ada dua orang yang seragamnya berbeda. Mereka memegang kamera, seperti hendak mensyuting. Mbah Ti menarik tangan Nana mendekati gerbang.

“Maaf Mbah, masuk pasar wajib pakai masker,” seseorang mencegat Mbah Ti dan Nana. Nana membaca nama yang tersemat di dadanya: Suwarto. Tukang syuting mendekati Nana dan Mbah Ti. Ada orang lain lagi yang merekam lewat gawainya.

“Sebentar saja,” Mbah Ti nego. Kamera diarahkan ke wajah Mbah Ti. 

“Maaf tidak bisa, semua wajib pakai masker,” Bapak Suwarto menggeleng tegas. Lagaknya seperti jagoan dalam film India.

“Cuma beli cumi-cumi buat cucu saya,” Mbah Ti menunjuk Nana. Yang ditunjuk memandang takut-takut.

Kamera sekarang mengarah ke Nana. Cumi-cumi dan kawan-kawan, Nana membatin. Berkawan dengan daging sapi, cabe, mendut, roti kukus. Apalagi? Nana mengingat-ingat bagian kue pesanan Dewi. Mampet, hafalan Nana tentang nama kue itu amblas.

“Cucunya apalagi, sangat wajib pakai masker. Sampeyan gak kasihan cucu, dibawa ke pasar saat pandemi, tidak pakai masker!” Suwarto menegur Mbah Ti. Suaranya dilantangkan supaya terdengar berwibawa.

“Siapa yang mengajak? Dia minta ikut sendiri!” Mbah Ti tidak terima disalahkan. Suwarto tersenyum sabar. Dia harus tampak sebagai aparat yang mengayomi.

Nego berlanjut. Mbah Ti mengajukan alasan ini dan itu. Petugas Suwarto menjawab begini dan begitu. Nana gelisah, panas menyengat dan sekarang dia merasa haus.

“Harus pakai masker, kalau perlu silakan beli dulu.” Kalimat terakhir itu membuat Mbah Ti melempar handuk: menyerah. Petugas Suwarto tak bisa dibujuk lagi.

Mbah Ti memandang Nana sambil menghela nafas panjang. Gara-gara Nana, Mbah Ti lupa tidak membawa masker. Maskernya diletakkan di atas meja ruang tamu.

“Mbah, pakai ini!” Tiba-tiba Lik Hari muncul dan menyolek Mbah Ti. Ia menyodorkan masker sambil melirik kamera.

“Ini buat adik,” Lik Hari menyerahkan satu masker warna ungu bergambar boneka. Rumah Lik Hari dekat mulut gang. Nana sering melihatnya lewat depan rumah Mbah Ti sambil mendorong gerobaknya.

“Wah, terima kasih, Lik. Pakai, Na,” Mbah Ti memberi instruksi sebelum memasang maskernya sendiri.

“Mari saya bantu,” Suwarto mendekat, dan memasangkan masker pada Nana. Kamera merekam adegan itu. Nana malu karena merasa diintip dari balik lensa. Selesai memasang masker, kamera beralih ke bagian lain.

“Terima kasih, Lik!” Mbah Ti hendak beranjak ke gerbang.

“Dua puluh ribu, Mbah,” Lik Hari menadahkan tangannya. Mbah Ti melotot.

“Lha kok mahal. Biasanya juga lima ribu satu,” omel Mbah Ti sambil menyerahkan selembar uang warna hijau. Lik Hari tak peduli, balik kanan dan kembali ke dagangannya.

“Bapak Ibu, harap patuhi protokol kesehatan. Memakai masker, jaga jarak aman. Segera kembali ke rumah setelah urusan selesai. Tidak perlu mengobrol. Sekali lagi, wajib pakai masker! Yang tidak pakai masker dilarang masuk,” petugas yang memegang TOA berulang-ulang menyampaikan pesannya.

Dagangan Lik Hari laris manis. Dia bak selebritis, dikelilingi ibu-ibu dan gadis yang hendak masuk pasar.

“Masker murah, penyelamat, penyelamat!” Lik Hari mengibaskan masker di tangannya.

“Murah apanya,” kata Mbah Ti jengkel. Mereka berdua melewati gerbang pasar, lalu belok kiri. Ada penjual kecambah, kangkung, dan buah-buahan di sisi kiri. Sebelah kanan, lapak kecil berisi daun pisang, bengkuang, papaya muda, waluh kuning yang terbelah.

Nana terseret-seret mengikuti langkah Mbah Ti. Tangannya erat memegang bagian belakang gamis Mbah Ti, tak hendak dilepasnya. Lorong pasar penuh sesak. Sebagian besar memakai masker tak sempurna: melorot ke dagu. Ada perempuan muda berkeliling dengan aneka masker di tangannya.

“Murah, murah. Sepuluh ribu tiga, hanya sepuluh ribu tiga!!” Suara cemprengnya membahana.

“Lhaaa, tahu gitu tadi Mbah beli di sini!” Mbah Ti mengomel dengan kesal. Ingat dua puluh ribunya yang melayang tadi.

Mbah Ti langsung menuju kios daging. Lalu membei sayur mayur. Nana pegal menunggu Mbah Ti memilih dan menunggu giliran dilayani penjual. Lama sekali.

Di sebelah kiri, Nana melihat lapak penjual kue. Nana memperhatikan jenis kue yang ditata di nampan sambil mengingat lagi pesanan Tante Dewi. Mbah Ti melihat Nana memandangi kue itu.

“Kamu mau?” Nana langsung mengiyakan pertanyaan Mbah Ti.

“Pilih dulu, nanti Mbah bayar,” Mbah Ti kembali sibuk dengan sayur. Nana memberanikan diri menuju lapak kue.

“Ning, cucuku mau pilih dulu. Nanti aku ke situ,” Mbah Ti berteriak ke penjual kue. Yang bernama Ning mengacungkan jempolnya saja.

“Yang mana, Nak?” Ning (apa sebutannya? Tante? Mbah?) bertanya.

“Mendut, roti kukus,” kata Nana. Hanya dua itu yang diingatnya. Berapa jenis yang diminta Tante? Tiga, empat, lima?

“Apa lagi? Ini? Ini? Yang asin ini? Mau yang pakai susu, kue ini? Puding yang ini enak, rasa buah.” Ning menunjuk cepat ke bagian ini dan itu. Nana hanya mengangguk-angguk.

“Berapa biji masing-masing? Tiga?” Nana mengangguk lagi. Ning mewadahi ke dalam kardus lalu menghitung harganya.

“Empat puluh ribu semuanya,” kata Ning pada Mbah Ti. Mbah Ti melongo, lalu memandang Nana.

“Banyak sekali, Na. Kamu makan semua?” Mbah Ti keheranan. Nana jadi merasa bersalah. Tadi dia tidak berani mengatakan apa-apa pada Ning. Mbah Ti mengeluarkan dompetnya.

“Waduh, uangku cuma tiga puluh empat, Ning. Sisanya besok aku bayar,” Mbah Ti menyorongkan uangnya. Dari nada suaranya, Nana tahu Mbah Ti jengkel lagi.

“Ayo pulang, Na. Gara-gara masker, kita tidak bisa membeli cumi-cumi. Kapan-kapan saja masak cumi-cuminya,” omel Mbah Ti. Nana kecewa, harapan bisa makan dengan lauk cumi-cumi menguap.

“Tidak ada sayap ayam, Na. Uangnya sudah habis buat beli kue,” Mbah Ti masih merepet. Nana membisu. Tersaru-saruk mengikuti langkah kaki Mbah Ti yang agak cepat. Di lorong menjelang pintu keluar, mereka harus menepi, masuk ke salah satu kios. Ada sepeda motor dengan keranjang besar di samping kiri kanan yang akan lewat. Tak cukup jalan jika masih ada yang berdiri di pinggir lorong.

“Hei, Mas, maskernya pakai yang betul!” Mbah Ti meneriaki pengendara motor itu.

“Covid, Mbah? Lewaaat!” Pemuda itu berteriak lalu tertawa.

Di atas becak menuju pulang, Mbah Ti mengomel tiada henti. Mulai urusan masker, kue, sayap ayam dan cumi-cumi.

“Wajib pakai masker hanya hari ini saja, Mbah!” kata tukang becak.

“Lha, besok sudah ndak?”

“Mboten. Besok bebas lagi. Anu, pagi ini untuk syuting, masuk tivi,” tukang becak itu tertawa.

Mbah Ti memandang Nana. Tiba-tiba ia ingat sesuatu.

“Na, jangan bilang Ibu kalau kamu ikut Mbah ke pasar ya,” pesan Mbah. Nana mengangguk. Ia terkantuk-kantuk diayun becak yang dikayuh pelan.

Nana melanjutkan tidur di sofa hingga siang. Ia terbangun karena teriakan Dewi.

“Na, Nana. Ini ada kamu. Lihat!” Dewi menyodorkan gawainya. Mbah Ti mendekat dan ikut melihat.

Rekaman kejadian di gerbang pasar tadi rupanya sudah tersebar. Judulnya bombastis: Nenek dan cucu menolak bermasker. Suara Mbah Ti dan petugas Suwarto jelas terdengar. Semua tersaji: Mbah Ti menego, Mbah Ti menyebut cumi-cumi, suara Mbah Ti meninggi, dan Nana yang sembunyi dengan wajah takut-takut. Juga bagian masker Mbah Ti dan Nana yang dipasangkan oleh petugas.

“Wah, hebat, jadi viral!” kata Dewi dengan wajah sumringah. Mbah Ti berdiri mematung. Wajahnya pucat.

***

Artikel Asli