Cerita Pendek: Ulin Part 2

Femina Dipublikasikan 08.41, 14/08/2020 • Anindita Siswanto Thaif

Bagian 2

Kisah sebelumnya:

Sejak kecil Ulin dibesarkan oleh Tambi, neneknya. Tambi, wanita Dayak tua yang memegang teguh adat leluhurnya, mendidik Ulin sarat dengan nilai-nilai menjadi wanita Dayak yang sesungguhnya. 

Setelah Ulin besar dan menikah, betapa kesal hati Tambi ketika Ulin berubah, ingin mencicipi kehidupan modern, dan menganjurkan suaminya meninggalkan ladang untuk bekerja di kamp, perusahaan pengolahan kayu.

Mina 

Sejak pertama melihatnya, aku langsung tertarik. Bocah perempuan itu berbeda dari anak kampung kebanyakan. Meskipun kakinya selalu berselubung debu dan kulitnya agak bersisik, jika kau memperhatikannya lama-lama, maka akan tampaklah keistimewaan itu. 

Matanya. Sepasang yang bak sayap mungil, bening, dan penuh sorot ingin tahu. Kau juga akan menyadari wajah Ulin yang manis dan unik. Wajah berbentuk daun mangkokan dengan secubit hidung dan sekuncup bibir. Tak heran, ia sudah menerima lamaran ketika usianya masih di ambang remaja.

Seekor burung taktahau selalu terbang merendah di setiap penghujung sore. Suaranya yang hampir serupa letusan kantong gula kosong selalu mampu mengejutkan siapa pun yang sempat terlena, termasuk aku.

Ah, iya…. jahitanku. Sudah sampai mana tadi?

Aku sedang menjahit sehelai celana panjang yang akan kupakai menugal1 besok di ladang Tambi. Seperti yang sudah kau tahu, aku dan Tambi memang kurang cocok, tapi hal itu tidak berlaku dalam pekerjaan. 

Maksudku, demikianlah cara hidup di tempat ini. Kami, para peladang, harus saling menolong dan pandai-pandai meredam perasaan jika ingin semuanya berjalan lancar; mulai dari menugal tepat waktu hingga memanen.

Sebenarnya, aku bisa saja menolak repot-repot demi Tambi, tapi hal itu tidak kulakukan karena banyak pertimbangan. Yang pertama, aku dan suamiku tidak sanggup mengerjakan ladang kami yang cukup luas tanpa bantuan. 

Anak perempuanku tidak bisa diharapkan karena tinggal dan bersekolah di kampung. Kedua, ketiga anggota keluarga Tambi sudah turut membantu saat ladangku harus ditanami beberapa hari kemarin. 

Hari itu kebetulan hari baik, menurutku, dan aku tidak ingin menundanya, kecuali padiku akan pecah pada waktu yang salah.

Jadi, anggaplah kedatanganku besok semata untuk membayar utang jasa kepada Tabat, anak lelaki Tambi yang tersisa, dan kedua cucunya, Ulin serta Upi, bukan kepada Tambi. 

Lantas, untuk apa nenek tua lemah itu masih bertahan di pondok, bukannya kembali ke kampung? Untuk apa pula ia lebih memilih dekat dengan ladang yang tidak bisa diolahnya daripada duduk manis sambil menganyam bambu di rumahnya yang hanya dijaga sawang? Mungkin, aku perlu bertanya tentang hal itu kepada ia yang lewat kemudian. Yang mengirim teguran ramah lewat jendela.

“Mina! Sibuk apa?! Aku mau numpang lewat!”

Ulin.

Hari sudah sore benar ketika ia dan anaknya melintas. Jadwal yang tidak biasa, kecuali ia baru saja berkunjung dari pondok Tambi.

“Lewatlah! Aku sedang menjahit,” jawabku sambil berdiri perlahan. Merasakan betisku dijalari semut-semut maya bawah kulit yang marah karena gerakanku telah merusak sarang mereka. Kram! Wajahku meringis.

“Tapi, matahari sudah hampir lewat. Masih terlihat lubangnya kah?”

Dari seberang jendela, Ulin mengulur basa-basinya dengan sopan. Padahal, dari lengannya bergerak-gerak tak sabar, kutahu ia ingin terus melaju.

“Iyuh nah. Mata Mina juga sudah capek. Handak berhenti saja.” Aku mengusap kedua mataku yang tiba-tiba memberat. “Kalau kau dari mana? Ayo, singgah sebentar.”

Lenganku menyauk udara, memberi tanda mengajak. Di saat yang sama, lanjung yang menempel pada punggung Ulin menjerat pandanganku. Keranjang anyaman itu tampak sesak. Mungkin, ia baru pulang dari kebun. Memanen apa saja yang cukup matang dan tidak bisa ditinggalkan lebih lama, kecuali akan dilahap binatang hutan. Serupa diriku, ia pasti akan sangat sibuk besok.

“Bagaimana kalau kau makan malam di sini.” Tersadar betapa lelah ia, aku tergerak memberikan sebuah penawaran. “Temani Mina, Lin. Pulangnya akan kuantar.”

Tapi, ia menolak. Kepalanya menggeleng santun. Dengan nada suara berlumur permintaan maaf, ia berjanji akan singgah di lain waktu. Lalu, pamitlah ia. 

Melanjutkan langkah menuju pondoknya yang masih berjarak dua kebun. Meninggalkanku di belakang bersama dedaun jendela yang siap ditutup dan sang surya yang sedang mencium punuk pohon jambu hingga membuat pipi langit barat merona malu.

Tambi

Hampir tidak ada yang percaya kalau kukatakan hari inilah yang terbaik. Hari di mana ketiga bintang yang berjajar lurus itu tepat berada pada posisi seharusnya di langit timur. Untuk memastikannya tidak sulit. Berdirilah tegak sempurna dengan lengan menunjuk ke arahnya hingga gelang itu meluncur mulus sampai siku. Tadi, gelangku bergerak demikian.

Tidak serupa kemarin, dan kemarinnya lagi, gelang-gelang mereka pasti hanya asal rebah setelah setengah perjalanan. Kalaupun ada yang benar-benar jatuh dengan mulus ketika ia melihat ketiga bintang sejajar pada lima-empat hari lalu, orang itu pasti keliru memilih waktu. Salah seorang yang kudengar paling cepat menugal hanyalah istri Ikoh.

Siapa pun yang mengaku peladang oloh itah pasti tahu apa itu Pertanda. Sayangnya, hanya sedikit yang mengerti bahwa alam tidak akan semudah itu membuka rahasianya. Pertanda memang sudah bisa terlihat pada waktu bulan keleman; terbit setelah lewat pukul satu malam. 

Tapi, nenek moyang telah mengajariku untuk sedikit bersabar serupa menanti durian jatuh. Pertanda tidak akan berguna jika dibaca terlalu cepat atau lambat. Karena itu, berjagalah sepanjang setengah malam terakhir. 

Jangan biarkan kantuk datang menculik sebab waktu yang berharga tersebut akan lebih cepat menguap daripada embun.Tunggulah barang sebentar hingga ia terlihat dalam bentuk seusap gumpalan samar.

Fajar yang lahir paling awal.

Sejak beberapa hari lalu, burung petondo memang sudah ribut ber-kek-kek di pucuk pepohonan dekat pondok. Ulin, yang kebetulan singgah mengantar wadi ikan buatannya, sempat bertanya kapan aku akan menugal.

“Dua hari lagi,” jawabku pasti, lantas dengan nada sambil lalu kubilang alasannya.

Begitulah sekarang caraku mengajari sesuatu yang tidak diketahui Ulin; tidak terkesan menggurui, tidak pula terlalu memandang rendah. Padahal, sebelum usianya menginjak remaja, apalagi setelah menikah, masih kuingat betapa ia sebersemangat baskom yang menerima sebanyak mungkin air pengetahuan yang kutuang ke dalam dirinya. 

Mulai dari cara mengenali suara hewan, menebak nama dedaunan, membuat ramuan obat, menganyam bambu, mengeluarkan bisa, menyambung tulang patah, mengawetkan bermacam bahan makanan, hingga melakukan nyaha2 di ladang baru. 

Dengan begitu, kalaupun ia tiba-tiba mau melepaskan keinginannya untuk pergi ke kota, harapku ia bisa menjadi peladang yang baik. Yang bukan hanya mampu menghasilkan ratusan kaleng beras, tapi juga tidak merusak alam tempat tinggal Jata Yang Maha Kuasa.

Bumi ini.

Pagi sudah berdiri di ambang pintu dapur pondokku yang sempit. Aku sedang memasak sarapan untuk para tetangga yang akan membantu menugal. 

Sepanci penuh bubur beras yang dimasak dengan santan, gula merah, dan madu, juga puluhan potongan kecil luntuh jawau3. Dekat di belakangku, Ulin sedang menyiapkan bahan menu makan siang. Semua itu akan kumasak saat matahari hampir tinggi nanti.

Aku berencana membuat sayur umbut dengan daging bawui4 banyak-banyak kesukaan semua orang, termasuk ia. Iya, benar… itulah kesukaan pemuda itu kalau tidak salah. Andau, suami Ulin. 

Tiba-tiba, hatiku gatal ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang dan mengapa cukup lama ia tidak pulang. Kulirik Ulin yang masih sibuk dengan parang dan pucuk pohon kelapanya sambil berpikir untuk bertanya, tapi…. Tidak, tidak! Rasa takut kehilangan pagi yang akur ini membuatku menggigit bibir. Bungkam. Namun, tanpa kusangka Ulinlah yang justru memulai.

Awalnya, ia mengomentari persediaan bawui yang ternyata tidak cukup melimpah. Katanya, sayurnya akan kurang gurih.

“Pakai ja micin, Mbi,” sarannya tanpa menyadari kalau aku membenci bumbu warung itu. Rasanya begitu palsu dan kuyakin mengandung obat pelemas badan dan pikiran. 

Untungnya, aku masih berpegang pada keinginan menjaga kerukunan kami. Sembari mengatur ketenangan nada suaraku, kutampik sarannya dengan berkata baik-baik bahwa justru lebih enak jika memakai banyak santan, juga lemak bawui sebagai kaldu.

“Iyuh nah. Memang sedap. Andau juga paling suka juhu5 yang dimasak begitu. Banyak santan dan lemak. Huff…. Kira-kira, sekarang ia sedang apa? Kenapa tidak berkabar kapan hendak pulang?”

Jika hanya dapur kosong yang mendengar curahan hati Ulin saat ini, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Tapi, karena akulah yang berada di dekatnya, maka kesempatan tersebut serasa bagai minyak yang melumasi rasa ingin tahuku. Tanpa sempat berpikir panjang, mulutku spontan bertanya.

"Jadi, kau tidak tahu kapan Andau pulang?"

"Apa?” Sedetik, Ulin tampak kaget. “Aku… tidak tahu, Mbi. Yang kuingat, ia hanya bilang setelah kayu yang ditebangnya sudah banyak. Saat itu, uang yang didapatnya juga akan banyak."

"Kalau begitu, setelah pulang membawa banyak uang nanti, apakah berarti ia bisa tinggal lebih lama dengan kita tanpa perlu balik kerja begitu cepat? Maksudku, bantulah Tambi ngemawo6 ladang agar mamakmu bisa turun ke hilir untuk membeli mesin klotok baru."

"Ngemawo? Tidak bisa, Mbi. Sudah pasti tidak. Andau hanya diizinkan pulang sebentar karena tugasnya banyak. Ia masih harus memangkas semak di beberapa tempat biar pepohonnya mudah ditebang."

Mendengar ini, aku merasa ada gong yang berdentang keras dalam dadaku. Wajahku serasa disembur uap panci panas. Mendadak sangat marah. Sang cucu menantu yang tidak pernah punya waktu membantu di ladang, bahkan untuk mandirik7 sebentar, ternyata justru mengabdi kepada pendatang. Dengan semangat memotong pohon-pohon untuk mereka, hanya demi setumpuk uang.

Oh, Ranying Hattala… bagaimana ini? Bagaimana jika pemuda itu ternyata telah menukar kepercayaannya dengan uang yang penuh kekuatan jahat? Bagaimana pula kalau ia termasuk salah satu oloh itah malang yang akan dikorbankan para pendatang demi perusahaan mereka? Adakah setelah Bue dan Atei, Andau akan menyusul?

Saat berkata begini, pikiranku benar-benar sekusut rambut jagung, “Lin, suruhlah Andau keluar dari sana cepat-cepat. Berhenti dari pekerjaan itu! Aku tidak suka!” Dan, ketika canda Tabat dan Upi yang sedang meruncingkan kayu penugal di halaman luar sana sampai ke telingaku, hingga mengendurkan sedikit saraf yang tegang di sana-sini, semuanya sudah terlambat. Tak ada lagi kata-kataku yang bisa ditarik.

Ulin telah berdiri memunggungiku, setelah sebelah tangannya mencampakkan sebatang cabai malang dan ranting berdaunnya ke atas lantai dapur.

Amarah terpendam Ulin telah meremukkan cabai.

***

Mina

Seperti yang kau tahu, dulu aku sering pergi ke kota meski tidak lama. Selain penuh suara dan cahaya, hal lain yang kusuka di sana adalah tempat belanja. Pasar, juga supermaket, begitu kan namanya? Di sini, aku sudah cukup puas jika sempat pergi ke warung. Sejenak merasakan sensasi membeli barang yang bagai makan sambal pencit mangga muda; rasa candu yang menolak kapok.

Kau tidak percaya?

Tanyakan saja kepada Ulin dan perempuan peladang lain yang sering ikut bersamaku. Warung Kamp membuat mereka tahu apa artinya uang, kebanggaan, kebahagiaan. 

Buktinya, mereka selalu mirip calon pengantin yang resah tiap kali musim panen buah dan sayur akan tiba. Yang tidak bisa tidur demi menanti datangnya hari ini.

Hari Belanja.

Kami menamakannya Warung Kamp karena memang milik kamp utama sebuah perusahaan kayu orang kota. Tambi menamai mereka para pendatang. Letaknya jauh dari pondok peladang, tapi itu bukan masalah. 

Jika para lelaki sanggup menaklukkan gunung demi mengejar babi hutan terbesar, kami pun tidak mau kalah. Kami telah melakukan hal serupa selama bertahun-tahun demi merasakan nikmatnya memegang uang dan membelanjakannya. 

Maka, di sinilah kami bergerombol dan berdegung mirip lebah. Sekelompok perempuan yang datang bersama anak dan ber-lanjung-¬lanjung penuh sayur, juga buah, untuk dijual kepada Ibu Dapur.

 Di depan Warung Kamp.

Seperti biasa, aku yang terpilih sebagai ketua kelompok berhasil menawar lebih tinggi untuk harga kelapa dan jagung milikku, begitu pula terung pipit mulus dan waluh gembrot yang dibawa Ulin, serta beberapa buah hasil kebun anggotaku yang lain. 

Sementara mereka yang membawa daun singkong, bayam, dan rebung gagal kuperlebar senyumnya karena Ibu Dapur menolak harga tinggi. Sayuran semacam itu dibelinya murah dengan alasan sudah terlalu banyak. Namun, pada akhirnya, semua orang bergembira karena bisa memegang uang, terutama Ibu Dapur yang juga pemilik Warung Kamp.

Hari ini, Ulin tampak lebih cerah dengan sedikit lipstik warna cermai pada bibirnya dan banyak uang di dalam kantongnya. Aku tahu, ia berdandan habis-habisan sejak langit masih gelap, begitu juga kami semua. 

Hari Belanja adalah hari libur sekaligus bersenang-senang. Hari di mana kau mencuci matamu dengan pemandangan baru: pekerja kamp yang terlihat gagah dalam sekapan seragam dan kenalan sesama peladang yang datang dari pondok sisi hutan lain.

Di sini, kau terbebas pula dari pikiran tentang lumpur ladang, ulat kebun, dan suami yang kaian8. Kau merdeka menjadi dirimu sendiri. Merdeka makan es limun dan permen seperti kanak-kanak, mengendusi aroma bedak wangi “seribu sebungkus kecil” tanpa takut dihardik genit, mengusap pipimu dengan daster model terbaru demi meredam hasrat menambah kredit, atau membeli sesuatu yang kau impikan diam-diam.

Ulin sedang ditarik-tarik oleh pesona krim pemutih dan pakaian dalam berenda ketika kuhampiri. Kedua benda itu dipandanginya bergantian seolah menanti salah satunya bersabda bahwa jika kau membeli satu maka akan mendapat dua barang. 

Sayangnya, hal itu tidak mungkin terjadi di Warung Kamp. Ulin harus memilih satu yang paling diinginkannya dan merelakan yang lain, kecuali ia siap berhenti makan garam, kecap, gula, penyedap, dan mi instan untuk sementara, hal yang mustahil dilakukannya.

“Beli ja krim pemutih,” saranku tiba-tiba tanpa diminta. “Mana peduli Andau pada kulitnya pisang kalau perut sudah sangat lapar. Lagi pula, kalau kau ingin benar pakaian dalam tuh, minta saja ia membelikan. Uangnya pasti sudah sangat banyak jika pulang nanti. Bayang saja… empat bulan lebih.”

Senyum malu-malu Ulin merebak serupa noda pinang begitu mendengar godaanku. Senyum yang kuharap sudi mekar lebih lama jika mengingat betapa kacaunya perempuan muda itu akhir-akhir ini. Andau tak kunjung datang, baik kabar maupun orangnya.

“Jadi, Mina yakin kalau Andau pasti pulang?”

“Pasti ih, Lin. Tentu saja. Kau hanya perlu lebih sabar. Andau pemuda yang baik. Tidak mungkin ia lupa pada perempuan cantik yang menunggu di rumah dan anaknya yang pintar ini,” kurangkul Puti yang sibuk menjilati es limunnya yang kesekian sambil menjangkarkan tatapan sayang pada Ulin. “Biar hatimu tenang, kau anggap saja begini: Andau sedang bekerja mencari uang agar kalian bisa melihat kota. Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?”

 Mungkin, niatku yang tulus ingin menghibur hati Ulin didengar Ranying Hattala Yang Maha Baik. Mendadak, hari ini seolah sengaja diutak-atik agar istimewa untuknya.

Ibu Dapur mau menjual krim pemutih dengan harga lebih terjangkau jika dibeli per colek dan dikemas dalam plastik berklip. Dengan begitu, pakaian dalam berenda pun bisa dibeli Ulin sekaligus. 

Sore harinya, ketika hendak pulang, kelompok kami mendapat tumpangan truk logging yang kosong beban, bukan traktor kura-kura yang seperti biasa. Saat duduk di atas kendaraan raksasa itulah, sambil menikmati guncangannya, Ulin sempat berbisik kepadaku kalau sebenarnya ia lebih senang jika Andau menjadi sopir daripada petugas pembabat hutan.

“Akan kupaksa ia mengantar kita ke pondok sepulang dari kamp di akhir Hari Belanja. Kau mau tahu untuk apa, Mina? Biar Tambi melihat betapa hebatnya suamiku dengan pekerjaannya.”

Ya, Ulin. Lakukan saja. Teruslah bermimpi hingga tingkat paling tinggi. Perlihatkan kepada Tambi betapa hanya kau yang memegang kendali atas jalan hidupmu.

Bukan aku. Bukan pula Tambi.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Return

Cerita Pendek: Rumah Untuk Cinta

Cerita Pendek: Sang Dalang

Artikel Asli