Cerita Pendek: Tenongan Part 1

Femina Dipublikasikan 07.35, 06/08 • Abednego Afriadi

“Tenongan…. tenongaaan….”

Suara penjual makanan itu kami tunggu, seperti dulu, jika pagi mulai beranjak. Ia biasa berjalan kaki mengelilingi kampung sembari menggendong tempat makan dari aluminium berbentuk lingkaran, yang biasa kami sebut tenongan.

Seperti kebanyakan orang seusianya di kampung ini, Ibu tidak terbiasa sarapan nasi atau bubur. Maka ia memilih membeli jajanan pasar yang sudah tertata rapi di dalam tenongan itu. Ada pia-pia, kue kompia, apem, moho, getuk lindri, semar mendem, klepon, serabi, dan makanan khas lainnya.

Biasanya, Ibu memilih pia-pia dan kompia untuk sarapan, karena tidak mengandung santan, dan tidak manis seperti makanan lain. Ia makan dengan meletakkan satu pia-pia di antara kedua kue kompia, kemudian memakannya seperti makan hamburger.

Pia-pia yang menyerupai bakwan itu berbahan dasar gandum beras. Cukup untuk mengganjal perut. Apalagi ditambah dua kue kompia. Tapi, kali ini Ibu bilang ia tidak kuat menggigit kue kompia yang keras dan uletnya bukan main. Ibu hanya makan pia-pianya, tapi enam biji supaya kenyang.

Kami merindukan suasana pagi seperti itu. Bersama-sama berjongkok mengelilingi tenongan yang dibuka itu, seraya memilih makanan yang hendak kami beli. Kami makin merindukannya semenjak Ibu memutuskan untuk pulang ke rumah lama di Solo. Rumah tempat aku menghabiskan masa kecil hingga menikah.

***

Aku ingat betul tentang rumah yang sudah 10 tahun ini kami tinggalkan. Letaknya di perkampungan yang tak ramai. Masih banyak pohon sawo, waru, dan asam merindangi. Masih banyak bunga-bunga segar menghiasi setiap pagarnya.

Di rumah itu kami tinggal bersama Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, dan kedua tanteku. Rumah joglo jenis macan angop yang bertembok warna putih serta ornamen kayu bercat biru seperti warna bangunan Keraton Surakarta. Kakek sangat menyukai warna itu, meskipun bukan keturunan keraton.

Waktu menikah, Ibu dan Bapak tidak lantas membeli rumah sendiri. Kakek yang pensiunan veteran rupanya tak mau ditinggal anak-anaknya. 

Kakek ingin menyaksikan anak-anaknya menikah. Tapi, belum sempat. Kanker paru-paru telanjur mengakhiri hidupnya. Sedangkan Nenek, menyusul kepergiannya setahun kemudian.

Di sepanjang ruangan sebelah kanan rumah, berdempet bangunan dengan dua kamar tanteku. Tapi sayangnya, siapa pun boleh melintas karena pintu di belakangnya langsung menghubungkan jalan besar depan rumah dengan perkampungan di belakang rumah kami. 

Memang, seharusnya tanah itu dihibahkan untuk kampung satu RT, tapi Kakek bersikeras tidak mau, karena wasiat dari almarhum kakek buyutku.

Maka, tak ada kebebasan di rumah kami. Kami harus menjaga cara berpakaian kami, apalagi ketika mandi, dan berganti pakaian. 

Beberapa pasang mata lelaki yang melintas sepertinya membidik kami dengan tajam. Apalagi setiap kali pemuda kampung yang meminta segelas ciu anakan kidang kepada Kakek. 

Beberapa pasang mata merah seperti mencuri-curi pandang sembari menyodorkan gelas kosong, jika kami berkumpul di ruang tengah menonton TV bersama-sama.

Rumah kami baru lengang pukul 12 malam. Seluruh pintu, depan maupun belakang harus ditutup. Tapi, tak jarang, Tante Ratri dan Tante Hana dibuat gusar jika ada warga yang nekat melintas sembari mengetuk pintu. 

Mereka berdua seperti penjaga pintu jika malam hari. Tapi, jika sudah lelah, warga terpaksa harus lewat berputar dan melintasi sebuah pemakaman keramat, yang sering membuat bulu kuduk merinding. 

Terkadang, Tante Hana mengeluarkan si Doly, anjing piaraan kami, tepat di depan pintu.

Tak ada pembagian warisan setelah Kakek dan Nenek meninggal. Ibu dan kedua tanteku juga sepakat tidak menjual rumah yang terlalu kami cintai ini. 

Setelah Tante Ratri dan Tante Hana menikah, tinggal aku, Bapak, dan Ibu yang tinggal di rumah ini. Hingga kami menikah pun, aku dan Mas Leo, suamiku, dipaksa untuk tetap tinggal di rumah itu.

“Kamu kan anak tunggal. Jika kamu pergi bersama suamimu, lalu siapa yang akan menemani kami?” keluh Ibu, sewaktu Mas Leo memohon izin untuk tinggal di rumah kontrakan. “Ibu ingin momong anakmu. Apalagi bapakmu. Apa yang akan dilakukan orang pensiun selain momong cucu? Bapakmu kan pensiunan guru. Kan bisa membantu Nanda belajar ta nduk?”

Kelahiran Nanda, anakku, mewarnai hari-hari pensiun Bapak dan Ibu. Segala pertengkaran kecil antara aku dengan Ibu, Bapak dengan Mas Leo, tak pernah berujung keruh di hati kami masing-masing karena kehadiran Nanda di dunia ini. Hingga, tanpa terasa Nanda sudah beranjak lima tahun dan mulai nakal.

***

Suatu hari, tanpa kami duga Bapak terjatuh usai terbangun dari tidur siangnya. Darah tinggi Bapak kambuh lagi. “Jeng, jika Bapak sembuh, ini berarti mukjizat,” kata Rifai, salah satu dokter yang sempat satu kelas denganku ketika SMA. 

Dia tidak sungkan-sungkan untuk menceritakan hasil pemeriksaan CT scan kepadaku. “Berdoa saja, karena perdarahannya sudah sampai ke otak!” katanya, dengan berbisik, di ruang gawat darurat.

Hanya aku dan Mas Leo yang mengetahui kabar ini. Semua kami simpan rapat-rapat. Ibu masih di rumah menemani Nanda. Kami tak mungkin memberitahukan hasil pemeriksaan ini. 

Begitu pula dengan Tante Ratri dan Tante Hana di Bandung. Aku hanya mengirimkan pesan singkat supaya mereka segera pulang. Tiap kali mereka bertanya, aku mengatakan bahwa Bapak baik-baik saja, meskipun malam itu Bapak sudah dipindahkan ke ruang ICU. 

Aku hanya berharap mereka sampai di kota ini saat Bapak masih bernapas. Tanpa terasa, air mata meleleh hangat di pipiku. Aku memeluk Mas Leo.

Entah. jawaban apa yang akan kuberikan ketika mereka tiba di rumah ini. Entah, apa reaksi Ibu ketika mobil ambulans berhenti tepat di depan gerbang rumah. 

Aku sengaja merahasiakannya. Aku tak ingin tangis menghambat perjalanan mereka. Biar mereka sendiri yang tahu, aku tak tega mengatakan kabar duka itu. 

Meskipun, bagiku itu lebih kejam karena harapan mereka telah pupus dengan kenyataan yang ada. Tak seperti yang aku kabarkan, bahwa Bapak baik-baik saja.

Rasanya seperti baru kemarin aku bersimpuh di pangkuannya ketika sebuah misa memberkati ikatan janjiku untuk hidup bersama Mas Leo. 

Seperti baru kemarin ia tahan berpuasa dua hari demi menunggu kelahiran Nanda yang menguras habis tenagaku. Seperti baru kemarin ia bercanda dengan Nanda, dengan boneka tangan warna merah jambu, warna kesukaan Nanda. 

Seperti baru kemarin ia mengusap-usap rambutku ketika aku menangis karena kalah saat lomba menari antar sekolahan. Seperti baru kemarin ia mengantar dan menjemputku sekolah. Ah, Bapak.

***

Kini uban di rambut Ibu makin hampir merata. Garis-garis keriput di wajahnya kian tegas. Ia mulai malas bersemir dan ingin pulang kembali ke rumah lama, rumah yang menjadi saksi sejarah masa kecilku. 

Jikalau aku bisa mengajak Bapak bercakap-cakap di antara dua dunia, mungkin aku akan bilang pada Bapak untuk meminta Ibu menyemir rambutnya, ditemani Bapak menembang lagu klasik tentang seorang lelaki yang sedang kasmaran. 

Nanda sering bertanya sendiri, di mana Kakung? Lalu ia menjawab sendiri, Kakung di surga. Ah, Bapak. Kami merindukanmu.

“Ibu benar-benar ingin pulang?”

“Ya, aku ingin pulang. Ibu kangen sama Bapak.”

“Baiklah,” jawabku. “Tunggu Lebaran, ya, Bu.”

Ibu menghela napas, kemudian mengangguk tanda setuju. Mas Leo pun setuju mengantarkan Ibu pulang, meski dengan terpaksa karena tidak tega jika Ibu tinggal sendirian. Kami berencana mencarikan seorang pembantu untuk menemani dan merawat Ibu jika sakit.

***

Kami pulang ke Solo. Rumah kami masih seperti yang dulu, tapi tampak singup, kumuh, dan tak terawat. Pepohonan dan bunga-bunga tampak terlalu rimbun dan lembap. 

Pohon-pohon liar pun makin menjalar tinggi di tembok rumah. Seekor ular tampak berkelesotan menghindari kedatangan kami. Sementara, di dalam rumah, tikus-tikus bercericit berlarian.

Rumah-rumah serangga bergelantungan. Beberapa atap rumah malah tampak lapuk. Sebingkai foto Bapak, Ibu dan kami tampak kusam penuh debu. 

Mainan kuda dari kayu, kursi goyang, tongkat Kakek, dan tentu saja secangkir logam makin membangkitkanku pada rangkaian kenangan masa kecil, dan masa lalu ketika tinggal di rumah ini.

Setelah membayar orang untuk membersihkan rumah, kami sempat pula nyekar di pamijen, tempat Kakek, Nenek, dan Bapak dimakamkan. 

Meskipun kami bukan penganut Islam, sudah menjadi tradisi jika setiap Lebaran atau menjelang bulan Ramadan kami nyekar di makam keluarga kami. 

Hari-hari kami lalui di rumah ini. Hingga akhirnya cuti telah habis, kami berkemas untuk meninggalkan Ibu bersama rumah lama ini.

“Ibu yakin akan tinggal?” tanya Mas Leo.

“Yakin, Ibu berani, kok,” jawab Ibu, sedikit ketus.

“Ibu, Wiwin pamit dulu, ya,” kataku, sambil memeluk dan mencium Ibu. Aku rasakan dada Ibu bergerak-gerak. Hangat air matanya aku rasakan ketika pipi kami bersentuhan. Tangis Ibu makin menjadi.

Mendadak ia berubah pikiran. “Ibu ikut kamu saja, Win. Ibu merasa kalau di sini, seolah-olah bapakmu ada di antara kita. Ibu merasa kecewa karena kenyataannya bapakmu telah pergi.”

Aku mengangguk, lalu menoleh pada Mas Leo yang akhirnya menghela napas lega karena sebelumnya selalu dihinggapi rasa khawatir atas keputusan Ibu sebelumnya.

Makin tebal rasa sesalku ketika aku marah dan menuduh Ibu telah membunuh Bapak secara tidak langsung karena terlalu banyak menaburkan garam ke dalam masakannya, dan membiarkan Bapak ngiras di warung sate kambing. Aku pun langsung bersimpuh meminta maaf kepadanya.

Semua memang harus berubah. Seperti saat ini. Ibu berubah pikiran. Dia tidak akan tinggal di rumah ini. Biarlah rumah ini menjadi prasasti sejarah keluarga kami. Tidak akan kami jual. Berapa pun jumlahnya.

 “Tenongan… tenongaaan….” Suara yang kami tunggu-tunggu pun datang. Kami akan jajan sepuas-puasnya sebelum meninggalkan rumah ini.

Catatan:

Macan angop: Rumah Joglo yang digambarkan seperti macan menguap

Ciu anakan kidang: Minuman keras yang berisi anak kijang

Nduk: Nak, untuk anak perempuan

Kakung, mbah kakung: Kakek

Singup: Seram

Pamijen: Makam keluarga

Tenongan: Tempat menjual makanan jajanan pasar khas Solo

Semar mendem: Penganan seperti lemper yang dibungkus telur dadar

Ngiras: Makan di tempat

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Lukisan Daun Merah Saga Part 1

Cerita Pendek: Anthurium Part 1

Cerita Pendek: Sewangi Alamanda Part 1

Artikel Asli