Cerita Pendek: Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen

Femina Dipublikasikan 07.13, 16/07 • Ubaidil Fithri

Kakiku mulai lelah melangkah. Hampir setengah jam aku melalui jalan setapak ini. Namun, sepertinya tujuanku belum segera menemui titik temu. Kampung Cibeber. Di tanah inilah aku dilahirkan. Tiga tahun adalah waktu yang lama bagiku. Setidaknya ceruk kerinduan di hati ini kian terisi penuh, ibarat air di dalam gelas yang terus mengalir. Luber. Meluap ke segala arah. Aku tak mau terus-menerus menyiksa diri.

Seturunnya aku dari kendaraan umum angkutan kota di persimpangan tadi, pemandangan yang disuguhkan masih sama seperti saat aku merelakan diri untuk meninggalkan kampung halaman ini. Aroma asri masih bisa kuhirup hingga ke rongga dada. Bahkan, sengaja aku menolak tawaran tukang ojek di pangkalan depan gapura masuk tadi, hanya untuk menapak tilas kenanganku dengan berjalan kaki. Kampung ini sulit untuk dilupakan.

Sawah-sawah luas terbentang di kanan-kiri bahu jalan. Lenggok padi lincah bergurau dengan angin. Burung-burung fasih bersenandung menyambut wajah penuh keramahan warga kampung. Aliran sungai yang deras membentur bebatuan.

O, janjiku pada Abah sudah terpatri di relung hatiku terdalam. Aku mendeklarasikan bahwa sekalipun aku berangkat ke kota, jiwa, raga, dan pikiranku tetap akan hidup dalam dekapan kampung halaman. Dan sekarang segera akan terbukti. Selama tiga tahun mengais ilmu di perkotaan, rindu itu akan lekas terbayar. Ingin rasanya segera menjabat telapak tangan Abah yang sejuk dari kebiasaannya menjaga wudu. Menyatu dalam tubuh Emak yang hangat penuh kasih sayang.

Sengaja kepulanganku ini tanpa terlebih dahulu kuwartakan kepada orang rumah. Aku ingin memberikan mereka kejutan dengan pakaian kebanggaan yang masih melekat di tubuhku ini. Inilah hasilku selama hidup di kota. Bergumul dengan ilmu pengetahuan yang sekarang hasilnya berada dalam genggamanku berupa secarik kertas. Aku tetap melangkah yakin sambil sesekali menyembulkan senyuman saat orang-orang menyapa penuh ramah. Meski tak sedikit yang menumbukkan pandangan sinisnya ke wajahku. Terserahlah. Inilah aku dan cita-cita masa kecilku yang tercapai.

Mengingat masa kecil, kedua bola mataku kini terhenti pada sebuah pohon kersen --atau yang memiliki nama ilmiah Muntingia calabura L-- yang berada di sekitar lapangan bola. Pohon berusia lebih tua 8 tahun dariku itu seolah menarik benakku pada masa lalu. Masa di mana aku dan Abah menghabiskan waktu seharian di bawah naungannya. Di kampungku zaman dulu, anak-anak seusiaku memanggilnya buah seri. Bila matang, buah kecil ini akan berwarna merah cerah serta memberikan rasa manis yang sulit aku lupakan saat pecah di lidah.

“Abah, aku tak sampai meraihnya,” rengekku saat berusia tujuh tahun. Kaki kecilku melompat-lompat berusaha menggapai tangkai yang tingginya dua kali dari tubuhku.

“Kemari, biar Abah ambilkan, Rahayu.”

“Tidak mau, Abah. Aku mau mengambilnya sendiri.”

Wajah senja Abah selalu tampak teduh menghadapi tingkah anak semata wayangnya ini.

“Kalau begitu sini Abah gendong,” ucap Abah, sambil membungkukkan punggungnya yang padahal sudah tidak tegak lagi. Aku tetap bersikeras ingin mengumpulkan buah manis ini dengan tanganku sendiri. Tanpa berpikir panjang, kakiku segera melangkah di antara leher Abah. Orang-orang memang biasa menyebutku perempuan tomboi. Jadi, tak heran saat sore itu aku mengenakan topi berwarna merah, kaus bergambar tengkorak, dan celana pendek. Serta ciri khas wajah kecilku adalah potongan rambut yang selalu cepak. Lebih mirip dengan anak laki-laki kebanyakan.

Abah, pria tua yang penyabar. Dia pun selalu menuruti permintaanku. Seperti sehari sebelumnya saat aku bermain di pohon seri itu, aku cemburu dengan teman-temanku saat mereka memiliki sepeda baru untuk ke sekolah.

Sepulang dari sekolah, rengekanku tak henti-henti sampai larut malam. Sebelum aku mendengar kata ‘ya’, atau anggukan dari Abah, biasanya aku tak mau makan dan akan terus menangis. Emak hanya geleng-geleng dan selalu mencoba menenangkanku. Tetapi, mungkin beginilah diriku. Selalu melawan dan memaksa kemampuan mereka. Padahal aku tahu, Abah hanya seorang guru ngaji dan Emak seorang pedagang pisang goreng. Hasil dari pekerjaan mereka tak menentu.

Keesokannya rengekanku mereda. Abah mengajak aku ke sebuah pasar loak, aku tahu setelah usiaku kian remaja. Tak masalah ke mana pun Abah mengajakku. Satu hal yang pasti, di hari libur itu Abah membelikan sepeda berwarna merah muda dengan keranjang di bagian depannya. Aku melonjak kegirangan, sepeda itu persis seperti yang teman-temanku miliki.

Aku menaiki sepeda itu, sementara Abah mendorongnya sambil menjaga keseimbanganku dari belakang. Maklum, aku belum bisa mengayuhnya sendiri. Tetapi, saat itu ada sebuah pertanyaan yang mengganjal. Tiap pagi, aku biasanya melihat Abah mencuci dan mengelap sepeda ontelnya di depan halaman rumah. Namun, tidak pada hari itu.

“Abah, sepeda ontel Abah mana?” tanyaku penasaran.

Abah hanya tersenyum menjawab pertanyaanku. Abah menghela napasnya sesaat, kemudian memberikan sebuah jawaban yang mampu mengusir rasa penasaranku.

“Abah titipkan di rumah Pak Lurah, mungkin satu bulan atau dua bulan lagi Abah ambil.”

Aku manggut saja mendapati jawaban Abah saat itu. Setelah dewasa, aku baru menyadarinya, ternyata Abah menggadaikan sepeda kesayangannya demi untuk menuruti permintaanku. Dan, sampai aku meninggalkan kampung, seingatku Abah belum menebusnya.

Teh Jujun juga sering bercerita saat aku bermain dengan anaknya, Indah, yang juga sahabatku. Konon, Abah begitu menyayangiku, sebab kelahiranku sungguh sangat dinantikannya. Abah dan Emak menikah sudah hampir sepuluh tahun katanya. Saat Abah menikahi Emak, usianya hampir empat puluh, berjarak dua belas tahun dengan Emak. Aku yang masih kecil hanya menyimak ucapan Teh Jujun. Jadi, saat Mak Lastri, emakku, hamil, Abah begitu gembira dan benar-benar menunggu kelahiranku di dunia. Dan sampai sebesar ini, aku terlahir di antara senyum dan tawa mereka.

Aku masih semringah sepulang dari pasar pagi menjelang siang itu. Ingin rasanya segera memamerkan sepeda baruku. Tetapi, saat melewati pohon seri kesukaanku, aku memilih untuk berhenti sejenak.

“Abah, kita ke gubuk itu dulu. Aku mau makan seri,” pintaku manja. Dan kemudian aku larut hingga sore menjelang. Keranjang sepeda baruku terisi seperempatnya dengan buah seri yang aku dan Abah kumpulkan. Begitu banyak. Kejadian itu terus berulang hingga hari-hari berikutnya. Sampai aku beranjak remaja dan menemukan sesuatu hal yang baru. Kenangan masa kecilku dengan Abah saat itulah yang tak bisa dilupakan.

Aku mulai beranjak dari gubuk dan buah seri yang sekarang kutemukan menua ini. Daunnya kering dan tak menjadi minat anak-anak kecil di kampungku lagi. Kulihat saat di pertigaan tadi, anak-anak mulai disibukkan dengan permainan di rental komputer yang ada di salah satu rumah warga. Memang ada baiknya mereka mengenal perkembangan zaman, tetapi sedih apabila mereka tak dikenalkan pada permainan tradisional, serta melewati masa kecilnya hanya dengan duduk-duduk menatap layar monitor. Sepanjang aku memandang persawahan serta sungai di hadapanku pun, tak terlalu banyak anak-anak yang mengisi harinya di sana. Bersatu dengan alam atau sekadar berbincang dengan semesta. Ah, padahal itu hal yang mengasyikkan bagiku dan teman-teman sebayaku saat kecil dahulu.

Matahari baru saja tumbang. Kakiku segera bergegas melangkah pulang. Lagi pula, bila terlalu malam, jalanan di kampung ini belum rata disinggahi lampu nan terang.

Seseorang sedang mengayuh sepeda. Dia berhenti tak jauh dari jarakku berdiri. Aku pun terhenti saat suara seraknya memanggil namaku, “Rahayu….” Dia menyandarkan sepeda --yang keranjang di depannya terisi sesuatu-- pada sebuah tiang. Lamat-lamat mataku berusaha menduganya. Temaram sorot rembulan membuat pandanganku sedikit remang. Kupandangi cara dia berjalan. Wajahnya makin mendekat. Tahi lalat di sebelah hidungnya serupa dengan orang yang sangat aku kenali. Rambut putihnya yang ditutupi kain kerudung menyembul sedikit di bagian depan, menghalangi dahinya yang keriput. Kini dia tersenyum dan aku melihat binar di matanya yang sayu. Aku tahu dia.

“Emaaakkk!” Aku berlari kecil menghampirinya. Kudekap tubuhnya yang ringkih. Aku begitu yakin dialah orang yang dua puluh dua tahun lalu telah melahirkanku, merawatku serta membesarkanku.

“Kau, Rahayu?”

“Enggih, Emak. Kule Rahayu, pecil Emak ,” balasku sigap, menggunakan bahasa bebasan, bahasa Jawa halus Banten. Tak terasa air bening mengalir dari ekor mataku.

“Gusti Pengeran!” serunya, tak menyangka. Matanya terbelalak memandangi sekujur tubuhku. “Emak boten nyangke Rahayu. Ayu pisan pecil wadon Emak seniki. ”

“Cantik seperti Emak, ‘kan?” candaku. Emak turut terkekeh.

“Tapi, apa yang kau kenakan, Rahayu?” Emak tampak bingung menerka apa yang melekat di tubuhku.

“Ini toga, Mak. Toga! Anakmu ini sudah jadi sarjana. Aku lulus dengan nilai terbaik di kampus. Lihat ini!” Kubuka tali yang melingkar di secarik kertas nilaiku. Aku tunjukkan kepadanya bahwa aku lulus menyandang predikat cum laude (sengaja aku tidak meminta orang tuaku menghadiri acara yang sakral itu, rersebab satu dan lain hal). Ada bulir haru di wajah Emak yang keriput. Air matanya menguar. Suaranya kian parau.

“Emak bangga sama kamu, Nong .” Kedua tangannya yang gemetar melingkar lembut di tubuhku. Kehangatannya menjalar ke seluruh tubuhku yang disekap lama oleh kerinduan.

“Hmm… Emak dari mana?”

“Ini baru pulang jualan pisang goreng.”

Air mukanya memancarkan ketulusan. Sudah hampir tiga tahun aku tinggalkan, Emak masih saja mencari uang. Aku yang kuliah sambil bekerja, gajinya tak cukup untuk mengirim tiap bulan kepada Emak dan Abah. Hanya bisa menutupi biaya kuliahku dan hidupku di sana.

“Padahal, aku mau ngasih kejutan ke Emak sama Abah. Eh, malah aku yang terkejut duluan ketemu Emak di jalan ini,” ucapku, berusaha menahan kesedihan. Aku tak mau terlalu larut dalam kepiluan. Emak hanya tersenyum menanggapiku.

“Eh, sepeda zaman aku kecil masih terlihat bagus saja, Mak. Pasti Abah rajin sekali merawatnya.” Ada rasa yang tiba-tiba timbul lagi. Emak kembali tersenyum. Kali ini kulihat ada jeda di sana. Senyum Emak berubah terlihat getir.

Aku menghampiri sepedaku itu. Aku hanya membawa dan mendorongnya berjalan bersama Emak yang terlihat kelelahan.

“Hmm… Abah lagi apa, ya, Mak?”

Kepalanya merunduk dalam. Aku tak segera menangkap maksud tingkah Emak. Kukira Emak tak mendengar tanyaku, jadi sengaja aku ulangi melontarkan kalimat itu, “Abah lagi apa, ya, Mak?”

“Abahmu…,” Emak menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Aku menantikan lanjutan suaranya, tetapi tak segera aku dapatkan. Di perlintasan gang, beberapa lagi sampai di depan rumah, seseorang memanggilku.

“Rahayu!”

“Indah?!” Kupastikan dugaanku beberapa detik, kemudian memeluknya erat. Sahabat kecilku itu begitu tampak elok. Dia memuji keberhasilanku saat melihat pakaian toga yang menyangga di tubuhku.

“Hebat kau, Rahayu! Bahkan aku tak melihat lagi sifat tomboi darimu. Kau terlihat begitu feminin. Cantik. Abahmu pasti bangga kalau melihat keberhasilan anaknya.”

“Ya, Indah. Aku tak sabar ingin bertemu Abah. Sengaja aku tak mengabarinya lewat surat. Aku ingin membuat kejutan untuk Abah.”

Indah tercenung. Ekor matanya beralih ke wajah Emak. Aku celingukan apa yang sedang mereka maksudkan.

“Abah ada di rumah kan, Mak?” kembali aku memastikan. Ada perasaan yang tak enak di dalam rongga hatiku ini.

“Emak belum cerita, Rahayu?” Kedua tangan Indah mendekap bahuku. Suaranya terdengar berat.

“Tentang apa?”

“Abahmu dua hari yang lalu….”

“Kenapa Abah, Mak?” aku tak kuasa mendengar ucapan Emak yang terputus-putus. Aku butuh jawaban yang pasti. Ada apa ini?

“Abah sudah tiada, Rahayu.”

Deg.

Napasku tertahan seketika. Jantungku berdegup kian kencang. Darah yang mendesir seolah mengerumun di ubun-ubun. Seketika aku mematung. Tak kuasa memercayai itu.

Kusingsat baju toga yang menghalangi langkahku. Aku berlari sekuat tenaga menuju ke dalam rumah. Aku menuju satu ruang kamar tempat biasa Abah beristirahat. Tak kutemukan wajah teduh Abah. Aku bersimpuh di dalam kamar. Emak dan Indah menyusulku. Memelukku erat dari belakang.

Dalam hati aku menyesal sebab merahasiakan perihal kelulusanku kepada Emak dan Abah. Abah lebih dahulu memberikan kejutan kepadaku. Aku kalah, Abah. Aku kalah! Kejutan yang selama ini aku susun, seketika sia-sia. Aku ingin membahagiakan Abah. Aku ingin menebus sepeda ontel Abah. Tapi, Abah lebih dahulu pergi dariku. Tak ada lagi telapak tangan Abah yang akan aku cium. Telapak tangan yang sejuk berkat kebiasaan Abah menjaga wudunya.

Gayung tak bersambut. Rinduku tak terbayarkan, Abah. Padahal, aku ingin sekali lagi saja, memetik buah seri ditemani Abah. Mengendarai sepeda kita masing-masing, Abah. Namun, semuanya terasa percuma sekarang. Aku sakit menahan rindu ini, Abah.[f]

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Si Pria Sachetorte

Cerita Pendek: Kertas Terbang

Cerita Pendek: Frangipani

Cerita Pendek: Bubur Ibu

Artikel Asli