Cerita Pendek: Senja di Saigon

Femina Dipublikasikan 06.32, 07/07 • Yani Lauwoie

Siapa bilang wanita dan pria tidak bisa bersahabat? Tapi rupanya keyakinanku itu harus terporak-poranda, saat suatu sore di kafe kesukaan kami, Adrien bercerita bahwa dia baru saja menjalin hubungan dengan seorang wanita lokal.

Aku melirik jam tanganku. Pukul 17.30. Itu berarti aku masih punya sekitar 30 menit, sebelum bertemu Adrien. Aku memang sengaja datang setengah jam lebih cepat ke kafe di Hotel Continental Saigon ini. Jadi, aku punya waktu untuk menikmati hot chocolate kesukaanku sambil memandangi salah satu ruas jalan favoritku di Ho Chi Minh City, Vietnam, ini dari jendela kafe yang sangat lebar. Mataku melihat ke jalan yang mempertemukan aku dan Adrien 3 tahun silam.

“Awas!” tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Belum sadar dari mana arah suara tersebut, tiba-tiba aku melihat motor dari arah kiri yang jaraknya sudah sangat dekat denganku. Rasa takut menyergapku, saat tiba-tiba aku merasakan ada lengan yang sangat kuat menarikku ke belakang. Tarikannya membuatku tergulung ke dadanya. Begitu cepat kejadiannya, sampai-sampai aku tidak sadar apa yang baru saja terjadi. Tubuhku bergetar, ketakutan. Rupanya getaran tubuh dirasakan oleh si pemilik tangan yang baru saja menarikku itu.

 “Hei, tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja sekarang,” katanya, sambil mengusap-usap punggungku. Aku tersadar dan melepaskan diriku dari pelukannya. Aku mengangkat wajahku dan memandangi orang yang baru saja menyelamatkanku.

“Terima kasih,” ucapku dengan suara bergetar.

“Ayo, aku belikan kamu minum agar tenang.” Dia menarikku masuk ke kafe yang ada di Hotel Continental Saigon yang ada di belakang kami. Itulah awal perkenalanku dengan Adrien.

Dia pria berkebangsaan Prancis. Memiliki wajah tampan dan tubuh atletis. Dia memiliki darah Indonesia dari neneknya. Mungkin itu yang membuat Adrien sangat senang berkenalan denganku. Karena dia bisa bertanya banyak hal tentang Indonesia kepadaku.

“Aku tidak pernah ke Indonesia. Aku juga belum pernah bertemu dengan nenekku karena kakek dan nenekku berpisah sejak mamaku masih kecil. Nenekku pulang ke Indonesia, sedangkan kakek dan mamaku tetap di Prancis. Aku bahkan tidak tahu apakah nenekku masih hidup,” ceritanya sedih, di pertemuan pertama kami. Karena itulah, Adrien memutuskan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Ho Chi Minh City dari kantor pusat perusahaan consumer goods di Paris, Prancis. Dia merasa satu langkah lebih dekat dengan Indonesia. “Begitu aku berhasil mengumpulkan informasi, aku akan mencari nenekku.”

Sejak perkenalan kami itu, aku dan Adrien menjadi teman akrab. Kami sering menghabiskan weekend bersama untuk menjelajah tempat-tempat menarik di kota ini. Namun, dari sekian banyak tempat yang kami kunjungi, kami sepakat bahwa kafe di Hotel Continental Saigon ini adalah tempat yang paling kami sukai. Bukan hanya itu kesamaan di antara kami. Aku dan Adrien juga sama-sama suka pho (mi khas Vietnam). Favorit kami adalah pho quynh, yang ada di kawasan Pham Ngu Lao. Porsi dan bumbunya terasa pas di lidah.

Kalau tidak jalan-jalan atau makan di luar, kami senang menghabiskan weekend di apartemen Adrien. Menikmati makan siang buatanku. Adrien suka sekali gado-gado dan rendang. Harus kuakui, darah Indonesia mengalir di lidahnya. Dia suka makanan yang berbumbu dan sedikit pedas. Setelah makan, biasanya kami akan melanjutkan ritual weekend dengan menonton DVD dan menutup kebersamaan kami dengan menikmati kopi Vietnam di balkon sambil memandangi langit senja.

Aku suka dengan pertemanan kami. Aku yakin Adrien pun merasakan hal yang sama. Siapa bilang wanita dan pria tidak bisa bersahabat? Tapi rupanya, keyakinanku itu harus terporak-poranda, saat suatu sore di kafe kesukaan kami, Adrien bercerita bahwa dia baru saja menjalin hubungan dengan seorang wanita lokal. Aku kaget! Aku tidak pernah mendengar nama wanita ini sebelumnya. Kapan mereka mulai dekat? Tapi, aku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bila Adrien bahagia, maka aku pun demikian.

“Weekend ini, kita pergi bertiga, ya. Aku kenalkan kamu dengannya,” tutur Adrien, dengan nada senang.

Mai Ly. Itu nama pacar baru Adrien. Cantik. Awalnya aku suka menghabiskan weekend bertiga dengannya. Tapi, setelah ketiga kalinya kami pergi bersama, ada perbedaan yang kurasakan. Aku merasa… sakit! Hatiku tidak terima melihat Adrien menggandeng tangannya, tertawa saat mendengar ceritanya dan selalu mendahulukan kepentingannya dibandingkan aku. Aku cemburu! Ini adalah sesuatu yang tidak kuharapkan kurasakan, karena aku sadar benar bahwa aku dan Adrien tidak lebih dari sepasang sahabat.

Aku pun mulai menjauhi mereka secara perlahan. Aku selalu menolak tiap kali Adrien mengajakku pergi bareng pacarnya. Sekali dua kali Adrien percaya dengan alasan yang kubuat. Tapi, setelah ketiga kalinya dia mulai mencium sesuatu.

“Kamu kenapa, sih? Kamu tidak suka dengan Mai Ly?”

Sungguh, aku bukan tidak suka dengannya. Dia adalah wanita yang baik dan berpendidikan. Pasangan yang sesuai untuk Adrien. Aku hanya tidak suka dia mendapatkan curahan perhatian dari Adrien yang dulu hanya Adrien berikan kepadaku. Aku tidak suka, tapi aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan hal ini kepada Adrien.

Adrien sadar aku menghindarinya. Sampai-sampai dia mendatangi tempatku berkali-kali, setelah telepon darinya tidak pernah kuangkat. Namun, aku terus menghindar. Setelah mengirimkan SMS yang berisi: “Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Tapi, aku sangat merindukanmu,” Adrien menyerah.

Aku pun mulai menjalani hari tanpanya. Namun rupanya, itu hanya bertahan tiga bulan. Suatu hari, setelah aku melakukan kesalahan di kantor dan dimarahi habis-habiskan oleh bosku, aku butuh sahabatku. Aku pun datang ke apartemen Adrien. Aku beruntung, Adrien sendirian. Air mataku pecah dalam pelukan Adrien.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menjauhimu. Aku hanya…” Aku tidak bisa meneruskan kalimatku. Aku menangis lebih hebat. “Aku tadi habis dimarahi bosku,” ungkapku sambil terisak. Adrien tidak berbicara apa-apa, dia menuntunku duduk di sofa dan memelukku lebih erat. Berada dalam pelukannya membuatku tersadar, aku menginginkan Adrien. Hanya untukku. Ya Tuhan, aku mencintai pria ini.

Entah sudah berapa lama aku tertidur dalam pelukan Adrien. Aku terbangun saat sayup-sayup kudengar Adrien berkata, “Apa yang harus kulakukan denganmu, Mayang? Aku tidak ingin kehilanganmu, tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan Mai Ly. Ya Tuhan, aku rindu sekali padamu.”

 

Kemudian Adrien mencium kepalaku dan menarik tubuhku lebih erat dalam pelukannya. Adrien tidak tahu aku sudah terbangun dan meresapi kalimat yang diucapkannya. Ada sensasi di hatiku yang berusaha kuuraikan. Perasaan senang sekaligus sedih. Dan sebelum aku kembali terlelap, rasa sedih itu lebih mendominasi hatiku.

Aku tidak pernah membahas dengan Adrien apa yang kudengar malam itu. Adrien pun tampaknya tidak ingin terbuka kepadaku tentang keresahan hatinya yang didiami oleh aku dan Mai Ly. Namun, aku memutuskan tidak akan mempersulit Adrien. Aku tetap menjaga segala sesuatunya dalam batas pertemanan, namun tentunya tidak seakrab dulu. Adrien pun mengambil sikap yang sama.

Perlahan aku mulai membuka diri terhadap rekan kerjaku di kantor. Namanya Rio. Sama sepertiku, dia orang Indonesia. Dia sudah lebih dulu ditugaskan di sini. Dari awal kepindahanku di sini, Rio sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukaiku. Namun, aku enggan berhubungan dengan rekan kerja. Aku takut bila hubungan kami tidak berjalan lancar, kerjaanku pun akan berantakan. Apalagi secara struktural Rio berada tiga level di atasku. Meskipun aku tidak report langsung ke dia, tetap saja aku menganggapnya sebagai atasanku. Namun, untuk menghilangkan Adrien dari benakku, Rio adalah solusiku.

Dari awal kedekatan kami, Rio menegaskan bahwa dia berencana untuk serius. Dia mencari calon istri. Dia bahkan menyatakan bahwa bila sudah menemukan orang yang tepat, dia akan kembali ke Indonesia untuk menikah dan memulai bisnis di sana. Rio mengatakan, kalau aku tidak siap, dia akan mundur dan tidak akan menggangguku lagi. Aku kagum dengan ketegasan dan niat baiknya, karena itu aku putuskan untuk mencoba menjalani hari-hariku dengan Rio.

Ternyata, setelah 9 bulan mencoba menjalani hubungan dengan Rio, aku benar-benar jatuh hati kepadanya. Jatuh hati dengan cara yang berbeda seperti perasaanku kepada Adrien. Dengan ketenangan dan kedewasaannya, Rio berhasil membuatku sangat nyaman berada di sisinya. Hubungan kami terasa pas. Tidak lebih dan tidak kurang. Seolah semua berjalan seperti seharusnya.

Kemarin, Rio menyatakan keinginannya untuk menikahiku.

“Tiga bulan dari sekarang. Tapi kita harus pulang ke Jakarta bulan depan, jadi punya cukup waktu untuk mempersiapkan pernikahan kita,” ucap Rio. Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata. Pelukan dan binar di mataku sudah merupakan jawaban bagi Rio.

Karena itu, di sinilah aku hari ini, di Hotel Continental Saigon ini, untuk memberitahukan rencana kepulanganku ke Jakarta, sekaligus pernikahanku dengan Rio. Adrien tidak tahu tentang Rio, tapi Rio sudah tahu siapa Adrien. Rio sama sekali tidak cemburu pada Adrien.

“Kamu memilihku. Itu sudah cukup bagiku,” tuturnya. Bahkan dia sama sekali tidak menuntut untuk dikenalkan dengan Adrien. Baru sore ini rencananya aku akan mempertemukan keduanya.

“Hai,” tiba-tiba Adrien datang dan membuyarkan lamunanku. Dia mengacak rambutku. Ini salah satu kebiasaan Adrien yang aku suka. Tapi buru-buru kusingkirkan jauh-jauh perasaan itu. Aku berdiri menyambutnya dan dia memelukku. “Aku kangen sekali padamu. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” ucapnya. “Baru dua bulan, kok,” jawabku, tersenyum. “Ya, tapi rasanya seabad.”

“Ada yang ingin aku ceritakan padamu,” kataku begitu Adrien duduk di kursi di depanku.

“Aku juga. Aku dulu yang cerita, ya,” sahutnya, cepat. “Aku sudah putus dari Mai Ly.”

Aku melongo mendengarnya. “Dua bulan lalu.” Aku hampir saja membuka mulutku untuk bertanya, tapi dia memotongku. “Aku sengaja tidak bercerita padamu. Karena aku butuh sendirian. Aku harus mencari tahu apa sebenarnya yang kuinginkan. Dan akhirnya aku sadar apa yang kuinginkan,” Adrien memberikan tatapan itu lagi. Tatapan penuh kelembutan yang selalu dia perlihatkan tiap kali dia memandangku. “Aku menginginkanmu. Aku membutuhkanmu. Dan yang paling penting, aku mencintaimu.” Aku hampir tidak bisa bernapas mendengar kata-kata itu. Akhirnya….

Adrien menggenggam tanganku. “Maafkan aku butuh waktu selama ini untuk menyadari perasaanku yang sesungguhnya. Tapi aku berharap masih ada kesempatan untuk kita. Maukah kau mencobanya? Mencoba kita?” Dia meremas tanganku.

Hatiku melambung. Setelah sekian lama, inilah yang sebenarnya kunantikan: mendengar pernyataan cinta dari Adrien. Tanpa sadar, aku berdiri dan berjalan ke arahnya. Aku hampir saja melompat dalam pelukannya, saat aku melihat Rio di luar jendela tersenyum ke arahku. Hatiku terbelah.

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Memori Yang Hilang

Cerita Pendek: Semangkuk Kenangan

Cerita Pendek: Sepotong Memori Dalam Labu

Cerita Pendek: Jejak Hati di Tobelo

Artikel Asli