Cerita Pendek: Sebelum Terlambat

Femina Dipublikasikan 06.51, 07/07 • Mariskova

  

 “Meninggal?” suara di ujung sambungan telepon itu terdengar kaget. “Kapan?”

    “Tadi pagi. Jantung,” jawabku datar.

    “Kasihan.” Aku menambahkan cepat-cepat. Tidak enak hati sendiri.

    “Aku tidak mungkin bisa mengejar waktu pemakaman…,” kalimatnya menggantung.

    “Iya. Nanti aku sampaikan salam darimu.”

    Telepon aku tutup. Jawaban yang sudah kuduga, tapi setidaknya kewajibanku sebagai pewarta sudah selesai.

    Bunyi bel pintu terdengar. Kupasang kerudung hitam di kepala. Bu Win sudah datang menjemput. Kami akan pergi bersama-sama ke rumah di ujung jalan. Suami Bu Tati meninggal dunia karena serangan jantung tadi pagi.

    “Masih ramai di sana, Mam?” tanyanya tanpa menolehkan wajahnya dari televisi.

    “Masih.” Kucopot kerudung hitam dari kepala.

    “Masih mengaji?” tanyanya lagi setelah melihat penunjuk waktu pada jam dinding. Hari sudah larut untuk orang yang harus berangkat kerja saat matahari belum muncul.

    Aku menggeleng. “Masih ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang menemani Bu Tati.”

    Kali ini wajahnya berpaling padaku. Pertanyaan ada di lipatan dahinya.

    “Bu Tati masih menangis.”

    “Shock?” Dia sekadar menyumbang kosakata.

    “Panggil-panggil suaminya terus. Anak-anaknya juga kebingungan.”

    “Bu Tati….” Suaranya menggantung. Dahinya berkerut. Mulutnya menutup lagi.

Baru beberapa hari sebelumnya aku mendengar Bu Tati bercerita di arisan. Topiknya tentang pernikahan anak salah satu sesepuh di perumahan ini. Aku mewarisi rumah orang tuaku di kompleks pensiunan. Bersama dengan rumah ini, orang tuaku juga mewariskan tetangga-tetangga mereka. Seorang ibu bertanya kenapa dia tidak bertemu Bu Tati di pesta.

  

“Haduh, Bu!” seru Bu Tati dengan wajah jengkel. Kami mengenali nada dan wajah itu. Matanya yang mendelik menarik garis-garis di pipinya yang menggelambir.

  

 “Saya itu sudah siap sejak pagi. Rumah sudah beres. Baju sudah disiapkan. Jauh-jauh hari saya juga mengingatkan bapaknya. Biasa, takut dia asyik dengan hobinya.”

   

Aku membayangkan Pak Tati, eh, maksudku Pak Han sedang mengenakan celana batik selutut dan kaos oblong putih sedang duduk di teras membongkar kipas angin.

   

“Dari hari sebelumnya Pak Han sibuk membetulkan klakson motor yang rusak.”

   

Bayangan kipas angin berubah menjadi motor.

“Eh, betul saja,” suara Bu Tati meninggi, tangannya meremas-remas tisu. “Begitu saya suruh siap-siap, Pak Han bilang klaksonnya belum beres! Padahal, kami kan pergi naik mobil, bukan naik motor! Tanggung katanya! Juuuengkel, saya! Akhirnya mau juga dia tinggal klakson butut itu setelah saya cereweti.”

   

Aku bisa membayangkan rentetan suara bernada tinggi yang biasa aku dengar.

    “Sampai di pesta, mempelainya sudah turun dari panggung!”

    “Yang penting motornya sudah bisa nglakson lagi, Bu,” canda seorang ibu yang disambut tawa ibu-ibu lain. Bu Tati masih mengomel. Cerita klakson motor berganti menjadi pipa air yang bocor.

Belum pukul sembilan malam saat kudengar pintu pagar besi digeser. Aku membuka tirai kamar sedikit. Dari balik jendela kulihat dia sedang menggembok pagar. Pecinya sudah berpindah dari kepala ke genggaman tangannya. Kuberikan buku cerita bergambar beruang kuning kepada anak perempuanku, tapi anak umur 2 tahun itu melemparnya. Dia turun dari kasur lalu melesat keluar kamar.

Pintu rumah kukunci lagi begitu dia masuk.

    “Kok, sudah selesai?”

    “Belum,” jawabnya tidak jelas. Mulutnya sibuk menciumi anak umur 2 tahun yang sedang menjerit-jerit kesenangan di gendongannya.

    “Ngajinya belum selesai?”

    “Ngajinya sudah.”

Aku mengambil si kecil dari gendongannya. Dia berlalu cepat-cepat ke dalam kamar. Aku ikut masuk. Ditukarnya kemeja koko cokelat tua dan celana panjangnya dengan celana pendek dan kaus lama yang dulunya pernah bertuliskan nama sebuah kafe ngetop.

    “Aku enggak tahan.”

    “Enggak tahan ngaji?” Aku menyuruh anak perempuanku diam.

    “Bukan.”

    “Begitu selesai ngaji, aku cepat-cepat pamit. Aku bilang ada urusan.”

    “Kenapa?” Aku harus tanya supaya dia melanjutkan ceritanya.

    “Suara Bu Tati menangis terdengar sampai ke teras.”

    Aku terduduk di kasur.

    “Di sana gerah. Kipasnya mati.”

    “Jadi kamu pulang cepat-cepat karena suara tangis yang tidak berhenti atau karena kipas yang mati?” tanyaku menuntut.

    Dia tidak menjawab. Ditangkapnya anak kecil yang sibuk mencari perhatiannya. Diputar-putar anak itu sampai menjerit-jerit.

    “Kasihan Bu Tati.” Tiba-tiba dia bersuara di luar konteks kegiatannya memutar, menciumi, menggelitiki anak perempuan yang sibuk menjerit-jerit.

    “Ya, iyalah,” sergahku.

    Dia ingin membuka mulut lagi, tapi tidak jadi.

Pulang menjemput anakku dari taman bermainnya siang itu kulihat pembantu tetangga keluar dari rumah Bu Tati dengan kaus berlepotan tanah.

    Si Rohman, atau Rosman, yang bekerja jadi pembantu plus tukang kebun di rumah Bu Ida, tetangga sebelah rumah Bu Tati, mengangguk padaku.

    “Ngapain kamu, Man?”

    “Beresin pompa air Bu Tati.”

    “Kenapa? Kok, enggak panggil tukang air aja?”

    “Ndak ada yang bisa langsung datang, Bu. Kasihan Bu Tati. Airnya ndak keluar. Tadi Bu Ida nyuruh saya mbetulkan sementara.”

   

Rohman pamit kembali ke rumah Bu Ida. Aku berdiri di depan rumah Bu Tati. Berpikir. Ragu. Berpikir. Kutarik tangan anak perempuanku ke arah pagar kayu pendek.

    “Kita main ke rumah Bude Tati sebentar, ya, Sayang?”

    Anak itu sibuk menjilati permen lollipop.

   

Pintu rumah Bu Tati terbuka. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Aku melewati jalan setapak penghubung antara tempat parkir mobil dan teras. Banyak tanaman yang daunnya menguning. Daun mangga yang rontok berserakan di tanah.

    “Assalamu’alaikum!”

    Sedetik, dua detik, tiga detik. Tidak ada yang membalas salamku.

    “Assalamu’alaikum!” Kupersilakan diriku masuk ke dalam rumah. Anakku minta digendong. Lampu-lampu tidak ada yang menyala. Kecuali ruang tamu yang masih terkena sinar matahari, di dalam rumah gelap. Aku menemukan Bu Tati duduk termangu di dekat meja makan.

    “Bu Tati?” tanyaku pelan.

    Bu Tati menoleh. Tidak terkejut melihat ada orang masuk tanpa disuruh.

    “Eh, Mbak.”

    Sekarang aku berdiri di depannya. Bingung. Mau apa aku masuk?

    “Sehat, Bu?” tanyaku tidak basa-basi.

    “Sehat. Sehat. Alhamdulillah.” Bu Tati berdiri. “Silakan masuk, Mbak.”

    “Adek Naaaaad.” Bu Tati mencubit pipi anak kecil di gendonganku. Suaranya diriang-riangkan. “Habis dari mana? Sekolah, ya?”

   

Anakku merengut. Bu Tati tidak melihat anakku merengut. Dia berjalan ke ruang tamu. Aku mengikutinya.

    “Anak-anak menginap, Bu?” Kubayangkan Bu Tati menggeleng. Rumah itu sepi. Satu anak perempuan dan satu anak laki-lakinya pasti sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Di akhir pekan aku jarang melihat mereka muncul di sini. Apalagi di hari kerja seperti ini. Benar saja. Bu Tati menggeleng.

    “Kerja,” jawab Bu Tati singkat.

   

Aku duduk di kursi kayu berukir bunga. Di sebelah Bu Tati. Sepertinya wajah Bu Tati makin gemuk. Pandangannya terarah ke luar. Ke sisi kebun yang terlihat dari dalam ruang tamu.

    “Duh, layu tanaman-tanaman saya.”

    “Beberapa hari ini memang panas, Bu.”

    Bu Tati menggeleng.

    “Sudah saya sirami terus. Ada yang malah mati.”

    “Tidak tahan banyak air?”

    “Pak Han yang tahu takaran airnya.”

    Aku mengangguk-angguk. Mencoba menggantikan suara yang tidak keluar.

    “Saya kasih pupuk juga.” Bu Tati menghela napas. “Kok, tetap mati.”

    “Karena panas kayaknya, Bu.” Ayolah….

    “Ya. Kurang air juga. Pompa saya mati, dari pagi belum disiram.”

    “Tadi saya ketemu Rohman di depan. Katanya habis membetulkan pompa Bu Tati. Kalau perlu nomor tukang, suami saya punya, Bu.”

    Bu Tati menatapku.

    “Tapi mudah-mudahan pompanya sudah beres sama Rohman, ya, Bu,” aku cepat-cepat menambahkan.

    “Rosman.”

    “Rosman?” Aku mengoreksi diriku.

    “Ah, si Rosman cuma tambal sana-sini.”

   

Aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan menambal pompa di sana-sini. Tapi, percakapan yang ini lebih baik dari soal tanaman yang mati.

    “Kalau begitu saya mintakan nomor tukangnya suami saya, ya, Bu?”

    “Kalau ada Pak Han, pasti dibereskan sendiri.”

    Aku menghela napas. Pelan sekali.

    “Tapi lumayanlah. Bisa keluar airnya. Bising, sih. Tapi bisa keluar.”

    “Saya panggilkan tukang langganan suami saya aja, ya?”

    “Boleh, Mbak.” Tapi tiba-tiba Bu Tati tertawa kecil. Aku deg-degan.

    “Pak Han itu, ya….”

    Aku menelan ludah

    “Kalau ada tukang, pasti tukangnya tidak betah. Direcoki pekerjaannya oleh

Pak Han. Saya sering ingetin dia, ‘Bapak tuh diem aja dulu. Tukang itu kan lebih ahli. Bapak kan hanya hobi.’ Tapi, Mbak, ternyata pekerjaan Pak Han lebih awet dibanding pekerjaan tukang. Ya, Bapak kan telaten. Berjam-jam duduk mantengin barang yang rusak sampai celana pendek dan kausnya basah keringetan….”

   

Aku menaruh jari telunjuk di depan mulutku. Anakku cemberut, tapi tidak jadi merengek. Cerita tentang Pak Han masih berlanjut. Sebenarnya aku sudah sering mendengar cerita Pak Han dan tukang-tukang yang datang memperbaiki barang di rumah ini. Dari Bu Tati juga. Tapi, saat itu versinya berbeda. Cerita versi lawas berjudul Pak Han versus tukang dan Bu Tati. Bu Tati saat itu berkongsi dengan tukang yang menurutnya lebih ahli.

                                                         ***

   

Pembantuku laporan kalau lampu dapur mati. Untungnya acara masak-memasak sudah beres. Aku menengadah ke atas. Langit-langit rumahku lebih tinggi dari ukuran standar. Saat rumah ini direnovasi, aku protes. Repot bila harus mengganti lampu, kataku. Dia bilang supaya lebih adem. Pembantuku bilang dia bisa saja naik tangga untuk mengganti lampu, tapi kami tidak punya persediaan bohlam.

   

Tunggu aku pulang saja. Begitu tadi instruksinya. Posisinya terlalu tinggi. Si pembantu tidak bisa menjangkau posisi lampu. Nanti dia akan mampir ke toko listrik sebelum pulang. Sekalian beli kabel untuk setrika, katanya. Ya, sudah. Aku tidak jadi pergi ke toko serba ada di depan kompleks. Kebetulan anakku minta main di luar rumah.

   

Anak-anak kecil sudah ramai bermain di ujung jalan. Anakku berlari ke keriaan itu. Sebentar dia mengejar bola, sebentar dia bergantian naik sepeda. Anakku lari lagi ke kumpulan anak lain. Aku sibuk mengejarnya. Memastikan kaki kecilnya yang baru kemarin belajar berlari tidak tersandung sendiri lalu jatuh.

   

Matahari sudah sampai di barat ketika aku menggendong anak perempuanku pulang. Entah kapan matahari berjalan ke sana karena langit tiba-tiba kehilangan dirinya. Aku berjalan melewati rumah di ujung jalan. Terasnya masih gelap, tidak seperti rumah-rumah lain yang sudah menyalakan lampu-lampunya. Kulambatkan jalan sambil menengok ke arah rumah itu. Langkahku mendadak terhenti. Sosok perempuan duduk diam di teras yang gelap di bawah keremangan pohon mangga. Kudekati pintu pagar.

  

 “Bu Tati!”

    Tadinya kupikir suaraku kurang kencang. Tapi, sosok itu menoleh mencari suaraku. Sekarang aku yang bingung harus bilang apa.

    “Eh, Mbak!” jawabnya. Lalu suaranya berubah. “Adek Naaaad!”

    Aku bersyukur ada anakku. Sudah dua kali dia menyelamatkanku.

    “Kok, gelap-gelapan?” Aku menimbang-nimbang untuk masuk ke halaman rumah Bu Tati. Rasanya tidak pantas menaikkan suara menyaingi azan magrib.

    Bu Tati bangkit dari kursinya di teras dan berjalan menghampiriku.

    “Mampir, Mbak?”

    “Sudah magrib, Bu.” Aku tersenyum sopan. “Tadi saya bingung, kok, teras Bu Tati gelap. Jadi saya….”

    “Lampunya mati,” potong Bu Tati. “Saya tidak bisa ganti.”

    “Biasanya yang ganti Pak Han. Yang tahu jenis lampunya juga….” Suaranya memelan sebentar. “Haduuuh, Mbak! Dulu saya tinggal nyuruh aja! Malah kadang-kadang belum disuruh sudah diganti duluan oleh Pak Han! Pak Han punya persediaan bohlam, Mbak! Dan dia tahu lampu mana yang sebentar lagi akan mati….”

   

Aku pernah dengar cerita ini juga. Versi yang berbeda tentu saja, di mana Bu Tati pikir mengganti lampu yang belum mati adalah suatu pemborosan. Tapi, kali ini aku tidak sempat mendengar versi baru dengan lengkap. Anak perempuan kecilku itu merengek-rengek minta turun dari gendongan dan berlari ke arah rumah. Aku mengejarnya sembari pamit terputus-putus.

    Aku mengganti kaus dan meraih kunci mobil yang tergantung di lemari.

    “Titip Adek, ya,” perintahku kepada pembantu.

    “Mama, ikuuuuut!” tuntut anakku dengan suara cadelnya.

    “Mama mau beli lampu. Kamu tunggu di rumah sama Mbak,” tolakku. Aku menimbang sesuatu. Agak tidak rela, tapi, “Nanti Mama belikan permen.”

    Anak perempuan itu tidak jadi merengek.

    “Jadi beli lampu, Bu?”

    Aku tidak menjawab pertanyaan pembantuku. Suara sapaan di ujung telpon mengambil alih perhatianku.

    “Pa, jenis lampu dapurnya apa, ya?”

    “Kenapa?”

    “Aku mau beli di depan kompleks.”

    Dia diam. “Enggak bisa tunggu aku sampai rumah?”

    “Terlalu lama. Urusan dapur enggak bisa menunggu. Biar aku beli saja.”

    “Nanti pasangnya bagaimana?”

    Aku diam. Mataku melirik langit-langit rumah. Mataku melirik tangga.

    “Kamu bisa masangnya?”

    Aku masih diam. Membayangkan dia saat sedang memasang lampu.

    “Tunggu aja sebentar. Jam delapan aku sudah sampai.”

    Aku masih juga diam. Sekarang aku membayangkan sebuah teras. Teras gelap. Lalu pompa air yang mati. Lalu kipas angin yang mati.

    “Jadi jenis lampunya apa, Pa?”

 

 ***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Simfoni Sydney di Musim Semi

Cerita Pendek: Rinjani

Cerita Pendek: Melamun

Cerita Pendek: Senja di Saigon

Artikel Asli