Cerita Pendek: Sang Gouvernante

Femina Dipublikasikan 08.25, 04/08/2020 • Candra Dewi D.P.

Semarang, 1902

Kedatangan Marijke disambut gembira oleh keluarga Speelman, pengusaha perkebunan yang tinggal di Candi, Semarang. 

Marijke gadis berusia dua puluh, berperawakan mungil, kulitnya putih kemerahan, rambutnya cokelat tua dengan mata berwarna senada. Dari caranya bicara, dapat dinilai bahwa ia perempuan yang cerdas dan berbudaya.

Marijke memenuhi permintaan keluarga Speelman yang memasang iklan pada surat kabar di Amsterdam. Mereka membutuhkan gouvernante atau guru privat, perempuan Eropa asli yang bersedia tinggal dengan seorang ibu pribumi di Hindia Belanda. 

Pekerjaannya mengajarkan bahasa Belanda dan mata pelajaran lain kepada seorang anak berusia lima tahun.   

Bagi Marijke yang sejak kecil tinggal di panti asuhan, tawaran itu tampak menarik hati. Ia ambil tanpa banyak pikir. Selama ini ia tinggal di panti yang sering kali kekurangan logistik, yang berdampak pada kesehatan serta pertumbuhan anak-anak panti. 

Paling tidak itu kesimpulan Marijke atas pertanyaan mengapa ia tak dapat tumbuh lebih jangkung dan berisi. Walaupun begitu, di panti, Marijke mendapatkan pendidikan yang baik sebagai modal untuk menjadi gouvernante.

Awalnya ia berpikir gaji yang ditawarkan tidak terlalu besar. Ia terima tawaran itu hanya karena ingin segera meninggalkan panti. 

Setelah sampai ke Semarang dan membandingkan gajinya dengan seorang pembantu pribumi yang sekadar digaji 3 gulden per bulan, ia merasa menjadi perempuan beruntung. 

Gaji Marijke sebesar 75 gulden per bulan, sementara makan dan tempat tinggal gratis. Nilai yang setara dengan gaji per bulan seorang pemimpin redaksi sebuah surat kabar di Hindia Belanda.

Anak didik Marijke bernama Anne Speelman. Hasil hubungan tanpa ikatan perkawinan yang sah antara Matthijs Speelman, seorang pengusaha perkebunan di Ungaran, dengan seorang perempuan pribumi bernama Nyai Soemiati, yang kini berusia 31 tahun, lebih muda 10 tahun daripada suaminya. 

Anne cocok sekali dengan Marijke. Semua mata pelajaran, seperti membaca, menulis, berhitung, dan bahasa Belanda, cepat dipahaminya dengan baik.

Nyai Soemiati adalah seorang istri yang juga berperan sebagai pengatur rumah tangga. Ia berwenang memberi perintah kepada seluruh pembantu. 

Memastikan rumahnya selalu dalam kondisi bersih dan teratur. Parasnya manis, kulitnya kecokelatan dengan rambut yang tergelung rapi. Ia selalu membawa berbagai macam kunci untuk menjaga harta suaminya, jika pria itu sedang tak berada di rumah. 

Pakaiannya adalah kebaya putih dengan jarit yang melilit sepanjang perut sampai mata kaki. Kalung emas berbandul berlian besar pemberian Tn. Speelman selalu dikenakan untuk memperjelas kedudukannya.

Tn. Speelman amat menghormati Marijke dan makin hari makin akrab dengan gadis itu, seolah mereka telah mengenal sejak lama. Sementara, Nyai Soemiati yang tidak dapat berbahasa Belanda nyaris tak pernah berbicara kepada Marijke, kecuali beberapa kata mudah, seperti dank u atau goedemorgen. 

Untuk dapat berbicara dengan Nyai Soemiati, Marijke menyempatkan diri belajar bahasa pribumi sehingga cukup memadai untuk bercakap-cakap dengan perempuan Jawa itu, supaya hubungan di antara mereka tidak kaku.

Yang menjadi ganjalan bagi Marijke dalam menjalani hidup bersama keluarga Speelman adalah perilaku Tn. Speelman yang begitu memperhatikan dirinya. 

Tn. Speelman sering mengajak Marijke bercakap-cakap dalam bahasa Belanda untuk waktu yang lama tanpa menghiraukan keberadaan Nyai Soemiati. Itu membuat Marijke tidak enak hati dan merasa berada di posisi yang salah.

Saat melihat-lihat cantiknya bunga mawar di halaman yang terpelihara dengan baik oleh tukang kebun, Tn. Speelman berjalan mendekat.

    “Kau suka bunga mawar, Marijke?”

    “Ya, Tuan.”

    Tn. Speelman memetik sekuntum bunga mawar dan memberikannya kepada Marijke. Gadis itu menerimanya dengan canggung, khawatir kejadian itu diketahui Nyai Soemiati.

    “Mawar merah itu cantik dan wangi seperti engkau,” ujar Tn. Speelman, sambil lebih mendekatkan dirinya kepada Marijke. Hidungnya nyaris menyentuh rambut gadis itu, seraya hendak mengendus.

    “Sekarang adalah waktunya saya mengajar bahasa Belanda kepada Anne. Maaf, saya harus pergi,” kata Marijke. Dengan langkah cepat dan lebar ia masuk ke rumah, menuju ruang belajar di mana Anne telah menunggunya dengan antusias.

    “Anne, kau anak yang rajin dan pintar, terimalah bunga mawar ini.” Bunga mawar pemberian Tn. Speelman diserahkan Marijke kepada muridnya, sebab gadis itu merasa tak berhak menerimanya.

***

“Marijke, kemarilah,” Tn. Speelman memanggil. Marijke mematuhi perintah majikannya dan duduk di kursi di samping kursi tempat lelaki itu duduk.

    “Sudah lama aku memikirkan hal ini, dan kurasa sekarang saat yang tepat untuk mengutarakannya.”

    “Perihal apakah itu, Tuan?” Marijke bertanya.

    “Aku ingin menikahimu, pernikahan sah yang selama ini aku harapkan. Anne akan menjadi anakmu, apalagi kulihat kalian berdua sudah sangat akrab.”

           Marijke terkejut, batinnya terguncang mendengar keinginan majikannya.

    “Tetapi Tuan telah beristrikan Nyai Soemiati. Ia sungguh wanita yang baik dan patuh,” kata Marijke.

    “Ia hanyalah perempuan Jawa yang bodoh, tak dapat mendidik Anne seperti yang kumau. Aku mencintaimu, Marijke. Aku akan sangat senang seandainya dalam sisa hidupku ini dihabiskan bersama engkau yang selain cantik juga amat pandai, membuatku betah berlama-lama berada di sisimu.”

    “Tolong pikirkan hal ini sekali lagi. Tuan tak bisa mengesampingkan Nyai Soemiati begitu saja.”

    “Siapa bilang ia tak dapat dikesampingkan? Jika aku mau, hari ini juga aku bisa mengusirnya tanpa dia dapat membawa sepeser pun hartaku. Tidak juga Anne. Aku dan Soemiati belum menikah secara hukum. Tak ada hukum di Hindia Belanda ini yang bisa membuatnya menuntut apa-apa dariku,” kata Tn. Speelman, tanpa perasaan.

    Marijke terenyak di kursinya. Seumur hidup, ia tak pernah bertemu dengan lelaki yang begitu dingin dan tak berperasaan saat mengatakan akan menyingkirkan wanita yang telah hidup bersama dan melahirkan anaknya.

    Dalam hatinya Marijke berpikir, betapa buruknya laki-laki Belanda yang tega melakukan itu terhadap wanita pribumi di Hindia Belanda ini. Atau memang begitukah perangai rata-rata lelaki Belanda di negeri ini? Betapa sedihnya hati Marijke memikirkan hal yang baru saja dihadapinya.

    Marijke tak dapat memberikan jawaban. Ia meminta waktu tiga hari untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. Ia juga melarang Tn. Speelman mengambil tindakan apa pun sebelum ia mengutarakan keputusannya.

***

Marijke menghampiri Nyai Soemiati sehari sebelum batas akhir ia harus mengatakan keputusannya kepada Tn. Speelman. 

Nyai Soemiati tengah mengasuh Anne dengan sabar dan telaten di beranda rumahnya yang sejuk. Kebetulan siang itu langit terlihat muram akibat tertutup mega mendung.

    “Nyonya, saya mohon pamit,” ujar Marijke, dengan perasaan remuk redam, terlebih ketika ia melihat Anne sedang memperhatikannya.

    “Lho, kenapa, Non? Non ndak betah kerja di sini?”

    “Bukan begitu. Saya rindu Amsterdam dan ingin mengajar di sana saja.”

    “Oh, kalau begitu saya doakan semoga Non Marijke berhasil di sana,” kata Nyai Soemiati, sembari tersenyum.

Marijke membalas senyum Nyai Soemiati. Ia peluk wanita itu erat-erat menjelang perpisahan. Ia memang telah lama rindu sosok seorang ibu, dan sosok itu ditemukannya dalam diri Nyai Soemiati yang sederhana. 

Sungguh ia tak ingin mengganggu kebahagiaan dan ketenteraman hidup perempuan yang di mata Marijke begitu polos dan bersahaja itu.

    Air mata Marijke tumpah saat ia harus berpamitan dengan Anne yang telah ia anggap seperti adiknya sendiri.

 “Apakah kita akan bertemu lagi, Nona Gouvernante?” tanya Anne, polos.

 “Jika kau telah dewasa dan memutuskan untuk belajar di Universitas Amsterdam, mungkin kita akan bertemu lagi, Sayang. Tapi, ada syaratnya. Kau harus jadi anak yang pandai sekali jika ingin pergi ke sana.” Hati Marijke makin teriris saja. Seandainya Tn. Speelman tidak egoistis, tentunya kejadian menyedihkan ini tak perlu mereka alami.

“Aku janji, Nona Marijke, aku janji akan belajar dengan lebih keras. Kelak aku akan meminta Papa agar mengirimku ke Belanda untuk belajar di Universitas Amsterdam, seperti yang kau harapkan.” Marijke begitu senang mendengar harapan Anne. Ia mulai menghitung waktu, kapan kira-kira dirinya dan Anne dapat bertemu lagi. 

Hatinya yang remuk jadi sedikit terhibur disebabkan harapan tersebut. Dipeluknya Anne erat-erat, seperti tak ingin lepas.

Marijke pergi dengan membawa dua koper yang dibawakan pelayan suruhan Nyai Soemiati dan diantar sais kereta kuda keluarga Speelman sampai ke pelabuhan Semarang. Ia akan pergi berlayar dengan kapal penumpang menuju Amsterdam siang itu juga.

Marijke duduk manis di kabinnya, memandang laut dalam suasana senja kuning kemerahan. Hatinya lega, puas karena baru saja mencampakkan satu orang lelaki tak berperasaan. Kapal yang ditumpanginya mulai meninggalkan Semarang.

Dalam pikirannya, telah tersusun rencana selanjutnya. Ia akan melanjutkan belajar di Universitas Amsterdam dengan uang yang ia kumpulkan selama lebih dari setahun menjadi gouvernante untuk keluarga Speelman. 

Kelak di universitas itu, ia dan Anne Speelman akan bertemu kembali sebagai guru dan murid.

Sore harinya, Tn. Speelman pulang ke rumah dalam kondisi kelelahan setelah bekerja di kantor perkebunan. Ia merasa perlu disegarkan kembali dengan melihat wajah Marijke. Namun, gadis itu tak ditemukannya.

“Ke mana Marijke?” tanya Tn. Speelman kepada Nyai Soemiati.

 “Pulang ke Amsterdam, sudah berpamitan siang tadi, diantar Paiman naik kereta kuda ke pelabuhan. Tidakkah ia berpamitan kepada Tuan?” kata Nyai Soemiati seadanya.

Tn. Speelman terduduk lemas di kursi seketika itu juga. Tangannya memegangi dahi. “Godverdomme!” umpatnya kesal, sampai mukanya merah padam.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Kisah Yang Tertinggal di Mataku

Cerita Pendek: Lelaki Bermata Kelabu

Cerita Pendek: Perempuan Ikan Bolu

Artikel Asli