Cerita Pendek: Sang Dalang Part 4

Femina Dipublikasikan 07.46, 07/08 • Dwi Retno Handayani

Ia duduk membelakangi kami, lengkap dengan busana dalang. Kakrasana berjalan menuju singgasananya dengan tenang dan gagah. 

Entahlah, sepertinya ia mengingatkanku pada salah satu ksatria kesayangan bapak, sang Werkudara. Hanya saja, tubuhnya tidak begitu besar, dan tingginya tidak dua kali tinggi manusia pada umumnya seperti ksatria wayang tersebut.

Sebelum duduk bersila, kulihat bibirnya komat–kamit, seperti mengucapkan mantra. Ia mengapitkan cempala suku di sela–sela jari kakinya ketika duduk, sementara tangannya mengambil cempala asta untuk memulai dhodhogan. Tokoh–tokoh wayang tersebut telah tersusun rapih pada debog. 

Malam semakin khusyuk dan blencong pun telah dinyalakan. Sinarnya seperti purnama yang menyinari kelir di hadapannya. Pagelaran tersebut pun akhirnya dimulai. Lakon kali ini menceritakan tentang Kresna Gugah.  

***

“Baru kali ini aku merasakan kenikmatan tersendiri saat menontonmu beraksi. Ada semacam kesedihan yang tiba–tiba hadir dalam benakku. Seperti ingin menangis, tapi nggak bisa. Aku tidak tahu, mungkin ini kali pertama aku menonton wayang di mana sang dalang menggunakan bahasa Indonesia untuk menghidupkan lakon tersebut. Jadi, aku seperti terlarut.”

Kakrasana duduk di hadapanku. Malam sudah hampir habis, mentari pun sudah malu–malu mengintip untuk keluar dari persembunyiannya. 

Ia membantuku membawa bapak yang sudah kelelahan ke kamarnya. Aku membuatkannya secangkir kopi untuk menekan rasa kantuk yang sudah mulai nampak pada wajahnya. Ia masih tetap berada di rumahku.

“Aku senang kamu menikmatinya. Ini seperti pujian,” Kakrasana tak memandangku. Matanya sibuk memperhatikan kopi yang sedang ia aduk oleh sendok kecil dalam cangkir kopi tersebut.

“Aku jadi ingin tahu, apa yang membuatmu sangat menyukai wayang?” aku tak berhenti memandanginya. Ada magis yang tiba–tiba membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

Ia menarik nafas lalu mengeluarkannya, “Kakekku yang membuatku seperti ini. Aku nggak hidup seperti anak laki–laki seusiaku pada umumnya. Kakek yang memperkenalkanku pada komik–komik wayang R.A Kosasih. Ia memperkenalkanku pada tokoh–tokoh superheroku dari dunia wayang. Ia membuatku bermain dalam imajinasiku,” suaranya terdengar pelan, namun ada emosi yang hinggap dari kata–kata yang diucapkannya. 

Ia tersenyum sesaat. Wajahnya berubah melembut, meskipun suaranya masih terdengar berat.

“Kakek yang mengajarkanku dan adikku tentang kehebatan Gatotkaca, yang tidak kalah hebatnya seperti Superman. Ia membuatku bertanya–tanya bagaimana jika tokoh–tokoh komik Marvel bertarung dengan ksatria–ksatria wayangku? Siapa yang lebih hebat? Siapa yang akan menang? Bagaimana jika para mutan bertarung dengan mereka? siapa di antara mereka yang akan kalah?” Kakrasana kembali berbicara. Ia tidak lagi peduli soal kantuk yang menyelimuti dirinya.

“Kamu punya adik?” akhirnya aku bertanya. Baru kali ini matanya memandangku. Ada jeda yang membuat sepi dan hening menyatu, tapi tidak berapa lama ia angkat bicara. Ia mengangguk mengiyakan.

“Dia di mana?”

“Namanya Narayana. Dulu ia yang bermimpi jadi dalang, bermimpi menghidupkan ksatria–ksatrianya lewat lakon yang ia mainkan. Tapi nggak sampai jadi dalang, Narayana sudah keburu dipanggil Tuhan. Jantungnya nggak kuat menampung cita–citanya yang tinggi dan imajinasinya yang seolah–olah hidup itu.” Tak bisa kubayangkan ia masih bisa tertawa saat kalimat itu keluar dari mulutnya.

“Orangtuamu?” aku menambahkan

“Ayahku juga sudah nggak ada. Cuma ibuku yang tersisa. Tapi ia nggak di sini. Ia ada di rumah sakit. Kematian adikku menghempaskan semua keceriaannya. Rupanya adikku itu memang kesayangan kami. Saat ia tidak ada, rumah kami pun berubah seperti kuburan. Aku baru sadar, keceriaan itu sudah musnah dibawa pergi bersama jasadnya di dalam kubur.”

Ia mengalihkan pandangannya dari sorot mataku, menatap pemandangan yang tampak pada jendela di belakangku. Mentari mulai berani mengeluarkan tubuhnya dari persembunyian. 

Hari telah berganti pagi, dan awan telah berjejer membentuk gugusan berkelompok dalam warna putihnya yang polos tak bernoda.

“Aku minta maaf mengungkit–ungkit masalahmu ini,” tak enak dengan pembicaraan ini, aku segera meminta maaf. Tidak ada jawaban apapun dari mulutnya. Ia malah mengalihkan topik menuju Yudistira. Ia menanyakan soal kemampuannya dalam pemahaman lima pandawa kesayangan bapak. Apakah Yudis sudah mempelajarinya atau belum, apakah aku sudah mengajarinya atau belum. Ataukah kami berdua belum paham benar dengan penjelasan–penjelasan yang selama ini ia berikan.

Topik ini tiba–tiba menjadi topik yang paling tidak ingin kudengar sepanjang hidupku. Aku masih ingin mendengarnya mendalang, jangan alihkan pembicaraan kita. Aku mohon..

***

“Aku sudah lihat e-mailmu, Wi.. Kapasitasnya besar sekali. E-mail–e-mail yang kutunggu jadi terhambat nih…”

Ada suara lembut Yudistira mengalun dari balik sambungan telepon di meja kantorku.

“Sudah kamu print belum?” tanyaku kemudian.

“Belum, Wi.. Kamu tahu nggak? Belakangan ini ada banyak tugas yang menungguku. Aku ngga mungkin punya waktu untuk membaca hal–hal yang nggak ada hubungannya dengan masa depanku!”

“Kamu bilang apa? Nggak ada hubungannya dengan masa depanmu?” aku menahan emosi yang kini sudah berputar–putar pada ubun–ubunku.

“Kalau tugas ini nggak aku selesaikan, aku nggak mungkin bisa dapat bonus dan beli rumah untuk kita nanti,” Yudis masih saja berkutit pada pekerjaannya. Alasannya selalu saja tentang pekerjaan dan masa depan. Aku jadi bingung, sebenarnya masa depan seperti apa yang ia cari? Masa depan bagaimana yang ia ingin bagi bersamaku? Bersama keluargaku?

“Aku nggak mau punya rumah baru!”

Aku tidak tahu apa yang sedang kupikirkan, namun mulut ini seperti terlepas dari segelnya. Sebetulnya memang sejak lama aku memikirkan hal ini. Aku tidak mungkin bisa membeli rumah baru dan tinggal terpisah dari bapak, dan meninggalkannya seorang diri. 

Aku tidak bisa membayangkan bapak akan mengurus dirinya sendiri dengan kondisi yang tidak lagi muda dan setua itu.

“Loh, Wi? Kenapa?” Yudis kedengaran kaget, sekaligus kecewa

“Bagaimana dengan bapak?” aku bertanya

“Masalah bapak akan segera selesai kalau aku sudah menghafalkan cerita wayang–wayangnya itu. Setelah itu, kita bisa terbebas dari keanehan bapakmu. Kita bisa pergi jauh dari dirinya dan tinggal di rumah kita sendiri. Tak ada wayang yang menjengkelkanmu, kamu pun nggak harus menemani bapakmu lagi, Wi,” ucap Yudis selanjutnya. Nada bicaranya terkesan sangat terburu–buru, meskipun suaranya terdengar lembut.

Aku tidak mengerti apa yang salah dengan hubunganku dan Yudis. Tapi mendengarnya berbicara dengan lancar seperti itu, hatiku terasa sakit. 

Sebagian dari diriku tak mampu membayangkan perasaan bersalah yang nantinya akan hinggap jika aku meninggalkan bapak.

Bapak sudah pernah ditinggalkan oleh ibu di suatu malam, bertahun–tahun yang lalu, tanpa ada alasan. Ibu memilih menyerah karena hobi bapak. Menyerah bukanlah pilihan. Bapak tidak bersalah. Wayang–wayang bapak juga tidak bersalah.

“Dengar, Yudis.. aku nggak mau pergi dari rumahku. Kalau kamu memang mau menjadi bagian dari keluargaku, kamu harus menerima bapak, begitu juga dengan hobinya. Kalau kamu memang nggak mau, lebih baik kita tak usah teruskan lagi hubungan ini.”

Tak ada bunyi yang menandakan sambungan telepon terputus. Tak ada suara lagi setelah itu. Rupanya, kami sama–sama terdiam pada kemungkinan terbesar itu.

***

“Aku mau mengembalikan ini.”

Malam setelah pulang bekerja, aku mampir ke rumah Kakrasana untuk mengembalikan buku yang pernah ia pinjamkan kepadaku. 

Kupikir tidak ada gunanya lagi aku bersusah payah menghafalkan tokoh–tokoh wayang. Orang yang ingin kuajarkan pun sepertinya memang tidak peduli dengan usahaku.

“Masuklah,” mata coklat mudanyanya mengintip dari balik jendela. Ia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkanku masuk.

“Kamu menghafal semuanya? Ada yang belum kamu tahu?”

Ia setengah berteriak saat bertanya. Kakinya melangkah menuju dapur, meninggalkanku di ruang tamu. Kudengar ia memanggil namaku untuk menawarkan minuman, memberikan pilihan antara minuman dingin atau panas.

“Bagaimana pacarmu. Dia sudah siap menghadapi bapak?” tak berselang lama, Kakrasana kembali membawakan es teh manis untukku, lengkap dengan pisang goreng yang masih hangat. Ini memang bukan pasangan yang pas untuk melahap pisang goreng dengan secangkir es teh manis, tapi karena aku merasa haus dan lapar, tak ada yang lebih nikmat dari menu yang berada dihadapanku ini.

“Aku putus dengan Yudis,” seperti tak peduli, aku langsung melahap pisang goreng buatannya, “Kamu pintar masak ya!” lanjutku dengan mulut penuh pisang goreng. Ia duduk di sampingku, tak berkomentar. Ia juga mengambil pisang gorengnya dan melahapnya.

“Usahamu sia–sia kalau begitu,” akhirnya ia berbicara, meskipun tak memandang ke arahku.

“Sudahlah… tak usah diomongin. Aku cuma kepingin dengar kamu mendalang.. ayo cerita apa saja malam ini.. Ceritalah sesuatu yang membuatku bahagia,” aku menaikkan kedua kakiku di atas sofanya, bersikap acuh, tak peduli lagi soal sopan santun di malam ini.

“Aku kepingin tahu cerita Prabu Baladewa.. ceritakan padaku ayooo dalang….” seolah–olah aku tak mau berhenti berbicara. Aku tak tahan berdiam diri. Diam membuatku memikirkan banyak hal, membuatku bersedih, membuatku mengingat hal–hal menyakitkan yang sudah kulewati.

Kakrasana menoleh ke arahku, memperhatikanku. Ia kelihatan kesal, tapi tak punya pilihan lain selain mengikuti permainanku. 

Berulang kali kulihat ia menggelengkan kepalanya. Mungkin ia tak percaya ada es teh manis yang bisa membuat mabuk seseorang, ada pisang goreng yang bisa memabukkan.

“Buat apa kamu mendengar ceritanya?” tiba–tiba ia bertanya.

“Loh, kamu memang belum pernah mengajariku soal Prabu Baladewa, kan?” sahutku.

“Dia temperamental, mudah marah, apa itu sudah lebih dari cukup?” Kakrasana

menjawab dengan ketus

“Kalau dia sejahat itu, nggak mungkin tokoh tersebut diabadikan sejajar dengan ksatria wayang lainnya di animasi 3D Museum Wayang yang kutonton kemarin.. dan tak mungkin orangtuamu memberimu nama itu,” aku menatapnya, kali ini serius berbicara. Kakrasana menoleh ke arahku, tapi tak berselang lama ia beranjak dari kursinya, menyuruhku pulang.

 “Sudah malam, silahkan pulang. Aku mau bersiap–siap!” Kalimat itu lebih mirip seperti mengusir.

“Memangnya kamu mau ke mana?” aku bertanya bingung.

“Besok, aku kembali ke Yogya. Tugasku di sini sudah selesai. Adikku sudah mendapatkan mimpinya. Aku harus kembali pada ibuku,” suaranya terdengar datar. Namun ada emosi yang tertahan. Ia berubah kembali menjadi Kakrasana yang kukenal dulu. Dingin, pendiam, menakutkan.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyaku lagi. Ucapannya semakin membingungkanku. Apa ia akan pergi? Apa ia akan benar–benar pergi?

“Aku bukan seorang pegawai negeri. Aku bukan sejarawan. Aku cuma menghidupkan mimpi adikku. Cuma itu yang kulakukan selama ini.”

“Tapi kamu seorang dalang!” aku memprotes

“Aku bukan siapa–siapa,” Kakrasana berjalan kearah pintu rumahnya. Ia membuka pintu tersebut, menunggu di depan pintu untuk mengeluarkanku dari rumahnya.

***

“Pak, apa Bapak tahu, Kakrasana mau kembali ke Yogya.”

Tidak bisa tidur, aku mendekati bapak di malam itu. Ia sedang memainkan ksatria Werkudaranya yang berbentuk wayang kulit. 

Ia membersihkannya dengan kain yang agak basah, kemudian menyenandungkan syair dalam bahasa Jawa yang tidak kumengerti. Begitu tahu aku telah duduk di sampingnya, ia meletakkan kembali ksatria kesayangannya itu.

“Bapak sudah tahu sejak lama, Nduk. Dia memang nggak lama di sini,” ucapnya pelan.

Kepalaku menyandar pada bahu bapak. Tak bisa mengucap apapun, aku cuma bisa bersedih, meski tak berani mencegah. Aku sendiri tidak mengerti, apa artinya dalang bodoh itu bagiku. 

Tak ada arti yang spesial pada mulanya, namun wayang–wayangnya telah menyihirku.

Kemampuannya mendongengkan ksatria–ksatria hebat tersebut telah membuka mataku pada banyak hal. Ia seperti membawaku terbang bagai Gatotkaca, seketika ia membuatku kuat bagai Srikandi, dan ia membuatku bertahan dari terpaan bagai Samiaji. 

Ia membuatku menjadi apapun yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ia merontokkan keangkuhanku, bagai Narasoma yang berhadapan dengan Karna.

Ia seperti membawaku ke tempat yang tak pernah kujumpai, tak pernah kudatangi, tak pernah ada dalam bayanganku, bersama dengan ksatria–ksatrianya. 

Ia bahkan belum sempat membawaku pulang menuju negeriku, tapi kini ia sudah ingin pergi, meninggalkanku, meninggalkan bapak, satu–satunya teman yang ia miliki di tempat ini.

“Bagaimana caranya agar Kakrasana tidak pergi, Pak? Apa aku juga harus mendalang untuknya?” aku bersandar ke punggung bapak, sambil berbicara dalam lirih yang tak tersampaikan.

***

Di antara lima pandawa yang banyak dikenal bapak, ksatria Hanoman yang hidup lama dari zaman Ramayana hingga Mahabaratha, atau Gatotkaca, ksatria hebat dari keturunan Werkudara, sebetulnya ada satu ksatria yang tidak banyak diceritakan, mungkin karena ia bukan tokoh penting dari timbulnya perang persaudaraan keturunan Baratha.

Jauh sebelum semua pembantaian satu darah itu terjadi, sebenarnya ada seorang ksatria yang dengan lugasnya menolak permusuhan. 

Ia tidak memilih ikut serta bukan karena takut, atau tidak percaya dengan kekuatannya. Ada berbagai macam versi yang menyebutkan bahwa dirinya terkena tipu muslihat sang adik, karena sang adik ingin menolong sang kakak yang diramalkan akan memilih Kurawa. 

Beberapa versi lainnya menyebutkan bahwa ia akan mati di tangan salah satu putra Werkudara dari bangsa ular.

Tapi aku percaya, kisah wayang purwa Mahabaratha itu bukan sekadar pertikaian memperebutkan satu wilayah dan mengorbankan keluarga, juga keturunan mereka. 

Kisah itu semacam penggambaran dari sikap manusia, seberapa hebat mereka, seberapa besar mereka, atau seberapa kecil mereka. 

Tentunya semua itu tak ada artinya lagi. Seperti bayangan yang menghantui jati diri setiap manusia, tokoh–tokoh tersebut melebur, membentuk kepribadian–kepribadian mengedepankan sifat manusia mereka, yang tamak, culas, pengecut, penipu, atau berbudi pekerti.

Tapi satu kesatria tersebut berada di antara keduanya. Ia berada di antara kedua sifat manusia. Ia pun berhubungan dengan kedua kubu tersebut. Yang satunya bersaudara, yang lainnya ipar. 

Keduanya adalah murid baginya, keduanya adalah saudara baginya. Sampai suatu ketika pertarungan tersebut dikibarkan, ia memilih tak berpihak, tak menginginkan pertikaian, tak menginginkan ada darah yang mengalir dari persaudaraan mereka.

Beberapa versi menyebutkan ia memilih untuk menenangkan diri di sebuah gua dimana air terjun mengalir begitu derasnya di permukaan luar, sehingga ia tak akan bisa melihat darah dan mendengar jeritan penuh cekam orang–orang yang dibantai dengan sadis sampai perang tersebut selesai. 

Entahlah, ksatria tersebut punya banyak cerita yang berbeda.

Tak ada yang menyebutkan bagaimana pastinya, namun di antara kelima ksatria kesayangan bapak, rupanya memang hanya ksatria ini yang tiba–tiba menjadi bagian penting dalam hidupku, menjadi kesayanganku, meskipun tak banyak cerita tentangnya ada pada pewayangan kami, dan tak banyak pula ada cerita baik mengenai dirinya.

Aku dengar ia pernah bertarung melawan raja sakti yang tinggal di dasar laut untuk menyelamatkan seorang putri, maka hari ini akupun melakukannya. 

Meski langkah telah berat, tapi aku yakin, suara hati tak akan salah mengiringi. Aku mengikutinya, melangkah dibelakangnya dengan langkah yang kupercepat, takut–takut kami kehilangan keseimbangan.

Sama seperti ksatria tersebut, ketika ia telah menyelamatkan sang putri, kesaktiannya pun diragukan hanya karena ia bukan seorang raja. Aku pun mengimbangi kemampuannya dalam melawan segala rintangan yang melalui kami, aku tetap maju untuk menggapainya.

Kemudian sampailah pada suatu ketika, sang ayah dari ksatria tersebut undur diri dari jabatannya, meminta ksatria tersebut untuk naik dan menggantikannya menjadi raja. Tak ada ragu, ksatria tersebut melangkah ke depan.

Jadi, kali ini kubiarkan ia melihatku, kesungguhanku untuk mencapainya, mengikuti ke mana hatiku melangkah, meraihnya dalam asa yang tak jelas akan berakhir bahagia atau tidak.

Aku dengar langkahnya menjadi sunyi. Ia seperti tertahan pada suatu aliran keras yang meraung dari dalam hati. Ia seperti ditahan oleh kekuatan penuh magis, yang membuatnya menoleh kebelakang, untuk tahu aku ada.

Sama seperti ksatria tersebut, ia tak akan mundur dan menghilang dari pandangan sang putri. Ia akan tetap melangkah, mendekat, mempersunting putri sulung tersebut. 

Sedangkan aku, tak mungkin ada kesempatan bagiku untuk mempersuntingnya. Tak mungkin ada kesempatan bagi kami untuk bersatu. Tak pernah ada cerita seorang bibi dari masa lalu datang untuk menyatakan hati pada keponakan masa lalunya. Tak pernah ada cerita antara Kunti dan Kakrasana. Tak ada cerita.

Namun jauh dari dunia yang tak nyata itu, ada bumi yang sedang kami pijaki bersama. Ada negeri yang nyata kami miliki. Ada kisah yang jelas ada dan tercatat. Jauh dari dongeng tersebut, mungkin kisah wayang itu kembali muncul, hanya saja lewat nama yang berbeda. 

Sama seperti Dewi Amba yang muncul pada Srikandi dan Bhisma. Mungkin aku telah berubah menjadi Dewi Erawati, aku tidak yakin itu, tapi aku tahu memang hanya putri itu yang mau menerimanya sepenuh hati, yang menemaninya hingga akhir, tanpa membagi, tanpa terbagi.

Aku berada pada langkah yang cukup besar, aku pikir ia juga merasakannya. Persimpangan jalan di pelataran Batavia. Jarak sepertinya tak mampu memisahkan kami. Tak mungkin mencegahnya pergi, tapi aku bisa mencegah hatinya untuk pergi ke lain hati.

Hanya buku bersampul coklat itu yang ia berikan padaku, tak ada kecupan selamat tinggal, tak ada pelukan persahabatan, tak ada kata maaf.

“Apa yang kamu cari dariku?” tiba–tiba pertanyaan itu muncul dari dirinya. Ransel besar berwarna hijau digendongnya. Ia memang akan pergi. Wajahnya tajam menatapku, berusaha mencari jawaban dari balik mataku.

“Bapak bilang, aku harus mencari orang yang telah membuatku menjadi seperti ini.”

Ada jeda yang kembali hadir. Ia cuma menatapku, lewat warna mata muda kecoklatan itu. Berdiri di hadapannya membuatku tampak kerdil. 

Bukan karena tinggi badannya atau postur tubuhnya, namun karena keangkuhan yang menghinggapiku selama ini. Akhirnya aku jujur.

“Bapak bilang, aku harus menikahi laki–laki yang telah membuatku jatuh cinta pada wayang!”

Dengan nafas terengah–engah, kuberanikan diriku untuk mengulangi kata–kata itu. Entah apa yang terjadi, tajamnya pandangan itu berubah melembut. 

Aku tahu, hanya dia yang bisa memberikan pesona itu padaku. Sulit bagiku untuk mengakuinya, tapi itulah yang terjadi. Pandangannya tak berhenti menatapku.

“Lalu apa yang harus kulakukan tanpamu, jika kamu meninggalkanku seperti ini?”

Masih dengan nafas terengah–engah, degupan kencang jantungku, dan dinginnya telapak tangan yang menyelimutiku, tiba–tiba ada kehangatan yang kemudian menyerbak, meraih dinginnya permukaan kulit yang perlahan menghangat.

Tanganku yang diraihnya, dan seluruh cerita wayang yang kami alami. Diriku dan dia. Wajah yang kemudian tersenyum menatapku, menyentuh ke dalam sanubari. Ini seperti mimpi, sebuah mimpi indah.

“Maka tunggu aku di Jakarta..”

Suara itu kembali terdengar, berat, namun lembut. Ada kesungguhan dalam kalimatnya yang singkat tersebut. Jantungku pun berdetak semakin kencang, seperti efek kopi yang dengan hebatnya membuat terjaga.

Aku sadar, kisah wayang tak selalu berakhir tragis. Ini salah satu di antaranya. Hari ini aku mencatat sejarah baru. Ada satu kisah tentang Kakrasana dan Kunti. Mereka tak tercatat dalam kisah perpustakaan wayang, tapi hatiku, …ya! (Tamat)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Atas Nama Merah Putih

Cerita Pendek: Menunggu Jumat Pagi

Cerita Pendek: Perempuan yang Patut Kusayangi

Artikel Asli