Cerita Pendek: Sang Dalang Part 2

Femina Dipublikasikan 07.28, 07/08 • Dwi Retno Handayani

“Yudhistira punya nama Puntadewa. Banyak juga orang yang memanggilnya Samiaji. Ia putra sulung raja Pandu dari kelima Pandawa dalam silsilah pewayangan. Ia kesatria hebat, bijaksana, penuh kesabaran. Ia juga pemegang takhta sebenarnya Kerajaan Hastinapura, sebelum Duryudana, si sulung Kurawa, mengambilnya. Tombak adalah kekuatannya. Tapi, menurut versi Jawa, keputihan hatinyalah yang mengalahkan segalanya.”

Sambil menyeruput kopi di pagi hari, aku menjelaskan dengan baik informasi tersebut kepada Tari, memastikan bahwa tak ada satu pun penjelasan dari Bapak yang belum kukatakan kepadanya. 

Pagi-pagi sekali ia datang ke mejaku hanya untuk menanyakan hubungan pribadiku. Rupanya, Yudis baru kembali dari Kalimantan, jadi ia baru menceritakan hal tersebut kepada sahabatku, Tari.

Seperti tak percaya pada penjelasanku, ia mendekatiku, menatapku baik-baik, takut-takut terjadi sesuatu pada diriku. “Kamu sinting, ya, Wi?”

“Maksudmu?” tanyaku bingung

“Bagaimana mungkin. Yudis, Wi!!! Ini Yudis!!! Nggak ada yang salah dengan dia!!! Aku kaget waktu dia cerita ke aku soal putusnya hubunganmu itu!! Ya, ampuuun…. Aku pikir selama ini kamu baik-baik saja sama dia! Kalau nggak ketemu Yudis, mungkin aku nggak pernah tahu kalian berdua sudah nggak berhubungan!” jelas Tari. Intonasi suaranya berubah meninggi, wajahnya melihatku dengan kesal.

“Yudis langsung pergi ke Kalimantan beberapa hari setelah ia datang ke rumah. Aku disibukkan dengan kerjaan ini. Aku tidak sempat cerita ke kamu, Tar.”

“Ihh… gila, ya! Masa aku baru tahu hal ini??” Tari menghela napasnya sambil memandangku. “Aku nggak percaya dia putus denganmu cuma gara-gara tokoh wayang itu,” ucapnya lagi

“Tar, Yudisthira itu bukan sembarang tokoh wayang,” aku berusaha membenarkan. “Setelah kupikir–pikir, aku baru sadar, ada benarnya juga bapakku,” lanjutku, tak peduli Tari sedang naik darah.

Aku kembali menyeruput kopiku setelahnya, membiarkan pikiranku jauh… terjun jauh berpindah ke suatu tempat yang tak mungkin dimengerti orang lain.

“Aku rasa kamu benar-benar sudah gila, Wi,” ucap Tari, kali ini penuh dengan kesungguhan, karena yang selanjutnya terjadi, pintu ruanganku tertutup keras dan Tari tak ada lagi di depanku. Hanya suara hak tinggi sepatunya yang terdengar makin pelan, samar-samar, menjauh dari keberadaanku.

***

Kakrasana mengunjungi rumah kami lagi keesokan harinya. Ia datang tak lama setelah pulang bekerja. Kulihat rambutnya masih basah dan kucium wangi sabun yang melekat pada kulitnya. 

Bisa kupastikan ia menyempatkan mandi terlebih dahulu sebelum berkunjung ke rumah kami. Rupanya, ia membawa sekotak martabak spesial untuk kami makan bersama.

“Nggak enak makan sendirian, jadi saya pikir mungkin lebih enak kalau kita makan bersama-sama, Pak.” Dalang muda itu menyunggingkan senyuman kecil yang sopan, sementara Bapak malah tersenyum lebar menatapnya.

Aku tahu, bagi Bapak, Kakrasana seperti anak laki-lakinya yang tak penah ia punya, karena, toh, memang cuma aku anak Bapak, dan aku wanita. Wanita tidak bermain wayang. Wanita tidak berdalang. 

Wanita tidak punya kemampuan untuk menceritakan karakter kesatria-kesatria kesayangannya dalam satu lakon yang menarik dan tak membosankan. 

Wanita tidak bisa mengubah suaranya seperti seorang pria, sementara ada banyak karakter dalam pewayangan yang penuh dengan berbagai intonasi dan karakter suara yang berbeda.

Kakrasana memiliki semua itu. Ia laki-laki. Ia telah belajar dunia seni tradisional yang selama ini dianggap menghilang dari generasi muda seperti kami. Ia tak malu berbincang-bincang dengan orang tua seperti Bapak.

Ia tak peduli dengan cemooh, dengan ucapan-ucapan bodoh yang keluar dari mulut teman-temannya soal hobinya yang aneh itu. 

Namun begitu, ia tetap melakukan semuanya dengan sangat baik. Ia belajar mendalang, ia bermain dengan teman- temannya, ia berdiskusi dengan Bapak, ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan, ia tampan. Untuk ukuran kesatria-kesatria kesayangan Bapak, ia terlihat jauh lebih tampan. 

Tapi, satu hal yang pasti, ia muda dan berbeda. Itulah yang sepertinya menjadi nilai plus bagi Bapak, yang tak mungkin bisa Bapak dapatkan dari laki-laki seumuran kami lainnya di zaman ini.

****

Dalang muda itu membantuku merapikan piring-piring kotor setelah kami menghabiskan martabak yang dibawanya. Ia memaksa untuk membantu, jadi aku menerima pertolongannya.

 Kami tak banyak berbicara saat berada di dapur. Cuma suara keran air yang memecahkan keheningan. Ia juga bukan orang yang senang diajak bicara sesuatu yang tak ada kaitannya dengan wayang.

Tadinya kupikir begitu, sampai Kakrasana akhirnya memulai perbincangan pertamanya tanpa melibatkan para pandawanya. 

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada poster besar bertuliskan ‘Jangan bunuh aku karena hobimu’ di dekat dinding meja makan. Poster itu lebih seperti slogan tentang bahaya merokok. 

Ada gambar seseorang yang terlihat seperti tercekik oleh abu dari asap rokok yang dihirup orang lain di sekitarnya. Poster itu kudapatkan setahun yang lalu saat kampanye kantorku tentang bahaya asap rokok.

Aku tidak yakin apakah ia tertarik pada slogan tersebut atau gambar seseorang yang tercekik itu. Ia hanya tersenyum melihatnya.

“Aku pikir gambar ini nggak jadi dipakai.”

Kakrasana kemudian berbicara. Matanya masih menatap gambar itu dengan pandangan terpesona. Aku tidak mengerti, makanya aku bertanya lagi kepadanya.

“Ini, gambar ini, aku pikir nggak jadi dipakai,” katanya, menunjuk gambar yang tercetak dalam poster tersebut.

“Aku dan tim waktu itu memang sedang berpikir untuk membuat gambar yang cukup menarik. Bagaimana caranya membuat orang lain melihat bahwa asap rokok benar-benar berbahaya. Jadi, kami membuat ini,” jelas Kakrasana penuh semangat. Kejadian ini rupanya mengingatkan ia pada kenangannya.

“Ini kamu yang buat?” Aku pun terkejut dibuatnya. Si dalang cuma mengangguk.

Aku dekati poster tersebut dan kucermati baik-baik karya buatannya itu.

“Bosku dulu tidak suka dengan gambar ini. Aku tidak tahu kenapa. Saat kami berikan portofolionya, ia marah besar. Aku kira gambarnya yang jelek, tapi baru kusadari, sebenarnya dia perokok berat. Dia merasa terhina dengan gambar kami,” jelasnya lagi, diakhiri dengan tawa.

Pikiranku tiba-tiba melayang pada satu kalimat yang pernah Bapak ucapkan tentangnya.

“Kamu bukannya sejarawan?” tanyaku akhirnya. Ia menoleh ke arahku, kemudian tertawa

“Lho? Kok, ketawa? Aku serius!” seruku seketika. “Bapak bilang, kamu itu sejarawan, pegawai negeri,” lanjutku.

“Apa memang semua sejarawan harus dimulai dari mereka-mereka yang duduk di bangku kuliah dengan jurusan sejarah? Apa nggak boleh orang-orang sepertimu, sepertiku, atau yang lainnya, juga disebut sebagai sejarawan?” bicaranya mulai ngawur, aku jadi sulit memahami. Jadi, aku cuma menggelengkan kepalaku.

Ia memandangku aneh, lalu mulai menanyakan apakah aku punya pertanyaan untuknya. Tentu saja, ya! Ingin sekali kutanyakan, siapa sebenarnya dirinya?? Aku bahkan tidak tahu ia kerja di mana, tiba-tiba ia bicara tentang desain grafisnya. Membuatku mempertanyakannya sebagai ahli sejarah, atau pedalang. 

Bagaimana bapakku bisa dengan mudah menerima orang yang baru ia kenal, tanpa ia ketahui dengan baik identitasnya?

“Lalu apa pekerjaanmu sebenarnya?” akhirnya aku bertanya. Ia mengeluarkan tawa kecilnya, menatapku seperti orang bodoh

“Aku seorang dalang,” jawabnya singkat. Kali ini aku menatapnya, mencemooh.

“Omong kosong macam apa ini?” Aku pun pergi menjauh darinya, menyusul Bapak di ruang tengah. Tawanya terdengar lagi, kini seperti mempermainkanku.

***

“Aku ingin belajar wayang.”

Tari memandangku tanpa kedip. Telinganya seperti salah dengar. Matanya yang bulat itu tak henti-hentinya menahanku untuk pindah ke lain topik.

“Aku serius, Tar. Aku ingin belajar wayang.” Aku mengangguk, mengiyakan ketidakpercayaannya.

“Ada apa, sih, denganmu, Wi? Kemarin kamu putus dengan Yudis gara-gara wayang. Sekarang kamu malah ingin belajar tentang wayang?” Tari masih menatapku dengan tatapan tak percaya. Ia mungkin kesal atas sikapku yang plinplan ini.

“Ini bukan main-main, Tar. Belakangan ini, aku mulai memikirkan kata-kata Bapak,” aku memberi alasan

“Kenapa kamu nggak belajar dengan bapakmu saja?” Tari mulai mengomentari.

“Justru aku tak mau Bapak tahu,” ucapku lagi, penuh kebohongan.

“Oke. Apa motivasimu?” kali ini Tari menanggapi.

“Aku nggak mau kelihatan bodoh di hadapan Bapak. Aku nggak mau kejadian Yudis terulang kembali.”

Tari diam memandangku. Ia seperti berpikir. Entah apa yang terjadi, namun raut wajahnya berubah 180 derajat. Bibirnya tiba-tiba menyunggingkan senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Aku punya teman. Mungkin dia bisa bantu kamu.”

***

Kebodohan apa yang membuatku datang kemari, aku tidak tahu. Dua kakiku telah sejak tadi melangkah tanpa perintah, dan membawaku sampai ke pelataran ini. Aku berdiri di hadapannya. 

Pintu berwarna merah gelap itu seperti pintu lama yang dicat kembali agar terlihat lebih hidup. Sambil memikirkan apa yang harus kukatakan, apa yang harus kulakukan, kubiarkan diri untuk berhenti sejenak, memandangi suasana langit yang cerah di kota yang pernah dinamai Batavia ini.

Tari yang memperkenalkanku kepadanya seminggu yang lalu, ketika aku mengemukakan keinginan bodohku untuk belajar wayang. Sejujurnya, aku juga tidak mengerti. 

Keinginanku untuk belajar wayang sebenarnya tidak lebih dari kekesalanku terhadap Bapak. Aku harus belajar mengenal wayang dan tokoh-tokohnya, agar saat Yudis datang ke rumah lagi, aku tahu aku punya kekuatan untuk menghadapi Bapak. 

Aku tidak boleh membiarkan pacarku kabur hanya karena mereka tidak mengenal kelima Pandawa itu.

Itulah tujuan utamaku datang ke tempat ini, tempat yang sebetulnya enggan kusinggahi.

Kuyakinkan diriku untuk masuk dan membayar tiket masuk ke tempat yang mereka sebut dengan museum ini. Orang itu pasti sudah kuno, tidak rapi, acak-acakan. 

Tari mengatakan kepadaku bahwa temannya itu seorang seniman. Entahlah, kata seniman terdengar sangat buruk di telingaku.

Kebanyakan seniman yang kukenal, mereka tak lebih dari orang gila yang tak punya penghasilan, tak punya uang, tak bisa hidup dari realitas, dan tak kenal manusia-manusia sepertiku. Mereka cuma kenal apa yang mereka suka dan memilih untuk mengunci pintu mereka, menutup diri pada hal-hal yang tidak mereka suka.

Terus terang, aku gugup sekali harus bertemu orang macam itu. Aku takut mereka akan menggila dan memakanku hidup-hidup. 

Ditambah, orang itu menyuruhku untuk bertemu di museum ini, yang hampir tak berpenghuni, kecuali jika patung-patung dan boneka-boneka tersebut hidup dan menemaniku.

Sambil menunggunya, aku berkeliling untuk melihat-lihat koleksi yang dimiliki museum ini. Tak banyak yang kuketahui soal kebudayaan, karena aku memang bukan budayawan. 

Tak perlu ada pelatihan khusus bagiku, terlebih jurusanku di universitas dulu adalah ekonomi. Tak begitu penting bagi mahasiswa ekonomi untuk belajar budaya, toh, kami bukan budayawan.

Aku berkeliling melihat koleksi tersebut dan berhenti pada deretan bangku kosong yang letaknya berada di depan tulisan besar bertuliskan J.P Coen, yang merupakan jalanan penghubung menuju pintu selanjutnya.

Kubuka ponselku untuk mengetik pesan singkat padanya. Kami belum pernah melakukan panggilan telepon. Selama ini, kami hanya berkomunikasi via e-mail. 

Baru ketika aku memintanya untuk bertemu secara langsung, dia memberikan nomor telepon genggamnya padaku. Rupanya ini sebabnya. Dia tahu dia akan terlambat, makanya dia memberikan nomor telepon genggamnya padaku. Aku baru ingat seniman juga tidak pernah tepat waktu… ahhh… kenapa aku lupa hal itu??

“Sebentar lagi sampai.” Begitu bunyi pesan singkat yang ia balas untukku. Lagi-lagi aku harus menghela napas karena kebodohanku memercayai seniman.

“Lima menit belum juga tiba, aku pergi.” Kubalas pesan singkat tersebut dengan nada kesal. Aku paling benci menunggu, tidak mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi.

“Sudah sampai. Kamu yang mana?” orang tersebut kembali mengirimkan pesan.

Sambil menghela napas lega, aku beranjak dari kursi tersebut untuk kembali ke pintu selanjutnya. Kucari-cari tipikal seniman yang memasuki gedung ini, tapi tak juga kutemukan satu pun yang juga mencariku.

Entah ini semacam kebodohan yang lain atau memang hari ini adalah hari sialku, tiba-tiba aku mengenali seseorang yang beberapa menit kemudian masuk melalui pintu utama. Wajahnya sedikit brewokan, dan postur tubuhnya yang tinggi itu lantas bertemu pandang ke arahku.

Ia mengenakan kaus biru tua tanpa gambar, berlengan panjang. Kaus itu menutupi ular melingkar yang terpatri di lengannya. Tak ada senyum, tak ada anggukan seperti ia mengenalku. Hanya, pandangannya jelas tertuju padaku yang berdiri di dekat pintu.

“Kunti? Sedang apa di sini?” ia lebih dulu bertanya.

“Menunggu seseorang,” jawabku singkat, tak ada yang perlu dilebih-lebihkan dari dalang muda menyebalkan itu.

“Jangan-jangan kamu temannya Tari?” tiba-tiba Kakrasana menanyakan hal tersebut. Dan ya, habis sudah riwayatku kemudian! Tidak mungkin aku berguru pada dalang nyeleneh tersebut. Tidak mungkin seniman yang dibicarakan Tari itu adalah Kakrasana, tetangga baruku sekaligus teman Bapak. Oh, Tuhan, aku pasti salah orang, atau bisa saja aku sedang dikerjai.

Bodohnya diriku adalah aku mengiyakan pertanyaannya. Kulihat ia pun sepertinya terkejut mengetahui hal ini, dan tak menyangka mempunyai murid sepertiku. 

Kupikir ia pun tak suka dengan kondisi ini. Namun, tawa itu kemudian keluar dari mulutnya. 

Ia menertawai kondisi bodoh ini dan kebodohan-kebodohan lainnya yang pernah aku utarakan padanya melalui e-mail, seputar keinginanku mempelajari wayang.

“Kamu menghinaku?” akhirnya aku angkat bicara. Aku kesal sekali melihatnya tertawa, maka aku segera pergi dari hadapannya untuk menghentikan hal ini. Si dalang bodoh itu sudah lebih dulu menarikku dan menyuruhku tenang.

“Hentikan tawamu dulu, baru aku akan tenang!” Kuempaskan lengan kekarnya yang menarik pergelangan tanganku. Kuberanikan diri untuk menatapnya penuh kebencian. Ia lantas melepaskan lenganku.

“Maaf, itu bukan maksudku. Aku cuma kaget mengetahui bahwa kamu yang selama ini menulis e-mail padaku dan curhat tentang hobi aneh ayahmu itu. Sungguh.”

Kali ini matanya menatapku serius. Mengetahui dalang bodoh itu berbicara padaku begitu dekatnya, aku baru menyadari ia punya warna mata yang bagus. Tidak tampak seperti cokelat, tapi juga bukan oranye tua.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti aturan main kami.

“Ok, jadi bagaimana? Kapan kita mulai kelas bodoh ini?” aku mulai mengajukan pertanyaan

“Kapan pun kamu mau.”

Kakrasana tidak banyak bicara setelah itu. Raut wajahnya berubah ketus. Aku tahu ia kesal karena aku baru saja mengatakan sesuatu yang menyebalkan. Ya, jika ia mau menjadi guruku, ia harus tahu kalau sebenarnya aku sangat menyebalkan.

***

“Jangan beri tahu Bapak, aku mohon.”

Kakrasana mengantarku pulang malam itu. Ia mengajakku pergi menonton pergelaran wayang orang di Gedung Wayang Bharata di daerah Senen hingga larut malam. 

Aku tidak menolak semua perintah Kakrasana hari ini, asal ia mau berjanji padaku agar tidak memberitahukan kejadian ini kepada Bapak. Ia dan Bapak berteman baik, aku takut Kakrasana kelepasan dan membicarakan niatku untuk mempelajari wayang.

“Rahasiamu aman. Sekarang cepat pulang!”

Si dalang kemudian melangkah mundur dan membalikkan tubuhnya, menjauh dari rumahku, berjalan menuju ujung jalan, menuju rumah bercat putih tersebut. Ini hanya perasaanku saja atau aku memang mendengarnya bersenandung malam ini?

Sayangnya, ada senandung lainnya yang kudengar di waktu yang sama. Alunan musik Marry You dari Bruno Mars rupanya sudah sejak tadi berdering dari dalam tasku. Begitu kuambil telepon genggamku dan kulihat nama ‘Yudis’ muncul pada layar, buru- buru aku mengangkatnya.

“Bagaimana kelas wayangmu hari ini?” Suara Yudis seperti mengembalikan senyumku yang hilang sejak pagi tadi.

Tidak banyak yang tahu, sejak kejadian Yudis dan Bapak bertemu, aku memang sempat break beberapa saat, tapi kami kembali merajut hubungan kami lagi secara diam-diam setelahnya.

“Ya, aku sedang mempelajarinya. Aku pasti bisa mempelajarinya, kok, Yang….” Rasa kangen yang membeludak ingin sekali kutumpahkan padanya melalui sambungan telepon tersebut, tapi tentu itu tidak mungkin.

“Di pertemuanmu berikutnya dengan Bapak, aku pasti bantu kamu,” lanjutku, mesra. Perbincangan telepon itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya percakapan kami berakhir dengan kalimat-kalimat indah, seperti ‘I love you’ dan ‘love you too’. Aku tak berhenti tersenyum malam itu membayangkan rencanaku dan Yudis berhasil. Ya, kami akan berhasil merebut perhatian Bapak. (Bersambung)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Kuping Gajah

Cerita Pendek: Kabut di Kota Tua

Cerita Pendek: Tetanggaku

Artikel Asli